sindonews.com JAKARTA - Tiga jenderal turun langsung ke lapangan untuk melakukan pencarian 6 orang sisa Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso . Bahkan ke tiganya rela bermalam di pos sekat yang biasa ditempati personil TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Madago Raya.

Tiga jenderal tersebut adalah Irjen Polisi Abdul Rakhman Baso yang juga Kapolda Sulteng, Brigjen TNI Farid Makruf Danrem 132 Tadulako dan Brigjen Polisi Reza Arief Dewanto selaku Kepala Operasi (Kaops) Satgas Madago Raya.

Yang menarik, kolaborasi dua pucuk pimpinan TNI-Polri di Sulteng itu menunjukkan kepiawaiannya memasak santapan malam menu ala pasukan di medan tugas di pos sekat.

Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono mengungkapkan, sebelum bergerak ke lapangan ketiga jenderal itu memberikan arahan kepada personel Satgas Madago Raya. Selanjutnya mereka turun kelapangan dengan menunggangi motor trail.

Patroli bermotor ini menyisir beberapa perkampungan di wilayah Kecamatan Poso Pesisir Selatan (PPS). "Sambil mencari keberadaan 6 orang sisa DPO teroris Poso pimpinan Ali Kalora mereka juga menyapa warga sepanjang perjalanan," ungkap Bronto, Rabu (11/8/2021).

Dia menerangkan upaya pencarian meyusuri hutan belantara. Setiap menemui pos sekat, rombongan berhenti untuk memberikan arahan sekaligus semangat kepada para personel. Rombongam akhirnya beristirahat di Pos Sekat Kelapa Dalam Desa Pantangolemba untuk bermalam.

"Disetiap pos rombongan berhenti untuk memberikan dorongan moril agar anggota tetap semangat dalam tugas. Bekerja tanpa pamrih untuk merah putih. pesan tersebut yang selalu disampaikan kepada pasukan yang bertugas," ungkap Broto.

Selain memberikan semangat rombongam juga selalu memberikan bantuan sembako disetiap pos yang dikunjungi. "Hal kecil yang selalu menjadi perhatian untuk anggota," tutup Bronto.

(ymn)

Diterbitkan di Berita

Kota Palu (ANTARA) - Satu orang Daftar Pencarian Orang (DPO) Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah, yang tewas dalam kontak tembak dengan satgas Madago Raya, Sabtu 17/07 adalah Abu Alim alias Ambo.

Kontak tembak terjadi di wilayah Pegunungan Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Hasil identifikasi DPO MIT Poso berinisial A lias AA alias B," sebut Waka Satgas Humas Operasi Madago Raya AKBP Bronto Budiono di Palu, Sabtu malam.

Menurut Bronto, kontak tembak terjadi sekitar pukul 11:30 Wita. Setelah dinyatakan tewas, jenazah Abu Alim alias Ambo tersebut dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu untuk proses autopsi dan identifikasi.

Tidak hanya itu, Satgas Madago Raya juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kontak tembak. Barang bukti tersebut berupa, satu pucuk senjata api jenis revolver, parang, bom lontong, serta barang bukti lainnya.

"Pada saat itu dia dalam posisi sendiri," jelasnya. Setelah diautopsi dan diidentifikasi, jenazah Abu Alim alias Ambo, warga asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya, dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Proses pemakaman dilakukan pada pukul 21:40 Wita dan dibantu oleh warga sekitar. Proses pemakaman ini dijaga ketat oleh sejumlah aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

Bronto mengatakan didapatnya satu DPO MIT Poso ini merupakan pengembangan dari kontak tembak yang terjadi sebelumnya pada Minggu 11/07. Insiden saat itu mengakibatkan dua DPO MIT Poso tewas.

Namun, hingga saat ini pihak kepolisian masih belum berhasil mengidentifikasi identitas kedua DPO MIT Poso tersebut.

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satgas Madago Raya meminta agar para buron teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum.

Saat ini, tersisa enam orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sulawesi Tengah. Dalam beberapa hari terakhir Satgas telah menembak mati tiga orang DPO.

"Kami menghimbau agar sisa DPO yang ada di pegunungan biru baik di wilayah Poso, Sigi dan Parimono untuk segera menyerahkan diri baik-baik supaya tidak ada jatuh korban lagi," kata Wakasatgas Humas Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono kepada wartawan, Minggu (18/7).

Bronto mengatakan para teroris tersebut harus menjalani proses hukum dan ikrar setiap kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam serangkaian kegiatan operasi yang dilakukan, TNI-Polri kembali menembak mati seorang teroris MIT di wilayah Torue, Pagiti Moutong pada Sabtu (17/7) kemarin.

Hasil identifikasi awal, pihak yang tertembak merupakan anggota MIT bernama Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo dia masuk DPO sejak 2015.

Diketahui, pria yang diperkirakan berusia 27 tahun ini bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid sejak 2012 kemudian beranjak ke Poso untuk bergabung dengan asykari yang dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah.

Jenazah Abu Alim telah dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk dilakukan autopsi dan identifikasi lebih lanjut melalui pengambilan sampel DNA.

"Untuk memastikan kebenaran bahwa DPO teroris yang meninggal tersebut dibutuhkan tes DNA dari keluarganya," ucap Bronto.

Setelah dilakukan autopsi dan pengambilan sampel DNA, jenazah Abu Alin langsung dimakamkan di TPU Poboya, Palu.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya juga menembak mati dua anggota MIT Poso pada Minggu (11/7) lalu. Kala itu, evakuasi jenazah sulit dilakukan karena jenazah berada jauh di dalam jurang. Proses evakuasi baru rampung setelah empat hari.

Pasukan TNI di lapangan mengubah rencana evakuasi yang semula melalui udara kini menggunakan rakit untuk menyusuri sungai.

(mjo/agn)


Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polri mengungkapkan bahwa penembakan dua teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso diawali dari informasi warga sekitar yang mengeluhkan kehilangan makanan.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan.

Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (12/7).

Ahmad menjelaskan bahwa setelah itu, tim Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabssus) Tricakti menyisir wilayah Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Poso.

Dari penyisiran itu, tim menemukan jejak bekas makanan yang mengarah pada lokasi keberadaan buronan MIT Poso pimpinan AliKalora. Tim kemudian berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 WITA.

Saat itulah kontak tembak terjadi. Akibatnya, dua orang tersangka teroris tewas di tempat. "Mengakibatkan 2 orang DPO teroris Poso meninggal dunia atas nama R dan AP," kata dia.

Dua buronan tersebut bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Sementara itu, kata Ramadhan, DPO teroris MIT lainnya berhasil kabur dalam penyergapan itu.

Dia menerangkan, jenazah kedua DPO teroris MIT yang tewas itu segera dievakuasi menggunakan helikopter. "Saat ini, 2 DPO yang meninggal dunia akan dievakuasi melalui udara menggunakan helikopter.

Saat ini, tim kopsus masih terus melakukan pengejaran terhadap sisa DPO teroris Poso yang lolos dari penyergapan," kata Ramadhan. Berdasarkan catatan, sejauh ini tersisa tujuh orang DPO kepolisian yang tergabung dalam MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Kepemimpinan kelompok tersebut telah berganti usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak oleh Satgas Tinombala -- nama sebelum Madago Raya -- pada 18 Juli 2016 lalu.

Polisi selama ini mengakui bahwa MIT sulit ditumpas karena mereka selalu berpindah-pindah. Belum lagi, medan keberadaannya di tengah hutan yang membuat aparat sulit menindak mereka secara cepat.

Kelompok tersebut diduga sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi hingga Salubanga, dan Parigi Moutong hingga Poso Pesisir Utara.

(mjs/has)



Diterbitkan di Berita

Penanggung Jawab Komando Operasi (PJKO) Madago Raya, Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mengatakan aparat keamanan berharap bisa menangkap seluruh anggota kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dalam dua bulan ke depan.

Dia optimistis dengan dukungan berbagai pihak, keberadaan MIT dapat tertangani secepatnya.

“Semangat yang diberikan kepada kami oleh tokoh masyarakat, lintas agama, legislatif, pemerintah daerah untuk kita bersama-sama, bersinergi dan bergandengan tangan menyelesaikan masalah ini. Kami dikasihkan target untuk pihak keamanan dua bulan,” kata Irjen Abdul Rakman Baso usai rapat dengar pendapat terkait situasi keamanan di Kabupaten Poso dan sekitarnya di Ruang Sidang Utama DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (2/6).

 

Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso memberikan keterangan dalam Konferensi Pers di DPRD Sulteng, Rabu (2/6/2021). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso memberikan keterangan dalam Konferensi Pers di DPRD Sulteng, Rabu (2/6/2021). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

 

Irjen Abdul Rahman yang juga Kapolda Sulteng itu menegaskan aparat keamanan TNI-POLRI terus melakukan pengejaran terhadap anggota MIT.

Tidak hanya itu, aparat keamanan juga menata pengamanan di sekitar premukiman masyarakat yang berbatasan dengan gunung biru yang menjadi wilayah pergerakan kelompok itu.

Penanganan Khusus

Daftar Pencarian Orang (DPO) Tindak Pidana Terorisme yang memuat foto dan indentitas sembilan anggota kelompok MIT. (Foto: Humas Polda Sulteng)
Daftar Pencarian Orang (DPO) Tindak Pidana Terorisme yang memuat foto dan indentitas sembilan anggota kelompok MIT. (Foto: Humas Polda Sulteng)

 

Adnan Arsal, Ketua Penasehat Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Poso mengatakan tokoh lintas agama dan masyarakat di Poso mendukung sepenuhnya upaya TNI-POLRI untuk menangani kelompok MIT.

Dalam acara yang sama, Adnan mengatakan perwakilan tokoh lintas agama dan masyarakat menilai perlu ada penanganan khusus persoalan keamanan di wilayah itu.

“Ada Keppres (Keputusan Presiden Indonesia) atau Inpres (Instruksi Presiden) yang menangani secara khusus keamanan Poso dan kesejahteraan masyarakat” kata Adnan Arsal dalam konferensi pers itu.

Hal senada dikemukakan oleh Renaldy Damanik, tokoh masyarakat di Tentena. Menurutnya ada kerinduan masyarakat agar Presiden Joko Widodo dapat hadir di Kabupaten Poso.

 

Konferensi Pers di gedung DPRD Sulteng usai Rapat Dengar Pendapat menyikapi situasi dan kondisi keamanan di Poso, Rabu (2/6/2021). (Foto : VOA/Yoanes Litha)
Konferensi Pers di gedung DPRD Sulteng usai Rapat Dengar Pendapat menyikapi situasi dan kondisi keamanan di Poso, Rabu (2/6/2021). (Foto : VOA/Yoanes Litha)

 

“Bersama-sama mengharapkan perhatian yang kuat dari Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi, untuk memberikan perhatian khusus untuk Kabupaten Poso dan sekitarnya dan sekaligus untuk mendukung seluruh kebutuhan operasi -Madago Raya- ini tentunya,” ujar Damanik

Ribuan Petani Terdampak

Desakan agar Satgas Madago Raya segera menangkap kelompok itu makin menguat menyusul serangkaian aksi teror oleh MIT. Pada November 2020, MIT membunuh empat petani di Desa Lembatongoa.

Kelompok beranggotakan sembilan orang itu mengulangi aksinya pada Mei 2021 dengan membunuh empat petani kopi warga Desa Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso.

Wakil Bupati Poso Yasin Mangun mengungkapkan aksi teror kelompok itu menyebarkan ketakutan di kalangan warga yang umumnya bertani dan berkebun di sekitar kaki gunung biru, sebagai mata pencaharian.

“Yang terdampak secara sosial ekonomi serta psikologis itu ribuan orang. Masyarakat kita itu menjadi takut untuk ke kebun, takut untuk bersosialisasi, dan takut untuk bekerja melakukan aktivitas keseharian mereka,” ungkap Yasin Mangun.

Kondisi yang telah berlangsung lama itu menurunkan tingkat ekonomi masyarakat. Mereka takut menjadi sasaran MIT saat mengolah lahan kebun mereka.

Berdasarkan data Polda Sulteng kelompok MIT kini tersisa sembilan orang yang bergerak secara gerilya di hutan pegunungan luas yang secara administratif wilayah berada di Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi. [yl/ft]

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Poso, Sulawesi Tengah – Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Komisaris Besar Didik Supranoto mengatakan Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga ke hutan-hutan di pegunungan Poso. Kelompok yang berjumlah sembilan orang itu saat ini telah berpencar menjadi dua kelompok. Yoanes Litha melaporkannya untuk voaindonesia.com. []

Menurut Didik, kelompok pertama berjumlah empat orang dan dipimpin Ali Kalora, sementara kelompok kedua berjumlah lima dan orang dipimpin Qatar. Kelompok kedua inilah yang melakukan pembunuhan terhadap empat petani kopi, warga desa Kalemago Lore Timur pada 11 Mei 2021.

 

Aktivitas Personel TNI-Polri

Aktivitas Personel TNI-Polri di Pos Komando Taktis Satgas Operasi Madago Raya di desa Tokorondo, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Januari 2021 Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian ke mana mereka, ini tentu tim operasi yang lebih tahu. Tapi yang jelas, sekarang ini tim mengoptimalkan kegiatannya untuk melakukan pengejaran di dua kelompok ini. Jadi personel yang tergabung dalam Madago Raya ini kita optimalkan untuk melakukan tugasnya” jelas Didik Supranoto di Mapolda Sulteng, Kamis (20/5).

Ditambahkan Didik, selain melakukan pengejaran ke dalam hutan, Satgas Madago Raya juga melakukan penyekatan di lokasi-lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan kelompok itu. MIT diduga mencari logistik bahan makanan di perkebunan milik warga di sekitar kaki gunung di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

 

Warga mengusung

Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Mei 2021 (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian dari Polres-Polres ini juga melakukan monitor di wilayah bawah, di perkampungannya. Jadi saya harapkan masyarakat tidak terlalu takut. Silakan untuk melakukan kegiatannya di perkebunan, persawahan atau ladang mereka,” kata Didik seraya menambahkan belum ada rencana penambahan perkuatan personel Madago Raya yang dikerahkan untuk memburu kelompok MIT.

1. Warga Masih Trauma

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengatakan dari pemantauan pihaknya, warga di desa Kalemago masih merasakan trauma setelah empat warga di desa itu menjadi korban kelompok MIT. Menurutnya, warga di desa itu berharap pemerintah dapat memperbaiki saluran irigasi agar warga juga dapat mengolah sawah sehingga mereka memiliki alternatif sumber mata pencaharian selain kegiatan berladang berkebun di sekitar lereng gunung.

“Salah satu yang kami sampaikan kepada Bupati Poso agar mendukung adanya irigasi di daerah perkampungan Kalemago, agar mereka bisa melakukan kegiatan perekonomian selain berladang juga menggarap sawah,” kata Edwin Partogi Pasaribu dihubungi dari Palu, Jumat (21/5).

LPSK bersama perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, Selasa (18/5), berziarah ke makam empat warga desa Kalemago yang menjadi korban kelompok MIT. Kehadiran LPSK dimaksudkan untuk memberikan dukungan moril maupun materiil. LPSK juga memberikan santunan kepada perwakilan keluarga korban yang penyerahannya dilakukan di Polda Sulteng.

Edwin berharap kelompok MIT dapat menyerahkan diri kepada aparat keamanan sehingga dapat mengakhiri kekerasan di Sulawesi Tengah.

 

Wakil Ketua Lembaga

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, dan perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, berziarah ke makam empat korban serangan terorisme di Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Mereka (MIT) bisa langsung ke aparat penegak hukum atau juga menghubungi LPSK untuk kami fasilitasi penyerahan dirinya agar kekhawatiran mereka diperlakukan secara kasar tidak terjadi," ungkap Edwin.

2. Penyelesaian Secepatnya

Sahir Sampeali, Tokoh Masyarakat Tampo (Tanah) Lore di Kabupaten Poso, menegaskan keinginan masyarakat agar masalah gangguan keamanan yang disebabkan oleh kelompok MIT dapat segera tuntas untuk memulihkan rasa aman masyarakat setempat.

“Yang paling kami rasakan adalah rasa tidak aman, tidak pernah merasakan keamanan. Satu contoh, saya pribadi seorang muslim yang hidup di wilayah Lore, yang hidup di wilayah jalan antara Poso dan Lore, Saya seorang muslim, saya juga merasakan ketidakamanan, apalagi dengan saudara-saudara saya yang kristiani, coba bisa dibayangkan itu,” ungkap Sahir Sampeali, Senin, 17 Mei 2021.

Ditambahkannya, aksi teror oleh MIT turut berdampak pada perekonomian warga yang takut mengolah lahan kebun di lereng gunung biru karena khawatir dengan keselamatan mereka bila sewaktu-waktu bertemu dengan kelompok tersebut (yl/ah)/voaindonesia.com. []

Diterbitkan di Berita

KENDARI, KOMPAS - Jenazah Brigadir Satu Anumerta Herlis Pombili yang gugur dalam kontak tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Palu, dimakamkan di kampung halamannya di Kolaka Utara.

Anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah ini dimakamkan tepat di sebelah makam ibunya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. 

Jenazah Briptu Herlis tiba di kampung halamannya, di Kolaka Utara, pada Kamis (4/3/2021) sekitar pukul 12.00 Wita. Anggota Kompi 4 Tolitoli Brimob Polda Sulteng ini diterbangkan dari Palu menuju kampung halamannya di Kecamatan Pakue, Kolaka Utara dengan helikopter.

Komandan Satuan Brimob Polda Sultra Komisaris Besar Adarma Sinaga menuturkan, setelah tiba, jenazah Briptu Herlis dibawa ke pemakaman umum di daerah tempat tinggal almarhum. Hal tersebut sesuai dengan permintaan keluarga untuk dimakamkan di sebelah pusara almarhum sang ibu.

“Dalam pengantaran jenazah, ikut juga sejumlah pejabat dan personel dari Polda Sulteng. Dari kami ada 30 personil Brimob Polda Sultra yang terlibat dalam rangkaian upacara pemakaman kedinasan. Inspektur upacara adalah Bupati Kolaka Utara Nur Rahman Umar,” kata Adarma, di Kendari, Sultra, Kamis siang.

 

Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halamannya di Pakue, Kolaka Utara, Kamis (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Awalnya, tutur Adarma, jenazah Briptu Herlis direkomendasikan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kendari. Sebab, almarhum termasuk pahlawan yang berkorban hingga meninggal dunia terkait keamanan dan keutuhan bangsa. 

Akan tetapi, oleh pihak keluarga, meminta untuk dimakamkan di pemakaman umum di Kolaka Utara. Mengikuti permintaan itu, pemakaman akhirnya dilakukan di lokasi sesuai permintaan keluarga besar almarhum. 

Brigadir Kepala Aksan, kakak korban menyampaikan, pihaknya menyatakan berterima kasih atas rekomendasi tempat pemakaman di Taman Makam Pahlawan di Kendari.

Akan tetapi, mengingat lokasi Kolaka Utara dan Kendari yang berjarak sekitar 200 kilometer, keluarga memutuskan agar pemakaman dilakukan di lokasi pemakaman umum terdekat. 

“Lokasi Taman Makam Pahlawan itu jauh dari tempat keluarga besar kami, jadi diputuskan untuk dimakamkan di pemakaman umum, itu yang pertama. Yang kedua, ibu kami juga dimakamkan di pemakaman umum, jadi bisa dimakamkan berdekatan,” katanya. 

 

 
Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halaman di Pakue, Kolaka Utara, (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Meninggalnya Briptu Herlis, kata Aksan, menjadi duka yang dalam untuk keluarga. Sebab, sang adik adalah sosok pendiam yang punya perhatian besar terhadap keluarga. Bahkan, sebelum masuk hutan untuk bertugas sehari sebelumnya, almarhum sempat menelepon sang ayah untuk mengabarkan kondisi dan situasi. 

Meski demikian, ia melanjutkan, pihak keluarga ikhlas akan kejadian yang terjadi, dan menyerahkan semuanya ke yang kuasa. Ia berharap tidak ada lagi korban selanjutnya dari operasi yang digelar di wilayah Sulawesi Tengah. 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (3/3/2021), antara aparat Satuan Tugas Operasi Madago Raya dan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dalam kejadian ini, Briptu Herlis tewas tertembak. 

 

Warga membuka laman yang menampilkan Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (4/4/2018). Polda Sulteng kembali merilis sisa DPO Teroris Poso dari 41 menjadi 29 orang yang tergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Jumlah tersebut berkurang karena 10 di antaranya tewas tertembak dan dua ditangkap hidup-hidup. ANTARA/BASRI MARZUKI

 

Baku tembak tersebut pecah di pegunungan Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, pukul 15.30 Wita. Baku tembak bermula saat anggota Satuan Tugas Operasi Madago Raya berpatroli dan bertemu dengan anggota kelompok MIT.

”Telah gugur salah satu personel Brimob Polda Sulteng atas nama Brigadir Satu Herlis. Jenazahnya telah berada di RS Bhayangkara untuk divisum,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sulteng Komisaris Besar Didik Supranoto, di Palu.

Didik memastikan kontak senjata tersebut terjadi antara aparat dan kelompok MIT yang dipimpin Ali Kalora. Baku tembak masih serangkaian dengan kontak senjata pada Senin (1/3/2021) di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Namun, Didik tidak bisa memastikan kelompok itu orang yang sama yang terlibat baku tembak pada Senin, yang dipastikan ada Ali Kalora di dalamnya.

 

 

Kepala Polda Sulteng Inspektur Jenderal (Pol) Abdul Rakhman Baso di Palu, Sulteng, Selasa (2/3/2021) memperlihatkan gambar dua anggota Mujahidin Indonesia Timur yang tewas ditembak di Poso, Senin (1/3/2021). KOMPAS/VIDELIS JEMALI

 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi pada Senin yang menewaskan dua anggota MIT dan satu anggota TNI. Dua orang tersisa dari kelompok itu kemudian dikejar aparat. Salah satu dari dua orang tersebut dipastikan Ali Kalora, pemimpin kelompok MIT.

”Satuan Tugas Operasi Madago Raya masih mengejar kelompok MIT,” katanya. Operasi Madago Raya digelar untuk mengejar anggota MIT di Poso. Operasi digelar sejak 2016 yang sebelumnya bernama Operasi Tinombala.

Sejak Januari 2021 operasi itu berganti sandi menjadi Operasi Madago Raya. Tinombala merujuk nama gunung di timur Kabupaten Parigi Moutong, kabupaten tetangga Poso.

Sementara madago, kata dalam bahasa Pamona, bahasa yang dipakai suku Pamona, salah satu suku di Poso, berarti ’baik hati’.

Operasi berpusat di pegunungan berhutan lebat di Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Sigi. Wilayah itu merupakan medan gerilya kelompok Ali Kalora, yang diperkirakan tersisa 9 orang setelah dua orang tewas pada Senin (Kompas, Rabu, 3 Maret 2021).

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) terus diburu oleh Satgas Madago Raya, tak terkecuali oknum penyuplai bahan makanan kelompok tersebut.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Pori, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, saat baku tembak terakhir, Satgas Madago Raya menyergap kelompok yang turun hutan untuk mengambil bahan makanan.

"Kami mendalami pihak-pihak yang memberi logistik pada kelompok ini," kata Rusdi Mabes Polri Jakarta Selatan, Rabu (3/3/2021).

Rusdi mengaku, juga akan melakukan pengamanan hingga proses pemakaman dua anggota MIT yang tertembak. Pasalnya, salah satu teroris yang tertembak adalah menantu petinggi MIT Santoso.

Untuk diketahui, di Poso sebelumnya terjadi arak-arakan terhadap jenazah anggota MIT yang mati tertembak.

"Semua akan diamankan. Setelah TNI dan Polri banyak di sana, jadi aktivitas mereka semakin terjepit. Mudah-mudahan bisa segera diselesaikan," tutur Rusdi.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya melakukan penembakan terhadap dua anggota kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kalora.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulteng, Kombes Didik Supranato mengatakan, dua teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) itu ditembak hingga tewas. Sebelum ditembak, Satgas Madago Raya dan kelompok MIT terlibat baku tembak.

"Iya (dua tewas). Atas nama Alvin dan Khairul," kata Didik saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (2/3/2021). (Ccp)

 

Oleh: Immanuel Christian

Editor: Rachmad Zein

Diterbitkan di Berita

Raja Adil Siregar - detikNews Pekanbaru - Praka Dedi Irawan gugur saat baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Keluarga bercerita soal komunikasi terakhir dengan Dedi.

"Saat di hutan kemarin pukul 11.00 WIB, itu ada video call sama keluarga. Terakhir kita pihak keluarga komunikasi itu," kata kakak kandung Praka Dedi, Heru, di rumah duka, Selasa (2/3/2021). 

Dalam komunikasi terakhir itu, Praka Dedi menyampaikan bakal memasuki hutan di Poso. Dia meminta keluarga tak khawatir. "Dia bilang mau masuk hutan kurang lebih 5 hari, tidak ada sinyal. Ya kalau tidak ada kabar, jangan khawatir, itu katanya," ujar Heru.

Heru menyebut Praka Dedi berangkat ke Poso 2 bulan lalu. Sebelum berangkat, Dedi sempat cuti 10 hari dan pulang ke rumah orang tuanya di Jalan Kusuma, Bukit Raya, Pekanbaru.

Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah dibawa ke Pemakaman Taman Bahagia, tepat di sebelah Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekanbaru. Dandim 0301 Pekanbaru Kolonel Inf Edi Budiman memimpin upacara pemakaman.Praka Dedi gugur meninggalkan seorang istri bernama Nana dan satu orang putri, Naira, yang masih berusia 2 tahun. Praka Dedi selama ini tinggal di Jakarta.

 

(ras/haf)

Diterbitkan di Berita

PALU, KOMPAS.com - Pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora masih terus dilakukan satuan tugas (satgas) Madago Raya.

Di pekan terakhir Februari 2021, Satgas Madago Raya sempat kontak tembak dengan kelompok Ali Kalora di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mengatakan, kontak tembak terjadi pada Selasa (23/2/2021).

Dari kontak tembak tersebut, dua orang DPO tertembak, namun berhasil kabur ke hutan. "Pengejaran masih dilakukan Satgas Madago Raya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kelompok ini bisa kita tangkap," kata Kapolda Abdul Rakhman Baso, Senin (1/3/2021).

Dia menambahkan, kelompok MIT saat ini tidak tengah kelaparan. Selain itu, persenjataan yang dimiliki tinggal dua pucuk pistol dan satu pucuk senjata api laras panjang. "Itu yang sementara terdata. Dan kita juga berusaha untuk tidak bertambah," ujarnya.

Terkait dengan Operasi Madago Raya, kata dia, operasi ini bukan semata mengejar kelompok yang hanya menyisakan 11 orang ini. Tetapi, bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat dan pemerintah.

Penulis : Kontributor Palu, Erna Dwi Lidiawati
Editor : Dony Aprian

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2