Seorang pejabat senior keamanan mengatakan kepada Reuters tanpa menyebut nama bahwa sebagian besar korban adalah siswa yang keluar dari sekolah Sayed ul Shuhada, dan banyak yang terluka parah di rumah sakit.

Rekaman di saluran TV ToloNews menunjukkan adegan kacau, dengan buku dan tas sekolah berserakan di jalan berlumuran darah, dan warga bergegas membantu para korban.

"Itu adalah ledakan bom mobil yang terjadi di depan pintu masuk sekolah," kata seorang saksi mata seperti dikutip dari Reuters, Minggu (9/5/2021), yang meminta tidak disebutkan namanya. Dia mengatakan semua kecuali tujuh atau delapan korban adalah siswi yang akan pulang setelah menyelesaikan studi mereka.

Di sekolah menengah Sayed ul Shuhada, anak perempuan dan laki-laki belajar dalam tiga shift, yang kedua untuk siswa perempuan, Najiba Arian, juru bicara Kementerian Pendidikan, mengatakan kepada Reuters. Yang terluka kebanyakan adalah para siswi, katanya.

Juru bicara kementerian dalam negeri, Tariq Arian, mengatakan korban tewas sedikitnya 30 orang dengan 52 luka-luka.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu itu. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid membantah kelompoknya terlibat dan mengutuk insiden itu.

Meskipun Ghani menyalahkan Taliban, ledakan hari Sabtu terjadi di lingkungan Muslim Syiah yang telah menghadapi serangan brutal oleh militan ISIS selama bertahun-tahun, termasuk ledakan di bangsal bersalin hampir persis setahun yang lalu.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Sejumlah pejabat militer Irak menyatakan sebuah ledakan kuat mengguncang pasar di distrik Sadr, ibu kota Baghdad hari Kamis (15/4), menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai sedikitnya 12 lainnya.

Pernyataan militer tidak menyebut penyebab ledakan atau pihak yang bertanggung jawab, namun beberapa saksi dan laporan media sosial menyalahkan sebuah bom mobil.

Video dari tempat kejadian menunjukkan sedikitnya tiga kendaraan hancur, salah satu diantaranya hancur sama sekali. Yang lainnya terbakar.

 

Polisi dan militer dengan cepat menutup daerah sekitar pemboman, peristiwa kedua di kota tersebut tahun ini. Pada Januari 2021, bom bunuh diri ganda mengoyak pasar yang sibuk di ibukota Irak dan menewaskan lebih dari 30 orang serta melukai puluhan lainnya.

Ledakan di ibukota Irak semakin berkurang dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah kekalahan kelompok ISIS tahun 2017.

Perkembangan itu terjadi beberapa jam setelah serangan drone menarget pasukan koalisi pimpinan AS di dekat bandara Irbil dan pangkalan militer Turki di Irak utara. [mg/jm]

Diterbitkan di Berita

Gubernur Herat Sayed Abdul Wahid Qatali mengatakan puluhan rumah dan toko rusak akibat ledakan tersebut, dengan wanita dan anak-anak termasuk di antara yang tewas. Tim penyelamat di tempat kejadian berusaha menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Sabtu (13/3/2021). 

Meskipun tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu, pihak berwenang setempat menyalahkan Taliban atas insiden tersebut. Taliban fundamentalis Sunni telah melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Afghanistan yang didukung Barat selama hampir dua dekade.

Diterbitkan di Berita

Suara.comSeorang teroris ISIS melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan puluhan rekannya terbunuh di Sammara, Irak. Ia menekan tombol peledak di lokasi yang salah dan menewaskan 21 teroris secara tidak sengaja.

Menyadur Mehr News Senin (15/02) kejadian ini sudah dikonfirmasi oleh komandan operasi Samarra, Mayor Jenderal Jabbar Hajim Darraji.

Awalnya, teoris itu akan melakukan aksi bom bunuh diri menggunakan peledak dalam mobil dengan target utama markas polisi Samara.

Sebelum mencapai titik yang direncanakan, bom mobil itu tiba-tiba meledak dengan dahsyat. Rupanya ia tak sengaja memencet tombol ketika berada di kerumunan rekannya.

"Dengan demikian, setelah ledakan bom mobil di dekat pertemuan Takfiri, 21 dari teroris ini tewas, jelas Komandan Irak."

Ilustrasi terorisme. [Shutterstock]
Ilustrasi terorisme. [Shutterstock]

Sumber informasi melaporkan bahwa teroris itu sempat memencet klakson untuk mengucapkan selamat tinggal pada rekannya dan hal itu mengakibatkan bom bereaksi dan meledak.

Sebelumnya, Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi mengumumkan pasukan keamanan telah membunuh Abu Yaser al-Issawi di Irak. Komandan ISIS ini mengaku sebagai pemimpin ISIS.

"Angkatan bersenjata kami telah melenyapkan komandan Daesh (Negara Islam) Abu Yaser Al-Issawi sebagai bagian dari operasi yang dipimpin intelijen," cuit Kadhimi, menyebut ISIS dengan akronim bahasa Arab.

"Saya berjanji untuk mengejar teroris Daesh, kami memberi mereka tanggapan yang luar biasa."

Charles Lister, direktur lembaga pemikir Institut Timur Tengah di Washington menyebut hal ini sebagai berita penting yang harus segera dikonfirmasi mengingat Al-Issawi adalah pemimpin seluruh operasi ISIS di Irak.

Diterbitkan di Berita