KOMPAS.com - China menenggelamkan data center ke dasar laut, meneruskan ide yang sudah ditinggalkan Microsoft. Isinya sekitar 2.000 server. Semuanya kini sudah beroperasi penuh di lepas pantai Shanghai. Lokasinya 35 meter di bawah permukaan laut, di kawasan khusus Lingang. Jaraknya sekitar 9,7 kilometer dari garis pantai. Kapasitas listriknya 24 megawatt. Kumpulan kartu grafis (GPU) di dalam data center tersebut dioperasikan China Telecom dan LinkWise. Bangunannya sendiri digarap bareng HiCloud Technology atau Hailanyun. Prinsipnya sederhana. Air laut yang dingin dipakai membuang panas server. Mesin pendingin raksasa ala data center darat pun tidak lagi diperlukan. Hasilnya terlihat di angka Power Usage Effectiveness (PUE), ukuran seberapa boros sebuah data center. Angkanya diklaim ada di bawah 1,15, sedangkan rata-rata industri di kisaran 1,5. Sumber energinya juga bukan jaringan listrik biasa. Ladang angin lepas pantai di dekatnya memasok 97 persen kebutuhan listriknya. Hailanyun bersama China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) mengeklaim data center bawah laut ini menyedot listrik setidaknya 30 persen lebih sedikit dibanding yang ada di darat. Angka itu penting karena pendingin memang jadi beban terberat. Sekitar 40 persen listrik yang dipakai data center biasa habis cuma untuk mendinginkan mesin. Belum lagi konsumsi airnya, yang bisa menyentuh ratusan ribu galon per hari. Microsoft duluan, tapi berhenti di tengah jalan Ide ini bukan barang baru. Microsoft sudah mengujinya lewat Project Natick, dengan menenggelamkan kapsul berisi server di lepas pantai Skotlandia pada 2018. Kapsul itu memuat 855 server. Ia diturunkan sampai kedalaman sekitar 36 meter. Selama 25 bulan 8 hari, tidak ada teknisi yang menengoknya. Hasilnya justru lebih bagus dari dugaan. Cuma 6 dari 855 server bawah laut itu yang rusak. Sementara di darat, ada 8 server rusak dari total 135 unit. Server bawah laut lebih awet karena suhu air di luar relatif stabil. Kapsulnya juga diisi gas nitrogen, bukan oksigen yang memicu karat. Meski begitu, Microsoft menghentikan proyeknya pada Juni 2024. "Saya tidak sedang membangun data center bawah laut di mana pun di dunia," kata Kepala Cloud Operations and Innovation Microsoft, Noelle Walsh. Microsoft tidak pernah merinci alasan penghentiannya. Walsh justru menegaskan percobaan itu berhasil. "Tim saya mengerjakannya, dan itu berhasil. Kami belajar banyak soal pengoperasian di bawah permukaan laut, juga soal getaran dan dampaknya ke server," ujar Walsh. Perusahaan menegaskan riset Natick tidak dibuang seluruhnya. "Meski saat ini kami tidak punya data center di dalam air, kami akan terus memakai Project Natick sebagai wadah riset untuk menjajal dan menguji konsep-konsep baru soal keandalan dan keberlanjutan data center, misalnya lewat perendaman cairan," tulis Microsoft dalam keterangan resminya. Sulit ditengok begitu rusak Insinyur Cadence Design Systems, Mark Seymour, menyoroti perawatan sebagai masalah utamanya. Server yang sudah tersegel di dasar laut sulit diperbarui atau ditingkatkan spesifikasinya. Mengganti komponennya pun butuh akses khusus ke dalam air. Seymour membandingkannya dengan server di dalam tangki pendingin cairan. Server semacam itu sudah sering dikeluhkan teknisi, meski masih ada di darat. "Ini jelas menarik dari sisi pendinginan, tapi kurang menarik dari sisi pengoperasian," kata Seymour. "Cara ini kemungkinan bukan jalan paling gampang untuk tetap gesit di dunia yang berubah sangat cepat," ujarnya. China jalan terus China menempuh jalan yang berbeda setelah uji coba. Percobaan pertama digelar di Sungai Mutiara, China selatan, pada 2020, lalu berlanjut ke proyek rintisan di Hainan pada Desember 2022. Pembangunan data center Shanghai baru dimulai Juni 2025. Biayanya lebih dari 220 juta dollar AS (sekitar Rp 3,96 triliun). Fase pertamanya berisi 198 rak server. Isinya diperkirakan 396 sampai 792 server yang sanggup menangani beban kerja kecerdasan buatan (AI). Jumlah itu masih jauh dari data center darat. Data center skala menengah di China biasanya memuat sampai 3.000 rak. Yang skala besar bahkan bisa lebih dari 10.000 rak. Yang membedakan justru kecepatannya. Peneliti University of California, Davis, Zhang Ning, mencatat Hailanyun cuma butuh kurang dari 30 bulan. Selama itu, proyeknya melompat dari tahap uji coba ke pemakaian komersial. Menurut Zhang, langkah sejauh itu tidak pernah ditempuh Microsoft lewat Project Natick, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Live Science. Beban kerja yang ditangani data center Shanghai mencakup pemrosesan AI, layanan 5G, dan pelabelan data skala besar. Kemampuan komputasinya disebut setara dengan melatih model GPT-3.5 dalam sehari. Laut bisa terdampak Tidak semua pihak sepakat cara ini aman buat laut. Riset pada 2022 memperingatkan air buangan data center bisa jadi lebih hangat dan miskin oksigen saat terjadi gelombang panas laut. Kondisi semacam itu berisiko mengganggu biota laut di sekitarnya. Peneliti Microsoft sendiri sempat mencatat adanya pemanasan air di area terbatas, meski dampaknya mereka sebut kecil. Hailanyun membantah dampaknya besar. Juru bicaranya, Li Langping, menyebut panas yang dilepas mesin-mesin bawah laut itu terukur kecil. "Panas yang dibuang data center bawah laut menyebabkan kenaikan suhu kurang dari satu derajat pada air di sekitarnya," kata Li. Ada pula soal keamanan. Sebuah studi pada 2024 menemukan data center bawah laut rawan dirusak lewat serangan suara. Alatnya berupa pengeras suara yang ditempatkan di dalam air. Negara Asia lain tetap melirik teknologi ini. Korea Selatan, Jepang, dan Singapura disebut sedang menjajaki konsep serupa. Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/09/15/19090017/china-tenggelamkan-2000-server-ke-dasar-laut-microsoft-pernah-coba-lalu?page=all#page2