Kasus PCR di Indonesia

Senin, 15 November 2021 18:34

 

Masalah harga PCR di Indonesia cukup ramai. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan keuntungan bisnis PCR tembus Rp 10,46 Triliun. Ada partai politik baru melaporkan kasus PCR ke KPK dengan data awal dari berita majalah Tempo.

Masalah PCR muncul disulut oleh ketentuan yang mewajibkan setiap calon penumpang terbang untuk melakukan test PCR sebelum naik pesawat dengan tarif Rp295.000. Apakah biaya tes PCR di Indonesia kemahalan? Ya, kemahalan jika dibandingkan dengan India yang memasang tarif sekitar Rp100.000. Namun jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN seperti yang disampaikan Kompas TV dan majalah Tempo, tarif PCR di Indonesia paling murah.

Lalu mengapa kasus PCR ramai sekali di Indonesia? Dalam negara demokrasi, diperlukan oposisi yang selalu mengontrol kebijakan pemerintah. Dalam negara demokrasi, hak untuk berpendapat dijamin UUD. Jadi boleh saja, partai, media, maupun orang melakukan kritik terhadap pemerintah. Dan pemerintah pun memasang telinga untuk mendengar kritik itu. Oleh karena banyak protes, maka Kementerian Kesehatan dan BKPK menghitung kembali tarifnya, dan muncul tarif baru sebesar Rp275.000 untuk Jawa dan Bali, sedangkan daerah lainnya Rp300.000.

Andaikan pemerintah memutuskan, penumpang pesawat terbang tidak perlu test PCR. Apakah pemerintah dipuji? Tidak, pemerintah tidak akan dipuji. Pemerintah akan dikritik dengan keras oleh kelompok yang bersikap oposisi. Pemerintah dituduh tidak melindungi rakyat dari serangan Covid-19. Pemerintah lalai tidak melaksanakan protokol kesehatan. Lihat nanti, akan muncul gelombang baru Covid-19 akan melanda Indonesia. Bagaimana jika pemerintah mewajibkan tes PCR tetapi gratis, apakah pemerintah akan dipuji? Tidak. Kelompok oposisi akan tetap mengkritik. Dari mana dana untuk test PCR itu? Pemerintah utang lagi ya, kebijakan ini akan membuat Indonesia bangkrut.

Simaklah semua opini di semua media, baik media utama maupun media sosial. Perhatikan kritik oposisi, dan perhatikan pula sikap pemerintah. Hampir pasti, Indonesia tidak seburuk yang dilabelkan oleh oposisi, namun juga tidak seindah yang diklaim oleh pemerintah. Masyarakat perlu melihat fakta dan data yang ada, dan membuat penilaian sendiri. Seringkali, fakta dan data yang diungkapkan kelompok oposisi dan pemerintah itu sama, tetapi penafsirannya berbeda. Misalnya, menurut kaum oposisi, pemerintah gagal total dalam pembangunan ekonomi, Indonesia utang melulu, hampir bangkrut. Menurut pemerintah, pembangunan ekonomi Indonesia relatif paling baik dibandingkan negara lain. Kalau Indonesia mau bangkrut, mana ada yang akan memberi pinjaman lagi.

Perhitungan biaya PCR

Sambil menunggu uraian perhitungan tim riset ICW bahwa bisnis PCR dalam 10 bulan ini mampu mendapatkan keuntungan Rp10,46 triliun, ada berita dari Kompas.com - 09/11/2021, 10:54 WIB bahwa harga tes PCR ternyata bisa hanya Rp 10.000. Berita itu dicuplik dari “Eksekutif Program AIMAN KompasTV”, dengan sumber berita adalah Sekjen Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab), Randy Teguh.

Benarkan harga tes PCR hanya Rp 10.000 seperti pada judul berita? Periksa berita Kompas yang lain.. Melalui  https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/11/093100765/ramai-soal-harga-tes-pcr-ini-penjelasan-versi-gakeslab-indonesia?page=1, Randy Teguh menguraikan lebih rinci. "Hati-hati kalau harga murah nanti kualitasnya bagaimana," kata Randy.
Rendy menyebutkan ada beberapa harga reagen mulai dari Rp 180.000 hingga Rp 600.000. "Kalau di katalog itu (paling murah) Rp 180 ribu untuk reagennya saja. Tapi jangan sampai tertukar dengan reagen antigen," katanya lagi.

Perlu diketahui, reagen adalah ekstraksi yang digunakan dalam pengecekan spesimen. Reagen berisi sejumlah senyawa kimia untuk mendeteksi SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit Covid-19.
Untuk melakukan perhitungan PCR, mari kita gunakan angka-angka yang disajikan Majalah Tempo, 7 November 2021.

Menurut Tempo, ongkos per sampel PCR adalah Rp201.550,-, dengan tarif test PCR sebesar Rp495.000, maka keuntungan setiap sampel adalah Rp293.450,-. Jika modal awal Rp7,5 miliar, maka dengan 25.558 kali test, modal awal akan kembali.

Sebagai contoh adalah PT GSI. Menurut Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di sintesanews.com, jumlah total test PCR mencapai 28,4 juta, PT GSI melakukan tes sebanyak 700.000 sampel. (Data tgl 15 November 2021, test PCR & TCM 29,3 juta, silahkan klik https://covid19.go.id/peta-sebaran).

Dari katadata.co.id, PT GSI punya 5 cabang, dan tiap cabang perlu mengeluarkan modal Rp7,5 miliar, maka PT GSI berhasil mengambil untung bersih sebesar Rp 167,91 miliar. Angka ini berasal dari keuntungan bersih tiap sampel dikalikan 700.000 sampel, kemudian dikurangi Rp37,5 miliar sebagai modal awal PT GSI untuk test PCR. Diasumsikan tiap cabang harus menanam modal Rp7,5 miliar.

Jika keuntungan yang diperoleh PT GSI sudah terhitung melalui informasi Tempo, dan Arya Sinulingga, kini saatnya ICW melacak lagi, kemana keuntungan test PCR mengalir? Katadata.co.id menyajikan berbagai perusahaan yang bergerak di test PCR (lihat tabel katadata.co.id).

Daftar Perusahan Test PCR

 

Dampak tarif terbaru

Sambil menunggu berita selanjutnya tentang keuntungan bersih dari PCR yang lebih dari Rp 10 triliun, ada baiknya kita menyimak lagi laporan majalah Tempo, 7 November 2021.

Ternyata penurunan tarif PCR  berdampak.

Tempo melaporkan, “Sudah dua hari tenda biru tempat tes real-time polymerase chain reaction atau RT-PCR Rumah Sakit Unggul Karsa Medika di Jalan Taman Kopo Indah 3 Kabupaten Bandung, sepi pengunjung. Hanya ada dua petugas yang berjaga di sana. Mereka menolak pengunjung yang datang untuk menjalani tes Covid-19. Sejak 28 Oktober 2021, manajemen Rumah Sakit Unggul Karsa menghentikan tes PCR. "Semua layanan PCR sementara tutup karena ada perawatan peralatan" kata Kinan, petugas layanan informasi Rumah Sakit Unggul Karsa, pada Sabtu, 30 Oktober lalu. Tapi para pegawai di rumah sakit itu mengatakan pelayanan dihentikan karena pemerintah menurunkan harganya.

Bagaimana dengan rumah sakit lain atau laboratorium kesehatan yang lain? Apakah sikapnya seperti rumah sakit di Kabupaten Bandung itu? Artinya, dengan harga Rp275.000 bisnis PCR tidak menarik lagi.

Apakah keuntungan sebesar Rp73.450 tiap sampel tidak menarik? Atau, mungkin saja biaya produksi test PCR lebih tinggi dari pada Rp 201.550,- tiap sampelnya?

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co)***

Diterbitkan di Opini

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan mengaku siap diaudit dan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait bisnis tes polymerase chain reaction (PCR).

Luhut bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dilaporkan ke KPK terkait bisnis PCR tersebut. Keduanya disebut mendirikan PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) yang bergerak di bidang pemeriksaan Covid-19.

"Yang paling gampang kita nggak usah marah-marah, audit aja....siap banget (diaudit)," kata Luhut dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV yang tayang Jumat (12/11) sore.

Ia juga menyatakan siap dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah sejumlah orang melaporkan persoalan ini ke lembaga anti rasuah itu. Luhut mengklaim tidak ada yang ia takutkan sepanjang ia tidak melakukan yang dituduhkan. 

"Siap saja kenapa sih nggak? Enggak ada yang saya takutin sepanjang saya itu tidak melakukan itu," tutur Luhut. Luhut mengatakan sejak perusahaan itu berdiri dua tahun lalu ia tidak mengambil untung sepeser pun. Menurutnya, uang yang ia miliki dari bisnisnya selama ini sudah cukup untuk hidup.

Adapun keterlibatannya dalam pendirian PT GSI, kata dia, karena persoalan kemanusiaan. Ia mengaku bersama sejumlah pengusaha besar lainnya mendirikan perusahaan tersebut guna membantu pengadaan tes PCR sehingga bisa lebih murah dan dilakukan dalam jumlah banyak.

"Dari awal tidak ada ke kantong saya satu peser, buat saya itu untuk apa sih?" ujar Luhut. Purnawirawan TNI ini menyatakan pada awal pandemi, biaya tes PCR di Indonesia mencapai Rp5-6 juta. Namun, perlahan-lahan tarif itu bisa turun seiring dengan ketersediaan reagen dan komponen tes PCR lainnya.

Ia menyatakan selama menjadi Ketua Penanganan Covid-19 Jawa-Bali, semua keputusan yang berkaitan dengan pembelian harus diaudit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Harus diaudit oleh BPKP, karena saya enggak mau bikin salah diaudit. Jadi BPKP dengan Kementerian Kesehatan yang menentukan semua ketentuan, silakan cek," kata Luhut.

"Jadi mau harga itu berapa ya BPKP lihat. Jadi harga itu bisa naik turun atau bisa masih tinggi, itu supply demand," tambahnya. Sebelumnya, eks Direktur YLBHI Agustinus Edy Kristianto menyebut sejumlah menteri pemerintahan Presiden Joko Widodo terlibat bisnis tes PCR.

Menurutnya, para menteri itu terafiliasi dengan PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI), penyedia jasa tes Covid-19. Edy menyebut perusahaan itu didirikan oleh sejumlah perusahaan besar. Menurutnya, Luhut terlibat lewat PT Toba Bumi Energi dan PT Toba Sejahtra, anak PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Selain itu, ada nama Menteri BUMN Erick Thohir. Edy mengaitkan Erick dengan Yayasan Adaro Bangun Negeri yang berkaitan dengan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Perusahaan itu dipimpin oleh saudara Erick, Boy Thohir.

Beberapa waktu setelah persoalan ini mencuat beberapa orang yang tergabung dalam Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) melaporkan Luhut dan Erick Thohir ke KPK. Pimpinan KPK kemudian menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut.

(iam/sur)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211112203733-12-720557/bisnis-pcr-luhut-siap-diaudit-dan-dipanggil-kpk

 

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban membantah ada kepentingan dari tenaga kesehatan dalam syarat tes swab polymerase chain reaction (PCR) bagi pelaku perjalanan transportasi udara dalam negeri.

Hal itu untuk menjawab pertanyaan netizen yang diajukan kepadanya di media sosial. Belakangan syarat tes PCR ini menjadi polemik karena sebelumnya penumpang pesawat hanya menyertakan tes swab antigen sebagai syarat.

Zubairi menekankan bahwa tes swab PCR sebagai syarat perjalanan transportasi udara menjadi salah satu langkah pencegahan penyebaran virus corona di dalam pesawat.

Syarat tersebut juga sama pentingnya dengan vaksin Covid-19. Karena sangat penting, seharusnya tes PCR bisa digratiskan. 

"Posisi saya jelas. Sama seperti vaksin, tes PCR sangat penting untuk melawan pandemi. Tapi jangan dipahami dokter itu mendapat komisi dari penjualan PCR. Tidak nyambung. Bahkan, karena penting, harusnya tes PCR bisa seperti vaksin, yakni gratis. Itu kalau bisa," ujarnya dalam akun Twitter pribadinya @ProfesorZubairi, Sabtu (23/10/2021).

Sebelumnya, pemerintah secara resmi mewajibkan calon penumpang pesawat untuk membawa hasil negatif tes Covid-19 dengan PCR. Aturan baru ini berlaku mulai 24 Oktober 2021.

Hal ini sesuai dengan Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan Nomor 88 Tahun 2021 yang telah disahkan pada Kamis (21/10/2021).

Aturan perjalanan baru ini diperketat seiring perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk periode 19 Oktober hingga 1 November 2021.

Aturan ini berlaku untuk rute penerbangan daerah Jawa-Bali yang sudah menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap atau dua kali.

Selain tes PCR, dalam aturan baru ini kapasitas penumpang di pesawat diizinkan lebih dari 70 persen.

Kapasitas bandar udara juga ditetapkan maksimal 70 persen dari jumlah penumpang waktu sibuk di masa normal.

Kemudian anak di bawah 12 tahun sudah diizinkan sebagai calon penumpang pesawat dan tentunya harus menyertakan tes PCR periode 2x24 jam.

Penulis : Johannes Mangihot | Editor : Fadhilah

 

 

Diterbitkan di Berita

KKI apresiasi turunnya tarif PCR

Selasa, 17 Agustus 2021 18:06

Jakarta (ANTARA) - Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) Dr. David Tobing menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas diturunkannya tarif tes PCR.

“Penurunan tarif ini memang sangat berdasar dan diperlukan,” tutur Dr. David Tobing dalam keterangan tertulis yang diterima oleh ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ia juga berpesan agar pemerintah melakukan evaluasi secara berkelanjutan. Adapun tujuan dari evaluasi tersebut adalah untuk menekan harga tes PCR hingga bisa menjadi lebih rendah lagi.

Akan tetapi, di sisi lain, David juga mengingatkan akan pentingnya untuk menjaga kualitas PCR. Ia tidak ingin penurunan tarif tes PCR memengaruhi kualitas, apalagi memengaruhi ketepatan pemeriksaan dan ketelitian informasi.

“Jangan sampai terjadi kesalahan pencantuman hasil, nama, maupun NIK,” tutur David menegaskan.

Penurunan tarif juga diharapkan tidak menjadi alasan terjadinya keterlambatan dalam pengeluaran hasil tes PCR. David meyakini bahwa setiap laboratorium telah memiliki Standard Operational Procedure (SOP) tersendiri dan diperkuat dengan personil yang handal.

“Sehingga hasil pun sudah bisa diprediksi. Semakin cepat hasil keluar, maka akan semakin cepat pula status konfirmasi diketahui,” ucap Ketua KKI ini.

Pemerintah, melalui laboratorium di pusat dan daerah, harus mendorong laboratorium swasta untuk meningkatkan peran mereka. Terutama, terkait peran laboratorium swasta dalam mengatasi kendala keterjangkauan lokasi laboratorium pemerintah.

“Hal yang harus dilakukan adalah supervisi, menetapkan harga-harga komponen laboratorium yang lebih murah, dan sedapat mungkin membantu laboratorium-laboratorium di daerah terpencil dengan alat-alat dan supervisi secara gratis,” ujar David melanjutkan.

KKI juga berharap agar diadakan PCR gratis dalam rangka pelacakan, serta dalam rangka pelayanan penanganan pandemi COVID-19.

“Ini juga harus dimaksimalkan dan diawasi agar hak-hak masyarakat terpenuhi,” ucapnya.

Penurunan tarif PCR merupakan salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah guna memaksimalkan upaya yang telah dilakukan oleh berbagai stakeholders dalam memotong rantai persebaran virus korona.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

hops.id Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan tarif batas tertinggi untuk harga swab PCR Covid-19 sebesar Rp900 ribu. Keputusan itu diambil setelah banyak pihak mengusulkan pemerintah menetapkan standar tarif karena harga.

Namun harga ini dirasakan masih mahal jika dibandingkan dengan di India yang sebesar Rp96 ribu saja. Lantas, berapa harga tes PCR di negara lainnya? Berikut ini daftar harga tes PCR di negara lain seperti yang dirangkum Hops.id dari berbagai sumber:

1). Dubai

Otoritas Kesehatan Dubai (DHA) mengumumkan bahwa mereka telah menurunkan harga tes usap hidung Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Covid-19 menjadi AED150 atau Rp607.335).  

Otoritas Kesehatan Dubai menegaskan rumah sakit swasta tidak diperbolehkan mengenakan biaya lebih dari AED250.

2). Prancis 

Prancis membanderol harga tes swab PCR nya dengan harga yang terbilang terjangkau. GeneStore France memasarkan tes dengan harga terjangkau €9,9 atau Rp147,484.   

Seperti dalam laman Medical Device, CEO global GeneStore Anubhav Anusha menyebut real time PCR ini memungkinkan laboratorium beralih dari RNA yang dimurnikan ke hasil dalam waktu satu jam. 

“Sejalan dengan misi global kami untuk memerangi penyakit menular dengan memungkinkan pengujian yang terjangkau, GeneStore mengomersialkan kit uji dengan harga yang sangat terjangkau €9,9 dan dapat memproduksi satu juta kit uji per bulan di fasilitas manufakturnya yang berbasis di Prancis,” kata Anubhav Anusha.

 
Ilustrasi swab PCR di Inggris. Foto: MinewsID
Ilustrasi swab PCR di Inggris. Foto: MinewsID

 

3). Filipina

Sementara itu, di Filipina, tes PCR berkisar dari P4.000 (Rp1,2 juta) hingga P12.000 (Rp3,6 juta).

Departemen Kesehatan (DOH) merekomendasikan penerbitan Perintah Eksekutif (EO) untuk mengamanatkan batas harga tes swab Covid-19 untuk rumah sakit swasta, fasilitas kesehatan, dan lembaga swasta lainnya. 

4). Amerika Serikat  

Harga tes swab PCR di Amerika Serikat harganya terbilang masih tinggi. Dilansir dari The Wall Street Journal, biaya tes PCR berkisar dari sekitar US$60 (Rp891.564) hingga US$300 (Rp4,4 juta).

Apa yang dibayarkan bergantung pada banyak faktor, itulah sebabnya biayanya bervariasi. Tes PCR yang dilakukan di laboratorium dipandang sebagai standar  untuk tes diagnostik, karena sangat akurat.

5). Inggris

Rata-rata biaya tes PCR mencapai 75 Poundsterling per orang, atau sekitar Rp1.488.424. Tetapi harga tes ini tidak selalu sama di setiap laboratorium atau klinik Inggris.

6). Malaysia

Pemerintah setempat menetapkan harga tertinggi tes swab PCR sebesar 150 Ringgit, atau sekitar Rp509.012 di Semenanjung Malaysia.

7). Singapura

Menurut situs resmi SafeTravel Singapura, harga tes di sejumlah lokasi seperti di Bandara Changi, Tanah Merah, dan Woodlands, biayanya mencapai 160 SGD atau setara dengan Rp1.693.578.

8). Thailand

Tarif tes swab PCR di Thailand tergolong cukup tinggi. Dikutip dari sejumlah situs klinik dan rumah sakit di Kota Bangkok, biaya berkisar antara 3.000 sampai 6.500 Baht, atau setara dengan Rp1.298.355 sampai Rp 2.813.104.

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa Indonesia bukanlah negara dengan tarif tes swab PCR termahal. Masih ada negara lain yang mematok harga lebih tinggi untuk tes swab PCR.

Namun demikian, rakyat berharap agar harga wab PCR diturunkan dari harga saat ini. Meski turun harga namun diharap tidak mengurangi kecepatan dan ketepatan hasil tes swab PCR.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COMPenyanyi sekaligus Dokter Tompi meminta kepada pemerintah guna memberikan pilihan pada tarif tes Covid-19. Tuntutan Tompi termasuk harga tes PCR atau Swab Antigen harus semurah mungkin.

"HARGA PCR ATAU SWAB HARUS SEMURAH2nya!!!  NEGARA HARUS HADIR memastikan ini. Kenapa negara lain bs lebih murah dr kita saat ini? Bukankah Beli bayam 100 selalu lebih murah dari beli bayam 10. Ayo lah Bisa! Mhn kendalinya Pak  @jokowi," tulisnya seperti dilansir akun resmi twitternya, Jakarta, Rabu (11/8/2021).

Sebelumnya, Satgas Penanganan Covid-19 mengeluarkan Surat Edaran No. 17 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 dan SE No. 18 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19. Regulasi disesuaikan dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-4.

1. Untuk pelaku perjalanan udara harus melakukan tes RT-PCR 2x24 jam dan moda lainnya tes RT-PCR 2x24 jam atau Antigen 1x24 jam.

b) Untuk perjalanan Antar Kota/Kabupaten dalam Jawa Bali persyaratannya : Orang yang sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap yang dibuktikan dengan kartu vaksin, untuk perjalanan udara hanya perlu tes Antigen 1x24 jam. Sementara penerima vaksin dosis pertama, untuk perjalanan lewat udara wajib melakukan RT-PCR 2x24 jam.

Seperti diketahui, berdasarkan acuan Kementerian Kesehatan, batasan tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR, termasuk pengambilan swab, sebesar Rp900 ribu.

Sedangkan untuk tarif tertinggi swab antigen, Kemenkes menetapkan harga Rp250 ribu untuk Pulau Jawa, dan Rp275 ribu untuk wilayah di luar Pulau Jawa.

 

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sulha Handayani

Diterbitkan di Berita
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bio Farma (Persero) mengklaim produk PCR kumur Bio Saliva hasil kerja sama GSI Lab dengan Bio Farma dan Nusantics memiliki kemampuan untuk mendeteksi sampai 10 varian virus SARS-CoV-2 atau covid-19.

Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heryanto merinci 10 varian tersebut di antaranya adalah varian B 1.617.2 (Delta), B 1.617.1 (Kappa), B117 (Alpha), B1351 (Beta), P1 (Gamma), B1525 (Eta), B1526 (Iota), B1466.2 (varian Indonesia), B 1.427/29 (Epsilon), dan varian C.37 (Lambda).

"Sampai saat ini belum ada produk alat uji covid-19 di Indonesia yang dapat mendeteksi 10 varian mutasi covid-19," kata Bambang, Sabtu (3/7).

Bambang mengatakan PCR kumur Bio Saliva telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 1 April 2021 dengan Nomor KEMENKES RI AKD 10302120673.

Ia juga menyebut PCR kumur dapat berkontribusi meningkatkan kapasitas tracing nasional. Sebab, bisa mendeteksi hingga angka CT 40 dengan tingkat sensitivitas hingga 93,57 persen.

Selain itu, PCR kumur tersebut bisa diberikan kepada anak-anak sampai lansia. Proses pengambilan sampel PCR kumur pun terbilang praktis sehingga, memungkinkan pengambilan sampel dalam jumlah yang sangat besar tanpa perlu menambah tenaga medis.

"Hal ini menjadikan Gargle-PCR sebagai alternatif selain gold standard Swab Nasofaring-Orofaring menggunakan PCR Kit yang memiliki sensitivitas hingga 95 persen," terang dia.

Namun demikian, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi memastikan sampai saat ini hanya ada dua tes yang terbukti efektif, PCR swab dan antigen yang memenuhi standar serta rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Kalau sampai saat ini kita mengikuti rekomendasi WHO ya di mana pemeriksaan PCR swab dan rapid antigen," kata Nadia.

Meski belum standar WHO, layanan tes PCR Kumur ini diketahui sudah dibuka sejak Jumat (2/7). Dalam unggahan Instagram resminya @gsilab.id menjelaskan, tata cara tes PCR Kumur melalui empat tahap.

Pertama, orang yang akan menjalani tes diminta menarik nafas dan batuk keras. Kedua, orang itu diminta memasukkan cairan khusus ke dalam mulut. Cairan itu harus dikumur-kumur sebanyak tiga kali.

Ketiga, ludah yang sudah bercampur cairan dimasukkan ke dalam satu wadah. Keempat, cairan di wadah tersebut akan dipindahkan ke tube lain.

Ada dua titik yang menyediakan tes kumur itu, yakni di GSI Lab Cilandak yang beralamat di Jl. RA Kartini Nomor 34, Cilandak, Jakarta, serta di GSI Lab Sintesa Kuningan yang beralamat di Jl. Setiabudi Selatan No.17, Lapangan Parkir Menara Duta.

Biaya tes PCR kumur dihargai Rp799 ribu per orang. Hasil tes keluar di hari yang sama jika tes dilakukan sebelum pukul 12.30 WIB.

 

(khr/bir)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mencatat lebih dari 98 ribu orang menjalani tes pemeriksaan Covid-19 pada hari ini. Sebanyak 21,47 persen di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Dalam data yang dipublikasi pemerintah, ada 98.274 orang yang melakukan tes Covid-19 di fasilitas kesehatan. Sebanyak 21.095 orang di antaranya positif Covid-19. Jumlah itu merupakan rekor tertinggi kasus harian di Indonesia.

Secara rinci, ada 55.612 orang menjalani tes RT-PCR. Dari jumlah itu, 20.524 orang dinyatakan terpapar virus corona. Sementara itu, ada 280 orang yang menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM). Sebanyak 170 di antaranya positif Covid-19.

Dengan catatan itu, positivity rate dari pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode deteksi molekuler/Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) mencapai 37,02 persen.

Di saat yang sama, ada 42.382 orang yang dites menggunakan rapid antigen. Namun, hanya 401 orang yang dinyatakan positif Covid-19.

Sebelumnya, epidemiolog meminta pemerintah untuk meningkatkan kapasitas testing sebagai langkah mengatasi lonjakan pandemi, di luar kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat seperti PPKM Mikro.

"Menyasar minimal 200-300 ribu orang per hari untuk dites. Nah itu baru kita bisa punya harapan untuk kebijakan PPKM," kata epidemiolog Universitas Indonesia, Hermawan Saputra, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/6).

Hermawan mengatakan pendekatan kebijakan yang dilakukan dalam PPKM tidak bisa diandalkan jika tracing dan testing masih lemah.

Indonesia sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 beberapa pekan terakhir. Fenomena yang disebut sebagai gelombang kedua ini dipicu oleh mobilitas warga saat Lebaran Idulfitri, serta beberapa kegiatan massal seperti hajatan atau kumpul keluarga.

Hari ini, Indonesia mencatat total 2.093.962 kasus Covid-19. Sebanyak 194.776 orang masih positif Covid-19, 1.842.457 orang sembuh, dan 56.729 meninggal dunia.

(dhf/vws)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengirim permohonan kepada Pemprov Jateng supaya diberi mobil laboratorium polymerase chain reaction (PCR).

Tujuannya, supaya pembacaan hasil sampel swab hasil tracing cepat diketahui. Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Muh Ali mengaku pihaknya telah meminta mobil laboratorium PCR itu pada pekan lalu.

Muh Ali mengatakan, mobil laboratorium PCR tersebut sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembacaan sampel hasil tracing. Sebab, saat ini untuk mengetahui hasil tes PCR butuh waktu lebih kurang sepekan.

“Kalau ada mobil PCR diharapkan bisa lebih cepat, sebab saat ini tracing kami meningkat,” kata Muh Ali, Rabu (23/6/2021). Ia menyebut, saat ini antrean pembacaan hasil tracing hingga 2.000 lebih sampel.

Sementara, kemampuan tes PCR di Kabupaten Jepara dalam sehari maksimal 400 sampel. Kondisi ini mengakibatkan antrean menjadi sangat panjang. Sehingga, diketahuinya orang yang mungkin terkonfirmasi positif Covid 19 menjadi sangat telat.

“Jadi kalau hari ini dites PCR, hasilnya baru bisa diketahui lima hari yang akan datang. Itu sebabnya, kami minta bantuan mobil PCR ini ke pemprov,” kata Muh Ali.

Tingginya tracing yang dilakukan seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 di Bumi Kartini. Hingga Rabu pagi ini, jumlah kasus yang aktif di Bumi Kartini ada 2.232 orang yang terkonfirmasi positif Covid 19.

Sementara secara keseluruhan di Jepara sudah ada 12.556 kasus. Dari jumlah itu, 9.683 orang di antaranya telah sembuh. “Saya memohon masyarakat bisa menjalankan protokol kesehatan sehari-hari. Selalu pakai masker dan cuci tangan dengan rajin,” pungkasnya.  

Reporter: Faqih Mansur Hidayat

Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas kesehatan di Prancis belum lama ini menemukan varian virus corona baru bernama "le variant breton" di wilayah Brittany yang menurut mereka lebih sulit dideteksi walau tampaknya tak lebih berbahaya atau menular.

Direktur penyedia layanan kesehatan ARS regional, Stephane Mulliez dalam sebuah konferensi pers mengatakan, temuan ini berasal dari delapan orang lansia yang menunjukkan gejala umum Covid-19 tetapi tes polymerase chain reaction (PCR) memperlihatkan hasil negatif. Padahal, tes yang memanfaatkan usap hidung ini biasanya sangat akurat.

Setelah tim medis melakukan pengujian lebih lanjut yakni memanfaatkan sampel darah serta lendir dari saluran pernapasan yang lebih dalam barulah pasien itu diketahui terkonfirmasi Covid-19.

Menurut direktur regional badan kesehatan nasional Sante Publique Prancis, Alain Tertre, seperti dikutip dari Medical X Press, Selasa, 23 Maret 2021, satu kemungkinannya, virus menyebar lebih cepat antara saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah.

Menyoroti temuan ini, Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, diagnosis positif baru muncul setelah pasien diperiksa jaringan paru-parunya dan ini tidak mudah.

"PCR test biasa kita pakai untuk memastikan seseorang sakit atau tidak. Untuk kasus-kasus di Prancis ini mereka baru dipastikan sakit sesudah dilakukan pemeriksaan mendalam darah dan bahkan jaringan paru-paru nya, suatu pemeriksaan yang amat tidak mudah dilakukan," kata dia dalam pesan elektroniknya, ditulis Selasa.

Tes PCR sendiri dilakukan untuk mendeteksi materi genetik khusus SARS-CoV-2 atau organisme apa pun. Tes ini dianggap sangat akurat (dibandingkan dengan tes lain) dan mendeteksi jenis virus apa pun.

Sebenarnya, ini bukan varian pertama yang mampu menghindari pengujian. Peneliti Finlandia pada Februari lalu mengidentifikasi strain bernama Fin-796H dengan mutasi yang membuatnya sulit dideteksi dengan beberapa tes usap hidung juga.

Ketidakmampuan untuk secara akurat mendiagnosis orang yang terinfeksi, memunculkan dugaan PCR tak akan lagi ampuh mendeteksi Covid-19 termasuk pada seseorang yang mengalami gejala.

Walau begitu, salah satu perusahaan diagnosa Eropa, Novacyt Group, mengumumkan tes PCR-nya berhasil mendeteksi varian baru.

"Sekarang tentu PCR masih gold standard, dan belum perlu modifikasi apa-apa. Ini laporan awal tentang perkembangan yang ada, kita lihat dulu bagaimana perkembangannya nanti," kata Tjandra.

"Tentu kita belum tahu bagaimana perkembangan mutasi 'le variant breton' ini selanjutnya, tetapi kalau memang nantinya keampuhan tes PCR jadi benar-benar terganggu maka tentu dunia akan menghadapi babak baru dan tantangan cukup berat untuk mendiagnosis virus corona Covid-19," imbuh dia.

ANTARA

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2