Inisiatifnews.com – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Jimly Asshiddiqie memberikan peringatan kepada siapapun orang yang berkecimpung di dunia dakwah, agar sangat menjunjung tinggi esensi kehati-hatian dalam berdakwah, khususnya ketika berinteraksi dengan platform digital seperti sosial media.

“Para penceramah harus sadari, sekali pakai platform youtube atau medsos, audiensnya luas, tidak terbatas,” kata Prof Jimly, Minggu (5/9).

Karena akses jaringannya yang sangat luas dan target audiens-nya yang terlalu lebar, maka setiap perkataan yang keluar dan tersebar-luas jangan sampai menjadi diksi yang negatif di kalangan masyarakat, apalagi sampai bisa mengarah kepada unsur penghinaan atau merendahkan harkat serta martabat orang lain.

Lebih-lebih yang direndahkan adalah ajaran agama lain yang notabane diakui oleh negara berdasarkan konstitusi. “Maka hati-hati dengan materi ceramah, jangan sampai menyinggung perasaan orang yang keyakinan agamanya beda,” ujarnya.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menilai, materi dakwah yang tidak dilakukan secara hati-hati tanpa melihat kemajemukan yang ada di Indonesia, maka potensi menimbulkan luka hati orang lain sangat mungkin terjadi.

Tidak hanya bisa merugikan pendakwah sendiri, bahkan bisa lebih besar dari itu yakni permusuhan antar kelompok berbasis pendakwah tertentu, atau bahkan terjadinya bersitegang antar umat beragama.

“Bisa timbul emosi dan nama ulama menjadi taruhan karena dimaki (olah) mereka yang tak suka,” tambahnya.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Pakar Media Sosial Ismail Fahmi menyayangkan sikap umat khususnya sebagian umat muslim yang tidak mengecek apakah informasi tersebut benar atau tidak sebelum menyebarkannya.

Padahal tindakan tersebut telah diperintahkan pada Surat Al-Hujurat ayat 6 tentang meneliti kebenaran agar tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan dan menyesali atas perbuatannya. 

"Ayat ini bukan buat orang Islam tapi buat orang yang beriman. Kalau mereka percaya teori konspirasi ya wajar memang orang yang tidak beriman tidak memeriksa. Kita umat Islam yang beriman seharusnya punya alat tadi seharusnya jangan percaya," terang Ismail dalam Webinar acara literasi pandemi dan pemulihan ekonomi di kalangan milenial muslim secara virtual, Sabtu 4 September 2021.

Ia menjelaskan hoaks muncul dari seluruh banyak gabungan atas teori konspirasi. Misalnya dengan dibuatnya satu cerita masuk akal yang mereka ambil dari berbagai konsep satu dengan konsep yang lain disebut dengan konteks collapse.

"Paragraf pertama itu data, paragraf keempat ada ustad yang berbicara bahwa ga boleh percaya vaksin harus percaya kepada Allah. Dan bayangkan setiap hari membaca berita itu terus-menerus umat Islam dikasih terus hingga sibuk biar nggak berkembang dan kita tidak menjalankan Al-Hujurat ayat 6 sehingga langsung percaya saja," paparnya.

Teori konspirasi pun menyerang secara psikologis otak manusia disaat membutuhkan sesuatu yang dapat membuat dirinya tenang dan yakin atas kondisi yang dialaminya saat ini. Selain itu, penjelasan dapat disampaikan secara logis dan masuk akal meskipun teori konspirasi itu salah.

"Ketika pada kondisi Covid orang tidak bisa keluar kemudian banyak umat masyarakat jatuh miskin tidak bisa bekerja. Saat punya masalah, dia butuh sesuatu untuk membuat tenang sehingga mempercayai tidak adanya covid itu membuat dia tenang kalau percaya sama Covid malah lebih khawatir," urainya.

Oleh karena itu ia mengingatkan kepada umat muslim cara menjalankan Al-hujurat ayat 6 yakni dengan mengecek, untuk siapainformasi dibuat, apa yang sebenarnya ingin disampaikan, mengapa berita ini dibuat, sumber informasi, dan gambar atau videonya otentik. 

"Paling gampang di lihat cek fakta atau setiap minggu Kominfo membuat rilis cek fakta. Kalau saya dari Google aja jauh lebih mudah tinggal ketik judulnya di kolom nanti terlihat informasi yang benarnya," jelas Ismail.

"Kita punya PR untuk menjalankan surat Al-hujurat ayat 6 jadi sikap kita adalah saring sebelum sharing. Periksa sebelum di-share," imbuhnya.

(mhd)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pascameninggalnya Ustaz Arifin Ilham, dikabarkan  muncul perseteruan dalam kehidupan istri yang ditinggalkan Sang Ustaz.

Di akun FB Mak Lembe Turah, dinukil NNC 23 Agustus 2021, banyak netizen malah menanggapi tentang praktik poligami yang dilakukan Ustaz Arifin.   

MLT: “Yang banyak sodara aja berantem, apalagi banyak istri....maklumlah kl ada sedikit berantem.... manusiawi lahh.”

Kun Hartawan: “….Ya sdh d jalani aja, namany pilihan punya 3 istri dan masing2 istri punya ego dan keinginan sendiri2….belum lagi kalu ada anak masing2 dri ketiga istri tsb…dan pastiny akan semakin besar masing2 keinginan dan ego nya .”

Wardhani: “Semua akibat t*t*t nakal..”

Rustiyani: “Semoga beliau yang sudah meninggal tidak menangis.”

Wee Jee: “Banyak teman saya yang jadi istri ke dua ke tiga ke satu. Ternyata tak seindah yang kita lihat di somed. Ngilu nda kalau denger curhat nya....”

Sebelumnya diberitakan, masalah yang mendera Alvin Faiz ikut menghantam keluarganya. Seusai bercerai dari Larissa Chou, sempat ada polemik di dalam keluarga.

Istri pertama Ustadz Arifin Ilham, Umi Yuni dikatakan sempat menjelekkan Larissa Chou lewat DM dengan menggunakan akun palsu.

Kini istri kedua Ustadz Arifin Ilham, Umi Rania Bawazier disebut turut melaporkan Umi Yuni ke pengadilan!

Selama ini Ustadz Arifin Ilham diketahui memiliki 3 orang istri dan hidup rukun. Bahkan ketiganya kompak menjaga Ustadz Arifin Ilham semasa hidup.

Namun kini setelah Alvin Faiz bercerai dari Larissa Chou, banyak masalah yang mencuat ke publik.

Itu diketahui dari unggahan Instagram Story Nazmi yang kakak kandung Umi Rania Bawazier, sebagaiman dikutip dari @nenk_update pada Kamis (19/8/2021) malam.

Awalnya dia mengunggah foto kuda dengan tulisan, 'Fokus aja main kuda #jangan main akun palsu'.

Dia menambahkan di bawahnya, 'oknum yg bikin nama islam buruk, yaitu oknum yg selalu berlindung dalam ayat atas kesalahannya.. tapi ketika bikin fake account dan sebarin fitnah, tiba-tiba lupa sama semua ayat dan hadits..'.

Kemudian dia juga mengunggah pintu Pengadilan Negara Jakarta Pusat sambil menandai Umi Rania dan juga Azzikra.

Banyak yang menduga Umi Rania diejek oleh akun palsu yang milik Umi Yuni.

Umi Yuni juga sebelumnya sempat tertangkap basah menggunakan akun palsu untuk menghujat Larissa Chou pasca bercerai dari Alvin.

Sebelumnya, hubungan pasangan ini sudah merenggang sejak bocornya sebuah postingan Instagram Story Larissa.

Di situ, Larissa mencurahkan seluruh keresahan hatinya menghadapi kelakuan Alvin selama menikah.

Namun tak lama setelah kejadian tersebut, Alvin dan Larissa sudah kembali berbalas komentar di sosial media.

Kini, giliran kelakukan ibunda Alvin Faiz yang dibeberkan oleh Larissa Chou.

Itu bermula saat adik ipar Alvin Faiz, Nadzira Shafa melakukan live di Instagram bersama Umi Yuni.

Larissa langsung menuliskan bahwa ia menunggu permintaan maaf Umi Yuni.

"Hello, ditunggu permintaan maafnya ibu Yuni," tulis Larissa, dikutip dari YouTube TRANS7 Lifestyle, Senin (28/6/2021).

Tidak hanya itu, Larissa Chou juga mengatakan bahwa hidupnya kini hancur karena Umi Yuni.

"Masih bisa tertawa habis hancurin hidup aku ini," sambungnya.

Lebih lanjut, Larissa Chou menjelaskan alasannya menuliskan kalimat menohok tersebut.

Menurutnya, ibunda Alvin Faiz masih memberikan tekanan yang membuatnya sangat lelah.

Bahkan, Larissa memergoki Umi Yuni menggunakan akun palsu (fake account) di Instagram untuk mengirim komentar jahat padanya.

"Hanya berada di titik sangat lelah, dan sudah tertekan banget, kayak mau teriak tapi enggak bisa."

"Hari ini aku diomongin lagi oleh fake account dari pihak keluarga mantan suami, ibunya," pungkasnya seperti dinukil Tribunnews.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P

 
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Deddy Corbuzier memberi pengumuman mengejutkan melalui Instagram, Selasa (10/8). Ia pamit alias memutuskan mundur dari media sosial sampai waktu yang belum diketahui. 
Ya, dirinya juga bakal tak aktif mengunggah konten YouTube. Padahal, selama ini pria berusia 44 tahun itu sangat produktif membuat konten yang dikenal dengan nama Deddy Corbuzier Podcast.
 
Kanal YouTube Deddy Corbuzier dibuat pada 8 Desember 2009 lalu. Kini, kanal tersebut telah memiliki 15,3 juta subscriber.
 
Berhenti Bikin Podcast, Deddy Corbuzier Diprediksi Kehilangan Rp 5 M Sebulan (1)
Deddy Corbuzier Foto: Munady Widjaja
 
Berkat produktivitasnya di YouTube, Deddy Corbuzier diperkirakan meraup keuntungan USD 23,5 ribu sampai USD 375,3 ribu atau setara Rp 337,86 juta sampai Rp 5,395 miliar (kurs Rp 14.377) per bulan. Perkiraan ini berdasarkan data di situs Social Blade dan belum termasuk keuntungan dari sponsor dan lain-lain jika ada.
 
Masih berdasarkan situs Social Blade, Deddy Corbuzier menempati urutan ke-12 di antara youtuber Indonesia. Dalam setahun, diperkirakan ia meraup keuntungan USD 281,4 ribu sampai USD 4,5 juta atau setara Rp 4,045 miliar sampai Rp 64,69 miliar (kurs Rp 14.377).
Dengan demikian, jika Deddy Corbuzier benar-benar bakal vakum dari media sosial—yang artinya juga tak mengunggah konten apa pun ke YouTube—hingga satu bulan ke depan, ia diprediksi akan kehilangan sekitar Rp 337,86 juta sampai Rp 5,395 miliar.
 
Di samping itu, konten YouTube Deddy Corbuzier, meski tak semua, juga dimasukkan ke Spotify. Hanya saja, tak diketahui berapa keuntungan yang didapatkannya dari situ.
 

Deddy Corbuzier Pamit dari Media Sosial karena Beberapa Alasan

Deddy Corbuzier tak banyak memberi keterangan saat mengumumkan dirinya mundur dari media sosial sampai waktu yang belum diketahui. Yang jelas, ia mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh beberapa alasan.
 
"For some reason I'm currently off every socmed, podcast, and WhatsApp. Deddy Corbuzier," tulisnya. kumparan telah berusaha untuk menghubungi manajer Deddy Corbuzier terkait hal ini. Namun, belum ada respons.
Diterbitkan di Berita

Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD kembali safari dialog virtual dengan berbagai elemen. Hari ini, Sabtu (31/7), Menko Polhukam berbincang membahas penanganan pandemi Covid-19 dengan alim ulama, pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas lintas agama, dan Forkopimda se-Jawa Tengah (Jateng).

Hadir dalam dialog virtual ini jajaran dari BNPB, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kakanwil Kemenag Jateng, dan puluhan perwakilan ormas keagamaan di Jateng.

Mahfud MD lebih banyak mendengar masukan dan saran dari berbagai tokoh agama dan masyarakat dalam dialog ini.

Masukan muncul beragam, mulai soal vaksinasi Covid-19, penyaluran bantuan sosial (Bansos), masyarakat yang masih abai protokol kesehatan, hingga hoaks yang beredar di media sosial yang makin menyusahkan penanganan Covid-19.

Perwakilan Pengurus Fatayat Jepara, Nanik misalnya, dia mengeluhkan, penyaluran bantuan sosial yang rumit. Tetutama bagi masyarakat yang sudah sepuh dan di pelosok desa yang susah sekali dapat bansos karena administrasi.

“Apakah tertib administratifnya agar dihilangkan dulu. Supaya terakses sampai ke bawah. Apalagi yang di desa, di pelosok. Selain itu, hoaks di media sosial ini meresahkan. Menghancurkan pekerjaan kita semua di lapangan,” kata Nanik.

Serupa, perwakilan PWNU Jateng Musahadi mengingatkan, pandemi ini akan lebih mudah jika ditangani bersama. Masalahnya, musuh saat pandemi tak hanya Covid-19. Tetapi juga kelompok masyarakat yang tidak percaya Corona, dan menebarkan ketidakpercayaannya kepada publik.

“Kita medan pertempurannya dan perang wacananya di media sosial. Hoaks soal Corona ini amat berpengaruh terhadap cara pikir masyarakat, apalagi di desa yang jauh dari sumber informasi. Pemerintah saya kira kurang perhatian dengan hoaks, provokasi di media sosial yang amat merusak ini,” kata dia.

Dikatakannya, masyarakat yang diprovokasi biasanya kelompok yang kurang beruntung saat PPKM berlangsung. Karenanya, harus ada pendekatan budaya kepada kelompok masyarakat ini. Jangan melulu memakai pendekatan hukum. Pendekatan personal perlu kepada orang yang kena pengaruh hoaks.

“Soal Bansos, problem formal yang bikin tidak tersalurkan harus diurai. Ajak tokoh masyarakat dan agama menyalurkan. Agar ada trust. Agar administrasi tetap bisa dilakukan tanpa melanggar,” saran dia.

Mursidi perwakilan dari FKUB Wonogiri mengamini, hoaks di medsos berhasil mematahkan kampanye pemerintah. “Tolong ini diberantas. Kita mati-matian sebarkan info yang benar, sirna karena informasi hoaks di medsos. Surat edaran tidak sampai ke bawah.

Seperti prokes tempat ibadah, masih massif yang melanggar karena hoaks ini,” keluhnya. Sedangkan dari PC Muslimmat NU Sukoharjo Hafidah ingih Pemda merangkul tempat ibadah yang gencar meng-counter instruksi pemerintah.

“Di wilayah saya ada, sangat meresahkan. Ini perlu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Rangkul mereka, yang enggan prokes di masjid, di pengajiannya, dengan pendekatan yang pas. Turun langsung atasi ini. Kalau yang bilang kami, ada sekat. Kalau aparat, pasti bisa deh,” yakinnya.

Sementara perwakilan ormas lainnya mengungkapkan, telah membantu Pemda dalam penanganan Covid-19. Seperti Tri Wahono dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Jateng.

Dia menyatakan, Pura di Jateng sudah ditutup. Kegiatan doa bersama dilakukan di rumah masing-masing. Romo Parso Subroto dari Gereja Salatiga, juga turut melayani vaksinasi untuk warga.

Sementara PW Muhammadiyah juga telah mengerahkan Covid-19 Command Centre dan jajarannya untuk membantu masyarakat.

Sedangkan Moh Jazuli dari Pesantren Pancasila Sakti Klaten, ingin kerja kolosal dilakukan kongkret dengan melibatkan berbagai komunitas secara maksimal dan konsisten. Akses informasi dan koordinasi juga mestinya dipermudah.

Menanggapi berbagai keluhan dan masukan ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta warganya melapor jika ada individu atau kelompok masyarakat yang menyebarkan hoaks atau mengajak melanggar aturan. Namun, Ganjar juga meminta dukungan saat dia bertindak tegas.

“Saya online tetus. Saya akan ambil tindakan tegas. Saya ingatkan yang di Sukoharjo, ayo ditutup. Laporkan ke saya. Bapak Ibu, kalau ada tindakan tegas, saya minta dukungan. Saya sudah mendekati satu persatu ulama yang provokatif. Saya telfon ulama yang lagi ngaji untuk stop. Saya ambil risiko loh. Bisa digoreng secara agama,” kata Ganjar.

Dia pun mengingatkan, pandemi ini bisa kelar jika ada kerja bersama seluruh elemen.

“Bangun kelompok dan komunitas. Sepeti Covid Ranger di Rembang, mereka punya data dan bantuin orang yang lagi isoman. Ada komunitas yang khusus beli produk UMKM. Daripada demo di jalanan, mending bantu UMKM. Kalau nunggu pemerintah, nggak akan bisa. Harus bareng-bareng,” ucapnya.

Selain itu, pejabat juga harus memberi contoh. Pemprov Jateng telah mencontohkan memproses para pejabat melanggar prokes dan aturan hingga pengadilan. Soal bansos, kata Ganjar, peran Baznaz dan CSR diperlukan di luar bantuan resmi pemerintah pusat dan daerah.

Sedangkan Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan pentingnya kolaborasi dan kerja kolektif berdasarkan kesadaran bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, tidak juga mengandalkan ormas keagamaan, dan berbagai kekuatan masyarakat yang dibiarkan bekerja sendiri.

“Kita perlu dukungan dan perantara alim ulama, pengasuh ponpes, pimpinan agama, untuk mendukung peningkatan implementasi kesehatan dan percepatan vaksinasi pada masyarakat. Mari kolaborasinya diperkuat,” ajaknya.

Soal hoaks di media sosial, Mahfud menyatakan, aparat akan tegas namun tetap berhati-hati.

“Kita sudah punya UU ITE. Tapi memang dilema, kalau dilaporkan, nanti dibilang antidemokrasi. Sehingga lalu Presiden mengatakan, jangan sembarang menindak di medsos saat menggunakan pasal UU ITE. Harus selektif, jangan sampai orang nggak salah jadi korban. Selain itu, kita kedepankan restorative justice dan humanis,” terangnya. (INI)

Diterbitkan di Berita
Agus Tri Haryanto - detikInet Jakarta - Hoax dan disinformasi yang berkaitan dengan virus Corona (COVID-19) masih terus beredar luas, terutama di media sosial.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate telah melakukan pertemuan secara virtual dengan para pengelola media sosial yang beroperasi di Indonesia pada Minggu (18/9).

Dalam kesempatan itu, ia menyesalkan banjir informasi yang tidak tepat dan sangat mempengaruhi laju pemulihan pandemi COVID-19 di Indonesia.

"Penyebaran berita bohong sangat memengaruhi pemikiran manusia, yang menjadi taruhan adalah nyawa saudara-saudara kita sebangsa Indonesia. Sudah banyak yang menjadi korban dari penyebaran infodemi yang kian masif ini, kita tidak boleh menyerah kalah," tutur Johnny.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia telah menginstruksikan kepada semua platform digital untuk lebih proaktif melakukan penanganan konten hoax, turut mengamplifikasi pesan yang membangun optimisme dan kekuatan bangsa, serta turut menyebarkan informasi kebijakan dan penanganan COVID-19 oleh pemerintah, termasuk percepatan vaksinasi dan penanganan protokol kesehatan.

Berikut temuan Kominfo menyangkut infodemi yang masih beredar di media sosial:

1. Infodemi yang terkait dengan hoax dan disinformasi COVID-19

Sepanjang 23 Januari hingga 2020 hingga 18 Juli 2021 telah ditemukan 1.763 isu hoax COVID-19 yang tersebar ke dalam 3.817 postingan media sosial, di mana 3.356 postingan di antaranya telah diturunkan atau di-take down.

Beragam temuan tersebut ditindaklanjuti dengan penegakan hukum oleh Kepolisian RI terhadap 767 kasus yang dilakukan sampai dengan 15 Juli 2021.

Temuan hoax ini menyangkut isu antara lain pemelintiran informasi bahwa rumah sakit sengaja meng-covid-kan para pasien yang data demi keuntungan komersil hingga kabar sehat bahwa COVID-19 merupakan konspirasi.

2. Infodemi yang terkait dengan hoax dan disinformasi Vaksin COVID-19

Sepanjang 4 Oktober 2020 hingga 18 Juli 2021 telah ditemukan 252 isu hoax vaksin COVID-19 pada 1.850 postingan media sosial, di mana seluruhnya telah ditangani atau di-take down.

Temuan hoax ini menyangkut isu, di antaranya vaksin yang menyebabkan gelombang radiasi elektromagnetik, informasi keliru yang menuding bahwa vaksin menyebabkan kematian, dan juga informasi keliru yang menyatakan bahwa penyebaran COVID-19 varian Delta disebabkan karena vaksinasi.

3. Infodemi yang terkait dengan hoax dan disinformasi PPKM Darurat

Sepanjang 4 Juli hingga 18 Juli 2021 telah ditemukan 25 isu hoax PPKM Darurat pada 209 postingan media sosial, di mana 136 postingan di antaranya telah ditangani atau di-take down.

Temuan hoax ini utamanya menyangkut informasi keliru tentang penolakan PPKM Darurat di berbagai daerah, serta pemahaman yang salah mengenai perpanjangan PPKM Darurat.

(agt/fay)

Diterbitkan di Berita
Ciremaitoday.com, Kuningan - Pembuat video tak percaya adanya virus corona yang viral diamankan petugas Polres Kuningan, Polda Jawa Barat. Warga berinisial AS dari Desa/Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dijemput petugas saat berada di bengkel tempatnya bekerja.
Seusai diamankan petugas, AS membuat pernyataan klarifikasi di ruang Sat Reskrim Polres Kuningan. Dalam video berdurasi 1 menit itu, AS meminta maaf karena sudah membuat pernyataan yang tidak percaya adanya COVID-19.
 
 
“Saya meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan kemarin, dengan mengupload video ketidakpercayaan adanya COVID-19. Saya sadar saat ini, pasti ada beberapa teman-teman lembaga yang bilang sakit hatinya atas pernyataan saya,” kata AS seperti dalam video yang diterima awak media, Minggu (20/6/2021).
 
Dia menyebutkan, beberapa lembaga yang dimaksud yakni Satgas COVID-19 Kuningan, tenaga kesehatan hingga TNI-Polri. Termasuk masyarakat Kabupaten Kuningan secara luas, khususnya di Desa Ciwaru. 
“Untuk itu, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi apa yang saya lakukan,” ucapnya.
 
AS berpesan, agar tindakan yang telah dilakukan tidak ditiru oleh orang lain. “Kepada teman-teman jangan sampai seperti saya. Mudah-mudahan teman-teman yang lainnya bisa melakukan interaksi di medsos itu sebijak mungkin,” tutupnya. 
Sebelumnya personel Polsek Ciwaru, Polres Kuningan, mengamankan AS pada Sabtu (19/6/2021) pagi. AS dibawa ke kantor kepolisian untuk dimintai keterangan kaitan dengan video yang dibuatnya.
 
 
Kapolsek Ciwaru, Iptu Nurjani dalam keterangan persnya, mengatakan, warga berinisial AS terpaksa diamankan petugas setelah menerima laporan akibat video yang dibuatnya viral.
Sebab video berdurasi 2 menit 50 detik itu menunjukan sikap tidak percaya adanya COVID-19, sehingga membuat resah masyarakat.
 
“Bahkan dari Jumat malam itu kami sudah mencari pembuat video, hanya tidak ketemu baik di bengkel tempatnya bekerja maupun di rumahnya. Kemudian pada Sabtu pagi, anggota Polsek Ciwaru mengamankan pelaku di bengkel tempatnya bekerja,” ungkapnya. 
Dia menjelaskan, warga berinisial AS diamankan akibat ucapan dalam video yang dibuatnya dianggap memprovokasi masyarakat luas. Bahkan banyak tenaga kesehatan tidak terima dengan pernyataan pelaku di video tersebut.
 
“Ucapannya di video tersebut membuat teman-teman nakes merasa geram, apalagi saat ini situasi di Ciwaru dalam kondisi kasus COVID-19 cukup meningkat. Karena khawatir memprovokasi dan adanya laporan warga, maka kami mengamankan pelaku,” bebernya.
Diterbitkan di Berita

 

TEMPO.COJakarta - Penyanyi legendaris, Iwan Fals tertarik mengomentari fenomena kemarahan yang dimunculkan belakangan ini oleh pemudik dan pembeli barang online. Ia merasakan kemarahan dan lontaran kata-kata kasar itu keluar dari mulut perempuan. 

"Perasaan akhir-akhir ini di medsos, banyak emak-emak yang marah-marah ya, apa cuma perasaaan saya saja," cuitnya pada Ahad, 16 Mei 2021. 

Ada tiga perempuan yang menjadi pusat perhatian Iwan Fals. Pertama, perempuan yang mengumpat ke polisi ketika disuruh putar balik di Sukabumi saat nekat mudik. Padahal, pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik untuk mencegah penularan Covid-19. Si ibu itu melakukan kekerasan verbal dengan memaki polisi dengan menggunakan nama hewan. 

Perempuan kedua adalah ibu-ibu sudah sepuh bersama putrinya yang memesan baju secara online dan membayarnya dengan sistem COD atau cash on delivery.

Saat kurir mengantarkan barang yang dipesan, ia membuka bungkusan itu dan menolak membayarnya dengan alasan barang yang dipesan tak cocok. Bukannya beritikad baik, ibu dan anak itu justru memaki kurir yang tidak tahu apa-apa dan mengumpat dengan kata dan kalimat amat tak sopan. 

Yang ketiga, menurut Iwan adalah perempuan yang marah saat mau ke Anyer. Ia memaki polisi yang melarangnya pergi dan bersikap arogan. 

Sebelum mencuit tentang kecenderungan perempuan yang mudah marah dengan melakukan kekerasan verbal, Iwan juga mengunggah foto tangkap layar saat ibu sepuh itu memaki kurir COD. "Ada yang punya cerita sama dengan ibu ini," cuit Iwan Fals pada Ahad, 16 Mei 2021. Iwan ingin memancing diskusi dengan para pengguna Twitter yang mengikutinya.

Belakangan, ibu-ibu yang disuruh putar  balik di Sukabumi dan di Anyer sudah dicokok polisi. Kedua ibu itu meminta maaf atas perlakuan kasar mereka kepada polisi. Adapun si ibu dan anak yang memesan barang online dan memaki kurir hingga kini belum ditemukan rumah dan akun media sosialnya. 

Sebelum Iwan Fals melontarkan kegundahannya melihat ibu-ibu belakangan ini melakukan kekerasan verbal, kegusaran serupa diungkapkan pengacara, Hotman Paris. Pengacara flamboyan itu tak terima melihat petugas kepolisian dimaki oleh pemudik. Ia meminta polisi menangkap dan memproses perempuan yang memaki polisi ketika diminta putar balik di Sukabumi, Jawa Barat.

Diterbitkan di Berita
Wahab Firmansyah sindonews.com JAKARTA - Akhir-akhir ini, publik kerap kali disuguhkan dengan berbagai peristiwa di media sosial yang menunjukkan masyarakat yang mengamuk hingga memaki kepada petugas.
Ujung dari video-video viral ini juga kerap sama, di mana para pelaku kemudian meminta maaf atas perbuatannya di atas materai Rp 10.000.

Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menilai fenomena ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Fenomena arogansi dikatakannya tidak bisa melulu diakhiri hanya dengan materai dan permintaan maaf.

“Saya geram sekali melihat fenomena yang banyak terjadi akhir-akhir ini, di mana masyarakat melawan polisi yang sedang bertugas, bahkan hingga memaki-maki mereka. Kejadian ini bukan cuma satu orang, namun berkali-kali terjadi, dan selalu berakhir dengan materai sepuluh ribu. Masak, suara besar, lalu maki-maki petugas dengan tak tahu etika, lalu setelah diciduk, hanya minta maaf dengan materai Rp10.000?” kata Sahroni dalam keterangannya, Senin (17/5/2021).

Sahroni berharap ada tindakan lebih tegas dilakukan petugas pada para pelaku keributan ini, di antaranya dengan kerja sosial, maupun dipenjara. “Tidak bisa dibiarkan. Harus ada hukuman keras agar masyarakat bisa lebih menuruti aturan dan menghargai petugas yang bekerja. Hukumannya bisa dengan kerja sosial, atau ya dipenjara saja,” ujarnya.

Dia menilai upaya penyelesaian yang ada saat ini, yaitu hanya dengan tanda tangan di atas materai, tidak memberikan efek jera dan justru mencoreng harga diri hukum di Indonesia.
“Saya minta kepolisian memberikan sanksi hukuman yang lebih berat untuk para pemaki ini.
 
Menurut saya, kalau semua kasus pelanggaran diselesaikan hanya dengan meminta maaf dan meterai Rp10.000, tidak akan memberikan efek jera dan saya khawatir harga diri hukum Indonesia jadi jatuh di mata publik, aparat tidak dihargai,” tutur politikus Partai Nasdem ini.
(dam)
 
 
Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Pakar hukum Petrus Selestinus menyebutkan polisi mesti menindak gerakan radikal dan memproses hukum orang-orang di balik media sosial radikal.

Petrus Selestinus, dalam rilis diterima di Jakarta, Kamis, mengatakan penyebaran ideologi radikal juga memanfaatkan ruang media sosial. Selama ini, pemerintah hanya menutup akun yang terindikasi menyebarkan radikalisme.

"Polisi wajib memproses hukum pihak-pihak yang menguasai dan memiliki atau pemilik akun medsos yang terindikasi menyebarkan paham radikal, terutama paham yang menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila dan mengancam kedaulatan negara," kata kata dia.

Dia mengatakan, polisi bisa menjerat pemilik akun medsos radikal tersebut dengan Undang-undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Pemblokiran itu baik sebagai langkah preventif tetapi juga harusnya ditindaklanjuti dengan langkah pemidanaan, karena hukum positif kita sudah mengaturnya," kata Petrus.

Menurut dia, polisi tidak harus menunggu pengaduan atau laporan masyarakat untuk memproses hukum pihak-pihak yang menguasai dan memiliki atau pemilik akun medsos yang terindikasi menyebarkan paham radikal.
 
Polisi siber memiliki kemampuan dan kewenangan untuk bertindak tanpa harus menunggu pengaduan masyarakat.

Jika hal itu dilakukan, Petrus menduga dampaknya bagi pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme akan cukup besar.

"Sekaligus mencegah meluasnya penyebaran paham radikal atau radikal terorisme yang sangat mengancam kedaulatan negara, kehormatan dan wibawa negara," ucap Petrus.

Sebelumnya, mantan narapidana teroris Haris Amir Falah, menyebut ada perubahan pola rekrutmen orang yang disiapkan melakukan aksi teror. Rekrutmen calon teroris tidak lagi melalui tatap muka, melainkan via media sosial.

Melalui media sosial, menurut Haris, calon pengantin bisa melakukan dialog tanpa bertemu tatap muka dengan pembinanya. Haris menuturkan, sejumlah platform media sosial yang kerap dijadikan medium indoktrinasi serta rekrutmen teroris adalah Facebook dan Telegram.

Sedangkan Menkominfo Jhonny Plate mengatakan Kementerian Kominfo mengawasi ruang siber menggunakan mesin crawling berbasis AI yang memantau akun dan konten-konten yang terkait dengan kegiatan radikalisme terorisme.

Kemenkominfo juga berkoordinasi dengan kementerian/lembaga serta stakeholder terkait lainnya soal penanganan penyebaran konten radikalisme dan terorisme di medsos. Kominfo juga berupaya menyampaikan konten positif untuk memberi literasi kepada masyarakat.

"Hingga 3 April 2021, Kementerian Kominfo telah memblokir konten radikalisme terorisme 20.453 konten yang tersebar di situs internet, serta beragam platform media sosial," ujar Jhonny.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2