Jakarta, Dakwah NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan kejadian pengusiran terhadap seseorang yang sedang melaksanakan sholat dan i’tikaf di sebuah masjid di Bekasi oleh beberapa pemuda dengan alasan yang bersangkutan menggunakan masker.

Terlebih pengusiran itu didasarkan dengan menggunakan ayat suci Al Qur’an.

“Perlu kami tegaskan bahwa pengggunaan masker (adalah) bukan tindakan kriminal dan menggunakan masker bukan sesuatu yang membatalkan sholat ataupun membatalkan peribadatan,” kata Sekretaris Jenderal PBNU Gus Helmy Faishal Zaini dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (5/3).

Bahkan di Masjidil Haram, Kebijakan dari dua masjid suci Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah, jama’ah diharuskan menggunakan masker dalam peribadatan. Justru yang berbahaya, kata Gus Helmy, mereka yang mengatasnamakan agama, tetapi justru merusak agama.

“Mohon maaf contohnya adalah menggunakan ayat bahwa barang siapa yang masuk ke baitullah akan dijaga keamanan dan keselamatannya, ayat ini benar tapi kita tidak kemudian meletakkannya secara keliru,” ujar Gus Helmy

“Bahwa dalam keadaan pandemi situasi wabah, penggunaan masker ataupun menjaga protokol kesehatan itu bagian dari hifzun nafs yaitu menjaga keselamatan jiwa,” tambahnya.

Kiai Muda kelahiran Cirebon ini mengungkapkan bahwa hifzun nafs dianjurkan dalam beragama. Maka untuk itu mari saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik dan jika ada perbedaan, maka selesaikan dengan cara yang baik.

“Saya mendengar para pemuda itu sudah meminta maaf, mari kita maafkan. Mudah mudahan jadi pelajaran kita semua. Dakwah Islam harus dijalankan dengan cara yang ramah, bukan marah.

Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik, sehingga kita mendapatkan hikmah yang baik,” pesannya.

Kronologis
Beredar video seorang jemaah salat menggunakan masker di dalam masjid justru diusir oleh takmir masjid. Dari informasi yang dihimpun, insiden tersebut terjadi di Masjid Al Amanah, kawasan perumahan Harapan Indah Bekasi, Jawa Barat.

Dalam video berdurasi 2 menit 20 detik tersebut tampak seorang jemaah pria yang baru saja menyelesaikan salat mengenakan masker itu didatangi oleh beberapa takmir masjid. Mereka memarahi jemaah yang salat di dalam masjid mengenakan masker.

“Jangan pakai masker, ada perbedaan masjid dengan pasar,” kata salah seorang takmir, Ahad (2/5/2021).

Pria yang mengenakan jubah berwarna kuning dengan peci itu mengutip Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yang artinya “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”.

Sang jemaah tetap bersikeras bahwa mengenakan masker di dalam masjid merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun, alasan si jemaah terus dibantah oleh takmir masjid. Mereka menyebut masjid memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan pemerintah. (fqh)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com

Entah setan apa yang merasuki pengurus masjid di Kp Tanah Apit, Medan Satria, Kota Bekasi ini. Para pengurus mesjid ini membentak dan mengusir salah satu jamaah yang hendak sholat.

Masalahnya sepele, hanya karena jamaah masuk ke dalam masjid mengenakan masker. Pengurus Masjid Al Amanah berdalih mereka telah membuat aturan melarang penggunaan masker di dalam masjid. Ironisnya mereka berkeyakinan virus corona tidak akan menyebar di dalam masjid.

Padahal jelas ada beberapa kasus penyebaran corona yang terjadi di tempat ibadah salah satunya masjid. Penggunaan masker di tempat umum dan tempat ibadah sendiri sebagai upaya untuk mencegah penyebaran covid 19.

Kasus pengusiran jamaah di Masjid Al Amanah ditangani Polsek Medan Satria. Polisi menegur pengurus DKM Al Amanah yang dinilai arogan

Hingga akhirnya Ketua DKM Al Amanah Abdul Rahman membuat surat pernyataan dan meminta maaf kepada jamaah. Mereka berjanji tidak akan melarang penggunaan masker di dalam masjid.

(sir)
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Ketua Asian Pacific Society of Respirology Erlina Burhan turut menanggapi kebijakan boleh melepas masker di Amerika Serikat (AS) bagi yang sudah divaksin corona. Katanya, tingkat kepesertaan vaksinasi COVID-19 yang relatif tinggi. 
 
"Kalau saya ingin menjelaskan kondisi Amerika dan Indonesia itu berbeda. Pertama, mereka sudah mencapai 'herd immunity' vaksinasi sudah cukup banyak di atas 100 juta yang divaksin karena mereka punya fasilitas itu semua Pfizer dan Moderna," kata Erlina dikutip dari Antara, Kamis (29/4).
Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan itu mengatakan kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri di Amerika Serikat telah membuat program vaksinasi berjalan optimal.
 
"Mereka fokus pada rakyatnya dulu, makanya kita belum dapat Pfizer dan Moderna mereka sudah capai 'herd immunity' yang diharapkan terjadinya perlambatan, melandai dan ke depannya juga menjadi negara yang endemis saja," ujarnya.
 
Atas dasar itu, kata Erlina, otoritas terkait di Amerika Serikat memiliki wacana untuk mengizinkan rakyatnya melepas masker di ruang terbuka, kecuali saat kerumunan.
 
"Mungkin Amerika outbound olahraga di luar. Tapi tidak boleh ditiru di Indonesia, karena capaian vaksinasi kita belum banyak, jadi yang punya kekebalan baru sedikit," katanya.
 
 
Ahli: Boleh Lepas Masker di AS Jangan Ditiru RI, Cakupan Vaksinasi Masih Rendah (1)
Presiden AS Joe Biden melepas masker saat melonggarkan penggunaan masker. Foto: Kevin Lamarque/Reuters
Indonesia baru memungkinkan menerapkan kebijakan melepas masker manakala sudah sampai pada target kekebalan komunal atau 'herd immunity'.
 
Meski demikian, Erlina mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan COVID-19 mengingat virus SARS-CoV-2 berkembang dinamis.
 
"Dulu awalnya hanya yang sakit yang pakai masker. Sekarang semua orang pakai masker baik yang sakit maupun yang tidak. Jadi ini jangan buru-buru meniru," katanya.
 
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui panduan pemakaian masker dan mengkonfirmasi orang yang telah disuntik dua dosis vaksin COVID-19 tak perlu lagi bermasker di luar ruangan kecuali berada dalam kelompok besar orang.
 
Sementara itu, mereka yang belum divaksinasi penuh harus tetap memakai masker dalam situasi tersebut.
Diterbitkan di Berita

Giovani Dio Prasasti Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta agar masyarakat yang telah mendapatkan vaksin COVID-19, untuk tetap menaati protokol kesehatan dan tidak merasa kebal dari virus corona.

"Jangan habis disuntik merasa jadi Superman," kata Menkes Budi Gunadi kepada para driver online di Peresmian Grab Vaccine Center di Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/3/2021). Budi menjelaskan, kekebalan baru bisa optimal pada 28 hari setelah penyuntikan dosis kedua.

"Itu tidak mengubah Bapak-Ibu menjadi Superman. Bahkan jadi tentara dan Polri saja belum," kata mantan Wakil Menteri BUMN ini berkelakar.

Meski tidak menjamin 100 persen terhindar dari COVID-19, dengan adanya vaksin yang menimbulkan antibodi, diharapkan agar apabila terpapar virus, maka dalam satu atau dua hari virus tersebut akan mati.

"Sehingga menularkannya tidak banyak, tetapi Bapak-Ibu masih bisa kena," kata Budi Gunadi. "Mudah-mudahan kalau masuk rumah sakit pun tidak usah dirawat lama-lama, bisa cepat pulang. Tapi, Bapak-Ibu tetap bisa menularkan."

 

Jangan Langsung Buka Masker

 

Budi menjelaskan, hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa setelah divaksin, maka seseorang akan benar-benar terhindari dari COVID-19.

Ia pun mengingatkan bahwa, meski sudah divaksin, seseorang harus tetap menaati protokol kesehatan, demi mencegah dirinya tidak tertular atau menularkan penyakit ke orang lain.

"Jangan langsung buka masker, jalan-jalan kemana-mana sampai 28 hari sesudah suntik kedua," ujarnya. "Sekalipun sudah disuntik, tetap pakai masker, tetap jaga jarak, tetap rajin cuci tangan."

"Ini membuat kita lebih kuat, sehingga mudah-mudahan kalau terinfeksi lebih cepat sembuh secara alamiah, tidak usah masuk rumah sakit, tapi tidak membuat kita menjadi Superman atau Thor yang manusia setengah dewa," pungkasnya.

 

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19?

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Gubernur Texas Greg Abbott, Selasa (2/3), mengeluarkan kebijakan mencabut kebijakan pembatasan sosial terkait virus corona yang paling luas dibanding negara bagian mana pun di Amerika.

Abbott mengatakan sebagian besar bisnis mungkin akan beroperasi dengan kapasitas penuh minggu depan. Ia juga mencabut keharusan mengenakan masker.

Perintah eksekutif itu dikeluarkan ketika banyak negara bagian dan kota-kota utama di Amerika mulai melonggarkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya seiring dengan penurunan tajam penyebaran virus corona dan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit.. Lockdown tersebut diberlakuan satu tahun lalu,

“Ini saatnya untuk membuka Texas 100 persen,” ujar Abbott, gubernur dari Partai Republik, dalam konferensi pers pada Selasa (2/3). Ia mengatakan perintah eksekutif itu akan berlaku penuh mulai 10 Maret mendatang.

Perintah eksekutif Abbot itu juga mencabut semua keharusan mengenakan masker di seluruh negara bagian dan melarang otoritas lokal untuk menghukum warga yang tidak mengenakan masker. Perintah itu juga mencabut seluruh pembatasan terhadap bisnis di kabupaten-kabupaten di mana tidak banyak orang dirawat di rumah sakit.

Perintah eksekutif itu diberlakukan ketika pemerintahan Abbott memulihkan kondisi pasca penurunan suhu sangat tajam di seluruh kawasan itu Februari lalu, yang memicu pemadaman listrik dan membuat jutaan orang menggigil dalam kegelapan. Suhu sangat dingin membuat jaringan operator listrik dan air tidak siap menghadapi lonjakan permintaan listrik.

Abbott mengatakan di kabupaten-kabupaten di mana jumlah orang yang dirawat di rumah sakit masih tinggi, para pejabat setempat masih dapat memberlakukan sebagian pembatasan pada bisnis, namun tidak bisa mengharuskan mereka untuk beroperasi kurang dari 50 persen dari kapasitasnya.

Abbott mengatakan ia dapat mencabut pembatasan itu karena Texas, negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Amerika, telah memvaksinasi hampir 5,7 juta orang dari 29 juta penduduknya. [em/my]

Diterbitkan di Berita

Rendra Saputra - Hops.ID

Pendakwah Ustaz Yahya Waloni menyatakan dirinya tak akan pernah mau pakai masker dan divaksin seumur hidupnya. Hal itu dia katakan lantaran dirinya merasa sehat walafiat.

Dalam sebuah ceramah terbarunya, Ustaz Yahya Waloni juga sangat yakin kalau dia tak bakal kena penyakit yang namanya covid-19.

Pada kesempatan itu, dikutip di Hadist TV, Jumat 26 Februari 2021, Ustaz Waloni lantas menyarankan agar Jokowi menyerukan kepada masyarakat untuk melepas maskernya. Presiden Jokowi juga diajak untuk lebih percaya pada Allah SWT, bukan pada fenomena yang terjadi di dunia saat ini.

“Kalau saya boleh saran ke Pak Jokowi dan Pak Maruf, Pak Jokowi, Pak Maruf, bagaimana kalau kita sepakat bangsa ini berhenti lah ribut-ribut, lepas lah masker-masker semua, enggak usah percaya tuh covad-covid, percaya sama Allah SWT,” kata dia disambut takbir jemaah.

Dia kemudian bertanya kepada jemaah, apakah mau untuk melepas maskernya. Sebab dia sadar kalau jemaah memakai masker bukan karena takut akan penyakit, melainkan sekadar takut dianggap melanggar protokol kesehatan yang ditentukan Pemerintah.
 
 
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.

“Coba saya tanya ke jemaah, mau enggak lepas masker? Antum kan pakai masker ini saya tahu bukan takut penyakit, bukan. Kalau takut penyakit enggak mungkin datang ke sini. Antum pakai masker ini karena antum takut didelik, ditangkap, diproses, kena pasal covad-covid,” katanya lagi.

Ustaz Yahya Waloni lalu bilang, kunci sehat pada dirinya lantaran dia rajin berolahraga. Sehingga dia terbebas dari covid. Termasuk rutinitas push up sebelum mandi yang sering dia lakukan. “Sampai mati saya enggak akan mau divaksin. Sebelum mandi saya push up, bagaimana enggak sehat.
Coba Pak Jokowi mau umumkan, (bilang) ekonomi kita mau tumbuh, jangan percaya WHO, jangan percaya,” katanya lagi.
 
 
Ustaz Yahya Waloni sadar penjara mengancam

Pada kesempatan itu dia lantas menegaskan pernyataannya. Kata Yahya, ungkapan itu bukan berarti dirinya mengajak agar para jemaah untuk tak pakai masker. Sebab masker tak mengapa tetap dipakai selagi pemerintah menganjurkan. Namun yang pasti, dia tak akan mau memakainya karena dia lagi-lagi menyatakan dirinya sehat.

“Nanti saya mau dibilang (dilaporkan) larang vaksin. Saya tak mau terjebak di persoalan itu. Anda nonton di Youtube lalu laporkan saya soal ini. Hahaha, antum baru jadi ular (kamu munafik –menurutnya), saya sudah jadi ular dari dulu,” katanya lagi.

 

Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.
Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.

 

Di ceramahnya tersebut, Ustaz Yahya Waloni lantas bercerita soal pengalaman bagaimana anaknya mengalami demam ketika melakukan perjalanan dari Jambi ke Riau. Sang istri sempat memintanya untuk menepi ke Puskesmas untuk memeriksa kesehatan anaknya.

Namun oleh Yahya Waloni, tak digubris. “Enggak usah, kalau di sana nanti dibilang covad-covid bagaimana.” Waloni justru meminta agar istri dan anaknya percaya dengan tiupan manjurnya. “Di pom bensin saya tiup sekali hilang itu, saat berhenti di pom bensin.

Kita salat berjamaah, saya tiup, dingin tuh anak. Coba itu kalau di Puskesmas, kalaupun dibilang negatif, pasti kena Rp500 ribu itu,” katanya lagi.

 

Diterbitkan di Berita

Selama puluhan tahun data-data yang menjelaskan perambatan droplet kecil telah dipakai. Saat ini sebuah tim pakar dinamika fluida telah berhasil mengembangkan pemodelan baru: Masker dan jaga jarak adalah hal bagus, tapi itu tidak cukup.

Droplet yang mengandung virus

Kenakan masker, jaga jarak dan hindari kerumunan – ini adalah nasehat umum untuk jaga diri selama pandemi Covid-19. Namun demikian pondasi ilmiah dari rekomendasi ini sudah berumur puluhan tahun, dan tidak mencerminkan kondisi ilmu pengetahuan saat ini. Untuk mengubah keadaan ini, sekelompok peneliti dalam bidang dinamika fluida baru-baru ini telah bekerjasama dan mengembangkan model baru dari penyebaran droplet infeksius.

Tentu masuk akal bila dikatakan bahwa menggunakan masker dan menjaga jarak akan meningkatkan perlindungan, tapi hendaknya hal ini jangan melengahkan anda hingga salah menilai tingkat keamanannya. Meskipun telah memakai masker, droplet infeksius masih dapat memancar sejauh beberapa meter dan tetap bertahan di udara dalam waktu lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

TU (Technische Universität) Wien, Universitas Florida, Universitas Sorbonne, Universitas Clarkson dan MIT baru-baru ini terlibat dalam sebuah proyek riset.

Sebuah model baru dalam dinamika fluida untuk droplet infeksius sudah diterbitkan dalam jurnal ilmiah “International Journal of Multiphase Flow”.

Pandangan baru atas data lama

“Pemahaman kita tentang penyebaran droplet yang saat ini diterima di seluruh dunia didasarkan pada pengukuran-pengukuran yang dilakukan pada tahun 1930an dan 1940an”, kata Prof. Alfredo Soldati dari Institut Mekanika Fluida dan Heat Transfer di TU Wien.

“Pada saat itu, metoda pengukuran belum sebagus sekarang, sehingga kami menduga bahwa pengukuran-pengukuran saat itu tidak dapat diandalkan pada droplet kecil”.

Pada model lama dibuat pemisahan secara tegas antara droplet besar dengan droplet kecil: Droplet besar segera turun karena gravitasi, droplet kecil bergerak maju hampir seperti garis lurus, lantas menguap dengan cepat.

“Gambaran seperti ini terlalu disederhankan”, kata Alfredo Soldati. “Karena itu sekarang saatnya menerapkan model baru dalam memahami penyebaran Covid-19”.

Dari kacamata mekanika fluida, situasinya sebenarnya cukup rumit – sesungguhnya kita berurusan dengan apa yang disebut multiphase flow: Partikel-partikel semula berwujud cair, kemudian bergerak sebagai gas.

Fenomena multiphase ini memang yang menjadi spesialisasi Soldati.

“Droplet kecil yang sebelumnya dianggap tidak berbahaya, dan ini sesungguhnya salah,” jelas Soldati.

“Bahkan saat droplet air sudah menguap, partikel aerosol masih tertinggal, yang bisa saja mengandung virus. Hal ini memungkinkan virus menyebar dalam jarak beberapa meter dan tetap berada di udara dalam waktu yang lama.”

Dalam situasi sehari-hari, partikel dengan diameter 10 mikrometer (ukuran rata-rata droplet air liur yang muncrat) memerlukan waktu hingga 15 menit untuk jatuh ke tanah.

Oleh karena itu sangatlah memungkinkan seseorang bersinggungan dengan virus, meskipun aturan jaga jarak telah dilakukan – misalnya ketika berada dalam elevator yang beberapa saat sebelumnya dipakai oleh orang yang terinfeksi. Masalah juga bisa timbul di lingkungan tertutup dengan kelembaban tinggi, misalnya di dalam ruang rapat. Perhatian khusus juga diperlukan saat musim dingin, karena tingkat kelembaban yang lebih tinggi dibandingkan saat musim panas.

Aturan perlindungan: Berguna tapi tidak cukup

“Penggunaan masker berguna karena mampu menghentikan droplet besar. Selain itu jaga jarak juga dapat memastikan perlindungan”, kata Soldati.

Menggunakan model matematika yang sekarang dipresentasikan, dan juga simulasi yang saat ini sedang dilakukan, dimungkinkan untuk menghitung konsentrasi droplet pembawa virus dalam beberapa jarak dan waktu yang berbeda. “Hingga saat ini, kebijakan politis perlindungan atas Covid utamanya hanya berdasarkan pada studi virologi dan epidemiologi. Kami berharap kedepannya, temuan-temuan dari mekanika fluida juga disertakan”, kata Alfredo Soldati.

Sumber:

Balachandar et al., Host-to-host airborne transmission as a multiphase flow problem for science-based social distance guidelines, International Journal of Multiphase Flow, 132, 103439 (2020).

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301932220305498

Diterbitkan di Iptek
Halaman 2 dari 2