inHarmonia inHarmonia
  In Harmonia   In Harmonia
  • Home
  • Opini
  • Berita
  • Iptek
  • Budaya
  • Saring Informasi
  • Apa Siapa
  • Wawancara
  • InharmoniaTV
inHarmonia inHarmonia
  In Harmonia   In Harmonia
  • Home
  • Opini
  • Berita
  • Iptek
  • Budaya
  • Saring Informasi
  • Apa Siapa
  • Wawancara
  • InharmoniaTV

Polri Sita Server BPJS Kesehatan

Rabu, 16 Jun 2021 12:16

GERBANG JAKARTA. Polisi masih mengusut kasus dugaan kebocoran data 279 juta data warga negara Indonesia (WNI) yang diduga identik dengan data BPJS Kesehatan. Saat ini Polri sedang mengurus surat izin pengadilan untuk segera menyita server BPJS Kesehatan.

Demikian disampaikan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono di Mabes Polri, Selasa (15/6/2021). Ada pun surat izin penyitaan itu diajukan ke Pengadilan Negeri Surabaya, karena server BPJS Kesehatan ada di Surabaya.

“Servernya itu ada di Surabaya, sehingga penyidik membuat permohonan izin khusus penyitaan terhadap server itu ke Pengadilan Negeri Surabaya,” sambungnya.

Brigjen Rusdi memastikan, proses penyidikan dugaan kebocoran data BPJS Kesehatan yang dilakukan oleh Bareskrim tak akan mengganggu pelayanan BPJS. Dia menyebut layanan BPJS Kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan.

“Penyidikan berjalan dan pelayanan pada masyarakat juga tetap harus berjalan,” ucap Rusdi. Dia mengungkapkan, Bareskrim mulai berhasil mengidentifikasi pelaku yang membuat data BPJS Kesehatan bocor. Hanya, identitas serta lokasi pelaku masih didalami penyidik.

“Lalu juga telah memeriksa secara online cryptocurrency yang diduga itu milik pelaku. Untuk sementara penyidik telah menemukan profil milik pelaku yang ada di dalam Raid Forum itu.

Profilnya, penyidik sudah membaca itu. Tinggal didalami oleh penyidik. Ke depan ada perkembangannya. Tentunya sudah mengarah profil ke pelaku,” tutupnya.

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Dosen Teknik Fisika ITB Buat Perangkat Pencitraan pada Dunia Kesehatan

Jumat, 04 Jun 2021 14:18

BANDUNG, itb.ac.id--Dosen-dosen di Teknik Fisika ITB telah membuat perangkat perangkat pencitraan pada dunia kesehatan. Teknologi ini bernama “Thermal Imaging”. Penelitian ini dilaksanakan oleh Dr. Suprijanto, S.T, M.T., Naila Zahra, S.T, M.T., dan Tri Untoro, S.T, M.T.

Pada teknologi ini terdapat komponen bernama thermal microbolometer. “Thermal microbolometer mendeteksi radiasi inframerah di tubuh kita untuk dianalisis citranya,” ujar Dosen KK Instrumentasi dan Kontrol Teknik Fisika ITB, Dr. Vebi Nadhira, S.T, M.T., dalam webinar “Manfaat Perangkat Pencitraan Pada Dunia Kesehatan”, Selasa (25/5/2021).

Selain thermal imaging, para staf pengajar Teknik Fisika ITB juga melaksanakan riset yang membuahkan hasil berupa alat dan teknologi untuk pencitraan yaitu tomografi optik, deteksi perubahan warna pada gigi, pengujian penyebaran cairan pada masker, pendeteksi kelembaban kulit, deteksi awal penyakit kuning pada bayi, dan pemetaan posisi jarum pada citra USG. Pada pemaparan materi ini, deteksi awal penyakit kuning pada bayi dan pemetaan posisi jarum pada citra USG menjadi hasil penelitian yang paling rinci pembahasannya.

Salah satu hasil penelitian tentang pencitraan pada kesehatan untuk screening adalah pemetaan posisi jarum pada citra USG. ini dilaksanakan juga oleh beberapa sivitas akademika Teknik Fisika ITB yaitu beberapa mahasiswa dan dosen. Dosen Teknik Fisika ITB yang terlibat pada penelitian ini adalah Dr. Suprijanto, S.T, M.T. dan Guru Besar KK Instrumentasi dan Kontrol Teknik Fisika ITB, Prof. Dr. Eng. Ir. Deddy Kurniadi, M.Eng.

“Riset ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan USG yang sering kali menggunakan jarum untuk melakukan pencitraan. Namun, ketika USG dilakukan, jarum yang dimasukkan tersebut sering tak terlihat. Riset ini dilakukan untuk menemukan teknologi yang dapat membuat jarum pada USG dapat terlihat dengan jelas,” ujar Vebi.

Selain itu, salah satu rumus matematis yang digunakan pada penelitian ini adalah linear derivative. Linear derivative berfungsi untuk mengestimasi atau menentukan area posisi jarum yang dimasukkan ketika melakukan USG.

 

 

Sementara itu, salah satu hasil penelitian tentang pencitraan pada kesehatan untuk identifikasi penyakit atau diagnosis awal adalah deteksi awal penyakit kuning pada bayi. Penelitian ini juga dilaksanakan oleh beberapa mahasiswa dan beberapa dosen Teknik Fisika, di antaranya adalah Dr. Ir. Eko Mursito Budi, M.T., Dr. Ir. Endang Juliastuti, M.S., dan Naila Zahra, S.T., M.T. Metode yang dipakai pada penelitian ini bernama Metode Kramer. “Sebelum ke dokter, dengan metode kramer kita bisa melakukan pencitraan untuk mendeteksi penyakit kuning pada bayi,” ujar Vebi.

Data sampel untuk penelitian ini didapat dengan cara mengambil 10 buah citra pada 49 pasien bayi. Untuk mengambil citra yang diperlukan, digunakan kamera yang diberi jarak 50 - 60 cm di atas bayi dan juga kartu warna berjarak 5 - 10 cm di samping perut bayi. Setelah mendapatkan citra mentah, dilakukanlah proses pemfilteran lalu koreksi warna. Setelah itu, dilakukan juga segmentasi kulit melalui konversi ke ruang warna lab, lalu beralih ke konversi ke ruang spesifik, akuisisi data statistik warna kulit sampel, dan terakhir dilakukanlah estimasi dengan regresi linear.

Reporter : Yoel Enrico Meiliano (TPB FTI 2020)

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Mahasiswa Fasilkom UI kembangkan "CardiWatch" aplikasi pemeriksa kesehatan jantung

Minggu, 30 Mei 2021 14:03

 

Depok (ANTARA) - Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) mengembangkan "CardiWatch" yang merupakan aplikasi pemeriksaan khusus kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular.

"Dengan teknologi semua orang dapat ikut serta dalam pencegahan, mendeteksi, dan meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan jantung," kata Clouddian Fazalmuttaqin dalam keterangannya, Minggu.

Aplikasi ini dikembangkan oleh mahasiswa Fasilkom UI yaitu Clouddian Fazalmuttaqin, Nathasya Eliora Kristianti, Douglas Raevan Faisal, dan Adam Maulana. Aplikasi bernama CardiWatch ini merupakan aplikasi low-cost dengan layanan tindakan pencegahan.

Screening awal berbasis photoplethysmograph (PPG) digunakan untuk monitoring detak jantung, dengan melihat perubahan volume darah dalam pembuluh darah, dan konsultasi seputar kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular langsung dengan dokter spesialis jantung.

Penciptaan aplikasi ini berawal dari keinginan tim untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di bidang teknologi kesehatan dengan memuat teknologi yang ramah pengguna, khususnya masyarakat awam. 

Selain itu, adanya fakta bahwa penyakit jantung adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, bahkan di dunia, juga melatarbelakangi pembuatan aplikasi ini.

Fitur utama aplikasi ini adalah screening Arrhythmia, yaitu kondisi gangguan pada irama jantung. Untuk dapat melakukan screening, pengguna hanya meletakkan salah satu jari mereka pada gawai pintar yang telah ter-install di aplikasi CardiWatch dengan posisi menutupi kamera belakang dan flash.

Setelah itu, hasil screening akan ditampilkan kepada pengguna yang berisi beats per minutes (bpm) jantung dan indikator Arrhythmia atau tidak.

Berkat inovasi tersebut, Clouddian bersama tim berhasil mengamankan posisi mereka sebagai finalis di ajang Imagine Cup 2021 yang diselenggarakan oleh Microsoft.

Kompetisi ini melibatkan para ahli teknologi muda dari seluruh dunia untuk mempromosikan adaptasi platform, memperluas akses pasar, dan mencari talenta terbaik.

Pada kompetisi peserta membuat proyek baru dan inovatif yang menonjolkan bakat dan minat mereka, dan akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para profesional, memperoleh keterampilan baru, memenangkan pendanaan untuk memaksimalkan penerapan ide-ide mereka, dan menerima bimbingan dari para pemimpin teknologi.

Melalui beberapa putaran kompetisi online dan tatap muka, para peserta memperebutkan gelar kejuaraan berhadiah uang tunai dan program mentoring.

Imagine Cup menitikberatkan pada inovasi yang mengubah cara hidup manusia, tentang solusi, dan aplikasi yang bisa menyelamatkan nyawa manusia.

Kompetisi ini menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan jawaban yang efektif guna meningkatkan gaya hidup masyarakat di seluruh dunia, melalui ide-ide teknologi yang mereka ciptakan.

“Pencapaian para mahasiswa kami ini menunjukkan bahwa materi pengajaran di bangku kuliah dapat memberi solusi terhadap permasalahan di masyarakat,” kata Pejabat Dekan Fasilkom UI, Dr. Petrus Mursanto.

Petrus menambahkan Fasilkom UI, mendukung talenta-talenta berbakat di bidang teknologi, untuk terus berinovasi guna menjawab permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.

 
Pewarta : Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2021
Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Krisis Berlanjut, Sistem Kesehatan Gaza Nyaris Ambruk

Kamis, 20 Mei 2021 16:55

VOA Indonesia

Sistem kesehatan di Jalur Gaza yang sudah lemah semakin memburuk akibat perang Israel-Hamas, yang keempat dalam lebih dari sepuluh tahun.

Seluruh rumah sakit kewalahan dengan gelombang korban tewas dan luka-luka akibat terus berlangsungnya pemboman Israel.

Banyak obat-obatan penting dengan cepat habis di wilayah pesisir yang kecil dan diblokir itu, demikian pula bahan bakar untuk mempertahankan beroperasinya fasilitas listrik.

Dua dokter paling terkemuka di Gaza, termasuk wakil kepala gugus tugas virus corona, tewas ketika rumah mereka hancur dalam serangkaian pemboman.

 

Suzy Ishkontana, 7 tahun, dicium ayahnya, Riad Ishkontana, 42, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Selasa, 18 Mei 2021. (Foto: AP/Abdel Kareem Hana)
Suzy Ishkontana, 7 tahun, dicium ayahnya, Riad Ishkontana, 42, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Selasa, 18 Mei 2021. (Foto: AP/Abdel Kareem Hana)

 

Di tengah lonjakan perebakan virus corona, satu-satunya laboratorium uji medis virus di Gaza rusak akibat serangan udara dan kini berhenti beroperasi.

“Ini adalah pusat laboratorium yang terkenal di Jalur Gaza, yang melakukan semua uji medis, terutama uji medis COVID-19. Kami tidak memiliki laboratorium lain,” ujar pejabat Kementerian Kesehatan Gaza Rami Abadla.

Pejabat-pejabat kesehatan lain juga khawatir dengan berlanjutnya wabah mematikan itu diantara puluhan ribu warga yang terlantar dan kini hidup berdesakan di tempat-tempat penampungan darurat setelah melarikan diri dari serangan Israel.

Di salah satu sekolah yang dikelola PBB, di mana 1.400 orang yang melarikan diri kini berlindung, Nawal Al Danaf dan lima anaknya berdesakan di satu ruang kelas bersama lima keluarga lainnya. Mereka memasang selimut sebagai pembatas agar ada sedikit privasi di salah satu sudut ruangan yang mereka tempati.

“Sekolah ini aman dari perang, tetapi dalam soal corona... dengan lima keluarga berdesakan di satu ruangan maka kami saling menularkan satu sama lain,” ujar Al Danaf, yang melarikan diri dari penembakan tank-tank Israel di kota Beit Lahiya di bagian utara Gaza beberapa hari lalu.

Selimut dan cucian bergelantungan di pagar balkon sekolah, ketika sejumlah perempuan mengawasi halaman tempat anak-anak bermain dan laki-laki mengobrol.

Tidak seorang pun mengenakan masker atau bisa menjaga jarak di tempat yang sempit itu.

Fasilitas kesehatan berjuang keras menangani korban perang dan kebutuhan sehari-hari dua juta orang di Gaza.

 

Seorang pria Palestina berdiri di dekat tubuh Menna Shreir, 3, di kamar mayat di Kota Gaza, setelah dia meninggal karena luka-lukanya setelah serangan udara Israel di rumahnya, yang juga menewaskan orang tuanya. (Foto: AFP)
Seorang pria Palestina berdiri di dekat tubuh Menna Shreir, 3, di kamar mayat di Kota Gaza, setelah dia meninggal karena luka-lukanya setelah serangan udara Israel di rumahnya, yang juga menewaskan orang tuanya. (Foto: AFP)

 

Sejak konflik saat ini yang dimulai 10 hari lalu terjadi, Israel telah menyerang ratusan lokasi di sekitar jalur pantai itu. Israel mengatakan berusaha melumpuhkan penguasa Gaza, yaitu kelompok militan Hamas, yang telah menembakkan ratusan roket ke Israel.

Pejabat-pejabat kesehatan Gaza mengatakan sedikitnya 219 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka.

Di pihak Israel, 12 orang tewas oleh roket Hamas.

Pemboman itu telah mendorong lebih dari 71 ribu warga Gaza – atau sekitar 3 ribu dari total populasi – mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian besar kini berjejalan di 56 sekolah yang dikelola oleh UNRWA.

Belajar dari perang terakhir tahun 2014, UNRWA mengatakan ketika itu sekitar 200 ribu pengungsi berdesakan di sekolah-sekolah dan tempat-tempat penampungan selama 50 hari saat berkecamuknya pertempuran.

Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2014 itu, serangan saat ini secara tidak langsung merusak fasilitas kesehatan, rumah sakit, klinik dan sekolah-sekolah PBB. WHO mengatakan sedikitnya 18 rumah sakit dan klinik, serta satu pusat kesehatan, hancur dalam serangan kali ini. Hampir setengah dari semua obat-obatan penting telah habis. [em/lt]

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Menanak Nasi Dengan Dandang Lebih Sehat Dibandingkan Dengan Rice Cooker

Sabtu, 07 November 2020 08:51

Beras dan arsenik

Nasi adalah sumber pangan utama yang setiap hari kita konsumsi. Namun tahukah anda bahwa beras kaya akan kandungan arsenik anorganik, yaitu jenis arsenik yang paling beracun yang merugikan kesehatan? Paparan arsenik yang berlebih dalam tubuh manusia dapat mempengaruhi semua organ dan dapat menyebabkan lesi pada kulit, kanker, diabetes dan penyakit paru. Arsenik masuk ke dalam daftar karsinogen Grup 1 yang diterbitkan oleh Badan Riset Kanker Internasional. https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/general-info/known-and-probable-human-carcinogens.html

Arsenik anorganik ini sifatnya larut dalam air. Beras mengandung sekitar 10 hingga 20 kali kadar arsenik lebih tinggi dibandingkan tanaman gandum dan biji-bijian lainnya. Beras menyerap arsenik lebih mudah daripada produk pertanian lainnya karena padi ditanam dalam kondisi lahan yang digenangi air.

Di banyak daerah, air irigasi pertanian sangat tercemar oleh arsenik. Hal ini membuat kandungan arsenik yang ada dalam tanah jadi lebih terkonsentrasi, sehingga lebih mudah terserap ke dalam bulir padi.

Menggunakan air yang terkontaminasi untuk mencuci dan menanak nasi juga semakin menambah kandungan arsenik dalam nasi. Beras dapat dengan mudah menyerap arsenik dari air yang mendidih ketika nasi dimasak.

Arsenik pada beras terkonsentrasi pada bagian luar dari biji yang melingkupi endosperma. Ini berarti beras merah (baik yang dipoles di penggilingan padi maupun yang tidak dipoles) mengandung lebih banyak arsenik dibandingkan dengan beras putih. Proses penggilingan padi pada beras putih mampu membuang arsenik, tapi sayangnya 75-90% dari nutriennya juga ikut hilang.

Upaya Mengurangi Kadar Arsenik Dalam Nasi

Sebuah paper yang diterbitkan 20 Oktober 2020 di jurnal “Science of The Total Environment” menunjukkan bahwa menanak nasi dengan cara tertentu mampu membuang lebih dari 50% kandungan arsenik yang secara alamiah ada pada beras merah, dan membuang 74% arsenik pada beras putih. Yang lebih penting adalah metoda ini tidak mengurangi zat gizi mikro dari nasi yang ditanak.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari riset Universitas Sheffield yang menemukan bahwa setengah dari nasi yang dikonsumsi di Inggris melebihi batas peraturan Komisi Eropa mengenai kadar arsenik pada nasi yang dikonsumsi untuk balita dan anak-anak.

Pada penelitian ini diujicoba beberapa cara menanak nasi agar kandungan arsenik turun, dan tim peneliti di Institut Pangan Berkelanjutan di Universitas Sheffield menemukan bahwa metoda menanak nasi PBA (Parboiling with absorption) mampu menghilangkan sebagian besar arsenik dengan tetap mempertahankan kandungan nutrisi dalam nasi.

Metoda menanak nasi yang dipakai pada penelitian ini adalah:

  • Unwashed and absorbed (UA) – Beras dimasak tanpa dicuci dan dimasak dengan air hingga matang
  • Washed and absorbed (WA) – Beras dicuci 5 menit di pengaduk orbital, kemudian dimasak dengan air hingga matang
  • Pre-soaked and absorbed (PSA) – Beras direndam 30 menit, ditiriskan dan dimasak dengan air hingga matang
  • Parboiled and absorbed (PBA) – Air dididihkan, lalu beras dimasukkan dan dimasak 5 menit, ditiriskan, ganti air baru dan dimasak hingga matang

 

 

Metoda PBA dan Metoda Aron-Kukus

Bila kita perhatikan, metoda PBA ini sebenarnya kurang lebih sama dengan cara menanak nasi secara tradisional di Indonesia menggunakan kukusan/ dandang/ langseng/ seeng. Istilah parboiling untuk memasak nasi identik dengan istilah mengaron. https://kbbi.web.id/aron

Menanak nasi menggunakan kukusan terdiri dari dua langkah. Langkah pertama membuat aronan dengan panci, langkah kedua mengukus aronan menggunakan dandang hingga nasi menjadi matang.

Meski demikian ada beberapa penyesuaian agar hasilnya sama atau mendekati metoda PBA.

  1. Sebelum menuang beras, rebus air dahulu hingga mendidih
  2. Setelah beras dituang, aduk dan tunggu 5 menit, kemudian tiriskan airnya
  3. Tambahkan air baru, tanak lagi sekira setengah matang menjadi aron
  4. Rebus air di dandang hingga mendidih
  5. Pindahkan nasi setengah matang ke kukusan
  6. Tunggu hingga nasi sepenuhnya matang.

Penggunaan rice cooker elektrik yang praktis digunakan sehari-hari beberapa dasawarsa terakhir ini membuat teknik menanak nasi tradisional di Indonesia tergusur, dan hanya diterapkan oleh jurumasak makanan tradisional saja. Padahal metoda tradisional ini memiliki keunggulan karena dapat menghasilkan nasi yang terjaga kandungan nutrisinya dan mengurangi kadar arsenik anorganik. Ada baiknya digiatkan lagi menanak nasi dengan kukusan/ dandang/ seeng ini karena menghasilkan nasi yang lebih sehat, dan lebih aman untuk anak-anak dan balita yang rentan dengan paparan arsenik.

Hasil Penelitian Menanak Nasi Dengan Metoda PBA

Metoda PBA yang sudah diujicoba di Universitas Sheffield menghasilkan nasi dengan kadar arsenik yang jauh berkurang dengan mikronutrien hanya sedikit yang hilang seperti ditunjukkan grafik berikut:

Perbandingan penurunan arsenik anorganik dari 5 metoda menanak nasi

R=Raw, UA=Unwashed-Absorbed, WA=Washed-Absorbed, PSA=Pre Soaked-Absorbed, PBA=Parboiling-Absorbed

Perubahan kandungan P, K, Mg, Zn dan Mn dari 5 metoda menanak nasi

 

Dr. Manoj Menon, salah seorang dari tim peneliti Universitas Sheffield mengatakan:

“Bagi konsumen nasi, hasil penelitian ini merupakan kabar gembira. Masyarakat banyak yang menyoroti bahaya arsenik ketika mengkonsumsi nasi. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa menanak nasi dengan air yang banyak dapat menghilangkan arsenik, tapi juga menghilangkan nutriennya.

Tujuan kami adalah mengoptimalkan metode membuang arsenik tapi tetap menjaga secara maksimal kandungan nutrien pada nasi. Metoda yang baru kami kembangkan, PBA, adalah sangat mudah dikerjakan di rumah sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja. Kami tidak tahu berapa banyak kandungan arsenik dari setiap paket beras yang kami beli; meskipun beras merah secara gizi lebih unggul dibandingkan dengan beras putih sebagaimana yang diperlihatkan oleh data kami, namun ternyata beras merah memiliki kandungan arsenik dua kali lipat dibandingkan dengan beras putih. Melalui metoda baru kami, kita dapat secara signifikan mengurangi paparan arsenik dan juga mengurangi kemungkinan hilangnya zat gizi penting.

Kami sangat menyarankan metoda ini untuk menyiapkan nasi bagi balita dan anak-anak karena mereka berisiko sangat rentan pada paparan arsenik.”

Bila anda tertarik dengan paper diatas, dapat mengunduhnya disini:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0048969720368728/pdfft?md5=28145dae7cc58e568cabb23c28f31285&pid=1-s2.0-S0048969720368728-main.pdf

 

Diterbitkan di Iptek
Baca selengkapnya...
  In Harmonia   In Harmonia
  • Tentang Kami
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Login
Copyright © 2020 InHarmonia.co All rights reserved.