Presiden lantas turut meresmikan pembangunan kampus baru tersebut dengan membubuhkan tanda tangannya di prasasti bersama dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Warga Muhammadiyah sendiri gembira dengan kehadiran presiden meresmikan bangunan madrasah yang baru. Haedar Nashir kepada awak media, Jumat siang menuturkan, pembangunan gedung Mu’allimin yang baru memang mendapat sokongan dari pemerintah.

Hal itu sebagai wujud penghargaan presiden terhadap ormas Muhammadiyah. Bukan tanpa alasan, menurut Haedar, penghargaan itu diberikan karena nilai sejarah Madrasah Mu’allimin. 

“Lahir tahun 1918 lalu tahun 1923 namanya Kweek School pakai nama sekolah ya, jadi sekolah perguruan tetapi karena 10 tahun menggunakan istilah Kweek School banyak diintimidasi oleh regulasi Pemerintah Kolonial, harus menyesuaikan dengan aturannya, jadi diubah menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah,” terang Haedar.

Dengan keberadaan Mu’allimin yang telah merintis pendidikan sejak sebelum lahirnya republik, pemerintah menilai jasa Muhammadiyah di bidang pendidikan sangat besar.

“Tetapi intinya sama dengan tujuan awalnya yakni sekolah untuk menghasilkan pemimpin dan sekolah untuk menghasilkan pendidik,” tuturnya. 

Presiden juga meresmikan masjid yang dibangun oleh Fahmi Yendra, seorang pengusaha muda Muhammadiyah yang mendonasikan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid tersebut. Masjidnya pun diberi nama Masjid Hj Yuliana Muallimin.

“Fahmi yaitu pengusaha Muhammadiyah, anak muda yang membantu membangun dan atas nama ibundanya sebagai bentuk dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua, red). Ini hal yang langka ya di zaman modern dimana anak begitu rupa ingin berbuat baik pada orang tua. Nah, ini masjid perpaduan antara modern dan klasik,” jelas Haedar. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita
Jauh Hari Wawan S - detikNews Sleman - Sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, dikabarkan meninggal dampak krisis stok oksigen di rumah sakit rujukan pasien COVID-19 tersebut.
Pihak RSUP Dr Sardjito tak menampik soal adanya 63 pasien yang meninggal itu, namun tidak semuanya karena kekurangan oksigen.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan mengatakan, jumlah 63 pasien meninggal tersebut adalah akumulasi dari hari Sabtu (3/7) pagi sampai Minggu (4/7) pagi. Sedangkan yang meninggal karena dampak krisis stok oksigen sebanyak 33 pasien.

"Dari data kami (Sabtu, 3/7) jam 20.00 WIB sampai (Minggu, 4/7) tadi pagi, meninggal sekitar 33 pasien, jadi 33 pasien yang meninggal karena oksigen habis," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan, saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7/2021).

Banu melanjutkan, 33 pasien yang meninggal itu pun sudah dalam kondisi tersuplai oksigen dari tabung. Mereka tak tertolong karena memang kondisinya sudah berat atau masalah klinis.

"Pertama, mereka kondisinya sudah berat, kedua mereka tetap tersuplai oksigen meskipun dengan oksigen tabung. Yang meninggal karena dengan kondisi ventilator itu hanya sekitar 4 pasien. Kemudian yang meninggal itu 15 ada di UGD," jelasnya.

Banu menambahkan, pada pukul 03.40 WIB tadi, truk oksigen liquid pertama sudah masuk dan mengisi tabung utama, sehingga oksigen sentral di RSUP Dr Sardjito sudah berfungsi kembali. Disusul truk kedua pada pukul 04.45 WIB masuk pula mengisi tabung sentral oksigen.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Muhammad Yazid mengungkapkan adanya 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, yang meninggal, Sabtu (3/7) kemarin. Diduga kondisi itu terkait dengan krisis stok oksigen yang dialami RSUP Dr Sardjito.

"Hari kemarin 63 (pasien yang meninggal). Yang jelas Sardjito krisis oksigen kemarin (Sabtu, 3/7). Mulai dari pagi sampai malam sehingga yang di ICU terjadi lonjakan kematian yang luar biasa," kata Yazid saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7).

Berdasarkan informasi yang ia terima, lanjut Yazid, 63 kasus kematian di RSUP Dr Sardjito itu bukan hanya disebabkan oleh kekurangan oksigen. Namun, juga karena kondisi klinis pasien tersebut.

"63 ya tidak semua (meninggal) kekurangan oksigen. Secara klinis ya meninggal, meskipun COVID-19 itu ya," ungkapnya.

Yazid mengatakan hal ini bukan hanya jadi tanggung jawab RSUP Dr Sardjito. Pemerintah daerah juga punya andil. Ia pun berharap ke depan tidak akan ada lagi kelangkaan oksigen.

"Mestinya tidak hanya Sardjito yang tanggung jawab. Pemda juga tanggung jawab, apalagi dua hari lalu dibentuk satgas oksigen. Ke depan jangan sampai terulang kedua kalinya. RS lain jangan sampai kekurangan oksigen," katanya.

Diberitakan sebelumnya, RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, mengalami krisis stok oksigen. Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengajukan surat kepada

Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam surat itu berisi laporan kekosongan oksigen dan permohonan dukungan oksigen kepada Menteri Kesehatan dan sejumlah pejabat terkait.

"Kami mengajukan permohonan dukungan agar kebutuhan oksigen dapat terpenuhi mengingat RSUP Dr Sardjito Yogyakarta termasuk RS rujukan dalam penanganan COVID-19 sampai tingkat critical," kata Rukmono dalam suratnya, Sabtu (3/7).

Rukmono melaporkan bahwa Direktur RSUP Dr Sardjito telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pasokan oksigen dari penyedia maupun tempat lain. Tetapi sampai saat ini masih mengalami kendala.

"Pasokan oksigen diperkirakan paling cepat akan datang ke RS pada Minggu, 4 Juli 2021, pukul 12.00 WIB," kata Rukmono.

Persediaan oksigen sentral RSUP Dr Sardjito, lanjutnya, mengalami penurunan mulai hari Sabtu (3/7) pukul 16.00 WIB sampai dengan kehabisan persediaan oksigen pada pukul 18.00.

"Sehingga berisiko pada keselamatan pasien yang dirawat, baik pasien COVID-19 maupun non COVID-19," katanya.

Rukmono menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya antisipasi maksimal dan penghematan seoptimal mungkin.

(rih/mbr)

Diterbitkan di Berita

Danar Widiyanto YOGYA, KRJOGJA.com – Covid-19 varian B.1617.2 atau delta belum terdeteksi di DIY sejauh ini, namun bukan berarti varian tersebut belum ada.

Hal inilah yang perlu ditekankan kepada masyarakat DIY bahwasanya virus Corona varian delta belum terdeteksi bukan berarti tidak ada.

Selanjutnya ditindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terutama sampel kasus Covid-19 di DIY yang sedang tinggi-tingginya pada Juni 2021 ini.

“Kita diminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar fokus membantu kasus Covid-19 di Kudus. Kemudian kita berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY untuk sampel-sampel kasus Covid-19 yang melonjak tajam di DIY pada Juni 2021 ini.

Virus Corona varian delta belum terdeteksi sampai saat ini, tapi bukan berarti belum ada, itu yang ditekankan lagi ke masyarakat,” papar Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi Sp BA PhD di Yogyakarta, Jumat (25/6/2021).

Gunadi menyatakan pihaknya mengambil dan me-running sampai ada bukti pemeriksaan WGS dari sampel ini. Jika belum ada hasil bukti pemeriksaan WGS tersebut, pihaknya belum bisa menyatakan varian delta sudah masuk di DIY.

Terlebih dengan mobilitas yang sulit dikendalikan saat ini, dipastikan meningkatkan.

“Dari sampel-sampel itu mungkin kita bisa ambil, kita running dulu sampai ada bukti Genome Sequencing. Belum ada, ya kita belum bisa mengatakan sudah masuk atau belum,,” tegasnya.

Perihal WGS ini, Gunadi menyampaikan terdapat sekitar 30 sampel di DIY yang diperiksa. Sampel tersebut akan dites bersamaan dengan 20 sampel Corona kasus anak-anak dari Solo, Jawa Tengah sehingga pihaknya masih menunggu sampel dari Solo Raya.

“Kalau running 48 sampel maka yang diperlukan sampling 20 tapi sisanya kan sayang tetapi habis itu tidak bisa dipakai langsung hilang. Pemeriksaan WGS membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu setelah semua sampel diterima dan peluang terjadinya transmisi lokal,” imbuhnya.

Covid-19 yang sudah ada mempunyai empat varian alpha, beta, gamma dan delta, sedangkan varian yang sudah ada di Indonesia adalah alpha, beta dan delta.

Tetapi sekarang yang mendominasi adalah varian delta yang sudah terdeteksi terutama di DKI Jakarta, Bangkalan, Kudus dan Karawang karena sudah terjadi transmisi lokal dan mobilitas sulit dibatasi serta bed occupancy rate (BOR) meningkat. (Ira)

Diterbitkan di Berita

Baju Daerah Yogyakarta

Senin, 17 Agustus 2020 10:48

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia keberadaan pakaian dianggap sebagai alat atau sarana untuk melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari serta unsur pelengkap pada berbagai upacara adat yang mengandang nilai tertentu.

Diterbitkan di Budaya