Jakarta, Dakwah NU - Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengundang Khalid Basalamah untuk menjadi khotib Shalat Jumat di Markas komando (Mako) Paspampres, Jakarta Pusat pada 25 Juni 2021 lalu.

Dari akun Channel Youtube resmi milik Khalid Basalamah Official disebutkan tema khotbah Jumat yakni “Akibat Makanan Haram”. Dalam rekaman berdurasi sekitar 30 menit itu, Khalid Basalamah menjelaskan dengan gamblang persoalan halal dan haram.

Khalid Basalamah ini termasuk ustadz Salafi-Hijazi: prinsipnya adalah melakukan purifikasi Islam yang membid’ahkan amalan tahlilan, maulid Nabi, dan khazanah Islam yang ada di Nusantara yang lainnya. Mereka tidak cocok dengan NU.

Dari penelusuan redaksi Dakwah NU, setiap ceramah yang disampaikan Khalid Basalamah itu selalu menimbulkan kebencian, menjelek-jelekkan pihak tertentu dan provokatif.

Bahkan, Khalid sendiri juga selalu mendapatkan penolakan dari berbagai pihak di setiap daerah di Indonesia ketika ia hendak mengisi acara pengajian.

Sekadar diketahui, Khalid Basalamah dalam sebuah pengajiannya yang dishare di YouTube tidak membolehkan membaca surah Yaasin yang ditentukan pada tiap malam Jumat. Menurutnya, hal semacam itu tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sebuah ibadah harus ada dalilnya. Ia juga menyebutkan dalam shalat itu tidak mesti menggunakan lafal “ushalli”.

Selain itu, kata “sayyidna” tidak semestinya disematkan kepada Nabi Muhammad SAW karena tidak ada dalilnya. Padahal semua itu telah menjadi kebiasaan di kalangan Muslim Indonesia.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur H. Rizza Ali Faizin mengatakan, pengajian Khalid Basalamah cenderung berisi mengkafirkan orang tanpa klairifikasi, sangat disesalkan. 

“Yang kami sayangkan adalah penyampaian dan materinya itu cenderung mendiskreditkan aliran tertentu. Di NU dan Ansor itu selalu terbiasa klarifikasi atau tabayun. Sedangkan Khalid Basalamah itu menyatakan ini kafir, haram dan lain sebagainya.

Bahkan untuk pemanggilan Sayyidina untuk Nabi Muhammad juga tidak diperbolehkan olehnya,” kata Rizza dikutip NU Online. (red)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU 

Khalid Basalamah kembali viral di media sosial. Melalui cuplikan videonya, Khalid Basalamah melarang siswa-siswi untuk mengikuti imbauan menyanyikan lagu kebangsaan.

Video yang berdurasi kurang lebih 0,35 detik itu, kembali dikutip oleh akun Twitter @Ayang_Utriza. Akun ini dengan tegas mengecam apa yang disampaikan Khalid Basalamah. Bahkan ia meminta Khalid Basalamah untuk tidak menyebarkan Salafi-Wahhabi di NKRI ini.

 

 

Dalam cuplikan video tersebut, apa yang disampaikan Khalid Basalamah adalah tindakan yang menanamkan bibit-bibit anti NKRI. Sebab Khalid Basalamah menyarankan siswa tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaan.

Khalid Basalamah mengimbau kepada semua anak untuk tidak mengikuti aturan sekolah yang tiap waktu (terutama setiap Senin), salah satunya menyanyikan lagu kebangsaan (seperti Indonesia Raya).

“Gak usah ikut. Saran saya, gak usah ikut,” tegas Khalid Basalamah yang memang dikenal penuh kontroversi ini.

Sebelumnya ia mempertanyakan realitas di sekolah anak. Ia menyebut bahwa anak seolah dipaksa menyanyikan lagu kebangsaan di sekolahnya.

“Sekolah anak? Tiap pagi ada waktu yang menyanyi lagu-lagu kebangsaan. Apa yang harus anak lakukan? Soalnya jika anak tidak lakukan, anak ditegur guru,” terangnya.

Meski demikian, ia berdalih tidak melarang untuk anak menyanyikan lagu kebangsaan. “Tentu ini bukan berarti kita melarang. Tapi saya membahasakan ‘saran saya’. Saya kan ditanya, kalau saya, nda usah ikut lah,” tuturnya.

Tidak hanya itu, belum lama ini, Direktorat Polisi Air dan Udara Badan Pemeliharaan Keamanan Kepolisian Republik Indonesia (Ditpolair Baharkam POLRI) Jakarta Utara mengundang Khalid Basalamah untuk mengisi kajian Ramadan di Markas Ditpolair, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, pada Senin, 19 Februari 2021 lalu.

Hal ini tentu berseberangan dengan perintah Kapolri sebelumnya yang meminta semua polisi untuk ngaji kitab kuning dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Mengingat Kapolri Jendral Listyo Sigit pada saat kunjungan ke PBNU, Kamis (28/1) lalu mengaku program belajar kitab kuning bagi anggotanya yang beragama Islam sudah ia jalankan sejak menjabat sebagai Kapolda Banten pada 2016 silam.

”Untuk mencegah berkembangnya terorisme, salah satunya dengan belajar kitab kuning, dan tentunya baik di internal maupun eksternal, itu saya yakni bahwa apa yang disampaikan kawan-kawan ulama (di Banten) itu benar adanya. Oleh karena itu akan kami lanjutkan,” katanya.

Menurutnya, harus ada langkah tegas sehingga benih-benih radikalisme yang bisa mengarah pada tindakan terorisme bisa dicegah. ”Kita bekerja sama dengan tokoh-tokoh, ulama, kemudian melakukan upaya pencegahan dengan memberikan penjelasan sehingga masyarakat tidak mudah terpapar dengan ajaran-ajaran seperti itu,” jelasnya.

Anggota Polri selalu diperkuat dengan keyakinan masing-masing kemudian diakomodir terkait dengan kearifan-kearifan yang lokal sehingga menjadi keanekaragaman dan keberagaman sebagai satu kekuatan bangsa, salah satunya adalah ngaji kitab kuning dengan ulama ulama NU. (fqh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU
Direktur Aswaja Center Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Misbahul Munir Kholil menjelaskan bahwa Wahabi adalah sebuah nama gerakan yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir pada tahun 1111-1206 H.

Disebut gerakan Wahabi, karena nama ini yang diakui oleh kalangan ulama Wahabi sendiri. Misalnya bin Baz, mengakui bahwasannya ini adalah nama yang masyhur bahkan nama yang mulia dan agung.

Dalam masalah tauhid, pokok-pokok ajaran Wahabi menggunakan konsep rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa shifat. Di mana dengan ketiga konsep tauhid ini, mereka mensyirikkan bahkan mengkafirkan orang yang bertawasul dan bertabarruk dengan orang-orang sholeh, baik itu Nabi maupun sahabat dan para wali.

“Wahabi ini juga ciri khasnya kalau ditanya di mana Allah, dia menjawab Allah ada di langit, atau Allah bersemayam di arsy. Ini adalah buah daripada tauhid yang mereka pahami yakni rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa shifat,” jelas Kiai Misbah.

Bahkan kalau menentang terhadap konsep tauhid ini, akan dibilang musyrik dan kafir. Wahabi anti kepada mazhab dan fikih. Pendiri Wahabi mengatakan ilmu fikih itu ilmu syirik dan para ulama dianggap setan yang berupa manusia dan jin.

Sehingga menurut mereka, ilmu fikih harus ditinggalkan.

Lebih tegas lagi, lanjut Kiai Misbah, Wahabi menganggap orang yang bermadzab fikih termasuk orang kafir. Wahabi mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan mereka bahkan menuduh orang Islam se-dunia ini tidak mengerti kata tauhid.

Pendiri Wahabi menganggap guru-gurunya tidak mengerti tauhid. Wahabi juga anti sufi, mereka menganggap orang-orang sufi adalah orang paling sesat melebihi Yahudi dan Nasrani.

Dalam ajarannya, tema-tema yang diangkat adalah kekhawatiran tentang musyrik. Umat Islam dianggap musyrik di sana-sini.

“Ini berbeda dengan yang dikhawatirkan Nabi Muhammad,” tegasnya.

Nabi Muhammad mengatakan, “Aku tidak mengkhawatirkan kalian syirik sesudahku, aku hanya khawatir kalian terpesona dengan dunia. Hal ini berbeda dengan Wahabi, yang selalu mengkhawatirkan soal syirik.

“Ini Nabi Muhammad justru khawatir kelompok yang menuduh syirik terhadap tetangganya,” ujar Kiai Misbah.

Kemudian, setelah mereka (Wahabi) anti kepada ulama fikih, anti kepada sufi, anti kepada pengikut madzab, Wahabi juga anti maulid, anti haul. Kiai Misbah menerangkan, dalam kitab Wahabi disebutkan bahwa seluruh umat Islam kafir.

“Jadi seluruh umat Islam kafir katanya, ini di dalam kitab mereka disebut demikian, karena bertawasul, bertabarruk kepada ulama, orang-orang sholih,” ucapnya.

Hal ini tentu berbahaya, sebab mereka akan menjadi radikal, selangkah lagi akan menjadi teroris. Mereka akan menghancurkan bahkan mengebom berbagai macam situs yang berkaitan dengan ritual umat Islam.

Misalnya, sarana-sarana untuk bertawasul, bertabarruk, beristighosah akan dihancurkan, termasuk acara-acaranya akan dirusak bahkan akan dibom, dan ini sudah terjadi.

Tak hanya itu, orang Wahabi mengkafirkan sahabat nabi karena bertabarruk. Al Bani mengkafirkan Imam Bukhori dan Syekh Utsaimin melecehkan Imam Nawawi. Mereka menganggap beliau berdua bukan berpaham Aswaja.

Ini mengapa kemudian Ketua Umium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siroj mengatakan, Wahabi ini adalah ajaran radikal dan selangkah lagi akan menjadi teroris. Karena seseorang melakukan tindakan itu karena ada keinginan.

“Keinginan itu muncul karena ada pengetahuannya. Nah kalau ilmu yang masuk adalah konsep Wahabi maka yang terjadi adalah selangkah lagi mereka akan menjadi teroris.

Karena kalau mereka sudah menganggap kafir musyrik yang halal darahnya, maka segala cara dianggap jihad bagi mereka, dan ini yang terjadi saat ini,” pungkas Kiai Misbah. (fqh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Zulfa Mustofa menyebut penganut paham Salafi dan Wahabi hanya berjarak selangkah dari terorisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut banyak pelaku terorisme di Indonesia berpaham Wahabi dan Salafi.

Menurutnya, Salafi dan Wahabi memegang doktrin al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan. Konsep itu memiliki keyakinan hanya pemahaman Islam versi mereka saja yang benar, sementara yang lain salah.

“Di sana ada konsep Al-Wala Wal-Bara. Konsep ini memposisikan orang itu dia harus mencintai seseorang yang satu paham, dan memusuhi orang yang tak sepaham,” kata Kiai Zulfa dikutip CNNIndonesia, Jumat (30/4).

Kiai Zulfa menjelaskan doktrin tersebut membuat pengikut Salafi dan Wahabi mudah memusuhi atau mengkafirkan orang lain. Bahkan sesama umat Islam sendiri yang tak sepaham dengan ajaran tersebut bisa dimusuhi.

Tak jarang, Wahabi dan Salafi turut memusuhi orang yang dianggap tak mengerti sunah, seperti tak memelihara jenggot dan memusuhi orang yang dianggap mengerjakan bidah.

Doktrin itu pula, kata Kiai Zulfa yang membuat Wahabi-Salafi dekat atau selangkah lagi menuju terorisme.

“Itu dalam ajaran mereka ini orang pelaku bidah lebih berbahaya dari orang kafir. Itu jelas sudah menanamkan permusuhan dan kebencian,” jelasnya.

“Itu selangkah lagi masuk dalam terorisme. Karena sudah ditanamkan kebencian dan permusuhan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zulfa mengkategorikan paham Wahabi-Salafi dekat dengan paham kaku dalam memahami teks. Meski demikian, tak jarang dari mereka yang masih memiliki sisi ‘moderat’ dalam beragama. “Tapi umumnya kaku,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan teroris yang ditangkap merupakan pemeluk Islam serta memiliki latar belakang paham keagamaan wahabi dan salafi yang jihadis.

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk wahabi dan salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk wahabi dan salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

“Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan,” kata Ahmad. (red)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT merupakan pemeluk Islam dengan latar belakang mazhab Wahabi dan Salafi yang jihadis.

"Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan," kata Ahmad dalam webinar dengan topik 'Urgensi Standardisasi Dai untuk Penguatan Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin' yang digelar MUI secara daring, Selasa (27/4).

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk Wahabi dan Salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk Wahabi dan Salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

Ia pun menyatakan banyak teroris beragama Islam yang ditangkap di Indonesia memiliki Rukun Islam dan Rukun Iman yang sama. Perbedaannya, kata dia, terletak pada rukun ihsan atau pandangan hubungan antarsesama manusia.

"Mereka juga tak sedikit yang hafal Alquran, rukun iman sama, rukun Islamnya sama. Yang membedakan rukun ihsan. Karena mereka anggap iman, Islam, khilafah. Mereka abai," kata dia.

Wahabi adalah aliran dalam Islam yang ditujukan kepada pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, yang berpegang teguh pada kebangkitan agama melalui pemulihan Islam ke bentuk "aslinya", serta hanya ada satu Tuhan dan setiap orang harus menyembah-Nya persis seperti yang diperintahkan dalam Kitab Suci.

Sementara Salafi pada zaman modern kerap dikaitkan dengan aliran pemikiran yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang dibawa Rasulullah dan perintah Alquran secara literal dari berbagai hal yang bid'ah (tidak dilakukan Rasul), khurafat, dan syirik dalam Islam. Salah satu rujukan utama kaum Salafi adalah mazhab Ahmad bin Hambali atau Hambali.

Terlepas dari itu, Ahmad menekankan bahwa aksi terorisme tak terkait agama apapun. Namun, pemahaman terorisme lahir dari cara beragama yang menyimpang dari oknum beragama tersebut.

"Dari pelaku terorisme tersebut, ini biasanya didominasi oleh umat beragama yang jadi mayoritas di suatu wilayah," kata dia.

Melihat hal itu, Ahmad menegaskan bahwa peran para ulama sangat penting menanggulangi terorisme yang mengatasnamakan agama. Bahkan, kata dia, ustaz merupakan pintu masuk dan keluar paham radikalisme dan terorisme.

Ia pun mendukung upaya MUI untuk melakukan standarisasi dai. Hal itu merupakan elemen yang sangat vital dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

"Urgensi standarisasi dai dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme, kesimpulan saya sangat vital. Karena ustaz pintu masuk dan keluar dari paham radikalisme dan terorisme mengatasnamakan agama," kata dia.

(rzr/gil)

Diterbitkan di Berita

Pengantar:

Tulisan berseri yang disajikan kepada pembaca ini merupakan rangkuman mengenai doktrin dan akidah, sejarah, dan militansi dari gerakan Wahabisme dari awal berdirinya hingga kini.

Diterbitkan di Opini

Jakarta, Dakwah NU Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyebut bahwa ajaran Wahabi merupakan pintu masuk terorisme.

Oleh karena itu menurutnya, strategi untuk memberantas jaringan terorisme dilakukan dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

“Ini artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi.

Apa? Wahabi, ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme,” kata Said Aqil dalam webminar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Kiai Said menegaskan ajaran Wahabi itu bukan terorisme, tetapi Wahabi pintu masuk terorisme. Sebab, ajarannya dianggap ajaran ekstremisme.

“Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan, Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi ‘ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya boleh dibunuh’.

Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrem,” ujarnya.

Kemudian, Kiai Said juga meminta agar ajaran agama di perguruan tinggi bagi jurusan selain agama Islam mengutamakan pembahasan terkait akidah, syariat, dan akhlak. Serta diperbanyak penjelasan terkait akhlakul karimah.

Misalnya menolong sesama, menghormati orang tua, membantu orang lagi susah, silaturahmi, menghormati tamu dan tetangga, menengok orang sakit, menengok orang sedang berduka karena kematian, tidak boleh dengki, tak boleh hasut, tidak boleh adu domba, hoax.

“Jadi, kalau pelajaran agama disampaikan di fakultas yang bukan (jurusan) agama kemudian terulang-ulang ‘neraka, surga, kafir, sesat, musyrik, bid’ah, neraka surga’. Wah, radikal semua itu, itu bagian fakultas yang memperdalam akidah, yang memperdalam syariah,” ujarnya.

“Kalau di fakultas umum cukup hanya mengenal hanya mengajak meyakini itu yang ditekankan adalah akhlakul karimah, menghindari radikalisme yang tumbuh di perguruan tinggi jurusan teknik atau yang bukan jurusan agama.

Ini yang saya lihat kurikulum yang harus dijalankan di perkuliahan mata kuliah agama di perguruan tinggi yang bukan jurusan agama Islam,” tandasnya mengakhiri. (red)

Diterbitkan di Berita

Berlin, ARRAHMAHNEWS.COM – Otoritas Jerman melarang dan membubarkan kelompok Islam radikal (Salafi, Wahabi dan Khilafah) di Ibu Kota Berlin. Menyusul pelarangan tersebut, sekitar 800 polisi menggerebek 26 lokasi di Berlin dan negara bagian Brandenberg pada Kamis, 25 Februari. Larangan tersebut merupakan salah satu upaya untuk melawan ekstremisme.

Departmen Dalam Negeri Senat Berlin mengatakan, pihaknya telah melarang Jama’atu Berlin, sebuah asosiasi Salafi-Jihad yang dianggap sangat radikal. Kelompok yang juga dikenal sebagai Tauhid Berlin itu dinilai menganjurkan serangan teror.

Dalam konferensi pers, Senator Dalam Negeri Berlin, Andreas Geisel, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengawasi kelompok itu selama dua tahun. Ada 19 anggota kelompok tersebut yang menjadi fokus penggerebekan. Namun, tidak ada penangkapan yang dilaporkan.

Disebutkan juga, kelompok tersebut menolak Konstitusi Jerman dan mendukung ideologi Negara Islam (Khilafah), serta mempropagandakan ‘Jihad’, dan menyerukan syariah sebagai satu-satunya hukum yang sah.
 
Kata Akmann, pihaknya belum mengetahui secara persis apakah kelompok tersebut merencanakan serangan yang konkret. Namun, dia mengaku bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Berdasarkan pernyataan Senat, dilansir Reuters, anggota kelompok yang tidak terdaftar tersebut -baik laki-laki maupun perempuan- bertemu secara rutin di taman dan rumah pribadi.

Mereka menyebarkan ideologi kelompok tersebut dengan membagikan selebaran di ruang publik dan melalui internet.  Dilansir DW, kelompok Jama’atu Berlin diyakini memiliki sekitar 20 anggota.

Beberapa di antara telah menarik perhatian di masa lalu setelah membagikan selebaran di beberapa daerah Berlin. Beberapa merupakan anggota kelompok Islamis lainnya yang pernah dilarang pada 2017 lalu.

Mereka telah melakukan kontak dengan Anis Amri, seorang pencari suaka dari Tunisia yang berhubungan dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pada 2016, Amri pernah membajak sebuah truk dan kemudian menabrakkannya di Pasar Natal di Berlin.

Kejadian itu menewaskan 12 orang. Berdasarkan data yang dirilis Badan Intelijen Domestik, jumlah kelompok Salafi di Jerman meningkat ke level tertinggi hingga mencapai 12.150 orang pada 2019. Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat sejak 2011. (ARN)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta pemerintah menutup secara menyeluruh akun atau media online milik kelompok Wahabi. 

Hal itu disampaikan Aqil dalam acara Harlah ke-98 PBNU sekaligus peluncuran NU Mobile dan Televisi NU Channel.

 "Itu Medsosnya wahabi-wahabi, online wahabi tutup ajah lah, jangan khawatir Pak di Quran ada. Bukan dari saya," kata Aqil dalam sambutannya melalui akun Youtube NU Channel, Sabtu (27/2).

Polusi dan sampah informasi, lanjut Said, kerap membanjiri kehidupan masyarakat. Fitnah dan kebohongan juga sering dimunculkan di platform media online dan media sosial.

Ia meminta masyarakat agar tak mudah percaya dengan berita, melakukan cek-ricek terlebih dahulu sesuai anjuran Alquran. Jika mudah percaya, kata Aqil, maka akan menyesal dan terpuruk dalam kebodohan.

Ulama kenamaan itu mendeskripsikan kegaduhan di media hari ini sama dengan orang yang bikin gaduh saat zaman Nabi Muhammad.

"Orang-orang yang membikin gaduh, membikin resah, 'usir Muhammad!' kata Quran tuh, 'kalo bikin gaduh di Madinah, usir, jangan biarkan hidup bersamamu di Madinah'," terang Aqil.

Tak hanya itu, Aqil juga meminta ketegasan Kemenkominfo untuk menutup akun media sosial dan media online yang menyebarkan radikalisme.

"Pak menteri tegas ajah lah, oh koe sing (kamu yang) menyebarkan hoaks, yang sering adu domba, makar, radikalisme, terorisme tutup ajah, NU dukung," ujarnya.

Ia mengingatkan Kominfo agar tak khawatir memblokir situs-situs tersebut, sebab tindakan itu mendatangkan pahala dan sesuai perintah Alquran.

(nsa/ain)

Diterbitkan di Berita