Neneng Zubaidah sindonews.com JAKARTA - 3 mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas bahan kimia sintetis yang mampu mereduksi gas buang kendaraan bermotor.

Inovasi ini memanfaatkan katalis NiMo/Zeolit-Y hierarki yang mampu mereduksi emisi kendaraan secara optimal.

Tingginya penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia menjadi penyumbang terbesar pada buruknya kualitas udara di beberapa kota besar di Indonesia.

Tidak hanya menimbulkan polusi udara , emisi kendaraan bermotor seperti karbondioksida (CO2) juga berdampak pada perubahan iklim.

“Dari permasalahan tersebut kami berusaha mencari solusi untuk mengurangi gas buang kendaraan yang berbahaya bagi lingkungan,” jelas Ketua Tim Ardi Lukman Hakim melalui siaran pers, Jumat (14/5/2021).

Pada tahapan awal, lanjutnya, batuan zeolit disintetis terlebih dahulu, lalu disintetis lagi dengan katalis NiMo. “Menurutnya, penelitian terdahulu menyebutkan zeolit hanya dapat bekerja bila disintesis bersama zat yang bisa menjadi katalisnya salah satunya ialah NiMo.

Hasil dari sintetis zeolit dan NiMo tersebut menghasilkan NiMo/Zeolit-Y hierarki dengan 3 konsentrasi yaitu konsentrasi 0,125 M, 0,25 M, dan 0,5 M.

Menurutnya, hasil dari sintetis ini akan dikarakterisasi untuk mengetahui lebih lanjut apakah bahan sintetis tersebut sudah terkatalis sempurna dan dapat digunakan. “Katalis komposit yang paling ideal ialah pada konsentrasi 0,25M,” ujar mahasiswa asal Madiun ini.

Ardi menjelaskan, konsentrasi yang dianggap paling ideal ini akan dilakukan tahap uji emisi. Pada tahap uji emisi ini katalis akan diimpregnasi dahulu dengan tiga varaibel waktu, yaitu 5 jam, 10 jam, dan 15 jam. 

Hasil dari impregnasi ini akan ditinjau luas permukaan, volume pori, dan diameter pori dari katalis tersebut. Utamanya tahap uji emisi dilakukan uji coba apakah katalis mampu mereduksi gas emisi berbahaya. 

Berdasarkan hasil konversi CO dan Hidrokarbon (HC), katalis NiMo/Zeolit-Y hierarki dengan waktu impregnasi 10 jam lah yang paling optimal, di mana terjadi proses oksidasi CO dan HC akibat kerja katalis NiMo.

“Hasil impregnasi 10 jam juga memiliki luas permukaan dan volume pori tidak terlalu besar sehingga cocok digunakan memfilter gas emisi,” tambahnya.

Bersama kedua rekannya yang juga mahasiswa angkatan 2020 yakni Fifi Risma Mailani Farikhah dan Novia Nurul Hidayah, tim ini telah berhasil meraih medali emas dalam kompetisi karya tulis ilmiah kategori health and environment yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya.

Tim yang dibimbing oleh Mashuri SSi MT ini mengusung idenya dalam karya tulis bertajuk Pereduksi Gas Buang Motor Katalis Nimo/Zelolit-Y Hierarki Sintetis dan Fabrikasi.

“Gagasan ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel uji agar hasil lebih optimal dan valid,” terang pemuda kelahiran 2002 ini.

Ardi berharap bahwa gagasan timnya ini dapat diteliti lebih lanjut dengan pendanaan dan sarana prasana yang memadai.

“Saya berharap gagasan ini tidak hanya sekadar ide, namun dapat diteliti lebih dalam dan memberikan keluaran yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya penuh harap.
(mpw)
Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Jalur penerimaan Seleksi Mandiri yang dilaksanakan Institut Teknologi Bandung pada tahun ini memberikan keringanan pada mahasiswa kurang mampu, berupa pembebasan dari biaya pendaftaran dan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT).

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring M.Eng., di Bandung, Senin (3/5/2021).

“ITB memberikan pembebasan biaya pendaftaran bagi pendaftar dengan KIP-K atau keluarga kurang mampu setara dengan kriteria syarat KIP-K. Calon mahasiswa dapat dengan mengunggah kartu KIP-K atau keterangan tidak mampu,” kata Prof. Jaka Sembiring.

Dalam situs web resmi seleksi masuk ITB, biaya pendaftaran jalur Seleksi Mandiri yaitu sebesar Rp 200 ribu untuk seluruh prodi selain prodi di FSRD, dan Rp 300 ribu untuk FSRD.

Selain biaya pendaftaran, Prof. Jaka menegaskan bahwa ITB juga akan memberikan pembebasan Uang Kuliah Tunggal bagi calon mahasiswa kurang mampu yang lolos seleksi.

“Pertimbangan prestasi akademik yang tinggi adalah kriteria utama dan satu-satunya dalam proses penerimaan mahasiswa baru di ITB,” tegasnya.

Prof. Jaka memaparkan, bahwa jalur Seleksi Mandiri dirancang sebagai skema penerimaan mahasiswa baru program sarjana tanpa subsidi.

Namun demikian pembebasan biaya pendaftaran dan kuliah bagi mahasiswa kurang mampu menunjukkan langkah ITB membuka kesempatan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi namun berprestasi tinggi.

Selain terbukanya kesempatan bagi calon mahasiswa yang kurang mampu, jalur Seleksi Mandiri juga memberikan bentuk keringanan lain pada mahasiswa lain yang lolos seleksi.

“Dalam hal pembayaran Uang Kuliah Tunggal, ITB memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukannya secara mencicil,” lanjut Prof. Jaka.

Dibuka untuk Seluruh Prodi

Pada jalur Seleksi Mandiri ITB tahun ini, calon mahasiswa akan memilih langsung program studi yang diinginkan. “Seluruh program studi menerima penerimaan jalur Seleksi Mandiri, kecuali program studi di ITB Kampus Cirebon.

Hal ini dalam rangka insentif bagi program studi di ITB Kampus Cirebon,” papar Prof. Jaka.

Lebih lanjut, Prof. Jaka juga memaparkan bahwa seleksi dilakukan berdasarkan nilai UTBK 2021 dan nilai rapor SMA semester 1-6. “Khusus FSRD, akan dilakukan ujian gambar yang akan dilaksanakan pada 14 Juni 2021,” katanya.

Pendaftaran untuk jalur Seleksi Mandiri dimulai pada Senin (3/5/2021) ini dan akan berakhir pada 10 Juni 2021. Informasi lebih lengkap mengenai persyaratan dan prosedur pendaftaran Seleksi Mandiri dapat dilihat pada situs web resmi https://admission.itb.ac.id/home/sarjana/mandiri.

Diterbitkan di Berita

Vania Ika Aldida sindonews.com JAKARTA - Mark Natama menjadi satu-satunya kontestan laki-laki di Indonesian Idol Special Season sejak babak 5 besar. Kendati demikian, kemampuan Mark tak bisa dianggap remeh meski Anggi Marito dan Rimar Callista , rivalnya, punya suara mumpuni setelah sempat mengikuti audisi The Voice Indonesia.

Mark sempat membuat juri Idol terpukau dengan penampilannya saat membawakan Yellow dari Coldplay. Bahkan para juri juga memberikan standing ovation ketika remaja 20 tahun ini tampil membawakan lagu milik Pamungkas berjudul Kenangan Manis.

Berikut empat fakta seputar Mark, satu-satunya kontestan laki-laki di 3 besar Indonesian Idol Special Season.

1. Mahasiswa Teknik ITB

Mark tercatat sebagai salah seorang mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdasarkan akun LinkedIn miliknya, Mark merupakan mahasiswa fakultas teknik jurusan manajemen industri. Masuk sebagai mahasiswa ITB pada 2019, jika tidak ada halangan Mark akan lulus tepat pada 2023.

2. Bakat Menyanyi sejak Kecil

Mark kerap menjadi salah satu siswa kebanggaan sekolah lantaran memiliki bakat dan prestasi yang tak perlu diragukan lagi. Soal bernyanyi, ia bahkan sempat ditunjuk untuk mengikuti lomba bernyanyi di tingkat kabupaten serta provinsi.

3. Ciptakan Lagu Sendiri

Bakat yang didapatkan dari ibunya, membuat remaja kelahiran Medan ini tidak hanya mampu bernyanyi tetapi juga menciptakan lagu. Bahkan, Mark sempat menciptakan dua lagu berjudul Yesterday dan Terkejar Waktu. Dua lagu bergenre jazz tersebut sudah bisa didengarkan di aplikasi berbayar, seperti Spotify.

4. Bakat Bermusik

Memiliki musikalitas tinggi, Mark juga menguasai beberapa alat musik. Sebut saja piano, gitar, serta ukulele. Kebolehan dalam bermain alat musik pernah Mark bagikan di akun Instagram pribadinya.
(tsa)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Juru Bicara Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, mahasiswa yang tengah menjalani pendidikan di kampusnya tidak dilarang untuk mengikuti program Komcad. 

Selama mahasiswa itu mengikuti program Komcad, kata Dahnil, maka bisa dimasukan dalam hitungan SKS sebagai tambahan nilai.

"Mahasiswa mau mendaftar Komcad, dia mendaftar kemudian lulus seleksi kemudian ikut pelatihan militer selama tiga bulan setelah selesai latihan militer tiga bulan dia ditetapkan sebagai komponen cadangan," kata Dahnil saat menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang dan ditayangkan secara daring, Jumat (12/3/2021).

"Kalau dia mahasiswa kemudian lulus berarti kan 3 bulan itu, dia pelatihan militer berarti dia ndak kuliah itu masuk program kampus merdeka. Kampus itu punya tanggung jawab untuk mengkategorikan itu sebagai hitungan SKS program Merdeka itu tadi," tambahnya.

Selain itu, kata Dahnil, program itu baru diperuntukkan bagi warga negara Indonesia dengan rentang usia 18 hingga 35 tahun.

"Kemhan itu merekrut orang-orang yang berusia 18 sampai dengan 35 (tahun) diseleksi untuk menjadi Komponen Cadangan dalam bahasa sederhananya itu tentara cadangan," kata ia.

Meski begitu, Dahnil memastikan, pelatihan komponen cadangan bukan wajib militer. Menurutnya, tidak ada unsur paksaan bagi WNI di rentang usia 18-35 tahun untuk ikut proses pelatihan militeristik ini.

"Catatan saya Komponen Cadangan itu bukan wajib militer, komponen cadangan itu sukarela jadi seperti kita masuk tentara saja, siapa yang mau masuk tentara silakan ya nggak mau masuk silahkan," kata dia.

Dahnil mengatakan, Kemenhan menargetkan pembentukan 35 Batalyon Komponen Cadangan sepanjang 2021. Dari 35 Batalyon itu dipastikan 25 ribu tentara dari Komponen Cadangan akan membantu Mabes TNI, dengan asumsi setiap Batalyon menghasilkan 400 hingga 500 tentara Komponen Cadangan.

"Komcad targetnya itu 35 batalyon, jadi kita harap tahun ini bisa akselerasi bisa sampai 25 ribu Komcad," kata Dahnil.

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Sebanyak 30,16 persen mahasiswa Indonesia memiliki sikap toleransi beragama yang rendah atau intoleran. Hal tersebut merupakan hasil riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Peneliti PPIM UIN Sirojuddin Arif mengatakan, hal tersebut berarti bahwa satu dari tiga mahasiswa di Indonesia memiliki sikap intoleransi beragama.

“Kalau digabung (angka hasil riset), 30,16 persen mahasiswa Indonesia punya sikap toleransi beragama rendah atau sangat rendah,” ujar Sirojuddin dalam webinar bertajuk Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi, seperti dikutip dari Kompas TV, Selasa (2/3/2021).

Adapun angka hasil riset itu adalah 24,89 persen mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama rendah dan 5,27 persen memiliki toleransi beragama yang sangat rendah. Hasil penggabungan angka-angka tersebut menunjukkan rendahnya mahasiswa Indonesia dalam toleransi beragama di Tanah Air.

Kendati demikian, kata dia, terdapat 69,83 persen mahasiswa di Indonesia yang memiliki sikap toleransi beragama cukup tinggi. Sementara itu, 20 persen lainnya termasuk ke dalam kategori toleransi sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

“Jika dilihat dari jenis perguruan tinggi, maka mahasiswa intoleran paling banyak ditemukan di perguruan tinggi berbasis agama, swasta, negeri, dan kedinasan,” kata dia. Sirojuddin mengatakan, hasil riset tersebut juga menunjukkan dua hal penting yang berkaitan dengan toleransi beragama di kalangan mahasiswa.

Pertama, soal interaksi sosial dengan kelompok yang berbeda memiliki korelasi positif yang kuat dengan toleransi beragama. “Interaksi antarkelompok ini bisa berlangsung dalam hubungan pergaulan sosial, kerja sama, dan diskusi atau tukar pikiran dengan sesama mahasiswa,” kata dia. Penelitian juga menunjukkan kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu, seperti lembaga dakwah kampus berkorelasi negatif dengan toleransi beragama.

Kedua, riset tersebut menunjukkan iklim sosial kampus berkorelasi dengan toleransi beragama mahasiswa. “Kebijakan kampus terhadap kelompok minoritas keagamaan mahasiswa dan sikap toleransi beragama dosen berkorelasi positif dengan toleransi beragama mahasiswa,” kata dia.

Riset PPIM UIN dilaksanakan secara nasional di 34 provinsi dengan metode penelitian berupa survei. Riset dilakukan sejak 1 November sampai 27 Desember 2020 dengan data terkumpul dari 2.866 mahasiswa, 673 dosen, dan 79 perguruan tinggi.

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Stres atau depresi kerap dialami mahasiswa. Namun masih suka dihiraukan atau dianggap enteng, sehingga tanda-tandanya enggak diketahui. 
 
Nah, buat membantu mendeteksinya, sekelompok mahasiswa ITB yang terdiri dari Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra menciptakan alat pendeteksi dini sederhana berdasarkan pemeriksaan urine.
 
Menurut Yudha, alat ini bekerja dengan mendeteksi beberapa biomarker spesifik berupa sorbitol, asam urat, dan asam azelat, yang berpotensi mengindikasikan depresi.
 
Biomarker ini akan dideteksi dan diukur dengan metode elektrokimia, untuk kemudian diputuskan apakah seseorang mengidap depresi atau enggak.
 

Alat Pendeteksi Depresi Klinis Pertama di Indonesia

 

Pertama di Indonesia, Mahasiswa ITB Ciptakan Alat Pendeteksi Depresi dari Urine (1)

Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra dok ITB

 
Dia mengeklaim ini merupakan inovasi alat pendeteksi depresi klinis noninvasif pertama di Indonesia. Sebab umumnya masih menggunakan kuesioner yang rawan risiko subjektivitas.
 
"Makanya kami membuat alat pendeteksi yang bersifat klinis, menggunakan biomarker atau zat penanda yang dihasilkan tubuh akibat perubahan metabolisme saat seseorang terkena depresi,” terangnya, dikutip dari laman ITB.
 
Ia mengatakan, biomarker di urine digunakan untuk memudahkan penggunaan sehingga dapat dipakai tanpa tenaga ahli. Sebab penderita depresi cenderung malu untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya.
 
Penggunaan alat ini seperti test pack kehamilan. Setelah beberapa menit hasil akan ditampilkan di layar. Hasilnya dikalibrasi dengan tes BDI yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa, sehingga terdapat tiga level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat.
 
Alat tersebut juga memberikan tips kegiatan yang dapat dilakukan oleh penderita depresi ringan, dan contact center untuk penderita sedang dan berat sehingga bisa segera mendapat penanganan ahli.
 
“Kami berharap, alat ini dapat mengurangi fatalitas depresi yang secara signifikan menurunkan produktivitas masyarakat, sehingga di masa mendatang angka kasus depresi dapat menurun,” ucap Yudha.
 
Dari idenya tersebut, mereka meraih medali emas untuk kategori presentasi dan medali perunggu untuk kategori poster, pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta, beberapa waktu lalu.
Diterbitkan di Berita

Suara.com Karya membanggakan berhasil ditorehkan oleh sekelompok mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Lewat karyanya yang berjudul “Re(Bond)ir”, tim yang terdiri Selvia Dwiyanti, Hilman Prakoso, Vadya Dzuqiah dan Project Advisor Donny kurniawan berhasil memenangkan Multi Comfort Student Contest (MCSC).

MCSC adalah kompetisi desain arsitektur internasional yang didasarkan pada prinsip-prinsip Program Multi Comfort Saint-Gobain yang bertujuan mengajak para generasi muda bergerak bersama melalui inovasi desain arsitektur.

Nantinya, tim dari ITB tersebut akan menjadi perwakilan Indonesia untuk bertanding kembali dengan para juara tingkat regional lainnya di Prancis.

Dalam keterangannya, Jumat, (26/2/2021), Selvia mengungkapkan bahwa Re(bond)ir turut mendukung efisiensi energi dengan upaya mengurangi emisi karbon sehingga konsep sustainable lifestyle dapat terwujud di kawasan tersebut.
 
Tim mahasiswa arsitek ITB. (Dokumentasi pribadi)
Tim mahasiswa arsitek ITB. (Dokumentasi pribadi)

 

Sementara itu, Managing Director Saint-Gobain Indonesia, Ivana Wijaya mengatakan mengatakan bahwa hal itu sejalan dengan tujuan Saint Gobain, yakni making the world a better home merupakan ambisi bersama untuk menjadikan dunia lebih indah dan nyaman dihuni dalam wujud aktivitas sehari-hari.

"Melalui MCSC, proses inovasi yang berkelanjutan dengan produk Saint-Gobain harapannya dapat memberikan performa dan keamanan sekaligus menjawab tantangan konstruksi yang berkelanjutan, efisiensi sumber daya serta perubahan iklim," kata Ivana.

Kemudian, National Marketing Director Saint Gobain Indonesia, psara Herman, menyatakan bahwa ajang ini merupakan salah satu cara memfasilitasi anak muda Indonesia untuk berinovasi.

“Peran para pemuda menjadi salah satu harapan besar untuk mendorong sustainable construction, pembangunan yang berwawasan lingkungan, sejalan dengan produk-produk kami yang diciptakan sebagai material ramah lingkungan” ujar Apsara.

Sementara itu, Menurut Sibarani Sofian ST, M.Arch, arsitek pendiri Urban+ yang juga dikenal sebagai pemenang Kontes Desain Ibu Kota Negara (IKN) “Negara Rimba Nusa” perencanaan berkelanjutan berarti adanya keseimbangan antara elemen lingkungan, sosial, dan ekonomi yang sesuai dengan kebijakan nasional yaitu mendukung kesejahteraan masyarakat.

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2