Jakarta (ANTARA) - Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid melalui Islamic Law Firm (ILF) memprakarsai pembahasan halal atau haram uang kripto dalam forum diskusi bertajuk "Bahtsul Masail Halal Haram Transaksi Kripto", di Jakarta, Sabtu.

Yenny saat membuka forum itu mengatakan persoalan halal atau haram uang kripto (cryptocurrency) masih menjadi perdebatan di kalangan umat Muslim Indonesia. Sebagian menganggap uang kripto halal, sebagian lainnya menganggap haram.

"Ada pihak yang menganggap aset kripto haram, karena mengandung gharar atau ketidakpastian dalam transaksi. Kemudian, uang digital ini juga memiliki volatilitas tinggi karena harganya bisa naik dan turun secara drastis," kata Yenny dikutip dari siaran pers.

Pihak yang menganggap uang kripto haram, lanjut Yenny, juga memiliki argumen bahwa koin digital tersebut tidak ada underlying asset atau aset keuangan yang menjadi dasar pembentuk harga.

"Karena sifatnya yang tidak bisa diketahui siapa penggunanya, maka sering disalahgunakan untuk transaksi ilegal seperti beli senjata atau narkoba atau sering disebut dark internet," ujar Yenny.

Sebaliknya, lanjut putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, pihak yang lain menganggap gharar akan hilang karena transaksi uang kripto tidak mengenal biaya pemotongan.

"Transaksi di bank saja dipotong. Tapi kalau cryptocurrency malah tidak dipotong. Jadi menurut sebagian alim ulama ini malah membuat ghararnya hilang," ujar Yenny.

Dibandingkan dengan uang fiat (uang kertas) yang banyak digunakan dalam transaksi bank konvensional, lanjut Yenny, uang kripto justru terbebas dari riba karena uang kripto dasarnya adalah blockchain yang penyebarannya melalui jaringan peer-to-peer.

"Yang pasti transaksi uang kripto tanpa perantara," kata Yenny yang merupakan pendiri Islamic Law Firm (ILF).

Untuk mendapat kejelasan status halal-haram itulah, ILF membuat bahtsul masail atau diskusi mengenai permasalahan terkini ditinjau dari hukum Islam yang diharapkan menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi untuk para pembuat kebijakan.

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, mengatakan saat ini banyak orang berpikir agama adalah faktor yang menjadikan orang radikal atau teroris. Padahal, ia menyebut faktor terbesar penyebab radikaliasi di masyarakat bukan agama.

"Bukan ajaran agamanya sendiri yang menjadikan orang ikut dalam gerakan-gerakan radikal intoleran, tapi faktor paling besarnya adalah faktor kegelisahan, faktor kecemasan, faktor ketidakyakinan diri, faktor kemarahan, faktor dia lihat ketidakadilan di sekitarnya.

Ini faktor terbesar," kata Yenny dalam diskusi daring, Sabtu, 1 Mei 2021.

Yenny mengutip grafolog Deborah Dewi, yang menganalisa tulisan tangan para pelaku bom di Makassar dan pelaku penyerangan Mabes Polri. Yenny mengatakan dari analisa Deborah, para pelaku tersebut punya rasa kepercayaan diri yang rendah dan punya tingkat kegalauan yang tinggi.

"Mereka kemudian bertemu dengan orang-orang yang melakukan provokasi menggunakan dalil agama untuk memberikan rasa aman dan rasa percaya diri yang semu. Dengan dalil agama didoktrin untuk membuat mereka menjadi pede, menjadi penting, membuat mereka menjadi seperti pahlawan. Ini yang terjadi," kata Yenny.

Karena itu, Yenny kembali menegaskan bukan faktor agama yang menuntun seorang menjadi radikal atau teroris. Apalagi provokasi tak hanya bisa dilakukan lewat doktrin agama. 

Doktrin politik, kata Yenny, juga telah terbukti mampu memprovokasi aksi kekerasan, seperti yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump di Amerika Serikat. 

Yenny menyoroti peran media sosial sebagai bagian dari pintu masuk perekrutan dan upaya provokasi itu. Meski banyak sisi positif, namun media sosial bisa membawa banyak dampak buruk.

Selain membuat kecanduan, pengguna medsos, kata dia, juga dapat cenderung lebih mudah depresi dan berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok yang salah.

"Itu proses perekrutan pertama. Meski biasanya terjadi lagi perekrutan secara offline. Tapi sosmed bisa jadi gateway terhadap konten tak ramah," kata Yenny.

Yenny mengatakan yang bisa dilakukan saat ini adalah memastikan bahwa konten yang mereka dapatkan tidak hanya sepihak saja.

"Jadi kita harus kita pastikan mereka terima konten yang berbeda. itu lah peran acara hari ini bagaimana kita himpun content creator, tokoh, untuk membantu tokoh muda dan hebat untuk menelurkan narasi konten yang bisa membantu kita untuk memfasilitasi teman-teman kita semua masyarakat dengan konten yang ramah," kata Yenny Wahid.

Diterbitkan di Berita