JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ustaz Yahya Waloni akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada umat Nasrani. Menanggapi hal itu, Ade Armando membuat  cuitan khusus.

“Ini pelajaran bagi seluruh bangsa agar tidak saling menghina agama,” kata Dosen UI tersebut melalui akun FB-nya, Selasa 28 September 2021.

Untuk diketahui, tersangka kasus dugaan penistaan agama, Yahya Waloni menyampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya kalangan Nasrani, terkait pernyataan yang pernah ia lontarkan dalam salah satu ceramah yang diunggah di YouTube.

Permohonan maaf itu Yahya sampaikan setelah hakim membacakan putusan pencabutan praperadilan yang diajukan mantan kuasa hukumnya, Abdullah Alkatiri di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). 

"Di hadapan khalayak, di hadapan yang mulia, dan di hadapan wartawan saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, wabil khusus kepada saudara-saudaraku sebangsa setanah air kaum Nasrani," kata Yahya di ruang sidang PN Jaksel, Senin (27/9).

Menurut Yahya, masalah yang ia hadapi bukanlah perkara berat melainkan hanya persoalan etika dan moralitas. Padahal menurutnya Nabi Muhammad selalu mengedepankan akhlak yang baik.

Sebagai orang yang tumbuh besar di lingkungan yang mengajarkan norma dan moral, ia mengaku khilaf karena tidak memberi contoh yang baik dalam berdakwah sehingga melampaui batasan etika dalam bermasyarakat.

"Yang saya sangat sesali setelah melihat video itu rasanya tidak sesuai dengan apa yang saya tekuni selama ini sebagai seorang pendakwah," ujar Yahya.

Yahya lantas berterima kasih kepada majelis hakim dan menyatakan akan menghadapi proses hukum yang menjeratnya dengan jantan. Yahya berharap dirinya akan mendapatkan hikmah dari Allah agar bisa menjadi pendakwah yang bisa dicontoh.

Menanggapi hal ini, hakim tunggal PN Jalsel Anry Widyo Laksono mengatakan bahwa agenda persidangan tersebut bukan pemeriksaan materi. Meski demikian, ia menilai permohonan maaf yang disampaikan Yahya merupakan haknya.

"Itu adalah hak saudara untuk menyampaikan karena kebetulan di sini juga hadir banyak orang," kata Anry. Yahya diketahui melontarkan pernyataan yang diduga menistakan agama lain dalam salah satu ceramahnya.

Dalam ceramah yang direkam dan diunggah ke Youtube itu, Yahya menyebut kitab injil palsu dan fiktif. Ia lantas dilaporkan oleh Masyarakat Cinta Pluralisme pada Selasa, 27 April 2021 dengan register Nomor: LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM dan ditetapkan sebagai tersangka.

Selang beberapa waktu, mantan kuasa hukum Yahya, Abdullah Alkatiri mengajukan praperadilan atas kasus Yahya ke PN Jaksel. Ternyata, gugatan itu diajukan tanpa sepengetahuan Yahya.

Pendakwah itu lantas menulis surat yang menyatakan bahwa praperadilan dan kuasa yang ia berikan pada Abdullah dicabut. Hakim tunggal PN Jaksel lantas menanyakan keputusan ini kepada Yahya hingga beberapa kali dalam persidangan.

"Saya tanyakan sekali lagi, saudara Yahya waloni tegaskan saja apakah saudara tetap ingin melanjutkan praperadilan ini atau kah saudara akan tetap menggunakan kuasa hukum yang hadir sekarang ini?" tanya Anry. "Tidak (lanjutkan praperadilan) yang mulia, saya membatalkan," kata Yahya.

Anry kemudian mengabulkan permohonan pencabutan praperadilan ini. Sebab, Yahya tidak mengizinkan kasusnya dibawa ke praperadilan. "Dengan sendirinya permohonan permohonan untuk pencabutan dimaksud patut untuk dikabulkan," kata Anry seperti dinukil CNN Indonesia.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani

Diterbitkan di Berita
Tim detikcom - detikNews Jakarta - Yahya Waloni resmi menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama. Bukan hanya diduga melakukan penistaan agama, Yahya Waloni juga pernah menghina beberapa tokoh.

Sebagaimana diketahui, Yahya sendiri ditangkap sekitar pukul 17.00 WIB kemarin. Dirinya diketahui tidak melawan saat dijemput polisi. Yahya Waloni akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.

"Sudah (tersangka). Melalui ceramah yang diunggah pada video di akun YouTube Tridatu dari perbuatan yang telah dilakukan, yang bersangkutan disangkakan dengan beberapa pasal," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (27/8/2021).

Rusdi membeberkan Yahya dijerat dengan UU ITE. Selain itu, Yahya juga dikenakan pasal tentang penodaan agama.

"Antara lain dari Undang-Undang ITE Pasal 28 Ayat (2) Jo Pasal 45a Ayat (2), di mana dalam pasal tersebut diatur dengan sengaja dan tidak sah menyebarkan informasi akan menyebabkan permusuhan kebencian berdasarkan SARA. Dan juga disangkakan Pasal 156a KUHP. Itu melakukan penodaan terhadap agama tertentu," tuturnya.

Lebih lanjut, Rusdi mengungkapkan dasar penangkapan dari Yahya Waloni. Yahya dilaporkan telah melakukan ujaran kebencian berdasarkan SARA hingga penistaan agama.

Selain diduga menistkan agama, Yahya Waloni juga pernah menghina sejumlah tokoh dalam ceramahnya. Berikut ini tokoh-tokoh yang dihina Yahya Waloni:

1. Ma'ruf Amin

Yahya Waloni pernah menghina Ma'ruf Amin pada tahun 2018. Hal ini disampaikannya dalam pidato berdurasi sekitar 10 menit yang diposting dalam akun YouTube 'Cahaya Tauhid'. Video yang diposting pada 11 September 2018.

Yahya menyerang Ma'ruf Amin yang saat itu sudah menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi). Ia bahkan menyebut Ma'ruf sudah uzur dan akan mati.

2. Tuan Guru Bajang (TGB)

Selain itu, dalam video yang sama Yahya juga menghina TGB yang saat itu telah menyatakan dukungannya untuk Jokowi. Ia mempelesetkan nama TGB dengan makian yang sangat kasar.

3. Megawati Soekarnoputri

Masih dalam video yang sama, Yahya juga menyinggung nama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ia mengaku mendoakan Presiden RI ke-5 itu cepat mati.

4. Hina Umat Kristen

Selain menghina sejumlah tokoh, Yahya Waloni juga kerap menghina umat Kristen. Dia menghina kitab suci umat kristen dalam sebuah video yang ramai beredar.

Akibatnya, Yahya Waloni dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh komunitas Masyarakat Cinta Pluralisme soal dugaan penistaan agama terhadap Injil. Yahya Waloni dinilai menista agama dalam ceramah yang menyebut bible itu palsu.

Pelaporan tersebut tertuang dalam Laporan Polisi (LP) Nomor: LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM. Yahya Waloni dilaporkan dengan dugaan kebencian atau permusuhan individu dan/atau antar golongan (SARA) pada Selasa (27/4/2021).

(rdp/fjp)

Diterbitkan di Berita

Inisiatifnews.com – Direktur eksekutif Komite Pemberantasan Mafia Hukum (KPMH) Habib Muannas Alaidid mengapresiasi kinerja Polri dalam menangani kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan oleh Muhammad Kece.

Hanya saja, ia juga berharap agar Polri juga bersikap adil kepada siapapun yang melakukan penodaan agama orang, sekalipun itu dilakukan oleh umat Islam.

“Setelah (menangkap) Kece, saya berharap minimal hukum juga berlaku sama ke Yahya Waloni,” kata Muannas, Rabu (25/8).

Menurut Muannas, banyak konten Yahya Waloni di sosial media seperti Youtube juga cukup berbahaya untuk kerukunan umat beragama.

“Aksi memecah-belah masyarakat terhadap kerukunan beragama tidak kalah bahayanya, apalagi laporannya menumpuk di Kepolisian dari berbagai pihak,” ujarnya.

Bagi Muannas, equality before the law juga penting ditunjukkan agar Polri tidak terkesan hanya eksklusif menindak penista agama Islam saja, sementara penista agama lain diabaikan.

“Ini penting agar berimbang, tidak ada kesan dikotomi mayoritas terhadap minoritas,” tegasnya.

Diterbitkan di Berita

ERA.id - Pria yang kerap disebut sebagai dai yakni Yahya Waloni, kini terbaring lemah. Hal itu terbukti dari foto yang beredar di dunia maya dan diunggah akun Twitter @FKadrun.

Dalam foto tersebut, terlihat Yahya sedang berbaring di ranjang khas rumah sakit. Di atasnya, berdiri tiang dengan infus yang menggantung.

Di hidungnya juga diselipkan selang, begitu pula di tangannya. Sembari memperlihatkan kondisi pria mualaf yang penuh kontroversi itu, @FKadrun atau Fahmi Alkatiri berdoa.

"Mohon bersama kita do'a kan kesembuhan ustadz Yahya Waloni," tulisnya.

 
Yahya Waloni terbaring sakit dan diinfus (Twitter @Fkadrun)

 

Tak lama, unggahan tersebut langsung direspons banyak netizen. Mayoritas orang mendoakan agar penyakit yang diidap Yahya segera diangkat dan disembuhkan.

Namun ada juga yang berharap kalau Yahya tidak terinfeksi Covid-19. "Sakit apa dia? mudah2an tdk terpapar covid 19, krn ybs tidak percaya sama covid," tulis @AidilAli17.

"Semoga ustadz Yahya Waloni segera sembuh dan sehat wal afiat seperti sebelumnya aamiin," tulis @Kenthun84872584.

Untuk diketahui, Yahya Waloni memang sudah lama terdengar lagi suaranya usai dikabarkan ditangkap oleh polisi karena ceramah kontroversinya.

Yahya memang dikenali sangat garang jika sudah berceramah. Ia tak segan menyerang pemerintah, membabat yang tak sepaham dengannya, serta keras kata-katanya.

 

https://twitter.com/FKadrun/status/1424624666245689344

Diterbitkan di Berita

"Dalam rangka menjaga nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki (toleransi dan hidup dalam keberagaman), maka kami dari Masyarakat Cinta Pluralisme akan melaporkan Yahya Waloni dengan pasal 156a KUHP di Bareskrim Polri," tulis Masyarakat Cinta Pluralisme dalam pesan di  WhatsApp Group yang dilihat RRI.co.id, Selasa (27/4/2021).

Rencananya ada 75 Relawan yang akan ikut melapor atau hadir di Bareskrim Mabes Polri.

Sebelumnya, Pegiat media sosial Eko Kuntadhi kembali melontarkan kritik keras terkait ceramah Yahya Waloni yang berbau kasar, dan provokatif, salah satunya mendoakan Ulama Quraish Shihab agar cepat mati.

Ustadz Yahya Waloni mengaku tak takut jika seumpama ada pihak yang menjebloskannya ke penjara. Yahya Waloni diketahui kerap melontarkan ucapan kontroversial lewat ceramah.

Pernyataan itu diungkap Ustadz Yahya Waloni saat berdakwah baru-baru ini seperti disiarkan saluran Youtube Hadist TV. Dikutip dari Hops.id--jaringan media Suara.com, Selasa (23/2/2021). 

Yahya Waloni bahkan mengaku jika seandainya akan diproses secara hukum, dia lebih meminta hakim untuk ditembak mati ketimbang meringkuk di penjara.  

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Media sosial belakangan ramai membicarakan seorang mualaf Yahya Waloni, yang terjun menjadi penceramah, namun sangat disayangkan ceramahnya berisi tentang kebencian dan provokasi.

Hal ini tertunya sangat bertentangan dengan ajaran dan cara penyampaian dakwah yang dilakukan Rasulullah.

Pegiat media sosial, Muhammad Zazuli, mengkritik keras model dakwah yang dipraktekkan oleh Yahya Waloni. Dia meminta pemerintah dan pihak terkait, khusunya MUI untuk menertibkan Yahya Waloni yang semakin lama cara dakwahnya semakin membahayakan umat.

Muhammad Zazuli menilai apa yang dilakukan oleh Yahya Waloni adalah pembodohan kepada umat serta pembusukan terhadap agama. Berikut kritikan Muhammad Zazuli kepada Yahya Waloni yang diposting di akun facebooknya.

 

Pembodohan Umat dan Pembusukan Agama yang Terus Dibiarkan

Pengikut yang bodoh untuk pengajar yang bodoh.
Pengajar yang bodoh untuk pengikut yang bodoh.
Sekelas dan satu frekuensi.

Sepertinya dia sengaja terus melakukan kontroversi hanya demi mendapat perhatian agar terkenal dan dapat uang karena diundang.

Yang mengundang juga tidak sadar kalo dirinya justru makin dibodohin dan citra agamanya jadi makin jelek, terbelakang dan ditertawakan orang.

MUI dan pemerintah juga diam saja tidak bisa menertibkan yang seperti ini.
Bagi mereka yang dikejar mungkin hanya proyek label halal yang ada duitnya.

Sementara tanggung jawab untuk mendidik umat dan menjaga citra agama yang lebih penting justru tidak dilakukan.

Pemerintah juga harus tegas dalam melakukan sertifikasi ustadz biar orang tidak bisa sembarangan ngaku ustadz, asal bunyi dan menyebarkan racun kemana-mana.

Tapi pertanyaannya, apakah pemerintah punya nyali?
Biasanya sih tidak.

Apa yang dikatakan oleh presiden Perancis tentang krisis yang dialami umat Islam memang ada benarnya.

Eh malah baginda kita cepat-cepat melakukan kecaman.

Padahal untuk mengecam kasus pembantaian Sigi nunggu lama dan nunggu medsos harus heboh dulu.

Semua hanya demi pencitraan dan cari aman.

Diterbitkan di Berita

BeritaHits.idSebuah video yang memperlihatkan aksi Ustaz Yahya Waloni komplain tentang kursi yang disediakan panitia saat sedang ceramah viral. Karena dinilai kurang pantas, tindakan Yahya Waloni saat ceramah itu pun dikritik warganet.

Dalam video bertajuk "Pesan Penting.!! Ustadz Yahya Waloni Menjelang Ramadhan 2021" yang diunggah di kanal Youtube zhinyal Islam (11/4/2021) tampak Yahya Waloni meminta pada panitia untuk mengganti kursi yang ia duduki. 

Ia menyebut kursi tersebut merupakan kursi gereja dan meminta panitia untuk menggantinya dengan kursi Islam.

"Eh, supaya cepat saya ceramah, begini. Ini (sambil mengetuk-ngetuk meja) meja ini, kayu jati meja ini," ujar Yahya sambil memperhatikan meja kayu di hadapannya. 

Baca Juga:Berbeda dengan Lainnya, Penganut Aboge Baru Mulai Puasa Pada Hari Rabu

"Mahal ini. Ini kayu jati. Angkat ini, kursi gereja ini. Ganti kursi Islam,” pintanya pada panitia acara.

Tak lama kemudian, tiga orang pria datang ke panggung. Mereka membawa sebuah kursi pengganti yang kemudian di letakkan di tengah sebagai tempat duduk Yahya Waloni. Sedangkan kursi yang disebut sebagai kursi gereja disingkirkan dari panggung.

 

Ustaz Yahya Waloni (Youtube)
Ustaz Yahya Waloni (Youtube)

 

Lebih lanjut Yahya menyebut bahwa kursi yang baru adalah kursi yang pas untuk ceramah, sedangkan kursi sebelumnya adalah kursi pemalas.

"Nah, ini baru kursi ceramah. Yang tadi itu kursi pemalas. Itu tadi kursi mau nikah. Itu, itu sana. Itu di gereja cocok, di masjid gak boleh," ucap Yahya Waloni, seperti dikutip BeritaHits.id. "Saya sudah lama pakai itu, malas," lanjutnya.
 
Bukan hanya di Youtube, pernyataan Yahya Waloni itu juga viral di Twitter. Banyak warganet mengecam apa yang disampaikan Yahya Waloni dalam ceramah tersebut.

"Kalau semisal keluar peraturan menteri agama soal kualifikasi pendakwah dan pemuka agama kayaknya ngga berlebihan deh ya...." tulis warganet dengan akun @ipurbay***.

"Sumpah yang kaya gini masih ada yang ngundang buat ceramah?" tulis warganet lain dengan akun @itnas***.

"Mohon maap nih yang kaya gini jangan disebut ulama, TUKANG CERAMAH!" tulis warganet dengan akun @sdns***.

"Dikasih standard gitu buat ulama, ada baiknya ya ada kualifikasinya. Soalnya makin kesini kok banyak ulama yang 'nyeleneh' dan jatohnya kurang bener gitu.. banyak yang intoleran juga, padahal Rasulullah aja toleran banget huhuhu takut banget ngetweet gini," tulis warganet lainnya.

Video selengkapnya dapat dilihat di sini.

 

https://www.youtube.com/watch?v=-s_XPb_Kqkw
 

 

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Yahya Waloni kembali menjadi pembicaraan di media sosial setelah dirinya marah karena disuguhi minuman susu dan air putih saat tengah ceramah dan bukannya kopi.

Hal itu terlihat dalam tayangan video ceramah Yahya Waloni yang ditayangkan oleh kanal Youtube Iniyona, seperti dilihat pada Minggu 12 April 2021.

Dalam tayangan video berjudul ‘Tegas dan Berani! Yahya Waloni’ yang diunggah pada 2019 lalu tersebut, tampak Yahya tengah ceramah di hadapan sejumlah jemaah.

 

https://www.youtube.com/watch?v=1x8J8ArtfPU&t=85s

 

Ia pun menceritakan bahwa dirinya jika ke lokasi daerah tempatnya ceramah tersebut suka makan di sebuah warung bernama Cikanea.

“Saya suka kalau ke sini itu di Cikanea. Pasti di kepala otak saya gak makan dulu ah dari rumah,” ujar Yahya Waloni.

Yahya pun mengatakan, ia tak pernah mau makan di tempat ceramah lantaran menilai makanan yang disuguhkan panitia tidak enak. Demikian pula menurutnya dengan kopi yang dibuat panitia.

“Gak mau juga makan di tempat ceramah begini, gak enak. Kopi aja kurang manis tadi,” ungkap Yahya.

Tak berselang lama, Yahya Waloni melihat ada segelas susu yang disuguhkan panitia di meja yang diletakkan di dekat tempatnya duduk tersebut.

Ia pun sontak marah karena disuguhkan susu oleh panitia dan bukannya kopi.

Menurut Yahya, susu bukan minuman penceramah melainkan minuman bayi dan orang penyakitan.

“Apa ini ditaruh susu begini. Ini (minuman) orang penyakitan. Susu? Innalillahi. Anak bayi punya ini. Bukan ini minuman penceramah. Itu yang hitam, kopi sini. Macam-macam!,” geramnya.

Yahya juga marah saat melihat ada sejumlah botol air putih yang disuguhkan panita di meja tersebut. Ia pun meminta panitia agar menyingkirkan air putih tersebut.

“Air putih, apa ini! (minuman) atlet pemain bulutangkis. Ini mah minuman orang sakit di rumah sakit. Bawa sana!,” teriak Yahya.

Selanjutnya, Yahya Waloni meminta kepada panitia memberinya kopi lantaran menurutnya minuman berwarna hitam itu merupakan minuman mujahid dan bukannya air putih.

“Sini kopi. Itu minuman mujahid. Mujahid mesti minum kopi apalagi dingin begini,” ujarnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Yahya Waloni pernah mengaku bahwa dirinya berceramah bukan karena isi amplop karena bayaran saat jadi pendeta jauh lebih besar dibanding ketika jadi mualaf.

Namun ucapannya berbanding terbalik dengan kelakuan saat berdakwa. Baru-baru sebuah video kembali viral yang memperlihatkan dirinya tengah jadi pembicara beberapa saat di sebuah acara.

Dalam video itu, terlihat Yahya Waloni berhenti ceramah lantaran waktu baginya untuk berceramah telah habis. Ia lantas enggan melanjutkan. Namun, ia menyinggung perkara bayaran bila harus melanjutkan.

“Ini sudah lewat waktunya (untuk ceramah). Karena dikasih waktu satu jam setengah. Saya berhenti pas satu jam setengah. Dah, sudah jam sembilan. Jangan ditambah (waktunya), konsisten. Konsisten,” ujar dia dalam video itu.

“Kalaupun mau ditambah, maka honornya harus (naik),” sambungnya. Pria yang diketahui juga memiliki nama Yopie Waloni kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 50 tahun silam. Sebelum menjadi mualaf, ia mengaku sebagai seorang pendeta.

Kemudian dikenal sebagai ustadz, meskipun tidak jelas belajar agama di mana dan kepada siapa. (ARN)

Diterbitkan di Berita

Rendra Saputra - Hops.ID

Pendakwah Ustaz Yahya Waloni menyatakan dirinya tak akan pernah mau pakai masker dan divaksin seumur hidupnya. Hal itu dia katakan lantaran dirinya merasa sehat walafiat.

Dalam sebuah ceramah terbarunya, Ustaz Yahya Waloni juga sangat yakin kalau dia tak bakal kena penyakit yang namanya covid-19.

Pada kesempatan itu, dikutip di Hadist TV, Jumat 26 Februari 2021, Ustaz Waloni lantas menyarankan agar Jokowi menyerukan kepada masyarakat untuk melepas maskernya. Presiden Jokowi juga diajak untuk lebih percaya pada Allah SWT, bukan pada fenomena yang terjadi di dunia saat ini.

“Kalau saya boleh saran ke Pak Jokowi dan Pak Maruf, Pak Jokowi, Pak Maruf, bagaimana kalau kita sepakat bangsa ini berhenti lah ribut-ribut, lepas lah masker-masker semua, enggak usah percaya tuh covad-covid, percaya sama Allah SWT,” kata dia disambut takbir jemaah.

Dia kemudian bertanya kepada jemaah, apakah mau untuk melepas maskernya. Sebab dia sadar kalau jemaah memakai masker bukan karena takut akan penyakit, melainkan sekadar takut dianggap melanggar protokol kesehatan yang ditentukan Pemerintah.
 
 
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.

“Coba saya tanya ke jemaah, mau enggak lepas masker? Antum kan pakai masker ini saya tahu bukan takut penyakit, bukan. Kalau takut penyakit enggak mungkin datang ke sini. Antum pakai masker ini karena antum takut didelik, ditangkap, diproses, kena pasal covad-covid,” katanya lagi.

Ustaz Yahya Waloni lalu bilang, kunci sehat pada dirinya lantaran dia rajin berolahraga. Sehingga dia terbebas dari covid. Termasuk rutinitas push up sebelum mandi yang sering dia lakukan. “Sampai mati saya enggak akan mau divaksin. Sebelum mandi saya push up, bagaimana enggak sehat.
Coba Pak Jokowi mau umumkan, (bilang) ekonomi kita mau tumbuh, jangan percaya WHO, jangan percaya,” katanya lagi.
 
 
Ustaz Yahya Waloni sadar penjara mengancam

Pada kesempatan itu dia lantas menegaskan pernyataannya. Kata Yahya, ungkapan itu bukan berarti dirinya mengajak agar para jemaah untuk tak pakai masker. Sebab masker tak mengapa tetap dipakai selagi pemerintah menganjurkan. Namun yang pasti, dia tak akan mau memakainya karena dia lagi-lagi menyatakan dirinya sehat.

“Nanti saya mau dibilang (dilaporkan) larang vaksin. Saya tak mau terjebak di persoalan itu. Anda nonton di Youtube lalu laporkan saya soal ini. Hahaha, antum baru jadi ular (kamu munafik –menurutnya), saya sudah jadi ular dari dulu,” katanya lagi.

 

Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.
Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.

 

Di ceramahnya tersebut, Ustaz Yahya Waloni lantas bercerita soal pengalaman bagaimana anaknya mengalami demam ketika melakukan perjalanan dari Jambi ke Riau. Sang istri sempat memintanya untuk menepi ke Puskesmas untuk memeriksa kesehatan anaknya.

Namun oleh Yahya Waloni, tak digubris. “Enggak usah, kalau di sana nanti dibilang covad-covid bagaimana.” Waloni justru meminta agar istri dan anaknya percaya dengan tiupan manjurnya. “Di pom bensin saya tiup sekali hilang itu, saat berhenti di pom bensin.

Kita salat berjamaah, saya tiup, dingin tuh anak. Coba itu kalau di Puskesmas, kalaupun dibilang negatif, pasti kena Rp500 ribu itu,” katanya lagi.

 

Diterbitkan di Berita