VOA Indonesia

Seorang lelaki Yahudi tewas sewaktu terjadi bentrokan dengan kekerasan di Lod, Israel. Kematiannya membawa kehidupan baru bagi seorang perempuan Arab yang telah lama menunggu datangnya donor ginjal.

Yigal Yehoshua, seorang lelaki Yahudi berusia 56 tahun, meninggal dunia pertengahan Mei lalu. Ia tewas setelah dilempari batu, di tengah-tengah kerusuhan antara warga Arab dan Yahudi di kota Lod, Israel, yang warganya berasal dari beragam latar belakang etnik.

Kekerasan etnik itu terjadi di tengah-tengah pertempuran 11 hari antara pasukan Israel dan militan Hamas di Gaza, yang dipicu oleh berbagai protes dan bentrokan di Yerusalem.

Di Lod serta di berbagai kota lain di dalam wilayah Israel yang memiliki penduduk dari beragam etnik, geng-geng warga Arab dan Yahudi saling berkelahi dan bentrok di jalan-jalan. Mereka membakar mobil-mobil, juga tempat-tempat usaha.

Namun setelah bentrok berhari-hari, siang dan malam, ada momen langka mengenai harapan persatuan, ketika Randa Aweis, yang berusia 58 tahun, menerima salah satu ginjal Yehoshua setelah menunggu donor selama 10 tahun.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari Yigal Yehoshua, yang meninggal setelah mengalah pada luka yang dideritanya selama kekerasan Arab-Yahudi di kota campuran Lod, melihat sambil berdiri di dapurnya di rumahnya di Yerusalem pada 26 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Ammar Awad)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari Yigal Yehoshua, yang meninggal setelah mengalah pada luka yang dideritanya selama kekerasan Arab-Yahudi di kota campuran Lod, melihat sambil berdiri di dapurnya di rumahnya di Yerusalem pada 26 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Ammar Awad)

 

Yehoshua tercatat sebagai donor organ. Secara medis, lelaki Yahudi dan perempuan Arab itu cocok sebagai pendonor dan penerima ginjal.

“Setelah 10 tahun, saya katakan pada diri sendiri. Cukup. Tak ada ginjal. Saya tak menginginkannya. Pekan lalu hari Senin, saya menjalani cuci darah, lalu saya pulang. Setiba di rumah, saya menerima telepon dari Hadassah. Saya tak bisa mempercayainya.

Sungguh, saya benar-benar tak percaya," kata Aweis ketika ditemui baru-baru ini Hadassah Medical Center di Yerusalem.

Aweis, yang ditemani putrinya, Niveen, satu dari enam anaknya, menyatakan rasa syukur yang tak henti-henti.

"Saya berterima kasih kepada mereka. Terima kasih, sebanyak-banyaknya. Mereka menyelamatkan saya. Mereka tidak mempermasalahkan apapun, Arab atau Yahudi.

Dari apa yang saya dengar mengenai dia, orang-orang mengatakan bahwa ia adalah lelaki yang baik. Yigal Yehoshua orang baik, tidak melakukan pengrusakan apapun, tidak merugikan siapapun, mengapa ia dibunuh? Ini dilarang, haram.

Harus ada perdamaian antara Yahudi dan Arab. Perdamaian yang sejati, bukan bohong-bohongan," paparnya.

Warga Israel, yang sudah lama terbiasa dengan kerusuhan yang sesekali terjadi di Gaza dan wilayah pendudukan Tepi Barat, terguncang oleh kekerasan itu.

Kekerasan belakangan ini terjadi lebih dekat lagi ke rumah mereka daripada masa-masa sebelumnya, sejak berlangsung intifada, atau pergolakan Palestina.

Kadang-kadang, ini terlihat seperti dimulainya perang saudara.

Warga Arab di Israel, yang merupakan 20 persen dari populasi negara itu, menyatakan, kekerasan itu berakar dari berbagai keluhan lama.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)

 

Mereka memiliki kewarganegaraan, termasuk hak untuk memilih, tetapi mereka menghadapi diskriminasi yang meluas.

Mereka juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan warga Palestina dan kebanyakan mengidentifikasi diri sebagai pendukung gerakan Palestina, membuat banyak warga Israel keturunan Yahudi memandang mereka dengan penuh kecurigaan.

Sewaktu kematian Yehoshua diumumkan, PM Israel Benjamin Netanyahu mengemukakan, “Kami akan menyelesaikan masalah ini dengan memburu siapapun yang terlibat dalam pembunuhan ini, tidak seorang pun yang akan lolos dari hukuman.”

Polisi telah menangkap beberapa tersangka yang terkait dengan kekerasan itu.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)

 

Aweis tidak pernah bertemu dengan Yehoshua, tetapi ia berbicara dengan jandanya dalam pertemuan melalui video yang dipenuhi dengan isak tangis.

"Saya berbicara dengan istrinya yang malang, ia banyak menangis. Ia menjenguk saya melalui video call. Saya sedang di unit perawatan intensif. Situasinya agak sulit baginya. Apa yang dapat kami lakukan?” kata Aweis.

Ketika ditanya apakah ia berencana untuk menemui istri Yehoshua, Aweis mengatakan ia sudah merencanakan pertemuan itu tetapi belum dapat melakukannya.

Ia berharap dapat mengunjungi keluarga Yehoshua secara langsung, duduk dan berbincang bersama, begitu ia pulih dari operasi cangkok ginjalnya.

"Ia menyelamatkan saya. Yigal menyelamatkan saya, dan sebanyak apapun saya ucapkan terima kasih, kepada keluarganya kepada siapapun, ini mish kifaya, tidak cukup.” [uh/ab]

Diterbitkan di Berita
Tim - detikInet Jakarta - Sekelompok pegawai Yahudi Google berpihak kepada Palestina. Mereka meminta Google meningkatkan dukungannya pada warga Palestina di tengah gempuran Israel yang telah memakan banyak korban warga sipil.

Dikutip detikINET dari The Verge, dalam surat internal untuk CEO Google dan Alphabet Sundar Pichai, pegawai Yahudi itu mengutuk serangan Israel yang disebut sebagai kerusakan pada Palestina oleh kekerasan militer Israel.

Surat itu telah ditandangani oleh 250 karyawan. Rupanya di kalangan internal Google, ada yang malah menentang Israel dan tidak nasionalis.

Wadah resmi pegawai Yahudi di Google disebut membatasi kebebasan ekspresi untuk membela pandangan anti zionis. Maka, organisasi baru mereka yang disebut Jewish Diaspora in Tech menuntut agar dibuka kebebasan berekspresi.

"Google adalah mesin cari terbesar dunia dan represi apapun terhadap kemerdekaan berekspresi yang muncul di dalam perusahaan adalah sebuah bahaya tidak hanya bagi pegawai Google secara internal tapi orang di seluruh dunia," kata mereka.

Mereka meminta Google memutus hubungan bisnis yang mendukung pelanggaran Israel terhadap hak asasi warga Palestina, termasuk Israeli Defence Forces.

"Warga Palestina sangat terdampak oleh kekerasan kolonial militer yang muncul di wilayahnya," sebut mereka dalam surat tersebut yang dikutip detikINET dari The Verge.

"Kami meminta Google untuk memberi dana para organisasi yang membela hak Palestina dan memastikan dukungan kemanusiaan untuk Israel sebanding dengan Palestina," tambah mereka.

"Banyak aksi Israel melanggar prinsip HAM PBB, yang dipegang oleh Google. Kami meminta review terhadap kontrak bisnis Alphabet dan pemutusan kontrak dengan institusi yang melanggar hak Palestina, seperti IDF," pungkasnya.


(fyk/afr)
Diterbitkan di Berita

Puluhan orang tewas terinjak-injak dalam festival keagamaan di timur laut Israel.

Layanan darurat nasional Israel Magen David Adom (MDA) mengonfirmasi adanya kematian tanpa memberi angka pasti, dan mengatakan puluhan orang lainnya terluka.

Surat kabar Haaretz melaporkan sedikitnya 44 orang telah tewas. Layanan darurat saat ini sedang mengevakuasi orang-orang yang terluka.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut peristiwa itu sebagai "bencana besar" sambil turut mendoakan bagi para korban.

 

Jenazah para korban yang tewas terinjak-injak

Pihak berwenang mengatakan puluhan orang tewas dan banyak lainnya terluka. EPA

 

Festival Lag B'Omer di kaki Gunung Meron adalah acara terbesar yang diadakan di Israel sejak pandemi virus corona dimulai, dengan puluhan ribu orang dilaporkan menghadirinya - meski ada kekhawatiran tentang penyebaran virus.

Puluhan ambulans sudah berada di lokasi dan petugas layanan darurat membaringkan jenazah di tanah dengan ditutup kain foil. Polisi meminta semua orang di lokasi untuk evakuasi.

Pihak berwenang mengatakan 38 orang di lokasi dalam kondisi kritis, dengan enam lainnya terluka parah namun telah dievakuasi dan banyak orang mengalami luka ringan.

"MDA berjuang untuk nyawa puluhan orang yang terluka, dan tidak akan menyerah hingga korban terakhir dievakuasi," kata sebuah twit.

 

Festival Lag B'Omer

Puluhan ribu kaum Yahudi Ortodoks melakukan perjalanan ke Meron setiap tahun untuk Lag B'Omer, hari raya keagamaan yang ditandai dengan api unggun, berdoa, dan menari.

Kota tersebut adalah lokasi makam Rabbi Shimon Bar Yochai, orang bijak dari abad kedua, dan dianggap sebagai salah satu tempat paling suci di negara Yahudi itu.

Menurut surat kabar Times of Israel, penyelenggara festival memperkirakan 100.000 orang tiba pada Kamis malam, dengan lebih banyak orang diperkirakan tiba pada hari Jumat.

Perayaan tahun lalu dibatasi, namun kesuksesan program vaksinasi Israel - salah satu yang tercepat di dunia - telah memungkinkannya untuk mengangkat banyak pembatasan dalam beberapa bulan terakhir.

 

Hadirin di Festival Lag B'Omer

Festival Lag B'Omer dihadiri puluhan ribu kaum Yahudi Ortodoks. REUTERS

 

Awal mula kejadian

Sejumlah laporan awal mengatakan satu bangunan di situs itu runtuh, tetapi pejabat MDA belakangan mengatakan bangunan itu runtuh akibat desak-desakan.

Sumber polisi mengatakan kepada surat kabar Haaretz bahwa insiden tersebut dimulai setelah beberapa peserta tergelincir di anak tangga, menyebabkan puluhan lainnya jatuh.

"Itu terjadi dalam sepersekian detik; orang-orang jatuh, kemudian menginjak-injak satu sama lain. Sungguh bencana," kata seorang saksi mata kepada surat kabar itu.

Video yang diunggah di internet menunjukkan ribuan orang berkerumun dan berdempet-dempetan untuk acara tersebut, sebelum berusaha melarikan diri dari kekacauan saat insiden itu terjadi.

Seorang peziarah dilaporkan sempat mengira ada peringatan bom ketika mendengar pesan dari pengeras suara yang meminta khalayak untuk bubar.

"Tidak ada yang membayangkan bahwa ini bisa terjadi di sini," kata pria itu kepada Channel 12 TV. "Sukacita menjadi dukacita, cahaya yang terang menjadi kegelapan yang pekat."

Yanki Farber, reporter situs web Yahudi Ortodoks Behadrei Haredim menggambarkan peristiwa ini sebagai "bencana besar".

"Lebih dari seribu orang bersama-sama berusaha melalui tempat yang sangat, sangat kecil, jalan yang sangat sempit, dan mereka jatuh di atas satu sama lain," katanya kepada BBC.

Sebelumnya pada hari itu para pejabat mengatakan mereka tidak dapat memberlakukan pembatasan virus corona di situs tersebut karena banyaknya orang.

Polisi dilaporkan mengatakan mereka menangkap dua orang karena mengganggu ketertiban sebelum desak-desakan terjadi.

 

A map showing Meron in Israel
 

Tens of thousands travelled to Meron in the north of the country for a religious festival on Thursday

Diterbitkan di Berita