sindonews.com JAKARTA - Setelah menjadi satu satunya kampus di Indonesia yang berhasil masuk ke dalam daftar peringkat Times Higher Education (THE) Young University Rankings 2021. Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Telkom University di pertengahan tahun 2021.

Predikat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik No. 1 di Indonesia kembali diraih Telkom University (Tel-U) pada pemeringkatan Webometrics ranking of world universities 2021.

Selain menjadi PTS pertama di Indonesia yang meraih akreditasi unggul, Tel-U juga berhasil menduduki peringkat 1001+ dunia dalam pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR). 

Di mana Tel-U menjadi satu satunya PTS yang masuk 9 besar bersanding dengan universitas terbaik di Indonesia yang semuanya adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Selain itu, berdasarkan Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings (WUR) 2022, Tel-U berhasil masuk dalam 10 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan overall score di angka 8.1, berdasarkan beberapa aspek penilaian diantaranya: Academic Reputation (5); Employer Reputation (6.2); Citation per Faculty (1.3); Faculty Student (24); International Faculty (4.8); dan International Students (2.4).

Kali ini dilansir dari laman resmi www.webometrics.info. Tel-U kembali berhasil menempati peringkat pertama untuk PTS di Indonesia, sebagai perguruan tinggi yang memiliki kuantitas dan kualitas konten website yang baik.

Sedangkan untuk keseluruhan, Tel-U menempati peringkat ke-6 di Indonesia serta peringkat ke 1.416 dunia versi Webometrics.

Webometrics merupakan sebuah pemeringkatan institusi pendidikan tinggi terbesar di dunia yang memberikan penilaian terhadap seluruh universitas terbaik di dunia melalui website yang dinilai berdasarkan keterbukaan akses, jumlah peneliti atau dosen, dan jumlah publikasi yang mengutip informasi dari situs universitas tersebut dan diperbaharui setiap enam bulan.

Rektor Telkom University Prof. Dr. Adiwijaya mengatakan bahwa capaian yang diraih Tel-U dari tahun ke tahun merupakan bentuk komitmen Tel-U dalam memberikan mutu pendidikan yang baik untuk bangsa ini, karena generasi emas yang menjadi visi bangsa ini dihasilkan dari perguruan tinggi berkualitas di dalamnya.

“Ini merupakan sebuah komitmen kami untuk terus membuat mutu pendidikan tinggi di Indonesia lebih baik, dan semoga dari capaian ini bisa memotivasi seluruh sivitas akademika dalam memberikan yang terbaik untuk kampus ini dan untuk bangsa Indonesia,” Ucap Prof. Adiwijaya.

Ucapan terimakasih Prof. Adiwijaya sampaikan kepada seluruh sivitas akademika yang telah mengharumkan nama Tel-U baik secara nasional dan Internasional.

“Terimakasih kepada seluruh sivitas akademika yang telah bekerja keras dalam mengharumkan nama Tel-U, ditengah pandemi ini semoga kita selalu diberikan kesehatan agar bisa terus mencetak generasi yang baik untuk bangsa ini,” Ucapnya.

(mpw)
Diterbitkan di Berita

KUASAKATACOM, Jakarta – Sejumlah mahasiswa yang mengaku sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah Kampus Swasta di Jabodetabek, menantang para mahasiswa yang tergabung di BEM UI, untuk bergerak melakukan langkah-langkah konkret, agar keluar dari lilitan berbagai persoalan akibat pandemi Covid-19. 

Dalam rilis yang diterima, 10 kampus swasta yang menamakan dirinya sebagai BEM Sejabodetabek menyebut BEM UI sangat eksklusif dan hanya mampu berolok-olok terhadap Pemerintahan, khususnya Presiden Joko Widodo. 

Budi Rahmansyah, yang didapuk sebagai Koordinator BEM Sejabodetabek itu mengatakan, mereka menggelar konferensi pers di sebuah cafe Jakarta. Menurut mereka banyak sikap BEM UI yang tidak mewakili perasaan mahasiswa Indonesia. 

“Politik mahasiswa adalah politik pengabdian. Bukan olok-olok. Saat ini, yang kami rasakan, dan banyak dari keluarga mahasiswa yang berduka karena keluarga mereka banyak yang sakit, bahkan meninggal dunia karena Covid. Lalu, BEM UI tanpa pernah mengetahui perasaan kita, mengambil kesempatan politis di saat sulit,” ujar Budi Rahmansyah, Rabu (30/6). 

Budi Rahmansyah merinci, paling tidak, ada 10 BEM dari kampus swasta yang tergabung dalam BEM Sejabodetabek, yang mengecam cara-cara yang dilakukan BEM UI karena menyebut Presiden Joko Widodo sebagai The King of Lips Service. 

Kesepuluh Kampus Swasta yang menyatakan diri sebagai BEM Sejabodetabek itu adalah BEM Indonesia Banking School, BEM STMIK Jayakarta, BEM STAI Al Aqidah, BEM Universitas Islam Jakarta, BEM STMIK Mercusuar, BEM Universitas Ibnu Chaldun, BEM STIAKIN Sekolah Ilmu Administrasi Kawula Indonesia, BEM Universitas Azzahra, Universitas Bhayangkara, dan BEM STMIK Pranata Indonesia. 

Mereka mengatakan, pergerakan BEM UI sangat eksklusif. Dengan tidak pernah memperhatikan perasaan rakyat miskin yang sebenarnya. Sementara kebutuhan rakyat miskin saat ini adalah bisa segera keluar dari situasi krisis karena Covid-19. 

“Tidak ada korelasinya mengolok-olok Presiden dan perubahan keadaan krisis saat ini. Apakah dengan BEM UI mengolok-olok Pak Jokowi lantas Covid langsung hilang dan krisis langsung selesai?” tukasnya.

Budi beranggapan, saat ini empati adalah respon yang benar dengan kondisi di saat lonjakan pasien Covid-19 sedang melejit.  Dia mengatakan, BEM UI tidak mengerti dan tidak bisa bersikap empati, karena diduga sudah disusupi oleh kelompok kepentingan politik tertentu. 

“Arah gerakan mereka sudah tidak seusai dengan doktrin gerakan mahasiswa yang kita kenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” lanjutnya. 

Model yang diperlihatkan BEM UI, katanya lagi, diduga lebih ke arah gerakan politik praktis. Mengambil alih kekuasaan dengan mengolok-olok Kepala Negara. “Dengan tujuan mengajak untuk membenci Presiden dengan cara olok-olok,” katanya. 

Politik mahasiswa adalah politik Tri Dharma. Membangun Bangsa Negara dengan pengabdian, ketulusan dan kecintaan. Menurut Budi, apa yang dilakukan BEM UI lebih ke arah membangun kebencian. 

“Bagaimana pun mengolok-olok akan selalu melahirkan kebencian. Tidak ada cinta kasih dan pengabdian di balik olok-olok,” pungkasnya.

Diterbitkan di Berita