BANDUNG, itb.ac.id—Mendukung pembelajaran jarak jauh, ITB-STEI-PUI Mikroelektronika ITB berkontribusi dalam membangun jaringan 4G di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Pembangunan jaringan dilakukan di daerah Maluku dan NTT sebagai daerah 3T yang belum memiliki infrastruktur memadai, hal ini dikarenakan belum banyaknya populasi di daerah tersebut sehingga dirasa belum komersial bagi operator telekomunikasi yang ada.

Menurut Prof. Trio Adiono S.T., M.T., Ph.D., semenjak pandemi COVID-19 melanda hampir seluruh negara di dunia, sistem pembelajaran dipaksa untuk berubah dari konvensional menjadi digital.

Sekolah dan universitas menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pada nyatanya tidak semua daerah memiliki sinyal telekomunikasi yang baik khususnya daerah 3T untuk melaksanakan PJJ tersebut.

Ia melanjutkan, hal ini mengakibatkan daerah tersebut tidak memungkinkan untuk mengakses konten elektronik atau kelas jarak jauh.

Oleh karena itu, semenjak 12 tahun terakhir tim ITB-STEI-PUI PT Mikroelektronika telah mengembangkan perangkat Base Station (BTS) untuk menyediakan koneksi data kecepatan tinggi berbasis teknologi 4G LTE.

“BTS ini dapat diakses melalui smartphone, tablet, komputer, dan perangkat lainnya. Perangkat ini disebut dengan InfiniteBe, dikembangkan dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 40%.

Perangkat ini sangat cocok sebagai solusi PJJ di daerah 3T karena kemampuannya yang dapat menjawab kebutuhan,” ujar Prof. Triono kepada Humas ITB, belum lama ini.

Proyek pembangunan sinyal 4G ini didanai oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemendikbud dan didukung oleh Kemenristek, Menkominfo, dan Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI untuk melaksanakan deployment perangkat dan pengembangan industri telekomunikasi.

 

 

Proyek mulai dijajaki sejak Agustus 2020, kemudian dilaksanakan bulan September dan dilakukan instalasi pada Desember 2020. Dalam pembangunannya, proyek ini menemui berbagai kendala.

Kendala utama yang dihadapi adalah sulitnya pengadaan dan pengiriman logistik ke daerah tersebut.

Pengiriman hanya dapat dilakukan dengan moda transportasi yang sangat terbatas, sedangkan penyediaan alat masih harus dilakukan dari Jawa seperti tower dan power supply yang besar.

Hal ini mengakibatkan terhambatnya proses instalasi. Selain itu, faktor alam juga menjadi kendala lain dalam pembangunan proyek. Musim hujan yang sedang melanda menghambat proses pembangunan tower.

Prof. Triono berharap dengan terealisasinya proyek ini dapat menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia dapat merancang perangkat dengan teknologi tinggi seperti 4G LTE, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

“Selanjutnya, kami berharap perangkat ini dapat di duplikasi di sekolah-sekolah yang belum memiliki akses seluler dan internet dan dapat mengembangkan industri elektronika Indonesia,” kata Prof. Triono.

 

Reporter: Diah Rachmawati (Teknik Industri, 2016)

Oleh: Adi Permana

Editor: Diky Purnama, S.Si.,M.Ds.

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Data menjadi hal yang sangat berharga di masa ini. Kerahasiaan data menjadi penting, terutama untuk kasus ancaman siber dan informasi. Salah satu serangan siber yang ramai diperbincangkan tahun 2020 lalu adalah kasus kebocoran dan pencurian data.

Kasus ini adalah contoh dari serangan siber bersifat teknis yang menargetkan sistem elektronik. Tidak hanya itu, ancaman ini juga menyerang social networking, terutama peretasan dan disinformasi.

“Dalam perang informasi, alutsista (alat utama sistem senjata) utamanya adalah informasi yang direkayasa. Sekarang dengan teknologi siber, (informasi) ini bisa (tersebar) jutaan dalam waktu singkat.

Kalau ini terus-menerus disampaikan kepada manusia, otak manusia akan berubah; bisa memengaruhi ide, pilihan, pendapat, emosi, sikap, tingkah laku, opini, bahkan motivasi,” jelas Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Letnan Jenderal TNI (Purn.) Hinsa Siburian dalam Seminar Pertahanan Negara dan Keamanan Nasional dengan topik utama “Pertahanan dan Keamanan Siber untuk Ketahanan Bangsa” Kamis (18/02/2021).

Pembicara kunci dan Dekan Fakultas Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Romie Oktovianus Bura, B.Eng.(Hons.), MRAeS, Ph.D., CIQnR., CIQaR. sepakat bahwa SDM menjadi kunci dalam pertahanan dan keamanan siber.

“Kita kembangkan SDM yang mampu menjadi tuan rumah sendiri. Bukan SDM yang hanya mengoperasikan atau mengaplikasikan teknologi dari luar, namun mereka juga dididik atau didorong untuk mengembangkan teknologi dalam negeri,” tambahnya.

Menurut Prof.Dr.Ing.Ir. Suhardi, M.T. dari Cyber Security Center STEI ITB, kemampuan suatu negara untuk mengatasi serangan siber dari pihak manapun sangat penting.

Serangan siber yang tidak teratasi akan terakumulasi dan pada akhirnya juga bisa menyerang aset-aset yang lebih besar sehingga mengganggu keamanan negara. Karena itu, kesadaran akan keamanan siber perlu ditumbuhkan dalam diri setiap orang.

“Saya kira awareness ini menjadi satu hal yang kelihatannya simple tapi tidak mudah untuk dilakukan. Rata-rata terjadinya serangan siber dalam skala besar diawali dengan keteledoran seseorang.

Beberapa tips yang biasanya disampaikan adalah mengamankan jaringan, selalu update software kita, lindungi ketika kita berhubungan dengan perangkat lain, dan lakukan perlindungan berganda terhadap login,” lanjutnya.

Kepastian adanya jejak digital yang tertinggal membuat Cyber Security ITB mengembangkan digital forensik sebagai metodologi yang digunakan ketika keamanan siber sudah dilampaui. Bagaimana menemukan jejak digital tersebut lah yang menjadi riset dan inovasi yang terus dikembangkan.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -- Disrupsi terjadi di berbagai sektor, termasuk pertahanan negara dan keamanan nasional. Menyikapi hal tersebut, pada Kamis (18/2/2021), Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui STEI ITB dan Universitas Pertahanan Republik Indonesia mengadakan webinar dengan judul, “Disrupsi Teknologi Pada Industri Pertahanan dan Pengembangan Pertahanan Siber Indonesia”.

Webinar tersebut terdiri dari dua sesi. Sesi pertama memiliki tema, “Industri Pertahanan Cerdas untuk Keamanan dan Ketahanan Bangsa”. Sesi pertama dimulai dengan pemaparan disrupsi dalam berbagai sektor kehidupan, seperti pertanian, industri, makanan, dan ketahanan.

Disrupsi teknologi juga menambah dimensi tempur untuk TNI menjadi darat, laut, udara, antariksa, dan siber. Dekan STEI ITB Dr. Tuntun Juhana, S. T., M. T. Mengatakan, salah satu cara menghadapi disrupsi oleh big data, kecerdasan buatan, dan augmented reality adalah dengan transformasi dengan solusi cerdas seperti smart system model.

 

Pembicara kunci pertama adalah Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI M. Herindra yang membahas mengenai potensi ancaman militer disebabkan oleh teknologi 4.0 dalam stabilitas nasional dan kedaulatan Indonesia berdasarkan Undang Undang serta industri pertahanan sebagai upaya memperbesar kemampuan pertahanan negara.

Pembicara kunci kedua adalah Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M. Sc., DESD., CIQnR., CIQaR., IPU. yang membahas smart university, smart tri dharma, dan smart life sebagai cara beradaptasi pada era disrupsi teknologi.

Pembicara kunci ketiga adalah Wakil Ketua Badan Intelijen Strategis TNI Mayor Jenderal TNI Gina Yoginda, M. Si. (Han).

Ia membahas mengenai tantangan pada perkembangan teknologi digital secara masif yang mengharuskan TNI mengambil langkah penting untuk pertahanan siber di sektorat dan menyarankan agar pemangku jabatan dapat dengan tegas memberi hukuman kepada pelanggar UU ITE untuk menjaga NKRI dan Pancasila.

Ia mengungkapkan, tren ancaman siber pada tahun 2020 terjadi sejumlah 495 juta serangan dengan ancaman pada perangkat lunak, perangkat keras, dan brainware dalam bentuk malware, sadap informasi, dan hatespeech.

Sementara pembicara kunci terakhir adalah DIRTIPIDSIBER Bareskim Polri BJP. Slamet Uliandi, S.I.K. yang membahas strategi Polri dalam menghadapi perkembangan keamanan siber di Indonesia dengan program virtual police alert, Siber TV, patrolisiber.id, dan sosialisasi di media sosial.

 

 

Webinar dilanjutkan dengan 3 pembicara. Pembicara pertama adalah Direktur Smart City and Community Innovation Center ITB yang membahas mengenai Peraturan Presiden no 8 tahun 2021 mengenai perluasan dimensi pertempuran dan teknologi senjata militer yang semakin mutakhir. Pembicara kedua adalah Direktur Teknologi dan Perkembangan PT Pindad (Persero) Ade Bagdja menyampaikan peran PT Pindad dalam transfomasi digital, sinergitas untuk ketahanan negara, dan dalam cyber security.

Pembicara ketiga adalah Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Bobby Rasyidin membahas organisasi dalam mencapai industri pertahanan yang maju, kuat, mandiri, berdaya saing dan terkemuka.

Hasil dari webinar sesi satu adalah penjelasan mengenai disrupsi teknologi yang menyerang sektor pertahanan dan keamanan negara yang dapat mengganggu kedaulatan negara.

Disrupsi tersebut bisa berdampak positif seperti membuat proses pertanian dan industri menjadi lebih efisien dan bisa berdampak negatif seperti penyadapan, hatespeech, dan malware.

Selain itu, pada bidang pertahanan dan keamanan negara dimensi pertempuran menjadi meluas, maka Indonesia harus mandiri dalam perkembangan teknologi.

C5ISR adalah produk yang sedang dikembangkan oleh PT Len Industri (Persero) sebagai induk implementasi Klaster BUMN Industri Pertahanan dalam mengikuti perkembangan teknologi pertahanan.

Reporter: Alvina Putri Nabilah (Biologi, 2019)

Diterbitkan di Berita