BANDUNG, itb.ac.id -Industri kreatif dinilai mampu berinovasi untuk tetap bertumbuh dan bertahan di tengah pandemi.

Dalam mendukung arah pengembangan industri kreatif, Pemerintah Indonesia menggelar pameran virtual tingkat global dalam rangka International Year on Creative Economy for Sustainable Development 2021 yang diprakarsai oleh Indonesia.

Pameran bertajuk “Creative Economy for Sustainable Development: Let’s Connect!” itu diselenggarakan di sela-sela pertemuan High Level Political Forum (HLPF) Economic Social Council (ECOSOC) PBB tanggal 6-15 Juli 2021.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, terdapat tiga hal yang saat ini perlu difokuskan untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Pertama, menciptakan lingkungan yang mendukung. Kedua, mendukung pembelajaran sepanjang hayat, dan Ketiga, menumbuhkan creative hub.

Indonesia ingin memilki creative hub sendiri. Untuk itu, Indonesia telah mendirikan Global Center of Excellence and International Cooperation for Creative Economy (G-CINC) pada tahun 2019 sebagai tidak lanjut dari World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali tahun 2018.

G-CINC merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Institut Teknologi Bandung yang diwakili oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.

Center G-CINC tersebut didesain untuk memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif dari Indonesia dan seluruh dunia, dengan harapan dapat mendorong riset, pengembangan, dan kerja sama internasional.

Tim ahli dari SBM ITB telah berkontribusi pada GCINC dalam melaksanakan sejumlah agenda seperti Expert Panel Series sebagai workshop pelaku industri kreatif global serta berbagai Penelitian terkait skema kreatif dan indikator ekoknomi kreatif Indonesia.

Menteri Parekraf Sandiaga Uno dalam sambutannya menyampaikan bahwa ekonomi kreatif yang berbasis pada budaya memiliki keunggulan sebagai aset yang tidak terbatas, sehingga dapat berkontribusi bagi upaya pencapaian SDGs.

Menteri Parekraf juga menyebutkan peran penting G-CINC di mana SBM ITB telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan terkait penguatan industri kreatif dengan bekerja sama dengan unsur Pentahelix yaitu akademisi, pelaku kreatif, pemerintah, asosiasi, komunitas kreatif, serta media.

Adapun Ketua BPK RI Agung Firman Sampurna menggarisbawahi pentingnya memperkuat sinergi antar kementerian, lembaga, daerah, serta para pelaku industri kreatif di Indonesia.

Menurut koordinator kegiatan sekaligus Direktur ITB Career Center, Sonny Rustiadi, Ph.D., pameran virtual ini dilaksanakan memanfaatkan virtual exhibiton environment milik ITB yang dikelola oleh ITB Career Center sebagai bagian dari Direktorat Kemahasiswaan ITB.

Pameran ini dianggap penting dalam menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi UMKM kreatif Indonesia kepada audiens global. Pameran dapat diakses dari tanggal 6 hingga 15 Juli 2021 melalui tautan

 

 

Terdapat 30 booth yang mewakili pemerintah, organisasi internasional, pelaku usaha ekonomi kreatif dan sektor UMKM serta komunitas lainnya. Di setiap booth peserta akan mendapatkan informasi terkini dan berinteraksi secara langsung.

Di antaranya para exhibitor adalah sejumlah badan PBB seperti ILO, FAO, UNCTAD, WIPO, UNESCO, dan UNWomen seta organisasi internasional lain seperti ASEAN dan British Council.

Selain itu sejumlah negara juga berpartisipasi sebagai exhibitor di antaranya UAE, Mexico, Costa Rica, Fiji, dan Kolumbia.

Selain booth eksibisi, pameran virtual ini juga menampilkan lebih dari 90 video yang berisi aspirasi, program terkait industri kreatif, serta profil industri kreatif dari berbagai penjuru dunia.

Di antaranya video yang ditampilkan berasal dari negara Peru, Inggris, Afrika Selatan, Korea Selatan, Singapura, Cili, Filipina, Pakistan, Canada, Mesir, Perancis, Belanda, Papua New Guinea, RRC, Banglades, Kuwait, Sudan, Jerman, Vietnam, Portugal, Brazil, Rusia, Benelux, Peru, Kanada, Panama, Finlandia dan Amerika Serikat.

Indonesia diwakili oleh berbagai Kementerian dan Instansi yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri (G-CINC), Jabar Digital Service, dan Jakarta Smart City Program serta kalangan startup seperti TaniHub, Tulibot, dan Sembilan Matahari.

Dari ITB sendiri sejumlah partisipan terdiri dari perusahaan besutan alumni ITB yaitu Agate, serta sejumlah bisnis kreatif dari Sekolah Bisnis dan Manajemen yaitu ClothLab, Rencana Decoration, Kalea Space, Vaja Golden Vetiver, VISC Production, serta Lets Connect Syndicate 8 Program MBA CCE 63, papar Sonny yang juga merupakan dosen SBM ITB pada kelompok keahlian Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi dan salah satu pakar di G-CINC.

Diterbitkan di Berita

TEMPO.COJakarta - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berencana menjadikan startup digital sebagai mata kuliah Wajib di perguruan tinggi.

Program mata kuliah wajib Startup Digital itu rencananya akan direalisasikan pada tahun 2022. Adapun untuk tahun 2021, Dirjen Dikti bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika akan memberikan pelatihan startup kepada dosen yang nantinya akan mengampu mata kuliah startup digital tersebut.

Sekretaris Ditjen Dikti Paristiyanti Nurwardani mengatakan melalui mata kuliah wajib Startup Digital ini nantinya diharapkan akan ada 100.000 mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan startup.

Seperti dikutip dari laman Dikti Kemdikbud, Paristiyanti mengatakan nantinya tim yang lolos seleksi pengembangan startup akan mendapatkan bimbingan yang lebih intensif agar mampu bertahan dalam jangka panjang. "Serta bisa masuk ke platform Kedaireka atau inkubator bisnis kampus,” ucap Paristiyanti seperti dikutip Tempo, Jumat 14 Mei 2021.

Rencana Ditjen Dikti menjadikan mata kuliah wajib startup digital ini sejalan ini dengan program Kampus Merdeka dan inisiatif Kementerian Kominfo untuk membangun Gerakan 1000 Startup. Gerakan ini menjadi wadah pendampingan dan pemberdayaan dunia startup digital di Indonesia, o).

Program 1000 Startup Digital akan dikemas dalam beberapa tahapan dari tingkat dasar hingga siap untuk dites masuk pasar. Terdapat enam tahapan untuk para startup founder, yaitu:

1. Ignition, seminar daring yang memberikan pemahaman dari para pelaku dan regulator industri startup;
2. Networking, kegiatan berjenjang dengan peserta lainnya di daerah masing-masing;
3. Workshop, pembekalan pengetahuan teknis dan nonteknis membangun startup dari ide hingga launching;
4. Hacksprint, aktivitas brainstorming ide hingga menjadi produk minimum siap uji yang akan berlangsung selama 3 hari secara online dan offline bersama mitra coworking di masing-masing kota;
5. Bootcamp, melakukan validasi customer dengan bimbingan mentor program, UX, dan bisnis melalui video response; dan
6. Incubation, 1-on-1 mentoring bersama dedicated mentor dan akselerasi 1 key metric utama selama 4 minggu.

Saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jumat, 5 Maret 2021 lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah bisnis rintisan atau startup lima besar terbanyak di dunia.

Indonesia berada di posisi kelima di bawah Amerika Serikat yang memiliki 66.806 startup, India 9.349 startup, Inggris 5.548 startup, dan Kanada 2.850 startup. Adapun Indonesia memiliki 2.219 startup.

TIKA AYU

Diterbitkan di Berita