SuaraJawaTengah.idSejumlah sekolah di Kota Tegal sudah mulai menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Salah satunya SMPN 9 yang baru memulai PTM secara terbatas, Selasa (7/9/2021). Hari pertama PTM di sekolah tersebut digelar secara berbeda.

Kepala sekolah dan sejumlah guru sengaja memakai kostum tokoh pewayangan untuk menyambut para siswa yang untuk pertama kalinya masuk sekolah setelah lama hanya mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena pandemi Covid-19.

Ada yang memakai pakaian tokoh gatot kaca, hanoman dan punokawan yaitu gareng, petruk, bagong dan semar. Mereka berdiri di halaman sekolah menyambut para siswa kelas 7 yang mendapat giliran pertama untuk masuk sekolah.

Sembari disambut tokoh pewayangan yang membawa papan bertuliskan imbauan protokol kesehatan, para siswa yang akan masuk ke dalam sekolah harus lebih dulu menjalankan sejumlah prosedur protokol kesehatan, yakni pengecekan ‎suhu tubuh dan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. 

Setelah masuk ke dalam sekolah, para siswa tak langsung mendapat pembelajaran. Mereka terlebih dahulu mengikuti masa orientasi bertajuk September Ceria yang diisi dengan sejumlah kegiatan, di antaranya pemberian motivasi, game edukatif, serta sosialisasi protokol kesehatan, dan akun belajar.id.

Kepala SMPN 9 Kota Tegal ‎Eko Winanto mengatakan, pihaknya sudah mendapat izin dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggelar PTM sejak Jumat (3/9/2021).

"Kemudian kami langsung mematangkan persiapan, sosialisasi dan hari ini ‎siswa mulai masuk sekolah. Kami pakai konstum yang tidak biasa, kostum wayang untuk memberikan semangat, keceriaan kepada siswa dan mengurangi dampak psikososial akibat long PJJ ," katanya.

Selain menyambut siswa dengan kostum tokoh pewayangan, lanjut Eko, upaya mengurangi dampak PJJ yang lama diikuti siswa juga dilakukan dengan menggelar masa orientasi pra kegiatan belajar mengajar (KBM) terlebih dahulu selama sepekan.

‎"Ini kami lakukan karena anak-anak ini sebelumnya long PJJ yang menyebabkan muncul dampak psikososial. Ada yang tadinya aktif bergerak jadi anak-anak rebahan, kurang gerak, kurang interaksi, hanya interaksi dengan gawai. Jadi kami adakan relaksasi, orientasi‎ dulu untuk menaikkan motivasi dan percaya diri.‎ Yang penting mereka enjoy dulu," jelasnya.

Eko mengatakan, ‎dampak lamanya siswa tak masuk sekolah itu terlihat dari masih kaku dan malunya siswa ketika pertama kali masuk sekolah, terutama para siswa kelas 7.

"Mereka suruh yel-yel malu-malu karena sama sekali belum kenal gurunya, tidak kenal temannya tiba-tiba masuk. Ini butuh waktu menaikkan motivasi dan percaya diri agar pelan-pelan mereka kembali termotivasi," ucapnya.

Menurut Eko, siswa yang masuk dibatasi 25 persen dari total jumlah siswa sebanyak 632. Mereka yang masuk bergiliran dari kelas 7 hingga 9.

"Aturannya maksimal 50 persen dari kapasitas, tapi kami tidak manfaatkan maksimal, cuma 25 persen untuk memudahkan pengawasan penerapan protokol kesehatan," ucapnya.

Sementara itu salah satu siswa Yunita Nur Handari mengaku senang karena sudah mulai masuk sekolah untuk pertama kali setelah dua tahun tidak masuk sekolah sejak kelas 5 SD.

"Selama tidak masuk sekolah jenuh, terus bingung mengikuti pelajaran, jadi senang sudah bisa masuk sekolah, ketemu teman-teman baru," tutur siswa kelas 7 itu.

Kontributor : F Firdaus

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Surabaya - AR alias GR bin H yang ditangkap polisi atas dugaan merakit senjata api (senpi) ilegal, Kamis (22/4/2021), tercatat sebagai guru SMP swasta di Kabupaten Malang.

"Dari tangan tersangka polisi mengamankan tiga pucuk senpi rakitan dan 681 peluru tajam berbagai kaliber," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko di Surabaya, Jumat seperti di kutip dari Antara.

Gatot mengatakan, guru SMP swasta di Malang ini telah merakit senpi secara ilegal sejak Februari 2021 sebelum akhirnya ditangkap.

"Tersangka membuat senjata air softgun merek Baikal Makarov menjadi senpi jenis laras pendek kaliber 22 mm, kaliber 38 mm dan kaliber 9 mm," katanya.

Selain itu, tersangka juga telah membuat senjata rakitan jenis Revolver kaliber 38 mm dengan menggunakan senjata air softgun atas pesanan konsumen.

Gunakan Peralatan Bengkel

Sejak Februari 2021 hingga ditangkap, tersangka telah memproduksi sebanyak tujuh pucuk senjata api dengan biaya Rp 3,5 juta hingga Rp 6,5 juta. 

"Dalam membuat senjata api tersebut, tersangka menggunakan berbagai macam peralatan bengkel," ujar Gatot. 

Peralatan bengkel yang digunakan antara lain, mesin bubut mini, bor duduk, bor tangan, grinda, kikir, las karbit, las listrik dan kini diamankan Polda Jatim sebagai barang bukti. 

Dalam kasus ini, tersangka dijerat Pasal 1 UU Daeurat No 12 Tahun 1951 tentang tindak pidana merakit, membuat, menyimpan, menguasai dan membawa senjata api tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun.

Diterbitkan di Berita