VOA Indonesia

Operator jaringan pipa distribusi bahan bakar minyak Amerika Serikat (AS), Colonial Pipeline, telah menghentikan operasi seluruh jaringannya yang menjadi sumber dari hampir separuh pasokan bahan bakar di Pantai Timur AS.

Langkah itu diambil setelah sebuah serangan siber yang diduga disebabkan oleh ransomware yaitu serangan yang meminta uang tebusan.

Perusahaan itu menyalurkan 2,5 juta barel bensin, diesel, avtur, dan produk bahan bakar minyak (BBM) lain melalui jalur pipa sepanjang 8.850 km yang menghubungkan kilang-kilang BBM di Pantai Teluk ke AS bagian timur dan selatan.

Dalam pernyataanya, Colonial mengatakan pihaknya menghentikan sistem itu untuk mengendalikan ancaman, setelah mengetahui tentang serangan itu pada Jumat (7/5).

Menurut Colonial, langkah itu menyebabkan penangguhan operasi dan berdampak pada sebagian sistem teknologi informasi (TI).

Penyelidikan pemerintah AS masih dalam tahap awal. Namun, seorang mantan pejabat pemerintah AS dan dua sumber industri mengatakan para peretas kemungkinan besar merupakan kelompok kriminal siber profesional.

Mantan pejabat itu mengatakan, para penyelidik sedang mempelajari apakah sebuah kelompok yang dijuluki "DarkSide" berada di balik serangan itu.

Administrasi Keamanan Transportasi AS mengatakan kepada Reuters pihaknya bekerja sama dengan instansi-instansi lain untuk menangani situasi itu.

Colonial tidak memerincikan lebih jauh ataupun mengatakan berapa lama jaringan pipa itu akan ditutup. [vm/ft]

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Data menjadi hal yang sangat berharga di masa ini. Kerahasiaan data menjadi penting, terutama untuk kasus ancaman siber dan informasi. Salah satu serangan siber yang ramai diperbincangkan tahun 2020 lalu adalah kasus kebocoran dan pencurian data.

Kasus ini adalah contoh dari serangan siber bersifat teknis yang menargetkan sistem elektronik. Tidak hanya itu, ancaman ini juga menyerang social networking, terutama peretasan dan disinformasi.

“Dalam perang informasi, alutsista (alat utama sistem senjata) utamanya adalah informasi yang direkayasa. Sekarang dengan teknologi siber, (informasi) ini bisa (tersebar) jutaan dalam waktu singkat.

Kalau ini terus-menerus disampaikan kepada manusia, otak manusia akan berubah; bisa memengaruhi ide, pilihan, pendapat, emosi, sikap, tingkah laku, opini, bahkan motivasi,” jelas Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Letnan Jenderal TNI (Purn.) Hinsa Siburian dalam Seminar Pertahanan Negara dan Keamanan Nasional dengan topik utama “Pertahanan dan Keamanan Siber untuk Ketahanan Bangsa” Kamis (18/02/2021).

Pembicara kunci dan Dekan Fakultas Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Romie Oktovianus Bura, B.Eng.(Hons.), MRAeS, Ph.D., CIQnR., CIQaR. sepakat bahwa SDM menjadi kunci dalam pertahanan dan keamanan siber.

“Kita kembangkan SDM yang mampu menjadi tuan rumah sendiri. Bukan SDM yang hanya mengoperasikan atau mengaplikasikan teknologi dari luar, namun mereka juga dididik atau didorong untuk mengembangkan teknologi dalam negeri,” tambahnya.

Menurut Prof.Dr.Ing.Ir. Suhardi, M.T. dari Cyber Security Center STEI ITB, kemampuan suatu negara untuk mengatasi serangan siber dari pihak manapun sangat penting.

Serangan siber yang tidak teratasi akan terakumulasi dan pada akhirnya juga bisa menyerang aset-aset yang lebih besar sehingga mengganggu keamanan negara. Karena itu, kesadaran akan keamanan siber perlu ditumbuhkan dalam diri setiap orang.

“Saya kira awareness ini menjadi satu hal yang kelihatannya simple tapi tidak mudah untuk dilakukan. Rata-rata terjadinya serangan siber dalam skala besar diawali dengan keteledoran seseorang.

Beberapa tips yang biasanya disampaikan adalah mengamankan jaringan, selalu update software kita, lindungi ketika kita berhubungan dengan perangkat lain, dan lakukan perlindungan berganda terhadap login,” lanjutnya.

Kepastian adanya jejak digital yang tertinggal membuat Cyber Security ITB mengembangkan digital forensik sebagai metodologi yang digunakan ketika keamanan siber sudah dilampaui. Bagaimana menemukan jejak digital tersebut lah yang menjadi riset dan inovasi yang terus dikembangkan.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- 

Wakil Menteri Pertahanan RI Herindra menyatakan kementeriannya tengah membangun sistem pertahanan siber untuk menjawab pelbagai tantangan teknologi informasi yang berkembang, termasuk di bidang militer.

Menurut dia, dimensi pertempuran kini telah merambah ke ruang-ruang siber. karena itu pula Herindra menilai sudah waktunya sistem pertahanan militer Indonesia pun diperluas.

"Kemhan sebagai leading sector pertahanan terus melakukan upaya pembangunan sistem pertahanan siber yang solid guna menjawab tantangan disrupsi teknologi," kata Herindra dalam keterangan resmi, Kamis (18/2).

Meski tak menjelaskan detail bentuk serangan, Herindra menuturkan, Revolusi Industri 4.0 yang kini terjadi di Indonesia membuat tantangan teknologi digital kian masif. Terlebih kata dia, teknologi digital sudah masuk ke pelbagai ranah kehidupan masyarakat, termasuk bidang pertahanan.

"Revolusi industri 4.0 telah memperluas dimensi pertempuran, yang terdiri dari dimensi darat, laut, dan udara ke dimensi ruang angkasa dan ruang siber [Network Centric Warfare]," ungkap Herindra.

Kendati begitu, dia tak merincikan detail pembangunan sistem pertahanan siber yang dimaksud. Herindra hanya menjanjikan Kementerian Pertahanan bakal terus menyesuaikan sistem pertahanan nasional dengan era digitalisasi.

Kementeriannya, lanjut Herindra, juga bakal fokus meningkatkan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) siber untuk menghadapi tantangan yang ada.

"Untuk itu seluruh stakeholder dapat memberikan masukan dan sumbangsih berarti bagi kemajuan teknologi dan kemandirian industri pertahanan nasional," kata dia.

Herindra pun menegaskan visi pemerintah pada 2020 hingga 2024 adalah terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong. Itu sebab demi mewujudkannya, Herindra memastikan pemerintah bakal memberikan rasa aman dan melindungi seluruh warga.

(rzr/nma)

Diterbitkan di Berita