JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ferdinand Hutahaean memberikan penghargaan terhadap Raden Saleh yang di matanya merupakan sosok keturunan Arab namun selalu mengenakan busana Jawa.

 

 

“Hormatku untuk beliau. Orang Arab yang bangga dan selalu gunakan busana Jawa, bukan sebaliknya..!!” kata Ferdinand Hutahaean, Rabu 26 Mei 2021.

Ia juga mengunggah tangkapan layar akun Candra Aditya yang mencuit: “Raden SALEH SJARIF BUSTAMAN, Sang LEGENDA”

 

NUSANTARA  SEJAK LAHIR, TETAPI LAHIR Dl ARAB (ASLI ORANG ARAB). Semenjak masuk  ke Nusantara BELIAU LEBIH BANGGA BERBUSANA JAWA (salah satu suku di NKRI), yaitu Surjan, Jarit  & Udheng. Bahkan menyematkan II RadenII   di depan  namanya  sebagai bentuk penghormatan & kebanggaannya pada Nusantara, meski BUKAN TANAH KELAHIRANNYA. Selamat  Jalan Sang LEGENDA..... Namamu akan selalu dikenang dalam dunia  seni rupa NKRI.

Untuk diketahui, Raden Saleh, seniman Jawa di balik karya lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, sempat lama menetap di Maxen dan dikenal sebagai Duta Budaya. Ratusan tahun berselang, ratusan warga Jerman masih mengingatnya.

Ratusan warga Kota Maxen dan sekitarnya mendatangi Blaues Häusel atau Rumah Biru yang didirikan oleh bangsawan Jerman, Friedrich Anton Serre, pada tahun 1848.

Kehadiran mereka pada Sabtu (22/05) siang waktu setempat adalah untuk mengenang seniman pangeran Jawa yang pernah tinggal dan berkarya di kota kecil itu pada tahun 1839-1849. Pelukis muda berbakat itu bernama Raden Saleh Sjarif Boestaman, yang lahir di Semarang tahun 1811.

"Di depan Rumah Biru ini kita memperingati kelahiran seorang pelukis Jawa 210 tahun lalu, namanya Raden Saleh. Dia pernah menjadi bagian penting dari Kota Maxen. Dia datang ke kota ini pada 1839 dan berkawan baik dengan Tuan Serre yang membangun paviliun ini tahun 1848 sebagai tanda hormat untuk Raden Saleh," kata Jutta Tronicke kepada para pengunjung.

Tronicke adalah salah satu warga Maxen yang aktif mempromosikan tokoh Raden Saleh di Jerman bersama dengan KBRI Berlin. Selama tinggal di Jerman, Raden Saleh tak ragu menunjukkan identitasnya sebagai orang Jawa dan muslim

"Dia adalah jembatan kultur antara Indonesia dan Jerman, sehingga kedua bangsa bisa saling mengenal, mengisi, dan memperkaya," ucap pasangan Michael dan Giselle Simon. "Bayangkan seorang Jawa bisa hadir di Maxen ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari masyarakat Maxen, dihormati karena karya lukisnya yang luar biasa. Dia memperkenalkan Jawa kepada orang-orang Jerman melalui karya seni," tambah mereka seperti dinukil Antara.

 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita