Islampers.com – Jakarta Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjen PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini menanggapi aksi perusakan masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Sintang, Kalimantan Barat, yang terjadi pada Jumat (3/9/2021) lalu.

Menurut Helmy, aksi perusakan masjid Ahmadiyah itu sangat bertentangan dengan nilai agama. Ia mengajak agar berbagai persoalan yang ada di negeri ini dapat diselesaikan secara musyawarah dan tidak main hakim sendiri.

“Aksi perusakan (Masjid Ahmadiyah) bertentangan dengan nilai agama. Mari kita selesaikan segala perbedaan yang ada dengan musyawarah untuk mufakat, tidak main hakim sendiri, karena Indonesia bukan negara barbar tetapi negara dengan koridor hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Marilah kita hormati hukum dan perundang-undangan itu,” tegas Helmy melalui video, diterima NU Online, Ahad (5/9/2021) siang.

Helmy juga meminta semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan upaya provokasi untuk memecah bangsa, seperti aksi perusakan Masjid Ahmadiyah itu. Menurutnya, prasangka baik antar sesama anak bangsa mesti dikedepankan sehingga dapat terus membangun kebersamaan secara baik. Salah satunya dilakukan dengan cara membangun dialog.

“Mari terus membangun dialog anta rumat beragama atau antar berbagai macam mazhab dan keyakinan, agar kita senantiasa dapat hidup dalam satu ikatan kekeluargaan kebangsaan, sehingga kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik,” ujar Helmy.

Ia pun mendesak aparat keamanan untuk segera mengusut dan menindak tegas seluruh oknum yang melakukan perusakan Masjid Ahmadiyah itu. Jika aparat mengusut dan menindak tegas, maka semua pihak diminta untuk tetap menghormati proses hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Helmy lantas mengajak agar bangsa Indonesia tetap menjaga persatuan.

“Marilah kita terus jaga persatuan dan kesatuan bangsa, mari kita terus bergandengan tangan untuk menata Indonesia ke depan yang lebih baik,” ajak Helmy.

Bersahabat dengan Seorang Ahmadiyah Dalam sebuah unggahan di Instagram, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengungkap pengalamannya ketika remaja yang memiliki sahabat seorang penganut Ahmadiyah.
Ia mengaku tidak pernah diajarkan untuk menyortir teman berdasarkan kepercayaan, bahkan tidak pernah terpikir untuk melakukan itu. Putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mengaku sayang kepada sahabatnya, meski berbeda keyakinan keagamaan.

“Suatu hari sahabat saya bertanya, ‘Kok kamu mau sih temenan sama aku, apa kamu gak takut dimarahin orang-orang?’ Saya kaget. Itu kali pertama saya memahami bagaimana rasanya menjadi anggota kelompok yang dipersekusi atas nama kebenaran ala mayoritas-minoritas. Hati saya retak saat itu, tapi saya masih naif, tidak tahu realita berat yang benar-benar dihadapi mereka,” tulis Alissa di dalam unggahannya, Ahad sore.

Dituturkan, kondisi yang dihadapi sahabatnya itu semakin berat saat dan sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang Ahmadiyah pada tahun 2000-an. Alissa menjelaskan, sejak saat itulah, berbagai serangan fisik kerap dilakukan ke berbagai kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Hingga kini, Alissa merasa sedih karena tidak pernah ada perbaikan soal itu.

Namun, Alissa meyakinkan bahwa terlepas dari persoalan menerima atau tidak keyakinan mereka, anggota Jamaah Ahmadiyah di Indonesia tetap memiliki hak konstitusi sebagai warga negara. “(Sehingga) tidak ada tindakan melanggar hukum yang boleh dilakukan orang lain terhadap hak konstitusi mereka, bahkan atas nama kebenaran agama yang diyakini para penyerang itu,” tegas Alissa.

Diterbitkan di Berita
Adhyasta Dirgantara - detikNews Sintang - Menko Polhukam Mahfud Md meminta kasus perusakan Masjid Ahmadiyah di Tempunak, Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) diusut karena sensitif. Polisi kini tengah mengusut kasus perusakan Masjid Ahmadiyah di Kalbar itu.

"Iya sedang diusut. Tim gabungan Polda Kalbar dan Polres Sintang lagi bekerja mengusut kasus perusakannya," ujar Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Donny Charles Go saat dihubungi, Sabtu (4/9/2021).

Charles menjelaskan polisi masih mencari pelaku perusakan masjid dan pembakaran bangunan di Kalbar tersebut. Sejauh ini, kata Charles, belum ada yang diamankan. "(Pelaku) masih diidentifikasi. Iya (belum ada yang diamankan)," ucapnya.

Sebelumnya, Mahfud Md menelepon Gubernur dan Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar) usai peristiwa perusakan Masjid Ahmadiyah di Tempunak, Sintang. Mahfud mengingatkan semua pihak harus mengikuti aturan yang berlaku.

"Saya sudah berkomunikasi dengan Gubernur dan Kapolda Kalimantan Barat agar segera ditangani kasus ini dengan baik dengan memperhatikan hukum, memperhatikan kedamaian dan kerukunan, juga memperhatikan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Semuanya harus ikut aturan hukum," kata Mahfud kepada wartawan, Jumat (3/9). 

Mahfud mengingatkan peristiwa di Kalbar ini merupakan masalah sensitif. Dia menegaskan Indonesia adalah negara yang melindungi hak asasi warganya.

"Ini masalah sensitif, semuanya harus menahan diri. Kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana hak-hak asasi manusia dilindungi oleh negara," tegas Mahfud.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas angkat bicara terkait kasus perusakan masjid Ahmadiyah. Dia menyebut aksi perusakan tempat ibadah sebagai pelanggaran hukum.

"Tindakan sekelompok orang yang main hakim sendiri merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain tidak bisa dibenarkan dan jelas merupakan pelanggaran hukum," ujar Yaqut dilansir dari Antara, Jumat (3/9).

(isa/isa)

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Pengamat terorisme, Soffa Ihsan, menuding aksi perusakan makam milik umat Nasrani di TPU Cemoro Kembar, Solo yang dilakukan oleh anak-anak diduga terdoktrin kelompok puritan yang merupakan bagian dari sel-sel teroris.

“Kita tahu Solo adalah salah satu kota yang merupakan basis pergerakan islam yang puritan yang lalu bermutasi dalam berbagai varian termasuk gerakan sel-sel teroris”, ujar Soffa Ihsan, seperti dikutip dari FixJakarta.

Menurut Soffa ajaran puritan seringkali mengajarkan bid’ah, syirik, intoleran dan merusak makam sebagai monumen tradisi masyarakat Solo yang sejatinya kaya budaya.

“Sel-sel teroris beririsan paham keagamannya dengan kelompok puritan”, ungkap Soffa yang juga merupakan peneliti terorisme di Lembaga Daulat Bangsa (LDB).

Lebih lanjut Soffa menambahkan bahwa pemerintah perlu bertindak tegas misalnya dengan membuat perda yang mengancam hukuman terhadap vandalisme yang berbasis paham keagamaan tersebut.

“Sambil diiringi dengan penguatan budaya lokal karena budaya bisa menjadi alat penangkal puritasnisme dan radikalisme,” pungkas Soffa yang aktf membina mantan napi teroris (Napiter) dengan mendirikan Rumah Daulat Buku (RUDALKU) di sejumlah tempat.

Sebelumnya, Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka menyayangkan kejadian tersebut, “Ini merupakan bentuk intoleransi. Ngawur sekali, apalagi melibatkan anak-anak,” terang Gibran, Senin 21 Juni 2021.

Gibran mengatakan jika sekolah tersebut ternyata tidak memiliki izin untuk mengelar tempat pendidikan. Gibran juga mewanti-wanti warga untuk tidak mendekat di lokasi tersebut.

Menurut Gibran, kasus ini menjadi kasus yang penting untuk segera ditanggani, mengingat ada upaya radikalisme yang diajarkan di sekolah tersebut.

“Ini sudah kurang aja sekali. Yang diproses hukum pengasuhnya. Termasuk anak dibawah umur harus ada pembinaan,” paparnya.

Seperti diketahui jika sebanyak 12 anak dibawah umur diduga telah melakukan perusakan makam di TPU Cemoro Kembar di Kampung Kenteng, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon.

Dalam meninjau lokasi makam, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini juga melihat dan mendengarkan kesaksian dari warga sekitar. Salib, patung bahkan lokasi makam sempat digeser oleh pelaku.

“Dipukul Pak sama batu (Makamnya), salibnya dirobohin, makamnya sampe digeser,” ucap salah satu warga ke Gibran.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Unit Reskrim Polres Metro Jakarta Utara menangkap lima orang pengiring jenazah yang mengeroyokan seorang supir truk di kawasan Cilincing. Para pelaku juga merusak truk trailer.

"Tersangka ada 5, AJ (21), KB (20), ME (18), RF (26), dan ARP (21)," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Guruh Arif Darmawan dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Selasa (22/6/2021).

Sementara korban adalah seorang sopir truk berinisial SF (20). Kejadian perusakan dan pengeroyokan tersebut terekam kamera CCTV di lokasi. Videonya pun viral di media sosial.

Guruh menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Jumat (18/6/2021), di Jalan Sungai Tiram Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara sekitar pukul 15.30 WIB.

Ketika itu tersangka AJ hendak mengantarkan ibunya yang meninggal dunia akibat Covid-19 dari RSUD Pademangan menuju TPU Rorotan.

"Ibu kandung dari tersangka AJ yang dirawat karena sakit meninggal dunia di RSUD Pademangan dengan kondisi reaktif Covid -19 dan jenazah akan dimakamkan tempat pemakaman umum Rorotan," ucap Guruh.

Dari RSUD Pademangan, jenazah dibawa menggunakan mobil ambulans dan dikawal oleh rekan dan tetangga AJ menggunakan sepeda motor.

Namun di tengah jalan, mobil jenazah dan semua kendaraan pengiringnya tak bisa melintas karena terhalang truk trailer yang melaju berlawanan. Saat itu, di pinggir jalan tengah terparkir mobil.

Baca juga: Menyeberang di Jalan Latumenten, Seorang Bocah Tewas Tertabrak Truk Trailer

"Saat rombongan pengantar jenazah melintas di Jalan Sungai Tiram Kelurahan Marunda terhalang oleh mobil trailler B-9809-XA yang dikemudikan oleh korban SF," tutur Guruh.

Merasa dihalangi, AJ dan para pengiring lainnya langsung melakukan kekerasan terhadap korban dan melempar kaca truk dengan batu.

Para tersangka kemudian ditangkap tim gabungan unit Reskrim Polsek Cilincing dan Polres Metro Jakarta Utara di jalan Bendungan Jago, Kemayoran Jakarta Pusat.

Sedangkan AJ ditangkap saat melarikan diri ke di kawasan Gunung Putri Bogor Jawa Barat. Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 170 KUH Pidana dengan ancaman hukum penjara di atas lima tahun.

Penulis : Ira Gita Natalia Sembiring
Editor : Sandro Gatra

Diterbitkan di Berita

Dengan hati remuk Andreas Budi hanya bisa memandang batu nisan mendiang ibu dan istrinya yang dirusak orang. Salib dan simbol-simbol lain di makam itu dirusak dan dipatahkan. Namun ia lega, polisi pada hari Senin (21/6) bergerak cepat dan menangkap tersangka pelaku.

"Ini makam ibu saya, sampingnya makam istri saya. Ya kaget dikasih tahu warga juru kunci makam, kalau makam keluarga saya ini dirusak. Kami diberi tahu pelaku perusakan sudah ditangkap dan mediasi mau memperbaiki makam," jelas Andreas saat ditemui di lokasi makam hari Senin.

Andreas hanyalah salah satu keluarga dari 12 makam yang nisannya dirusak.

Lurah Mojo, Margono mengungkapkan seorang warga memergoki sekelompok anak merusak nisan makam-makam tersebut dan kini polisi telah menangkap sebagian pelaku. Namun penyelesaian kasus dilakukan secara kekeluargaan dengan alasan pelaku masih di bawah umur.

 

Salah satu makam Kristen di Solo, yang dirusak sekelompok pemuda. Polisi masih menyelidiki dugaan doktrin intoleransi pada anak-anak yang berujung pada tindakan intoleran ini. (Foto: VOA/Yudha)
Salah satu makam Kristen di Solo, yang dirusak sekelompok pemuda. Polisi masih menyelidiki dugaan doktrin intoleransi pada anak-anak yang berujung pada tindakan intoleran ini. (Foto: VOA/Yudha)

 

"Ya anak- anak itu usianya SD, paling tua usia 12 tahun. Sekolah dan orang tua mereka sudah menyanggupi melakukan perbaikan makam yang dirusak. Kami tidak akan melanjutkan kasus ini lebih jauh karena pelaku masih anak-anak. Berhubung ada intoleransi di dalam kasus ini, pengrusakan yang mengakibatkan 12 makam dari Nasrani, sekarang sudah masuk ke ranah kepolisian", ungkap Margono.

Dari pantauan VOA di lokasi kejadian, belasan makam yang dirusak tersebar di kompleks pemakaman tersebut. Nisan warga Kristiani dirusak dengan cara dipukul hingga patah. Puing-puing patahan nisan berserakan. Sejumlah warga mencoba memperbaiki nisan yang patah itu.

Doktrin Intoleransi

Anak-anak yang menjadi tersangka pelaku itu berasal dari lembaga pendidikan yang sama di salah satu lokasi.

Polisi masih menelusuri dugaan motif doktrin yang salah pada anak-anak itu. Iptu Ahmad Ridwan Prevoost mengatakan sedang memeriksa orang tua dan pimpinan lembaga pendidikan tersebut.

"Sampai saat ini masih kita dalami, proses pemeriksaan. Mereka kan masih anak di bawah umur, kita masih memanggil wali atau orang tua maupun sekolahnya. Mereka mendampingi anak itu. Kita masih dalami apakah ada doktrin-doktrin intoleransi, doktrin yang salah, masih kita dalami,” ujar Prevoost.

Pemkot Solo Siap Tutup Lembaga Pendidikan Intoleran

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tidak dapat menyembunyikan kegeramannya ketika mengunjungi lokasi makam yang dirusak itu. Ia menegaskan tidak akan segan-segan menutup lembaga pendidikan anak-anak tersebut, jika terbukti mengajarkan sikap-sikap intoleran.

 

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, saat meninjau makam Kristen di Solo yang dirusak sekelompok pemuda. Polisi masih menyelidiki dugaan doktrin intoleransi pada anak-anak yang berujung pada tindakan intoleran ini. (Foto: VOA/Yudha)
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, saat meninjau makam Kristen di Solo yang dirusak sekelompok pemuda. Polisi masih menyelidiki dugaan doktrin intoleransi pada anak-anak yang berujung pada tindakan intoleran ini. (Foto: VOA/Yudha)

 

"Segera kita proses, ini tidak bisa dibiarkan. Pendidikan anak-anak yang masih kecil ini harus diperbaiki. Semua harus diproses, anak-anak dibawah umur itu harus mendapat pembinaan. Aksi mereka sudah kurang ajar sekali. Ini bentuk intoleransi dan ngawur banget.

Ya sekolahnya tutup saja, sudah nggak benar ngajarin anak-anak seperti ini,” tegas Gibran.

Pengrusakan makam seperti ini bukan yang pertama. Pada tahun 2019 terjadi pengrusakan makam di beberapa kota, antara lain di Magelang, Jawa Timur dan Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dalam kedua kasus itu, pelaku pengrusakan puluhan makam itu berhasil ditangkap dan diproses hukum.

Hingga laporan ini disampaikan VOA belum berhasil mendapatkan keterangan dari lembaga pendidikan anak-anak tersebut. [ys/em]

Diterbitkan di Berita