JAKARTA.NIAGA.ASIA-Ekonomi Indonesia triwulan II-2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 3,31 persen (q-to-q).  Ekonomi Indonesia triwulan II-2021 terhadap triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07 persen (y-on-y).

Hal itu diungkap Kepala Badan Pusat Satatistik (BPS) Suhariyanto dalam keterangan resminya yang disampaikan secara virtua, hari ini, Kamis (5/8/2021).

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2021 mencapai Rp4.175,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.772,8 triliun.

“Pertumbuhan (y-on-y) triwulan II-2021 terjadi di semua kelompok pulau. Hal ini terutama terlihat pada kelompok provinsi di Pulau Jawa, dengan kontribusi sebesar 57,92 persen, dan pertumbuhan (y-on-y) sebesar 7,88 persen,” kata Suhariyanto.

Menurut Suhariyanto, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 12,93 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 29,07 persen.

Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 25,10 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 31,78 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 7,78 persen. Sementara dari sisi pengeluaran semua komponen tumbuh, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 18,51 persen.

“Ekonomi Indonesia semester I-2021 terhadap semester I-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,10 persen (c-to-c),” kata Suhariyanto.

Editor : Intoniswan

Diterbitkan di Berita

katadata.co.id

Indoensia mengalami kontraksi ekonomi mencapai 2,1% pada tahun lalu, pertama kali sejak krisis 1998. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara ASEAN dan G20 lainnya.

Hanya ekonomi Vietnam dan Tiongkok yang berhasil tumbuh positif pada tahun lalu masing-masing 2,9% dan 2,3%. Korea Selatan terkontraksi, tetapi masih lebih baik dari Indonesia yakni minus 1%.

"Negara-negara ASEAN maupun G20 yang lain, kontraksi ekonominya pada 2020 lebih dalam. Amerika Serikat minus 3,5%, Arab Saudi minus 4,1%, Jepang negatif 4,7%, dan Jerman minus 5%," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (23/2).

 

Sri Mulyani menjelaskan, negara tetangga Malaysia, Singapura, dan Thailand juga terkontraksi lebih dalam yakni masing-masing mencapai 6,5%, 10,8%, dan 5,2%. Filipina bahkan negatif 9,5% dan Inggris minus 9,9%.

"Ini menggambarkan bahwa pandemi tidak pandang bulu, semua negara mengalami hantaman yang signifikan," katanya.

Tahun 2021 Hampir semua negara, mneurut dia, menggelontorkan kebijakan untuk melawan siklus ekonomi menggunakan instrumen fiskal dan moneter. Ini menyebabkan defisit anggaran dan rasio utang publik banyak negara, termasuk Indonesia meningkat.

Vietnam dan Tiongkok yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif juga mengalami kenaikan tingkat utang masing-masing sebesar 3,3% dan 9,1%. Korea Selatan juga mengalami kenaikan tingkat utang 6,5%.

"Indonesia tingkat utangnya naik 8%. AS kenaikan tingkat utangnya bahkan melonjak 22,5%, Saudi Arabia juga naik 10,6% dan Jepang 28%. Negara-negara maju yang tergabung dalam G7, kenaikan utangnya diatas 20% dalam satu tahun akibat Pandemi," kata dia.

Kondisi tersebut, menurut dia, menandakan banyak negara yang mengalami pukulan ganda dalam pengelolaan anggaran yakni penerimaan anjlok dan kebutuhan belanja meningkat selama pandemi. Hal serupa juga dialami oleh Indonesia.

Meski demikian, ia menekankan pemerintah akan terus melihat secara teliti kebijakan fiskal yang memberikan dampak besar, tetapi tak mendorong tingkat utang terlalu tinggi.

Tingkat utang dan tambahan utang publik Indonesia, menurut dia, saat ini tetap terjaga dan menjadi salah satu yang terendah terutama di antara negara-negara ASEAN dan G20.

Meski ekonomi Indonesia negatif tahun lalu,  JPMorgan memandang positif prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini. Demografi Indonesia yang didominasi oleh kelompok usia muda menjadi alasan di balik optimisme tersebut. 

"Secara demografis Asia Tenggara sangat berbeda dari beberapa negara maju yang cenderung kita bandingkan dengan negara-negara ini," ujar Direktur Asia ex-Japan Equity Reasearch JP Morgan, James Sullivan. Kasus Covid-19 di Indonesia telah menembus satu juta.

Namun, menurut Sullivan, populasi yang didominasi usia muda membuat angka kematian di Indonesia tak lebih tinggi dari banyak negara maju.  “Itu adalah perbedaan yang sangat penting saat kami memikirkan cara kami melalui ini," katanya. 

Dengan kondisi tersebut, menurut dia, tindakan karantina total mungkin tidak sedarurat negara-negara Eropa yang didominasi populasi tua.  Editor: Agustiyanti

Editor: Agustiyanti

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemulihan Ekonomi Nasional diyakini akan berlanjut di 2021 dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan mencapai di angka titik balik di kisaran 4,5-5,3 persen dengan upaya yang dilakukan Pemerintah. Optimisme itu diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, yang juga menyebut sejumlah faktor yang membuat pemerintah optimistis, target tersebut akan tercapai.

Terus diintensifkannya penanganan Covid-19 menjadi faktor pertama. "Program vaksinasi mulai berjalan. Vaksinasi menjadi faktor positif menekan penularan dan mengembalikan konfiden masyarakat untuk beraktivitas ekonomi," kata Sri dalam diskusi vitual, dikutip Rabu 17 Februari 2021.

Tak hanya itu, APBN 2021 dinilai Menkeu ekspansif dan difokuskan untuk melanjutkan penanganan pandemi sehingga memperkuat upaya pemulihan ekonomi melalui realokasi ke belanja produktif dan penguatan Program PEN.

Implementasi reformasi struktural menjadi faktor lainnya, di mana aturan turunan UU Cipta Kerja dan pembentukan Indonesia Investment Authority (INA) telah siap. "Ini berpotensi mendorong peningkatan 'ease of doing business', penciptaan lapangan kerja, dan memperkuat investasi di 2021," ujarnya.

Dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional, Pemerintah diketahui lebih optimis dibandingkan proyeksi serupa dari tiga lembaga internasional yakni IMF, World Bank, dan ADB. Di mana, proyeksi ketiga lembaga internasional itu terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 hanya berkisar di persentase 4 persen. yakni IMF sebesar 4,8 persen, World Bank sebesar 4,4 persen, dan ADB sebesar 4,5 persen.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 yang berada di kisaran 4,5-5,3 persen tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dinilai tengah berupaya mengembalikan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional ke kisaran 5 persen. Seperti 2016 (5 persen), 2017 (5,1 persen), 2018 (5 persen), dan 2019 (5 persen).

Penulis: Viva

Diterbitkan di Berita