Abid Rizky Zuliyandra PR DEPOK - Serangan yang dilakukan Israel terhadap Palestina banyak menuai kekesalan hingga amarah dari berbagai pihak.

Kekesalan itu pun sampai ke orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai dukun, terlihat dari video yang diunggah di kanal YouTube Kang Ujang Busthomi cirebon.

Dalam video tersebut memperlihatkan cara yang dilakukan para dukun di Indonesia membantu Palestina melawan Israel.

Dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari The Vocket pada Kamis, 20 Mei 2021, diketahui Kang Ujang Busthomi disinyalir merupakan seorang pendakwah di Indonesia.

Akhir-akhir ini dirinya berkesempatan mengunjungi salah satu daerah di Indonesia untuk melihat ritual dukun yang akan mengirimkan sihir dan roket gaib ke Israel.

Dalam video tersebut, Kang Ujang mengaku dirinya mendapatkan undangan dari sekelompok dukun untuk melihat ritual pengiriman roket gaib tersebut.

Serta dalam video itu, ada salah satu perwakilan dukun yang mengklaim bahwa mereka adalah perwakilan dari dukun nusantara yang ingin membantu Palestina yang sedang diserang dari Israel.

Dia juga mengatakan bahwa mereka akan mendukung Palestina dengan menyerang Israel secara gaib dengan sihir.

Hal tersebut, menurut mereka, bisa dilakukan dengan membutuhkan waktu 2 hari untuk mencapai Israel.

Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan, akan mengirim dan mempersiapkan jin guna melindungi warga Palestina dari serangan roket yang dikirim Israel.

Sontak video yang berdurasi 22 menit tersebut tersebar di sosial media dan menjadi perbincangan warganet.

Tidak hanya warganet Indonesia, warganet Malaysia pun banyak yang membagikan video tersebut di akun sosial media mereka pribadi.

Selain itu, tidak sedikit warganet atau netizen yang mengomentari video tersebut dengan emoticon lucu dan menganggap semua itu lelucon saja.***

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Sistem kesehatan di Jalur Gaza yang sudah lemah semakin memburuk akibat perang Israel-Hamas, yang keempat dalam lebih dari sepuluh tahun.

Seluruh rumah sakit kewalahan dengan gelombang korban tewas dan luka-luka akibat terus berlangsungnya pemboman Israel.

Banyak obat-obatan penting dengan cepat habis di wilayah pesisir yang kecil dan diblokir itu, demikian pula bahan bakar untuk mempertahankan beroperasinya fasilitas listrik.

Dua dokter paling terkemuka di Gaza, termasuk wakil kepala gugus tugas virus corona, tewas ketika rumah mereka hancur dalam serangkaian pemboman.

 

Suzy Ishkontana, 7 tahun, dicium ayahnya, Riad Ishkontana, 42, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Selasa, 18 Mei 2021. (Foto: AP/Abdel Kareem Hana)
Suzy Ishkontana, 7 tahun, dicium ayahnya, Riad Ishkontana, 42, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Selasa, 18 Mei 2021. (Foto: AP/Abdel Kareem Hana)

 

Di tengah lonjakan perebakan virus corona, satu-satunya laboratorium uji medis virus di Gaza rusak akibat serangan udara dan kini berhenti beroperasi.

“Ini adalah pusat laboratorium yang terkenal di Jalur Gaza, yang melakukan semua uji medis, terutama uji medis COVID-19. Kami tidak memiliki laboratorium lain,” ujar pejabat Kementerian Kesehatan Gaza Rami Abadla.

Pejabat-pejabat kesehatan lain juga khawatir dengan berlanjutnya wabah mematikan itu diantara puluhan ribu warga yang terlantar dan kini hidup berdesakan di tempat-tempat penampungan darurat setelah melarikan diri dari serangan Israel.

Di salah satu sekolah yang dikelola PBB, di mana 1.400 orang yang melarikan diri kini berlindung, Nawal Al Danaf dan lima anaknya berdesakan di satu ruang kelas bersama lima keluarga lainnya. Mereka memasang selimut sebagai pembatas agar ada sedikit privasi di salah satu sudut ruangan yang mereka tempati.

“Sekolah ini aman dari perang, tetapi dalam soal corona... dengan lima keluarga berdesakan di satu ruangan maka kami saling menularkan satu sama lain,” ujar Al Danaf, yang melarikan diri dari penembakan tank-tank Israel di kota Beit Lahiya di bagian utara Gaza beberapa hari lalu.

Selimut dan cucian bergelantungan di pagar balkon sekolah, ketika sejumlah perempuan mengawasi halaman tempat anak-anak bermain dan laki-laki mengobrol.

Tidak seorang pun mengenakan masker atau bisa menjaga jarak di tempat yang sempit itu.

Fasilitas kesehatan berjuang keras menangani korban perang dan kebutuhan sehari-hari dua juta orang di Gaza.

 

Seorang pria Palestina berdiri di dekat tubuh Menna Shreir, 3, di kamar mayat di Kota Gaza, setelah dia meninggal karena luka-lukanya setelah serangan udara Israel di rumahnya, yang juga menewaskan orang tuanya. (Foto: AFP)
Seorang pria Palestina berdiri di dekat tubuh Menna Shreir, 3, di kamar mayat di Kota Gaza, setelah dia meninggal karena luka-lukanya setelah serangan udara Israel di rumahnya, yang juga menewaskan orang tuanya. (Foto: AFP)

 

Sejak konflik saat ini yang dimulai 10 hari lalu terjadi, Israel telah menyerang ratusan lokasi di sekitar jalur pantai itu. Israel mengatakan berusaha melumpuhkan penguasa Gaza, yaitu kelompok militan Hamas, yang telah menembakkan ratusan roket ke Israel.

Pejabat-pejabat kesehatan Gaza mengatakan sedikitnya 219 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka.

Di pihak Israel, 12 orang tewas oleh roket Hamas.

Pemboman itu telah mendorong lebih dari 71 ribu warga Gaza – atau sekitar 3 ribu dari total populasi – mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian besar kini berjejalan di 56 sekolah yang dikelola oleh UNRWA.

Belajar dari perang terakhir tahun 2014, UNRWA mengatakan ketika itu sekitar 200 ribu pengungsi berdesakan di sekolah-sekolah dan tempat-tempat penampungan selama 50 hari saat berkecamuknya pertempuran.

Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2014 itu, serangan saat ini secara tidak langsung merusak fasilitas kesehatan, rumah sakit, klinik dan sekolah-sekolah PBB. WHO mengatakan sedikitnya 18 rumah sakit dan klinik, serta satu pusat kesehatan, hancur dalam serangan kali ini. Hampir setengah dari semua obat-obatan penting telah habis. [em/lt]

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Beritasatu.com - Terdakwa Rizieq Syihab‎ mengenakan syal berbendera Palestina yang melingkar di lehernya. Majelis hakim sempat memberi teguran halus agar syal tersebut dilepas.

"Kita memang simpati dengan keadaan Palestina, tetapi di ruang sidang ini jangan dipakai (syal bendera Palestina)," kata ketua majelis hakim, Suparman Nyompa, Kamis (20/5/2021).

Alasan majelis hakim, di ruang persidangan selalu menjaga independensi peradilan dari berbagai pihak. "Kalau sudah keluar dari ruang persidangan, silakan dipakai lagi," bebernya.

Lalu, Rizieq membuka syal dan meletakkan di meja tim pengacara. Ia kembali duduk ke bangku terdakwa tanpa mengenakan syal bendera Palestina.

Rizieq Syihab menjalani sidang lanjutan perkara nomor 226 terkait penghasutan di Petamburan dengan agenda pembelaan (pleidoi) hari ini. Sebelumnya, pada Senin (17/5/2021) lalu jaksa penuntur umum (JPU) membacakan tuntutan 2 tahun penjara kepada Rizieq Syihab.

Diterbitkan di Berita

Deden Gunawan - detikNews Jakarta - Sebagian masyarakat mungkin ada yang terpukau dengan pernyataan dan manuver Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait isu Palestina.

Padahal bila menelaah lebih seksama kenyataan relasi Turki dengan Israel, sikap yang diperlihatkan Erdogan akan terkesan seperti memiliki kepribadian ganda.

Di satu sisi mengecam agresi terhadap Palestina, di sisi lain sejak berpuluh tahun lalu Turki telah menjalin hubungan diplomatik dan bekerja sama mesra dengan Israel.

"Turki moderen sejak Mustafa Kemal Ataturk membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Karena untuk menjadi bagian dari negara Eropa, Turki harus kerjasama dengan Israel," kata analis pemikiran dan politik Timur-Tengah Zuhairi Misrawi kepada tim Blak-blakan detikcom, Minggu (16/5/2021).

Kalau pun pernyataan-peryataan Erdogan seolah sangat keras kepada Israel, dia melanjutkan, hal itu karena dia tahu betul pemilih utamanya adalah umat Islam.

Dari sejumlah sumber pemberitaan internasional yang dikutip detik.com, hubungan Turki dan Israel sangat mesra. Nilai perdagangan kedua negara jauh lebih besar dari total nilai perdagangan Turki dengan negara-negara Islam keseluruhan.

Konsul Jenderal Israel di Turki Shai Cohen pernah mengungkapkan kepada CNN bahwa pada 2014 volume perdagangan kedua negara naik 30% atau senilai US$ 5,5 miliar. Sejak insiden Mavi Marmara, 2010, volume perdagangan Turki-Israel bahkan meningkat 47%.

Kedua negara juga memiliki perjanjian kerjasama bilateral di bidang kepolisian, kebudayaan, pertanian, ilmu pengetahuan, hingga intelijen.

Sementara Indonesia, kata Zuhairi, sejak merdeka tidak pernah menjalin hubungan dengan Israel meski terus dibujuk. Bahkan Presiden Sukarno pernah mengeluarkan ungkapan 'Kita belum merasa merdeka secara utuh sebelum Palestina merdeka'.

"Maka sikap Presiden Jokowi lebih genuine dari sikap Erdogan. Karena sikap Jokowi melanjutkan dari sikap Bung Karno yang sampai sekarang tidak membuka hubungan diplomatik. Juga konsiten dan istiqomah mendorong kemerdekaan Palestina," ujar cendekiawan muda Nahdlatul Ulama itu.

Alumnus Universitas Al-Azhar di Kairo - Mesir itu juga mengungkapkan agresi militer Israel ke Jalur Gaza saat ini terkait erat dengan upaya Perdana Menteri Benyamin Netanyahu meraih dukungan di dalam negeri.

Sejak kembali menang Pemilu pada Maret lalu, dia tak kunjung berhasil meraih dukungan mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Netanyahu juga dalam beberapa waktu ke depan akan menghadapi vonis perkara korupsi yang persidangannya sudah berlangsung sejak awal April lalu.

Di pihak lain, Zuhairi Misrawi juga mengungkapkan bahwa jalan menuju kemerdekaan Palestina adalah rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah sebagai dua kekuatan besar di sana. Selengkapnya, saksikan Blak-blakan, "Jokowi - Erdogan di Isu Palestina", Senin (17/5/2021).

(deg/jat)

Diterbitkan di Berita

Christopher Giles dan Jack Goodman BBC News Indonesia

Mengapa Gaza, salah satu tempat dengan populasi terpadat di dunia, tampak kabur di peta Google?

Masalah itu sedang disoroti oleh para peneliti yang menggunakan informasi sumber terbuka alias open-source dan informasi yang tersedia untuk umum - termasuk data pemetaan - untuk menentukan lokasi serangan dan mendokumentasikan kehancuran di wilayah tersebut.

"Fakta bahwa kami tidak mendapatkan citra satelit resolusi tinggi dari wilayah Israel dan Palestina menghambat kerja kami," kata Samir, seorang investigator open-source.

Bahkan, sebagian besar wilayah Israel dan Palestina tampak di Google Earth sebagai citra satelit beresolusi rendah, meskipun citra dengan kualitas lebih tinggi tersedia dari perusahaan-perusahaan satelit.

Sangat sulit melihat mobil-mobil di Kota Gaza. Bandingkan dengan citra satelit Pyongyang, ibu kota Korea Utara, di mana mobil-mobil di jalanannya tampak jelas dan setiap individu manusia dapat dibedakan dari yang lainnya.

 
Citra Google Earth Gaza di kiri, dan di kanan citra terbaru dari Pyongyang, Korea Utara.

Citra Google Earth Gaza di kiri, dan di kanan citra terbaru dari Pyongyang, Korea Utara. GOOGLE

 

Mengapa citra satelit begitu penting?

Citra satelit menjadi elemen penting dalam pelaporan suatu konflik.

Pada saat konfrontasi terbaru di Timur Tengah ini pecah, para penyidik independen berusaha mengonfirmasi lokasi tembakan rudal dan bangunan yang menjadi sasaran di Gaza dan Israel dengan menggunakan satelit.

Namun, di Google Earth, platform penginderaan jauh yang paling banyak digunakan, citra terbaru untuk Gaza memiliki resolusi yang rendah dan karenanya tampak kabur.

"Citra paling baru di Google Earth berasal dari tahun 2016 dan kelihatan jelek sekali. Saya memperbesar citra beberapa daerah pedesaan di Suriah yang dipilih secara acak, dan sudah ada lebih dari 20 citra yang diambil sejak saat itu, dalam resolusi yang sangat tinggi," kata Aric Toler, seorang jurnalis dari kolektif jurnalis investigatif Bellingcat, dalam sebuah twit.

Google mengatakan mereka bertujuan "memperbarui [citra] tempat-tempat padat penduduk secara teratur" tetapi itu tidak terjadi dalam kasus Gaza.

Apakah citra resolusi tinggi tersedia?

Sampai tahun lalu, pemerintah AS membatasi kualitas citra satelit untuk wilayah Israel dan Palestina yang boleh disediakan oleh perusahaan Amerika secara komersial.

Pembatasan itu dicantumkan dalam Kyl-Bingaman Amendment (KBA) - undang-undang AS yang dibuat pada tahun 1997 - untuk mendukung kepentingan keamanan negara Israel.

Di bawah aturan KBA, penyedia citra satelit di AS hanya diizinkan untuk menyediakan citra resolusi rendah, dengan ukuran pixel tidak kurang dari 2m (6ft 6in, membuat obyek seukuran mobil hampir tampak, namun tidak lebih kecil dari itu).

Gambar lokasi-lokasi seperti markas militer memang biasanya dikaburkan - tetapi KBA adalah satu-satunya kasus di mana satu negara masuk dalam pembatasan seperti itu.

Namun, ketika perusahaan non-AS, misalnya perusahaan Prancis Airbus, mampu memasok citra satelit dalam resolusi yang lebih tinggi, AS menghadapi tekanan untuk mengakhiri pembatasannya.

Pada Juli 2020, KBA dicabut, dan sekarang pemerintah AS membolehkan perusahaan Amerika untuk menyediakan citra beresolusi tinggi dari wilayah tersebut (setiap pixel kini bisa berukuran hingga 40cm, sehingga objek seukuran manusia dapat kelihatan cukup jelas).

"Motivasi awalnya adalah saintifik," kata Michael Fradley, arkeolog di Universitas Oxford dan salah seorang akademisi yang berkampanye supaya amandemen itu diubah.

"Kami ingin memiliki sumber data yang konsisten untuk proyek kami, jadi kami memerlukan akses ke resolusi tinggi di Wilayah Pendudukan Palestina yang sebanding dengan yang kami gunakan di bagian lain kawasan itu."

Jadi mengapa Gaza masih tampak kabur?

BBC telah berbicara dengan Google dan Apple (yang aplikasi pemetaannya juga menampilkan citra satelit).

Apple mengatakan sedang berupaya untuk segera memperbarui petanya ke resolusi yang lebih tinggi hingga 40cm.

Google mengatakan bahwa citranya berasal dari berbagai penyedia layanan dan mempertimbangkan "kesempatan untuk memperbarui citra satelit [nya] ketika citra dengan resolusi lebih tinggi tersedia".

Tetapi mereka menambahkan bahwa "belum ada rencana yang bisa diberitahukan saat ini".

 

Kiri: Citra Gaza dari Google Earth, diambil pada 2016; kanan: citra resolusi tinggi dari Maxar, diambil pada 12 Mei 2021

Kiri: Citra terbaru menara Hanadi di Gaza dari Google Earth, kanan: citra satelit resolusi tinggi menunjukkan menara tersebut telah hancur. GOOGLE DAN MAXAR

 

"Mengingat pentingnya peristiwa terkini, saya tidak melihat ada alasan citra komersial wilayah ini harus terus dalam resolusi rendah," kata Nick Waters, seorang investigator open-source untuk Bellingcat, di Twitter.

 

Siapa yang mengambil citra satelit itu?

Platform pemetaan untuk umum, seperti Google Earth dan Apple Maps, mengandalkan perusahaan yang memiliki satelit untuk memasok pencitraan.

Maxar dan Planet Labs, dua perusahaan terbesar, saat ini memasok citra resolusi tinggi Israel dan Gaza.

"Sebagai hasil dari perubahan regulasi AS baru-baru ini, pencitraan Israel dan Gaza disediakan dalam resolusi 0,4m (40cm)," kata Maxar dalam pernyataan pers.

Planet Labs mengonfirmasi kepada BBC bahwa mereka memasok pencitraan dalam resolusi 50cm.

Namun para investigator open-source sangat mengandalkan software pemetaan gratis dan seringkali tidak memiliki akses ke citra-citra resolusi tinggi ini.

Apa yang dapat diungkap oleh pencitraan resolusi tinggi?

Para peneliti di organisasi pemantau HAM Human Rights Watch bekerja sama dengan penyedia layanan satelit Planet Labs pada 2017 untuk menunjukkan penghancuran desa-desa kelompok etnis Rohingya oleh militer di Myanmar.

 

Citra satelit dari negara bagian Rakhine

Citra satelit dari Myanmar mengungkap kehancuran desa-desa tempat tinggal kelompok etnis Rohingya. 2017DIGITALGLOBE

 

Pencitraan tersebut memungkinkan mereka untuk memetakan skala kerusakan di lebih dari 200 desa di wilayah, dengan membandingkan citra satelit resolusi 40cm dari wilayah tersebut sebelum dan sesudah pengrusakan.

Bukti itu mendukung klaim dari warga-warga Rohingya, yang telah melarikan diri dari Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, bahwa rumah mereka telah disasar oleh militer.

Citra satelit juga berperan vital dalam memantau apa yang terjadi di wilayah Xinjiang, China, termasuk jaringan pusat "re-edukasi" yang dibangun di sana untuk kelompok etnis Uyghur.

 

Gambar pusat re-edukasi di Hotan, Xinjiang, China, yang diambil oleh satelit Maxar

Citra satelit yang diambil pada 2019, menunjukkan kamp re-edukasi di wilayah Hotan di Xinjiang, China. 2019 MAXAR TECHNOLOGIES

 

Informasi tersebut membantu menunjukkan lokasi-lokasi fasilitas yang telah dibangun, dan citra resolusi tinggi juga memberi gambaran akan ukuran dan ciri-ciri khas mereka.

Diterbitkan di Berita

Presiden Joko Widodo mengutuk keras serangan militer Israel terhadap Palestina yang telah menewaskan ratusan orang. Dalam cuitan di akun twitter resminya @Jokowi, Sabtu (15/5) sore, Presiden mendesak agar serangan tersebut segera dihentikan.

“Indonesia mengutuk keras serangan Israel yang telah menelan banyak ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Agresi Israel harus segera dihentikan,” ungkap Jokowi. 

 

 

Menurut Jokowi, ia telah berbincang dengan berbagai pemimpin negara lainnya guna membahas situasi yang terjadi di Palestina.

Pemimpin-pemimpin tersebut termasuk Presiden Turki, Yang Dipertuan Agung Malaysia, Perdana Menteri Singapura, Sultan Brunei Darussalam, dan Perdana Menteri Malaysia.

“Kita berbicara tentang perkembangan global termasuk tindak lanjut dari pertemuan ASEAN Learders Meeting #ALM, perkembangan di Afganistan dan situasi yang sangat memprihatinkan di Palestina,” kata Jokowi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, mengaku aktif menghubungi sejumlah menteri luar negeri dari berbagai negara untuk membahas kondisi yang terjadi di Palestina saat ini.

 

Melalui akun twitternya, Retno mengatakan pada Sabtu (15/5) pagi dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Soukry. Kedua pihak, ujar Retno, sangat prihatin atas kejadian yang berlangsung di wilayah Palestina, termasuk eskalasi dan perluasan konflik.

“Saya juga telah menghubungi rekan saya, yaitu Menteri Luar Negeri Vietnam, India dan Norwegia, untuk melihat kepemimpinan mereka sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, dalam pertemuan yang akan digelar untuk membahas isu kawasan Timur Tengah, termasuk Palestina, pada Minggu (16/5) nanti,” ujar Retno.

Selain itu, pihaknya juga membahas situasi terkait apa yang terjadi di Palestina dengan Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam Dato’ Erywan Yusof.

“Indonesia mengecam meluasnya ketegangan dan kekerasan khususnya di jalur Gaza yang menyebabkan lebih dari 100 korban jiwa warga sipil Palestina yang tidak berdosa,” tutur Retno.

 

 

Indonesia, katanya, akan terus berusaha berjuang semaksimal mungkin di semua lini, termasuk termasuk melalui Komite Pelaksanaan Hak-hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina (CEIRPP), OKI, Gerakan Non-Blok, dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata untuk menghentikan seluruh kekerasan dan menghadirkan keadilan serta perlindungan bagi Palestina.

Masih dalam akun twitternya, Retno pun memastikan akan hadir dalam pertemuan virtual tingkat menlu, Open-Ended Emergency Meeting OIC (Organization of Islamic) Executive Committee, pada Minggu (16/5). Pertemuan ini, kata Retno, akan membahas agresi Israel terhadap Palestina.

“Sudah terlalu lama hak-hak bangsa dan rakyat Palestina digerogoti oleh Israel. Indonesia akan terus bersama rakyat dan bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya,” pungkasnya. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Yerusalem - Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat.

Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5/2021), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan.

Dalam bentrokan ini, ribuan warga Palestina berhadapan dengan ratusan polisi Israel yang memakai perlengkapan antihuru-hara.

Sebelum bentrokan pecah di kompleks Masjid Al-Aqsa, bentrokan lainnya terjadi di wilayah Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, di mana sejumlah keluarga Palestina terancam digusur usai pengadilan memutuskan tanah yang menjadi tempat tinggal mereka secara legal dimiliki para pemukim Yahudi.

Puluhan ribu warga Palestina memenuhi perbukitan di sekitar Masjid Al-Aqsa saat salat Jumat, dan banyak dari mereka bertahan di lokasi itu untuk memprotes putusan terkait sengketa tanah tersebut.

Usai waktu berbuka puasa, bentrokan tiba-tiba terjadi di Masjid Al-Aqsa. Seorang pejabat Masjid Al-Aqsa dengan menggunakan pengeras suara masjid mengimbau semuanya tetap tenang.

"Polisi harus segera berhenti menembakkan granat kejut ke arah jemaah, dan kaum muda harus tenang dan diam!" demikian seruan pejabat Al-Aqsa.

Bentrokan kecil juga dilaporkan terjadi di dekat Sheikh Jarrah, yang berlokasi di dekat Gerbang Damaskus, Kota Tua. Polisi Israel menggunakan meriam air untuk membubarkan ratusan demonstran yang berkumpul di dekat rumah-rumah keluarga Palestina yang berpotensi digusur.

"Jika kita tidak mendukung orang-orang ini, (penggusuran) akan (datang) ke rumah saya, rumahnya dan setiap warga Palestina yang tinggal di sini," teriak salah satu demonstran bernama Bashar Mahmoud (23).

Laporan paramedis Palestina menyebut 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut. Dengan layanan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina menyebut 88 warga Palestina di antaranya dilarikan ke rumah sakit setelah terkena peluru karet.

Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, satu warga Palestina kehilangan salah satu matanya, dua orang lainnya mengalami cedera kepala serius dan dua lainnya mengalami retak tulang rahang. Sisanya mengalami luka-luka ringan.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kepolisian Israel menyebut warga Palestina melemparkan batu, kembang api dan benda-benda lainnya ke arah polisi. Disebutkan bahwa enam polisi Israel mengalami luka-luka dalam bentrokan dan membutuhkan perawatan medis.

"Kami akan merespons dengan tegas setiap gangguan kekerasan, kerusuhan atau tindakan membahayakan personel kami, dan akan berupaya mencari pihak yang bertanggung jawab dan mengadili mereka," tegas juru bicara Kepolisian Israel tersebut.

Mahkamah Agung Israel dijadwalkan akan menggelar sidang terbaru soal sengketa tanah di Sheikh Jarrah itu pada Senin (10/5) mendatang.

Diketahui bahwa sengketa tanah antara warga Palestina dan pemukim Yahudi di Sheikh Jarrah telah memicu pertikaian selama bertahun-tahun. Kasus hukum ini berpusat pada rumah-rumah empat keluarga Palestina yang diklaim oleh pemukim Yahudi.

Awal tahun ini, sebuah pengadilan distrik Yerusalem memutuskan bahwa rumah-rumah itu secara legal milik keluarga Yahudi, dengan mengutip pembelian tanah yang dilakukan beberapa dekade lalu.

Pemukim Yahudi yang mengajukan gugatan mengklaim keluarga mereka kehilangan tanah itu saat perang yang berujung pembentukan Israel tahun 1948 silam -- konflik yang juga membuat ratusan ribu warga Palestina kehilangan rumah mereka.

Namun keluarga-keluarga Palestina yang digugat menyediakan bukti bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam.

Otoritas Yordania melakukan intervensi dalam kasus ini, dengan menyediakan dokumen untuk mendukung klaim keluarga Palestina.

(nvc/idh)

Diterbitkan di Berita

Warga Palestina bersorak sorai di luar Gerbang Damaskus Yerusalem Minggu malam (25/4) setelah penghalang yang dipasang polisi Israel, dilepas.

Langkah itu memungkinkan mereka mendapat akses sebuah lapangan yang selama ini menjadi fokus bentrokan setiap malam di bulan Ramadan.

Ribuan orang memadati plaza Yerusalem Timur pada Minggu (25/4), setelah polisi memberi mereka akses ke pintu masuk Kota Tua Yerusalem yang merupakan tempat populer setiap malam di bulan Ramadan.

Video-video yang diunggah me media sosial memperlihatkan sejumlah orang mencopot penghalang, disaksikan oleh polisi Israel. Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa penghalang itu telah dilepas.

 

Warga Palestina mengibarkan bendera di luar Gerbang Damaskus, Yerusalem Minggu malam (25/4) setelah penghalang yang dipasang polisi Israel, dilepas.
Warga Palestina mengibarkan bendera di luar Gerbang Damaskus, Yerusalem Minggu malam (25/4) setelah penghalang yang dipasang polisi Israel, dilepas.

 

Berbagai bentrokan terjadi sejak awal Ramadan dan menimbulkan ketegangan di kota suci tersebut. Sempat terjadi beberapa konfrontasi malam hari antara anak-anak muda yang melemparkan batu dan polisi berpakaian anti huru-hara yang berusaha membubarkan mereka.

Kekerasan memuncak pada Kamis (22/4), ketika petugas medis Palestina mengatakan 100 orang terluka sementara polisi Israel menangkap lebih dari 50 demonstran.

Ratusan warga Israel ultra-nasionalis berpawai di Yerusalem tengah menuju Gerbang Damaskus, meneriakkan: "Kematian bagi Warga Arab."

Warga Palestina mengatakan polisi telah berusaha mencegah mereka mengadakan tradisi kumpul-kumpul malam hari di bulan Ramadan di luar gerbang itu, bangunan bersejarah di sebelah utara Kota Tua dan dekat dengan beberapa permukiman Palestina. [vm/lt]

Diterbitkan di Berita

KBRN, Yerusalem: Kantor Kepresidenan Palestina menyambut baik pernyataan Presiden AS Joe Biden dan komitmennya terhadap solusi dua negara sebagai dasar bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Palestina juga menyambut baik pernyataan Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken soal melanjutkan bantuan ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan kepada rakyat Palestina, terutama memberikan dukungan finansial kepada United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA).

Palestina mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa paket bantuan yang ditujukan kepada UNRWA akan berkontribusi bagi pendidikan dan kesehatan ratusan ribu siswa dan jutaan orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Palestina dan negara-negara tetangga, serta bantuan ekonomi dan pembangunan lainnya untuk Jalur Gaza dan Tepi Barat melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) 

Seperti dikutip dari MENAFN, Jumat (9/4/2021), Palestina meyakini bantuan ini akan berkontribusi dalam mendukung infrastruktur dan layanan dasar yang diperlukan untuk menghadapi kondisi sulit yang dialami rakyat Palestina di bawah pendudukan dan akibat pandemi corona.

Pimpinan Palestina yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pihak internasional, khususnya International Quartet, untuk mencapai solusi politik yang menjamin keamanan dan stabilitas kawasan dengan mendirikan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya dan hidup berdampingan dengan Israel.

Kepresidenan Palestina memperbarui komitmennya terhadap solusi dua negara berdasarkan dasar legitimasi internasional, dan kesediaannya untuk menanggapi setiap upaya internasional untuk mencapai tujuan ini.

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2