JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Habib Rizieq Shihab mendapat saran Politikus PDIP Kapitra Ampera agar mendirikan partai untuk menguji apakah dirinya laku di masya masyarakat. Hal ini lebih baik ketimbang lakukan aksi di jalanan.

Menanggapi saran tersebut, tokoh asal Papua, Christ Wamea justru menduga partai HRS bakal tak laku dan sulit berkembang. “Saya memprediksi tidak akan laku dan sulit berkembang...,” kata Christ Wamea melalui akun Twitternya, dinukil NNC, 6 September 2021.

Untuk diketahui, Politikus PDIP Kapitra Ampera menyarankan Habib Rizieq Shihab (HRS) mendirikan partai politik agar bisa menyalurkan kekuatan yang dimiliki secara konstitusional untuk membangun bangsa dan negara. 

Hal itu disampaikan Kapitra Ampera pernyataan Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin yang menuding putusan banding Habib Rizieq di Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta sarat kepentingan politik penguasa di Pemilu 2024.  

Novel juga menilai Imam Besar Habib Rizieq Shihab merupakan tokoh berpengaruh dan bahkan balih-balihonya saja ditakuti penguasa. 

"Sekarang tanya, apa sih, kekuatan politik apa yang dimiliki (Habib Rizieq, red). Apa yang bisa diubah di republik ini dengan berteriak di jalan? Apa?" kata Kapitra seperti dilansir  JPNN.com di Jakarta, Sabtu (4/9). 

Kapitra justru menyarankan bila HRS mau masuk ke kancah politik dan melakukan perubahan kepemimpinan politik, maka salah satu caranya dengan mendirikan parpol. 

"Jadi, formil, ada cara-cara konstitusional. Ingin mengubah negara dari jalanan itu merusaknya, itu revolusi, menghancurkan. Mana ada perubahan bisa dilakukan di jalan," tegas eks pengacara Habib Rizieq itu. 

Pria berdarah Minang itu menyatakan kalaupun ada gerakan-gerakan politik di jalanan yang berhasil, itu selalu bermuara ke parlemen, DPR dan MPR RI sebagai lembaga formil.  "Coba bikin partai politik, buktikan kalau Habib Rizieq itu tokoh dan laku secara politik," ucapnya.

Setelah mendirikan parpol, lanjut Kapitra, Habib Rizieq bisa membuktikan kekuatan dan pengaruhnya dengan memenangkan dukungan 20-25 persen presidential threshold. 

"Kalau bisa, pasti dia bisa mengusulkan (diri) sebagai calon presiden. Tetapi kalau hanya teriak kekuatan saya ini, nothing. Enggak dilihat kok, kekuatan apa?" ucapnya. 

"Jadi, lebih baik kalau ingin berpartisipasi dalam pembangunan bangsa ini, ubah melalui cara-cara legalitas, konstitusional dan formalitas. Itu yang bisa dilakukan," tandas Kapitra Ampera.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP

Diterbitkan di Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pengamat politik Ujang Komarudin menilai, Prabowo Subianto akan menjadi lawan politik Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) di Pilpres 2024.

Ormas yang diinisiasi Habib Rizieq Shihab (HRS) dkk itu menyatakan tak mau mendukung Prabowo seperti di Pilpres 2019.

“Jika tak ada rekonsiliasi antara Prabowo dan PA 212, kemungkinan PA 212 akan jadi lawan Prabowo di 2024,” kata Ujang kepada Pojoksatu.id di Jakarta, Jumat (18/6/2021).

Menurut Dosen Universitas Al-Azhar itu, PA 212 menolak mendukung Prabowo karena kemungkinan merasa kecewa.

Sebab, pasca Pilpres 2019, Ketum Partai Gerindra itu memilih bergabung dengan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan meninggalkan PA 212.

“PA 212 tak mendukung Prabowo. Mungkin karena mereka mati-matian dan habis-habisan di Pilpres 2019 yang lalu untuk backup Prabowo. Tapi Prabowo pilih masuk kabinet Jokowi,” tutur Ujang.

Sebelumnya, Ketum PA 212 Slamet Ma’arif mengatakan, organisasinya tak akan mendukung lagi Prabowo jika maju di Pilpres 2024.

Menurutnya, sudah saatnya generasi muda untuk tampil menjadi capres 2024.

“Kami sangat sulit untuk mendukung kembali PS (Prabowo Subianto) di 2024). Era PS sudah selesai, 2024 era generasi muda untuk tampil,” kata Slamet dalam kepada wartawan, Rabu (16/6).

Tak hanya itu, Slamet juga menyebutkan ada sejumlah pertimbangan yang membuat PA 212 sulit mendukung Prabowo lagi.

“Saya juga yakin PS diusung atau dipasangkan dengan siapa pun sangat amat sulit bisa memenangkan pertarungan di 2024,” ujarnya.

Di antaranya, pertimbangan yang membuat PA 212 kecewa dengan Prabowo karena di Pilpres 2019, sehingga tak bakal memberi dukungan lagi.

“Kekecewaan umat di 2019 sangat sulit dilupakan,” pungkasnya.

(muf/pojoksatu)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan siap maju sebagai capres di Pilpres 2024. Pernyataan Prabowo ini menuai pro dan kontra. Tak sedikit yang menilai harusnya Prabowo memberi kesempatan pada tokoh-tokoh yang lebih muda di Pilpres 2024.
 
Lalu, bagaimana tanggapan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang mendukung Prabowo di Pilpres 2019? Ketum PA 212 Slamet Ma'arif mengatakan, organisasinya tak akan mendukung lagi Prabowo jika maju di Pilpres 2024.
Menurut dia, sudah saatnya generasi muda untuk tampil menjadi capres 2024.
 
"Kami sangat sulit untuk mendukung kembali PS (Prabowo Subianto) di 2024). Era PS sudah selesai, 2024 era generasi muda untuk tampil," kata Slamet dalam keterangannya yang diterima kumparan, Rabu (16/6). 
Tak hanya itu, dia menjelaskan ada sejumlah pertimbangan yang membuat PA 212 sulit mendukung Prabowo lagi. Slamet juga mempertanyakan, apakah Prabowo tak malu jika mencalonkan diri lagi.
 
 
PA 212 Tak Dukung Prabowo di 2024: Malu Jadi Capres Seumur Hidup, Selalu Gagal (1)
Menhan Prabowo Subianto bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/6/2021). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
 
"PS tidak akan mau, malu menjadi capres seumur hidup yang selalu gagal,"  - Slamet Maarif.
 
Bahkan, Slamet memprediksi siapa pun tokoh yang dipasangkan dengan Prabowo tetap tak memenangkan pilpres. "Saya juga yakin PS diusung atau dipasangkan dengan siapa pun sangat amat sulit bisa memenangkan pertarungan di 2024," ujarnya.
Terakhir, ada pertimbangan lain yang membuat PA 212 kecewa dengan Prabowo sehingga tak bakal memberi dukungan lagi.
 
"Kekecewaan umat di 2019 sangat sulit dilupakan," pungkasnya.
Diterbitkan di Berita