TEMPO.COJakarta - Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan Teknologi (SDM-Iptek) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan empat orang pemenang Habibie Prize 2021.

Pengumuman disampaikan oleh Ketua Pengurus Yayasan SDM-Iptek, Wardiman Djojonegoro, dalam acara virtual yang digelar pada Rabu, 17 November 2021.

Habibie Prize 2021 di Bidang Ilmu Dasar diberikan kepada Peneliti Pusat Riset Kimia BRIN, Muhammad Hanafi; di Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi diberikan ke Dosen Universitas Airlangga, Nicolaas C. Budhiparama; di Bidang Ilmu Rekayasa diberikan kepada Dosen Institut  Teknologi  Bandung (ITB), Subagjo; dan di Bidang Ilmu Kebudayaan diberikan kepada Seniman, Nyoman Nuarta.

“Tidak ada pemenang untuk kelompok Bidang Sosial, Ekonomi, Politik, dan Hukum tahun ini,” ujar Wardiman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, dalam pengumumannya.

Penganugerahan Habibie Prize merupakan salah satu upaya untuk melanjutkan harapan dan cita-cita Bacharuddin Jusuf Habibie membangun SDM Indonesia unggul dan berdaya saing.

Presiden RI ketiga yang dijuluki Bapak Teknologi itu merupakan pencetus penghargaan yang ditujukan untuk memberikan semangat kepada SDM Indonesia yang mampu berinovasi untuk membangun bangsa.

Para pemenang Habibie Prize 2021 dipilih melalui seleksi yang ketat, dan dari 90 kandidat yang didaftarkan, Dewan Juri Habibie Prize menetapkan empat orang pemenang itu melalui rapat pleno.

Keempat pemenang diberikan medali, sertifikat, dan uang sebesar US$ 25 ribu (setara Rp 356 juta). Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengucapkan selamat kepada pemerima Habibie Prize 2021.

Dia berharap karya-karya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi bisa terus dihasilkan di masa mendatang. “Semoga penerimanya dapat menjadi inspirasi dan pemimpin bangsa dalam kemajuan iptek di tengah perkembangan global,” tutur Handoko.

Menurut dia, Habibie Prize 2021 merupakan momentum dan dorongan untuk menghasilkan lebih banyak lagi prestasi. Dia juga berharap keempat pemenang tetap produktif dan meningkatkan kontribusinya di bidang masing-masing serta melakukan yang terbaik untuk bangsa.

“Kami juga sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie atas segala dukungan yang diberikan bagi penyelenggaraan acara ini,” kata mantan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu sebelum lembaga tersebut melebur ke dalam BRIN. 

 

Sumber: https://tekno.tempo.co/read/1529447/nyoman-nuarta-diumumkan-di-antara-pemenang-habibie-prize-2021/full&view=ok

 

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -- Bertepatan dengan Peringatan 101 Tahun Pendidikan Teknik di Indonesia (PTTI), Institut Teknologi Bandung (ITB) menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada Nyoman Nuarta. Atas jasanya di bidang kesenirupaan, Nyoman Nuarta mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa (HC) sebagai cultureupreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (patung).

Gelar kehormatan tersebut diberikan oleh Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. pada acara Sidang Terbuka Peringatan 101 Tahun PPTI yang diselenggarakan di Aula Barat ITB pada Sabtu (3/7/2021).

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana menjelaskan, pemberian gelar Doktor Kehormatan kepada Nyoman Nuarta didasarkan pada pertimbangan pemikiran, gagasan, hingga pengembangan konsep-konsep orisinal dan mendasar dari Nyoman Nuarta yang terbukti bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusiaan, perkembangan iptek, dan seni.

 

 

Kiprah Nyoman Nuarta dalam mengimplementasikan konsep culturepreneur dan pendekatan dalam bahasa bentuk realis-figuratif pada pengembangan mahakarya Garuda Wisnu Kencana (GWK) Culture Park di Bali merupakan salah satu bukti kontribusi nyata beliau pada bidang kesenirupaan yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. “Kehadiran GWK telah menunjukkan bahwa Indonesia dapat melahirkan mahakarya untuk dunia,” ujar Prof. Dr. Setiawan Sabana.

Konsep culturepreneur sendiri terlahir dari kepeloporan Nyoman Nuarta dalam menginspirasi dan mendorong semangat entrepreneurship seni. Dengan memberdayakan intellectual capital kekayaan identitas seni budaya nasional, konsep culturepreneur diharapkan dapat menjadi langkah untuk mencapai kemandirian ekonomi Indonesia.

Dalam pengembangan patung GWK, Nyoman Nuarta juga menciptakan dua terobosan penting dalam teknik berkarya seni. Dua terobosan penting tersebut di antaranya adalah teknik membentuk patung wire mesh welding forming dan hak cipta teknik pembuatan patung organis dengan pembesaran skala dan pola segmentasi untuk pembuatan patung-patung skala besar.

Figur seniman yang telah menggelar puluhan pameran nasional hingga internasional ini mengakumulasikan berbagai aspek, seperti engineering, kemandirian, lingkungan sosial-budaya, dan kewirausahaan yang dikemas dalam sebuah ekosistem komprehensif berupa cultural park. “Dia berhasil merealisasikan gagasannya yang begitu visioner dan membuktikannya kepada dunia dengan upayanya sendiri,” sebut tim promotor.

Di samping itu, Nyoman Nuarta turut berkiprah dalam membangun tonggak baru yang menghilangkan pengotakan dan sikap elitis dalam kegiatan kesenirupaan, terutama pada pengembangan pendidikan dan pengajaran seni rupa di Indonesia.

“Berdasarkan berbagai pertimbangan yang komprehensif tersebut itu, Nyoman Nuarta sangat layak untuk mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Institut Teknologi Bandung,” jelas Prof. Dr. Setiawan Sabana dalam Laporan Pertanggungjawaban Akademik Tim Promotor.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Nyoman Nuarta adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Widiadnyana Merati (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Rochim Suratman (FTMD - ITB, wafat Kamis, 9 April tahun 2020)
3. Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim (FITB - ITB, Ketua Pansus Pemberian gelar Doktor kehormatan kepada Nyoman Nuarta)
4. Prof. Dr. Dermawan Wibisono (SBM - ITB)
5. Dr. Yannes Martinus Pasaribu, M.Sn. (FSRD - ITB)
6. Dr. Andriyanto Rikrik Kumara, S.Sn., M.Sn. (Dekan FSRD - ITB)

Sampaikan Orasi Ilmiah

 

Dalam orasinya yang berjudul “Seni sebagai Jalan Menuju Antusiasme Baru Hidup Manusia”, Nyoman Nuarta memaparkan tentang pergeseran era seni dan pentingnya pertimbangan sinergi dan integrasi multidisiplin ilmu bagi para seniman. “Seni tak boleh hadir sendiri di hadapan publik. Seniman haruslah mampu merangkul disiplin-disiplin ilmu yang lain agar ia memberi manfaat yang makin nyata,” kata Nyoman Nuarta.

Lebih lanjut lagi, tokoh seni rupa Indonesia ini menjelaskan bahwa kerja kebudayaan khususnya kesenian harus dilandasi dengan kajian dimensi teknologi, sosiokultural, serta dampak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

 

 

“GWK sudah memberi bukti, bahwa lahan bukit kapur yang sampai tahun 1980-an hanya bermanfaat sebagai lokasi tambang, kemudian berubah secara drastis menjadi pusat pariwisata tahun 1990-an. GWK telah mengubah wajah sangar bukit kapur yang gersang dan miskin menjadi wilayah yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” lanjut Nyoman Nuarta dalam orasi ilmiahnya.

Nyoman Nuarta juga memperkenalkan istilah “arch sculpt” yang merupakan sebuah landasan pertemuan antara ilmu estetika dan ilmu arsitektur yang bersifat pragmatis. Beliau ingin menunjukkan bahwa teknologi dan sains, termasuk pertimbangan ekonomi, sudah waktunya menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses kerja seorang seniman.

“Semoga apa yang sudah saya kerjakan memberi manfaat kepada negara dan bangsa. Semoga seni tak sekadar menampilkan keindahan, tetapi menjadi jalan baru menuju antusiasme hidup manusia di masa kini dan nanti,” tutup Nyoman Nuarta.

Reporter: Achmad Lutfi Harjanto (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Sidang Terbuka Peringatan 101 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) sekaligus penganugerahan Doktor Kehormatan kepada tiga tokoh nasional, Sabtu (3/7/2021), di Aula Barat ITB. Pemberian gelar Honoris Causa (HC) tersebut dilakukan secara virtual.

Anugerah Doktor HC diberikan ITB kepada Musisi Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau yang akrab dengan nama Sam Bimbo), seniman Nyoman Nuarta, dan tokoh nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Sam Bimbo menerima Doktor HC dalam bidang Seni dan Religiusitas. Kandidat diberi gelar kehormatan karena memiliki prestasi dan reputasi tinggi dalam pengembangan karya seni lukis dan seni musik melalui pendekatan berbasis religi.

 

 

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA menyampaikan, karya nyata pelantun tembang “Sajadah Panjang” itu mengandung nilai inovatif terbukti dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, perkembangan nilai keagamaan, kebudayaan bangsa dan kemanusiaan; ilmu pengetahuan (sains), teknologi dan seni.

 

 

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Sam Simbo adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Dody Abdasah, M.Sc., Ph.D.
2. Prof. Dr. M. Salman A. N.
3. Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A.
4. Dr. Imam Santosa, M.Sn.
5. Dr. Tisna Sanjaya, M.Sc.

Nyoman Nuarta menerima gelar Doktor HC sebagai tokoh Culturepreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (Patung) atas inovasi yang telah dilakukan dalam pengembangan seni patungnya, antara lain pendekatan baru dalam bahasa bentuk realis-figuratif. Berbagai kepeloporan Nyoman Nuarta telah menginspirasi dan mendorong semangat entrepreneurship seni guna menjadi penggerak dalam mencapai kemandirian ekonomi Indonesia melalui pemberdayaan intellectual capital kekayaan identitas seni-budaya nasional. Beliau terkenal dengan karya monumentalnya patung “Garuda Wisnu Kencana”.

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA menyampaikan, pemikiran Nyoman Nuarta dan pengembangan konsep-konsepnya yang orisinil serta mendasar terbukti bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusiaan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni.

 

 

“Nyoman Nuarta telah membuat ITB semakin bangga akan kekuatan keberagaman para alumni ITB dalam menjaga dan membesarkan kehormatan ITB. Berdasarkan berbagai pertimbangan yang komprehensif tersebut itu, Nyoman Nuarta sangat layak untuk mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Institut Teknologi Bandung,” ungkapnya dalam laporan pertanggungjawaban Tim Promotor ITB.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Nyoman Nuarta adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Widiadnyana Merati (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Rochim Suratman (FTMD - ITB, wafat Kamis, 9 April tahun 2020)
3. Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim (FITB - ITB, Ketua Pansus Pemberian gelar Doktor kehormatan kepada Nyoman Nuarta)
4. Prof. Dr. Dermawan Wibisono (SBM - ITB)
5. Dr. Yannes Martinus Pasaribu, M.Sn. (FSRD - ITB)
6. Dr. Andriyanto Rikrik Kumara, S.Sn., M.Sn. (Dekan FSRD - ITB)

Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. dianugerahi Doktor HC atas gagasan dan inovasinya yang mampu menunjukan keilmuan Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Kota dapat berkontribusi nyata dan berjalan selaras dengan praktik pembangunan nasional dan regional di Indonesia.

Ketua Tim Promotor Prof. Tommy Firman, Ph.D. menyampaikan, Prof. Bambang Permadi telah mengabdikan karirnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pengelolaan pembangunan serta berkontribusi yang signifikan tidak hanya bagi kemajuan keilmuan Pengembangan Wilayah dan Kota saja, tetapi kepada pembangunan nasional dan kemasyarakatan secara luas.

 

 

“Berdasarkan Scholarship (Kesarjanaan), Leadership (Kepemimpinan), Achievement (Capaian) serta Kontribusi (Jasa) yang signifikan bagi kemajuan (advancement) keilmuan Pengembangan Wilayah dan Kota, yang bersifat multidisiplin, maupun pembangunan nasional pada umumnya serta ketentuan penerima gelar Doktor Kehormatan yang tercantum dalam SK Senat Akademik ITB nomor 43/ SK/K01-SA/2003, Tim Promotor berkesimpulan, dengan penuh keyakinan, bahwa Prof. Bambang Brodjonegoro sangat layak untuk mendapat gelar Doktor Kehormatan dari ITB dalam bidang Pengembangan Wilayah dan Kota (Regional and Urban Development),” jelasnya dalam laporan pertanggungjawaban Tim Promotor ITB.

 

 

Prof. Tommy Firman, Ph.D. juga menambahkan harapannya dan tim promotor kepada Prof. Bambang Brodjonegoro agar dapat terus mengembangkan dan melakukan inovasi dalam Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Kota untuk menghadapi tantangan global dan nasional di masa yang akan datang.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Prof. Bambang Brodjonegoro adalah sebagai berikut:
1. Prof. Indra Djati Sidi, Ph.D. (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM - ITB)
3. Prof. Dr. Pradono (SAPPK - ITB)

Reporter: Pravito Septadenova Dwi Ananta (Teknik Geologi, 2019)

 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
  
Seniman patung Nyoman Nuarta mengungkap, karya Istana Garuda bakal menerapkan konsep green building sesuai dengan perintah dari Presiden Joko Widodo. Dengan konsep itu, basic design bangunan buatannya diklaim hemat energi, bahkan bisa membunuh virus dan bakteri. 
 
Penghematan energi, menurut Nuarta, dilakukan dengan membuat semacam bilah-bilah berbentuk vertikal pada bagian depan agar kaca di bagian belakang tak terkena sinar matahari secara langsung. Dengan menggunakan teknik tersebut, penggunaan energi listrik seperti AC dapat lebih efisien.
 
"Itu dibuat di depannya ada bilah-bilah melindungi kaca yang ada di dalam dari terpaan matahari langsung sehingga yang di dalam itu tidak terjadi efek rumah kaca," kata dia di Nuart Sculpturepark, Selasa (1/6).
 
 "Pemakaian listrik untuk AC juga akan berkurang, karena sekarang COVID, harus ruangan itu dapat udara fresh," lanjut dia. Nuarta menambahkan, lapisan depan burung garuda menggunakan bahan logam tembaga.
Penggunaan logam tembaga sebagai bahan utama yang membentuk burung garuda diterapkan dengan mempertimbangkan sifat logam yang lentur, mudah dibentuk, dan anti korosi.
 
Sebagai logam, menurut Nuarta, tembaga merupakan konduktor yang baik dan tidak mudah ditumbuhi jenis jamur dan lumut. Dia menilai tembaga dapat membunuh virus serta bakteri. Tembaga juga dinilainya tahan lama dan tak membutuhkan perawatan.
 "Dia sudah terbukti membunuh itu, ditambah lagi itu bisa membunuh virus, terus bakteri sudah jelas, makanya debu yang menempel di kulit garuda itu tidak akan tumbuh, karena pasti mati. Sekarang kita untuk membunuh lumut itu pakai tembaga bisa," papar dia.
 
Nyoman Nuarta Sebut Bangunan Istana Garuda Hemat Energi dan Bisa Bunuh Virus (1)
Nyoman Nuarta. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
 
Adapun nantinya, menurut Nuarta, bangunan Istana Garuda didesain menghadap ke bagian tenggara untuk menyiasati paparan langsung sinar matahari dari timur dan barat.
Dengan demikian, sinar matahari dipastikan tak akan langsung masuk ke dalam gedung.
"Jadi suhu dalam gedung tidak terlalu panas. Ini kan juga bisa mengirit penggunaan pendingin ruangan," pungkas dia.
 
Basic design rancangan Nuarta telah diunggah melalui akun Instagram Presiden Joko Widodo. Karyanya mendapat pujian serta kritik dari berbagai pihak. Kritik terutama disampaikan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Diterbitkan di Berita