Konten ini diproduksi oleh kumparan

Masyarakat dihebohkan dengan munculnya Kerajaan Angling Dharma di Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten. Seiring viralnya kerajaan tersebut, sejumlah fakta pun terkuak. Mulai dari sosok sang raja hingga ternyata 'kerajaan' ini setia pada NKRI.

Berikut beberapa fakta yang sejauh ini diketahui terkait dengan Kerajaan Angling Dharma tersebut:

 

 Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (1)

Jubir Kerajaan Angling Dharma, Ustaz Ali. Foto: Dok. Istimewa

 

Raja Angling Dharma Hanya Julukan

Seorang pria bernama Iskandar Jamaludin Firdaus (70) mengaku sebagai raja Angling Dharma. Iskandar mendapatkan gelar raja dari sebuah mimpi gaib pada tahun 2004.

Namun demikian, juru bicara Iskandar, Ustaz Ali, mengklarifikasi kabar tersebut. Dia mengatakan istilah 'Raja Angling Dharma' hanyalah julukan saja. Kesehariannya, Iskandar ini dianggap sebagai 'orang pintar' sekaligus dikenal sebagai kiai.

Saban hari, banyak orang yang datang ke kediaman Iskandar di Desa Pandat itu. Kediaman Iskandar ini disebut sebagai padepokan. "Keseharian mah begitu seperti kiai, setiap Minggu zikiran, terus suka latihan kesenian Cimande juga di sini," ujar Ali, saat dihubungi Rabu (22/9).

Adapun nama Angling Dharma disebut hanya sebuah siloka atau peribahasa yang melambangkan kedermawanan.

"Itu sih bukan kerajaannya, lebih ke padepokan sebetulnya. Kalau Angling Dharma sebetulnya cuma siloka yang melambangkan kedermawanan karena baginda orangnya sangat dermawan," kata dia.

Salah satu pengikut Iskandar, Aki Jamil, mengatakan sosok Iskandar sangat dermawan. Sering membantu anak yatim, janda dan warga miskin yang ada di sejumlah Kecamatan di Pandeglang. Bahkan, dia juga menginisiasi proyek bedah rumah.

 

 Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (2)

Kemunculan Kerajaan Angling Dharma di Kampung Salangari, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Foto: Dok. Istimewa

 

Raja Angling Dharma Punya 4 Istri

Iskandar juga diketahui memiliki 4 orang istri. Dari foto yang diambil beberapa waktu lalu, Iskandar terlihat berpose dengan empat orang perempuan. Namun menurut Ali, keempat perempuan dalam foto itu, semuanya bukanlah istri Iskandar.

Ada salah satu perempuan di foto itu merupakan anaknya. Sayangnya, Ali tak menyebut yang mana saja istri dan anak Iskandar dengan alasan privasi. Sementara satu istri lainnya tak terlihat di foto itu. Ali membenarkan bahwa Iskandar punya empat istri.

"Ya beliau punya empat orang istri, tapi yang di foto mah itu cuma ada tiga istrinya. Satunya lagi anaknya. si teteh," kata Ali saat dihubungi, Rabu (22/9). Menurut Ali, kehidupan rumah tangga Baginda Sultan, sebutan Ali kepada Iskandar, sangat harmonis.

Dua istri tinggal di padepokan, satu istri tinggal di salah satu rumah di Kecamatan Menes yang satunya lagi tinggal di rumah di Tenjolahang, Kecamatan Jiput. Ali tak menyebut istri muda atau tua yang tinggal di padepokan dan di rumah lain di luar padepokan.

"Yang tinggal di padepokan cuma dua, satunya di Kecamatan Menes dan di Tenjolahang. Selama ini hubungan rumah tangganya baik-baik saja," kata Ali.

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (3)

Rumah Iskandar, Raja Angling Dharma di dalam kompeks Istana Kerajaan Angling Dharma. Foto: Dok. Istimewa

 

Tempat Tinggal Menyerupai Istana

Tempat tinggal Iskandar memang hampir menyerupai sebuah istana kerajaan, Tiap bangunan di kompleks padepokan itu terlihat sangat mencolok ketimbang rumah-rumah warga di sekitar. Berikut potretnya:

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (4) 

Musala bernama Angling Dharma di dalam kompleks istana kerajaan. Foto: Dok. Istimewa

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (5)

Rumah utama raja (warna kuning) di dalam kompleks Istana Kerajaan Angling Dharma Pandeglang. Foto: Dok. Istimewa

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (6)

Singgasana Raja Angling Dharma. Foto: Dok. Istimewa

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (7)

Patung kuda di dekat gerbang 'Istana' Kerajaan Angling Dharma di Pandeglang. Foto: Dok. Istimewa

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (8)

Kemunculan Kerajaan Angling Dharma di Kampung Salangari, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Foto: Dok. Istimewa

 

Raja Angling Dharma Setia ke NKRI dan Pancasila

Ustaz Ali kembali menegaskan bahwa sapaan raja kepada Iskandar hanyalah istilah. Dia meminta publik jangan menganggap serius. Karena, kata dia, Iskandar tidak menciptakan kerajaan dalam tatanan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan ideologi negara Pancasila.

Justru menurut Ali, Iskandar itu adalah orang yang sangat setia dengan NKRI dan Pancasila. Ali mengatakan Iskandar dan padepokannya serta santrinya dan juga murid pencak silatnya tidak pernah melakukan perlawanan terhadap pemerintah.

"Kami NKRI, aliran (keyakinan) kami ahli sunnah wal jama'ah. Masing-masing dari kami memakai pin Garuda Pancasila dan di padepokan juga berkibar bendera merah putih," kata Ali.

Ali menegaskan, jika ada tuduhan bahwa padepokan yang dipimpin Iskandar seolah menciptakan negara dalam negara, itu salah. Karena, padepokan Angling Dharma hanya melakukan aktivitas keagamaan, kesenian dan bela diri kebudayaan.

Bahkan, struktur organisasinya pun juga sama dengan kerangka organisasi padepokan pada umumnya. Dia juga menegaskan tidak ada hal menyimpang, semacam membuat mata uang sendiri di dalam padepokan. Semuanya masih menggunakan rupiah.

"Jika tidak percaya kami NKRi lihat saja ke sini. Kami tidak membuat uang sendiri, itu mah harus punya mesin sendiri. Mungkin jika kamu buat uang sendiri, kegiatan sosial seperti membangun rumah tidak akan sedikit pasti ratusan yang sudah dibangun," ujar Ali.

 

Yang Unik dari Kerajaan Angling Dharma: Raja Beristri 4, Setia ke NKRI (9)

Kapolres Pandeglang, AKBP Belny Warlansyah. Foto: Dok. Istimewa

 

Kata Polisi soal Kerajaan Angling Dharma

Kapolres Pandeglang, AKBP Belny Warlansyah sudah melakukan penyelidikan terkait kemunculan Kerajaan Angling Dharma di Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten. Apa hasilnya? 

"Kita sudah melakukan penyelidikan dan perlu disampaikan ke masyarakat umum, bahwa ini (Angling Dharma) bukan sebuah kerajaan, itu hanya sebuah simbol," kata Belny kepada wartawan, Kamis (23/9).

Menurut Belny, Iskandar atau biasa disebut Baginda Sultan hanya menyukai aksesoris bernuansa kerajaan dan raja. Dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan adanya penyimpangan yang mengarah seperti Sunda Empire atau pun Keraton Agung Sejagat.

"Sejauh ini kegiatannya hanya membantu masyarakat yang susah. Mulai dari membangunkan rumah yang tidak layak huni, sampai memberi santunan kepada anak yatim piatu dan para janda. Kalau untuk dananya sendiri, dia mendapatkannya dari orang yang meminta doa kepadanya," ujarnya.

 

Diterbitkan di Berita
 
Gunungsindur, Bogor (ANTARA) - Sebanyak 34 narapidana tindak pidana terorisme mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Kamis.

"Hari ini kita telah sama-sama melihat di Lapas Narkotika Gunung Sindur, dari 56 jumlah warga binaan terorisme, 34 menyatakan ikrar setia pada NKRI," ujar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Barat Sudjonggo saat konferensi pers usai pembacaan ikrar.

Menurutnya, ikrar yang diucapkan di hadapan Al Quran itu akan menjadi pintu masuk para narapidana terorisme untuk kembali diterima oleh masyarakat, meski tidak mengurangi masa hukuman di lapas.

"34 napi ini rata-rata masih usia produktif, masih usia muda. Jangan sampai perbuatannya terulang karena perutnya lapar. Hanya karena tidak bisa diterima masyarakat," katanya lagi.

Sudjonggo menyebutkan, 22 narapidana terorisme lainnya di lapas tersebut belum mengucapkan ikrar setia pada NKRI, karena masih dalam tahap proses deradikalisasi.

"Pembinaan terus berjalan, karena pidananya juga berbeda-beda. Itu yang menyebabkan kenapa tidak semuanya, karena memang pidananya berbeda beda. Secara usia berbeda beda, daya nalar berbeda-beda," katanya pula.

Kemenkumham kini terus melakukan pembinaan terhadap napi terorisme dengan menggandeng Densus 88 Antiteror Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara (BIN), dan pemuka agama.

"Ini terus, kami tidak berhenti, seluruh Jawa Barat ini ada 106 (narapidana terorisme) pada saat ini bisa bertambah bisa berkurang di kemudian hari, karena mutasi dari tempat lain atau kami mutasikan ke tempat lain," ujar dia lagi.
 

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021
Diterbitkan di Berita