Jakarta, CNN Indonesia -- Cendekiawan muslim Buya Syafii Maarif meminta pemerintah Indonesia tak tergesa-gesa menjalin hubungan diplomatik dengan Taliban yang kini menguasai Afghanistan.

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu menyarankan agar Indonesia tak mudah termakan berbagai janji-janji Taliban. Taliban sebelumnya berjanji akan meniadakan konflik, amnesti kepada mereka yang berseberangan, atau memuliakan kaum perempuan.

"Bagi saya begini, kita wait and see dulu. Kan katanya mau berubah, tapi kan belum tampak buktinya. Kita tunggu bukti dulu," kata Buya Syafii ditemui di kediamannya, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY, Jumat (3/9).

Memori atas  kekejaman rezim militan ini sepanjang 1996-2001 masih melekat di benak Buya Syafii. Genosida hingga pengekangan peran perempuan yang terjadi sepanjang ideologi Taliban berkuasa semestinya jadi bahan pemikiran bagi pemerintah Indonesia.

"Tahun 1996-2001 itu parah sekali, parah sekali," ucapnya. Di satu sisi, Buya Syafii meyakini mengubah ideologi tak akan semudah membalikkan telapak tangan. "Berkuasa lima tahun itu Taliban membawa 'keping neraka' ke muka bumi.

Semestinya kalau yang pakai (nama) Islam, membawa 'keping surga' ke muka bumi. Jangan dibalik-balik begitu. Orang yang tidak paham Islam itu menarik (kesimpulan) ini Islam, repot. Islam tidak seperti ini," lanjutnya tegas.

Sementara di saat negara-negara kuat seperti Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mengambil langkah keras, China dan Rusia justru mempertontonkan kemesraannya terhadap Taliban. Buya Syafii beranggapan kedua negara ini menyimpan maksud lain.

"Kalau Rusia dan China saya rasa itu dalam rangka melecehkan Amerika, lebih banyak ke sana saya lihat. Karena walaupun Uni Soviet hancur, tapi antara Rusia dan Amerika perang dingin diam-diam masih ada, walaupun secara resmi sudah tidak. Tapi itu mereka berlomba-lomba merebut ekonomi dunia," sebut Buya Syafii.

Tak kalah penting, kata Buya, Indonesia harus mewaspadai euforia kemenangan Taliban dan dampaknya pada kegiatan terorisme di Tanah Air.

"Tentunya yang beraliran keras ini gembira toh, kita lihat saja. Indonesia harus waspada. Terorisme itu musuh-musuh kemanusiaan. Walaupun mengatasnamakan agama dan Tuhan, itu jelas pembajakan terhadap agama dan Tuhan. Apa pun mereka, komat-kamit membaca dzikir, seperti itu nggak bisa dipercaya," ucapnya.

(kum/bac)

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Tim Pengawal Peristiwa (TP3) 6 orang Laskar Front Pembela Islam (FPI) bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Selasa, 9 Maret kemarin. Pertemuan itu diinisiasi oleh mantan Ketua MPR RI, Amien Rais.

Momen saat Presiden Jokowi menyambut rombongan TP3 diunggah kembali oleh pegiat media sosial, Eko Kuntadhi di akun twitternya, @eko_kuntadhi. Video berdurasi 0.39 detik itu diambil dari akun Youtube Sekretariat Presiden yang berdurasi 10.31 detik.

 

https://twitter.com/eko_kuntadhi/status/1369303743154552832

 

Jokowi yang mengenakan kemeja putih, bercelana hitam lengkap dengan masker putih terlihat ramah dan menyapa rombongan yang datang. Semua tampak memberikan salam balik sambil mengatubkan tangan di dada. 

Berbeda dengan Amien Rais yang terlihat cuek dan tidak membalas sapaan Jokowi. 

"Akhlak orang tua ini memang luar biasa. Dia bertamu, disambut dengan baik oleh tuan rumah. Eh gayanya, gak mau noleh. Merasa statusnya lebih tinggi dan lebih beragama,?" cuit Eko.Netizen lalu memberikan tanggapan beragam atas sikap Amien Rais tersebut. 

"Pak Jokowi memang luar biasa. Begitu rendah hati, meski di pandang rendah. 

Bener-benar panutan kalau saya masih berprinsip: sombong kepada orang congkak itu ibadah," cuit @RyaW****

"Tamu model begini gak usah diundang lagi lah. Berasa naik derajat di undang istana," @scol****

"Namanya juga utusan dari neraka. Saya jadi percaya kalau iblis itu benar-benar ada. Dia dibenci Allah karena kesombongannya," cuit @MasaS****

Pertemuan berlangsung selama 15 menit di Istana Negara. Dalam pertemuan itu, TP3 menyampaikan beberapa hal kepada Presiden Joko Widodo mengenai kematian enam Laskar Khusus FPI di KM50 tol Jakarta-Cikampek.

"Tadi jam 10.00 WIB baru saja Presiden RI didampingi oleh Menkopolhukam dan saya dan mensesneg menerima 7 orang anggota TP3 yang dipimpin oleh Pak Amien Rais, tetapi pimpinan TP3 itu sendiri adalah Abdullah Hehamahua," kata Menkopolhukam Mahfud MD di Jakarta, Selasa, 9 Maret.

Kata Mahfud, ada dua hal pokok yang disampaikan TP3 kepada pemerintah mengenai kematian enam laskar FPI. Pertama, TP3 mendesak agar pemerintah melakukan penegakan hukum yang sesuai dengan hukum yang berlaku.

"Sesuai dengan perintah Tuhan bahwa hukum itu adil. Dan yang kedua ada ancaman dari Tuhan kalau orang membunuh orang mukmin itu tanpa hak maka ancamannya neraka jahanam, neraka Jahanam," kata Mahfud.

Kemudian, mereka juga menyampaikan kepada Presiden agar kasus ini dibawa ke Pengadilan HAM. "Pertemuan berlangsung tidak lebih atau tidak sampai 15 menit. Bicaranya pendek dan serius gitu," kata Mahfud.

Sebab, mereka kata Mahfud, yakin bahwa kasus ini adalah pembunuhan berat. "Bukan pelanggaran ham biasa sehingga 6 laskar FPI itu meninggal," kata dia.'

"Mereka yakin telah terjadi pembunuhan yang dilakukan dengan cara melanggar ham berat, bukan pelanggaran ham biasa. sehingga, enam laskar FPI itu meninggal," kata Mahfud.

"Mereka meminta agar ini dibawa ke pengadilan HAM karena pelanggaran HAM berat. itu yang disampaikan kepada presiden," imbuhnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil rekomendasi Komnas HAM terkait kasus tewasnya enam orang Laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada Desember 2020 lalu, ditetapkan bahwa empat orang tewas atas dugaan dugaan unlawful killing atau penembakan di luar hukum yang dilakukan oleh personel polisi Polda Metro Jaya.

Diterbitkan di Berita