Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan menumbuhkembangkan nasionalisme sangat penting bagi pembangunan karakter generasi muda bangsa, terutama saat ini Indonesia dihadapkan pada beragam tantangan kebangsaan yang muncul dalam berbagai dimensi.

"Misalnya,melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, masih berkembangnya radikalisme, dekadensi moral generasi muda bangsa, memudarnya identitas dan jati diri bangsa, dan masih adanya kesenjangan sosial ekonomi," kata Bambang Soesatyo atau Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Ahad.

Bamsoet mengemukakan hal itu ketika memberikan sambutan dalam acara Nasional is Me: Indonesia Pasti Bisa yang diselenggarakan Yayasan Bentang Merah Putih dan Yayasan Pandu Pemimpin Cinta Bangsa secara virtual di Jakarta, Minggu.

Melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, menurut dia, dapat dilihat pada data yang diungkapkan SETARA Institute, yang mencatat terjadinya 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama antara tahun 2014 dan 2019.

"Contoh lain adalah penyalahgunaan politik identitas dalam kontestasi politik sehingga renggangnya ikatan kohesi sosial, dan polarisasi masyarakat pada dua kutub yang berseberangan, baik sebelum, selama, maupun setelag penyelenggaraan pemilu," ujarnya.

Politikus Partai Golkar itu menilai menanamkan nasionalisme pada kelompok sasaran generasi muda bangsa adalah strategi yang tepat.

Hal itu, kata Bamsoet, karena di tengah periode bonus demografi saat ini, sebanyak 70,72 persen penduduk Indonesia merupakan usia produktif.

"Hampir 69 persen atau sekitar 131,6 juta jiwa adalah sumber daya manusia potensial yang berusia antara 15 dan 44 tahun," katanya.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia akan makin kompleks dan dinamis.

Untuk menjawab tantangan tersebut, menurut dia, salah satu faktor kuncinya adalah konsolidasi bangsa untuk memperkuat ikatan kebangsaan dalam mewujudkan Indonesia yang beradab.

"Indonesia yang beradab adalah yang memanusiakan manusia. Dalam hal ini harkat dan martabat kemanusiaan dimuliakan, norma-norma sosial dijunjung tinggi, dihormati, dan dijadikan tuntunan dalam setiap laku sosial segenap anak bangsa, serta menjadi rujukan dalam setiap gerak langkah pembangunan," ujarnya.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Dita Angga Rusiana sindonews.com JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-10 D-8. KTT sendiri digelar di Dhaka, Bangladesh dan diikuti oleh delapan kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota.

Pada kesempatan itu Jokowi melihat krisis global akibat pandemi justru bisa menjadi batu loncatan bagi semua negara anggota D-8 untuk terus maju.

"Kita punya potensi dan kekuatan untuk maju. Dengan total populasi 1,1 miliar jiwa dan potensi ekonomi yang hampir mencapai USD4 triliun, D-8 harus menjadi bagian penting agar dunia bisa keluar dari pandemi, agar dunia bisa kembali pulih," katanya dikutip dari pers rilis Biro Pers Setpres, Jumat (9/4/2021).

Jokowi juga menyampaikan, negara-negara D-8 harus tetap mendorong akses yang adil terhadap vaksin. Dia pun menyerukan penolakan adanya nasionalisme vaksin.

"Ketersediaan dan keterjangkauan vaksin merupakan kunci untuk keluar dari krisis. Namun, saat ini kita saksikan meningkatnya nasionalisme vaksin. Ini harus kita tolak. Kita harus mendukung vaksin multilateral," tegasnya.

Menurutnya vaksin covid-19 adalah barang publik global. Sehingga dunia perlu bersatu untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin untuk semua.

Maka dari itu dia mengatakan, dunia harus dapat menggandakan kapasitas produksi. Dia menegaskan bahwa tidak boleh ada pembatasan terhadap produksi dan distribusi vaksin.

"Di sinilah D-8 bisa berperan dalam menawarkan kapasitas produksi yang dimilikinya untuk meningkatkan produksi, mendorong akses yang sama terhadap vaksin, dan mendorong transfer teknologi," ungkapnya.

"Beberapa dari kita, termasuk Indonesia, tengah mengembangkan produksi vaksin sendiri. D-8 harus membuka kerja sama pengembangan dan produksi vaksin ke depan," lanjutnya.

Selain itu Jokowi juga menyampaikan bahwa negara-negara D-8 harus berkontribusi pada pemulihan ekonomi global. Dengan potensi perdagangan antarnegara anggota yang melebihi USD1,5 triliun, dia yakin D-8 dapat berkontribusi besar dalam pemulihan ekonomi global.

"Fasilitasi perdagangan intranegara D-8 harus didorong, hambatan perdagangan harus diminimalisir, intensifikasi intraperdagangan antarnegara anggota D-8 adalah kunci. Ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Kemudian juga dia mengatakan bahwa D-8 harus mengembangkan teknologi digital. Menurutnya, digitalisasi, artificial intelligence, computing power, big data, dan data analytics telah melahirkan terobosan-terobosan baru. Di sisi lain juga merupakan ekonomi masa depan.

D-8 memiliki potensi yang besar, keunggulan demografi penduduk muda D-8 sekitar 323 juta orang atau sekitar 27,3%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk muda negara G-7 sebesar 135 juta atau sekitar 17,3% dari total populasi.

"Investasi kepada kaum muda adalah investasi untuk masa depan. Untuk itu, inovasi harus terus ditumbuhkan, industri start-up harus terus didorong. Keunggulan D-8 sebagai negara mayoritas muslim harus dimanfaatkan. Pengembangan industri start-up berbasis syariah dapat dikembangkan," paparnya.
 
 
Diterbitkan di Berita