Jakarta, NU Online Rais Syuriyah PCINU Australia-Selandia Baru, Prof Nadirsyah Hosen, mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama dapat dikenal dunia melalui strategi budaya.

Karena belum ada strategi ala Islam yang dapat menjadi gerakan di tingkat global, ia mendorong strategi budaya NU sebagai pilihannya. Hal ini disampaikan Gus Nadir dalam halaqah internasional bertema Penguatan Gerakan Jami’iyah Menghadapi Tantangan Masyarakat Global.

Acara yang disiarkan langsung secara virtual itu digelar pada Senin (24/8). “Karena belum ada strategi yang dapat menjadi gerakan di tingkat global, maka harus ada gerakan lainnya yang NU bisa berperan lebih, yaitu melalui gerakan strategi budaya,” kata Gus Nadir.

Melalui budaya, lanjut Gus Nadir, dapat lebih langgeng dan diterima tanpa harus ada pertarungan. “Kalau sudah berbicara strategi politik kekuasaan, ekonomi, itu pasti akan banyak lawannya. Oleh karena itu, kita harus masuk lewat budaya,” ungkapnya.

Menurut Gus Nadir, dunia sekarang ini mulai berbalik kepada Nahdlatul Ulama sehingga membutuhkan peran serta keterlibatan NU secara global.

“Karena ada dua gerakan selain politik, yakni gerakan dengan strategi ekonomi yang sekarang muncul lewat adanya ekonomi syariah, bank Islam di mana-mana dan sertifikasi halal,” ungkapnya.

Namun, lanjut dia, gerakan ekonomi melalui bank Islam dan sertifikasi halal tidak bisa NU ikuti begitu saja. “Harus ada gerakan strategi yang lain yaitu budaya,” tandas Gus Nadir. Mengakomodasi budaya lokal  

Putra tokoh NU KH Ibrahim Hosen ini juga mengungkapkan permasalahan yang dihadapi bahwa NU sangat mengakomodasi budaya lokal, sehingga ketika masuk di era digital justru menjadi tantangan tersendiri. 

“Bagaimana budaya lokal dapat dimedsoskan, itu yang terpenting. Contohnya di YouTube pengajian-pengajian yang terkenal bukan dari kiai NU, karena banyak masyarakat kesusahan mengikuti pengajian dari kiai NU yang berbahasa Jawa,” terangnya.

Gus Nadir menambahkan, permasalahan lain yaitu hasil dari bahtsul masail NU yang tidak dibaca oleh ulama-ulama di luar negeri seperti Al-Azhar Mesir, di Saudi Arabia dan lainnya.

“Sehingga tidak menjadi rujukan di sana, padahal isinya luar biasa. Ini menjadi tantangan kita untuk menggunakan strategi budaya, misalnya dengan membuat film,” tutur Gus Nadir.

Gus Nadir berkeyakinan bahwa jika bisa membuat film tentang hal ini, misalnya, maka NU dan budayanya akan dikenal dunia internasional.

“Untuk mentransformasikan pemahaman Islam moderat ala NU ke luar negeri kita tidak punya kaki, tidak punya senjata, dan tidak punya uang, maka kita harus melakukan strategi budaya,” tegasnya.

“Saya yakin dan percaya bahwa NU memiliki kapasitas dan kualitas kader-kader yang ahli dalam bidang strategi budaya,” pungkas Gus Nadir.

Kontributor: Afina Izzati Editor: Musthofa Asrori


Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TV Merespons janji Taliban, akademisi Indonesia yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Monash, Australia, Profesor Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menyatakan tidak ada yang bisa memutuskan bahwa kelompok Taliban sudah berubah.

Gus Nadir menjelaskan hal tersebut berdasar pada tidak adanya literatur atau kitab yang telah mereka tulis untuk dibaca, sehingga bisa dijadikan rujukan  untuk memutuskan bahwa mereka benar sudah berubah.

"Kita tidak bisa melihat bahwa taliban itu sama dengan yang dulu karena memang tidak ada literatur yang mereka tulis," kata Gus Nadir dalam program "Rosi", dikutip Jumat (20/8/2021).

Lebih lanjut, tokoh Nahdlatul Ulama ini juga menyebut bahwa Taliban adalah fighter atau pejuang, sehingga mereka tidak punya kitab tafsir atau karya yang bisa dibaca.

"Mereka itu fighter, mereka tidak punya kitab tafsir tidak punya karya-karya tulis yang bisa kita baca untuk menjustifikasi bahwa mereka sudah berubah," lanjutnya.

Diketahui sebelumnya, Juru bicara Zabihullah Mujahid pada Selasa (17/8/2021) mengatakan, janji Taliban yang pertama adalah menghormati hak-hak perempuan, sehingga boleh bekerja dan belajar.

Namun, ia menekankan, hak-hak perempuan Afghanistan dapat dilakukan dengan batas-batas syariah islam.

Tak hanya itu, kedua, Taliban juga berjanji memberi ampunan untuk semua. Artinya, Taliban akan memaafkan semua orang yang melawan mereka, termasuk pejabat pemerintah, polisi, dan angkatan bersenjata.

Ketiga, Taliban berjanji akan memastikan keamanan terhadap pemerintah dan organisasi asing, termasuk kedutaan besar, kantor, dan para pegawainya.

Keempat, Taliban berjanji Afghanistan tidak dipakai untuk melawan negara lain. Mereka berjanji akan menghormati komitmen itu, meyakinkan bahwa negara-negara lain tidak akan menghadapi ancaman.

Kelima, Taliban berjanji tidak ada lagi transaksi narkoba. Terlebih hingga kini, Afghansitan masih dikenal sebagai salah satu pusat dunia untuk produksi dan perdagangan obat-obatan terlarang seperti heroin.

Dari seluruh janji yang disebutkan banyak kalangan yang meragukan, lantaran rekam jejak Taliban di masa silam yang justru mengkhawatirkan, terutama dari sisi kemanusiaan yang telah terjadi pada kurun waktu 1996 hingga 2001.

Menurut Gus Nadir, sejauh ini yang diketahui hanyalah kisah tentang Taliban atau kisah orang-orang yang berhubungan dengan Taliban.

"Kita tidak punya literatur yang ditulis oleh orang orang taliban tentang keislaman, tentang tafsir, tentang fikih," pungkasnya.

Penulis : Nurul Fitriana | Editor : Iman Firdaus

Diterbitkan di Berita

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kementerian Pengajian Tinggi (Kementerian Pendidikan Tinggi) Malaysia menyetujui pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) yang diajukan oleh Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.

Persetujuan pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia ditandatangani oleh Ketua Pendaftar Institusi Pendidikan Tinggi Swasta Malaysia pada 5 Agustus 2021.

Kabar tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ma’mun Murod melalui akun Twitter @mamunmurod_.

Ma’mun Murod mengunggah foto dokumen resmi pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia. “Resmi sudah berdiri Universiti Muhammadiyah Malaysia. Tanpa lelah menebar maslahat,” tulis Ma’mun, Rabu (11/8).

Dokumen serupa dibagikan oleh pakar media sosial yang juga pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, melalui akun twitternya. “UMAM, Universitas Muhammadiyah Malaysia. Tahniah!,” tulis Ismail Fahmi.

Tokoh Nahdlatul Ulama, KH Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir, mengomentari cuitan Ismail Fahmi dengan candaan.

Ra’is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan Selandia Baru itu menyampaikan ucapan selamat atas pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia.

“Kalau NU sudah lama bikin kampus di luar negeri. Australia = ANU dan di Singapore = NUS,” canda Gus Nadir melalui akun Twitter @na_dirs, Rabu (11/8).

“Buat apa banyak-banyak bikin kampus kalau cuma ranking bawah dunia. 2 kampus NU di atas selalu ranking top. Begitu Mas Bro @ismailfahmi,” tambah Gus Nadir.

 

 

Kampus ANU yang dimaksud Gus Nadir adalah Australian National University (ANU). Universitas ini terletak di Canberra, ibu kota Australia.

Dikutip dari wikipedia, ANU yang memiliki tujuh fakultas utama dan beberapa institut yang lain dianggap sebagai salah satu universitas terbaik di dunia.

ANU diberi peringkat ke-23 dari 200 universitas terbaik di dunia oleh Times Higher Education Supplement.

Selain itu, ANU juga menduduki peringkat 10 untuk kesenian dan ilmu kemanusiaan (humanities).

ANU didirikan pada tahun 1946 oleh Parlemen Australia. Awalnya universitas ini hanya dibuka untuk mereka yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan S2.

Barulah pada tahun 1960 universitas ini melakukan pengembangan secara fisik dan membuka pendaftaran untuk jenjang pendidikan S1. ANU juga merupakan bagian dari group of eight.

Sementara NUS adalah National University of Singapore atau Universitas Nasional Singapura.

NUS terletak di Kent Ridge, barat daya Singapura. Universitas ini memiliki kampus seluas 1,5 km² dan merupakan universitas terbesar di Singapura berdasarkan jumlah mahasiswa dan program yang ditawarkan.

Pada tahun 2000, majalah AsiaWeek (kini tidak terbit lagi) menobatkan NUS sebagai salah satu universitas terbaik di Asia. Kini, NUS telah berusia 116 tahun. (one/pojoksatu)

Diterbitkan di Berita