Jakarta, Dakwah NU Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendatangi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta Pusat setelah ramai polemik hilangnya nama pendiri NU, Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari dari Kamus Sejarah Indonesia.

Nadiem tiba di kantor pusat PBNU pada pukul 14.37 WIB. Saat memasuki wilayah kantor PBNU, Nadiem tidak banyak bicara.

Dia langsung masuk ke ruang pertemuan yang berada di lantai tiga, 15 menit berselang, hadir pula dalam pertemuan ini Putri KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid.

Pertemuan berlangsung tertutup. Awak media tak bisa mengikuti kegiatan Nadiem di dalam ruangan bersama sejumlah petinggi PBNU. Sebelum kedatangan Nadiem, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid telah masuk lebih dulu.

Hilmar tiba 10 menit lebih awal dari Nadiem. Sama dengan Nadiem, Hilmar juga tak melontarkan kalimat apapun kepada awak media.

Kemendikbud tengah disorot mengenai Kamus Sejarah Republik Indonesia. Kamus tersebut menuai polemik akibat tidak memuat perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Sejatinya berbagai upaya pelurusan isu itu telah ditempuh Kemendikbud. Namun nampaknya Nadiem ingin meluruskannya secara langsung kepada pejabat PBNU.

“Infonya gitu (Mas Menteri ada agenda sowan ke PBNU). Kayaknya iya, (meluruskan soal kamus itu),” kata Ketua LP Ma’arif NU, Arifin Junaidi kepada wartawan, Kamis (22/4).

Penarikan kamus itu pun sebenarnya sudah dilakukan oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Baik versi cetaknya maupun digital yang sudah sempat diunggah di laman Kemendikbud.

“Saya sampaikan bukunya sudah ditarik, dan yang di website sudah diturunkan,” kata Hilmar dalam Bincang Pendidikan Kemendikbud, Selasa, 20 April 2021.

Sebelumnya, NU memprotes Nadiem karena nama KH Hasyim Asy’ari hilang dari Kamus Sejarah Indonesia Jilid I Nation Formation (1900-1950) yang ada di website rumahbelajar.id.

Kekecewaan NU semakin memuncak karena bertepatan dengan peringatan hari wafatnya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari yang wafat pada 7 Ramadhan 1366 hijriah.

Di sisi lain, NU juga menyoroti nama Gubernur Belanda HJ Van Mook dan tokoh komunis pertama di Asia Henk Sneevliet justru dimasukkan dalam kamus sejarah RI.

Nadiem sendiri sudah membantah hal tersebut dengan menyebut kamus tersebut masih berbentuk draf dan belum diterbitkan secara resmi oleh Kemendikbud.

Namun dia mengaku salah karena sudah mengunggah kamus tersebut dalam website rumahbelajar.id yang bisa diakses publik seakan kamus sejarah tersebut sudah resmi.

“Saya perintahkan langsung tim Kemendikbud untuk melakukan penyempurnaan kamus yang sempat terhenti dilanjutkan dengan lebih cermat secara teknis dan lebih mewadahi masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk NU,” kata Nadiem.

Mantan Bos Gojek itu menegaskan Kemendikbud sama sekali tidak dengan sengaja menghilangkan nama KH Hasyim Asyari dari catatan sejarah. (fqh)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Nama Wali Kota Pariaman, Sumatera Barat, Genius Umar, baru-baru ini menjadi sorotan setelah dirinya menolak surat keputusan bersama (SKB) 3 Menteri tentang penggunaan seragam sekolah.

Genius Umar sendiri merupakan Wali Kota Pariaman periode 2018-2023. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pariaman pada periode 2013-2018. 

Saat ini, pria kelahiran Pariaman 24 Juli 1972  ini pun menjabat sebagai Co-President Tourism Promotion Organization Korea.

Genius juga tercatat pernah berkarier di sejumlah instansi pemerintahan, salah satunya sebagai Kasubag Kerja Sama Antar Lembaga Parlemen, Setjen Hubungan Luar Negeri DPD RI pada 2009-2010. 

Ia juga tercatat merampungkan S3 di Institut Pertanian Bogor. Dalam Pilkada 2020, Genius menjadi calon Wakil Gubernur mendampingi Fakhrizal. Pasangan ini diusung oleh Nasdem, Golkar, dan PKB. 

Saat mendaftar sebagai pasangan calon, mereka diantar ratusan pendukungnya ke KPU Sumatera Barat yang melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Dalam segi pendidikan Genius merampungkan studi di Sekolah Dasar No 2 Pauh Pariaman, tahun 1985, lalu Sekolah Menengah Pertama No 4 Pariaman, tahun 1988, dan Sekolah menengah Atas No 2 Pariaman, tahun 1991. Dia lalu lanjut Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri pada 1994.

Selain itu, Genius juga mengenyam Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta, Sarjana Jurusan Manajemen Pembangunan Daerah, tahun 1997. Dia menyelesaikan S2 Jurusan Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada, Magister Kebijakan Publik pada. Sementara untuk program Doktor, dia menyelesaikannya di Institut Pertanian Bogor, program Manajemen dan Kebijakan Pengelolaan SDA dan Lingkungan.

Sebelumnya, Genius Umar mengatakan tak pernah ada kasus penolakan pemakaian seragam sekolah yang identik dengan agama Islam di kotanya. Dia menyatakan aturan berpakaian di sekolah yang telah ada di Pariaman tak akan diubah.

Genius berencana menyurati Nadiem untuk membicarakan aturan berpakaian di sekolah di daerahnya. Dia menegaskan siswa-siswi di Pariaman tak pernah dipaksa menggunakan seragam yang identik dengan agama tertentu. Meski demikian, katanya, para pelajar menggunakan seragam yang identik dengan Islam karena mayoritas penduduk di Pariaman adalah pemeluk Islam.

Diterbitkan di Berita