suaraislam.co Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta, Gus Miftah mendapat tudingan kafir dan sesat lantaran berceramah di gereja.

Tudingan tersebut kemudian diklarifikasi Gus Miftah saat diundang Rosi di KompasTV. “Lalu kemudian ada yang bilang Gus Miftah kafir karena masuk gereja, silakan saja nggak masalah.

Saya meyakini kok InsyaAllah iman saya masih utuh dan (tudingan) itu tidak akan meruntuhkan keimanan saya,” kata Gus Miftah menjawab pertanyaan Pemimpin Redaksi KompasTV Rosianna Silalahi dalam tayangan Rosi.

Banyak tokoh yang memberikan komentar terhadap tudingan tersebut, salah satunya adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijogo, Prof. Muhammad Machasin.

Dalam unggahan di akun FBnya, Machasin merasa bingung karena sekarang orang banyak menaruh curiga kepada agama lain, bahkan mempermasalahkan orang yang pidato atau ceramah di gereja.

Berikut tulisan Muhammad Machasin yang diunggah di akun Facebooknya:

“Perjanjian Nabi dengan Nasrani Najran”

Siang ini khatib di mesjid kami berbicara tentang zalim. Di antara yang dikatakannya adalah zalim kepada sesama. Lalu dia singgung penceramah dai kondang di gereja, yang sekarang beritanya sedang viral. Dia katakan bahwa ceramahnya itu zalim kepada sesama muslim karena membuat bingung.

Kebetulan menjelang berangkat ke mesjid kubaca status mbak Listia Suprobo yang mengunggah pengajian Prof. H. Quraisy Syihab tentang hubungan Muslim-Kristen. Beliau sebut perjanjian Najran. Maka sepulang dari mesjid kucari teks perjanjian itu. Ketemu di dalam kitab Tārīkh al-Madīnah, tulisan ‘Umar Ibn Syaibah (w. 262 H).

Di situ disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdamai dengan penduduk Najran dan menulis surat perjanjian kepada mereka untuk mendapatkan perlindungan sebagai ganti pembayaran “semacam” pajak. “Bagi Najran dan kehormatan mereka perlindungan Allah dan jaminan Rasul atas jiwa mereka, tanah, harta, keluarga yang hadir dan yang tidak hadir, keluarga besar serta pengikut mereka; kebiasaan mereka tak akan diganti, hak-hak mereka tak akan diambil, tidak pula agama mereka. Uskup tak akan dicopot dari keuskupannya, rahib dari kerahibannya, penjaga biara dari jabatannya dan semua yang ada dalam kekuasaan mereka, sedikit atau banyak.”

Kok lalu sekarang jadi banyak yang bersikap curiga kepada orang beragama lain? Cuma pidato di gereja saja dipermasalahkan. Pripun niku?
Bingung aku.

Diterbitkan di Berita