alinea.id Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti meminta, semua pihak mengantisipasi masuknya paham radikalisme hingga terorisme yang menyasar generasi milenial.

Menurutnya, pelajaran agama bisa menjadi penyaring untuk meredam penyebaran paham-paham tersebut.

La Nyalla menyampaikan ini untuk menanggapi penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Dari penelitian disebutkan, potensi radikalisme paling berbahaya masuk melalui dunia digital maupun media sosial (medsos).

Musababnya, medsos mudah dijangkau warga khususnya anak-anak hingga remaja.

FKPT Kalsel menyatakan, potensi paham-paham tersebut dilihat dari dimensi pemahaman sebesar 6,1%, dimensi sikap sebanyak 23,7% dan dimensi tindakan sebanyak 1,3%. Artinya, jumlah masyarakat yang tidak mengerti terhadap paham-paham itu, atau sekedar ikut saja, cukup tinggi.

"Konten-konten yang memuat teror dan ujaran kebencian sangat banyak tersebar di media sosial dan memiliki potensi yang signifikan terhadap paham-paham radikalisme dan terorisme. Ini harus menjadi perhatian serius," kata La Nyalla kepada wartawan, Rabu (30/6).

Dari penelitian FKPT juga disebutkan, indeks potensi radikalisme cenderung ada pada kalangan gen Z, dan mereka yang aktif di internet dan sosial media. Hasil penelitian yang menyebut 86% generasi Z menerima informasi keagamaan dari internet. 

"Maka upaya penangkalan harus dilakukan secara serius dan sedini mungkin. Jadi sangat tepat penangkalan potensi teroris melalui pemahaman pembelajaran agama di sekolah," ujar La Nyalla.

Senator asal Jawa Timur ini menambahkan, mayoritas masyarakat dengan literasi rendah menerima informasi begitu saja tanpa mencari informasi pembanding. Minimnya literasi  juga berpotensi memicu provokasi seperti penistaan agama dan ujaran kebencian.

"Anak-anak senang menonton Youtube dan mengakses informasi melalui kanal media sosial. Hal ini yang harus dikhawatirkan. Karena, anak-anak bisa terpapar konten yang berisi ajakan teror.

Tentu hal itu mempengaruhi pikiran dan tindakan mereka, maka perlu penyeimbang informasi agar anak tidak langsung menyerap informasi yang mereka dapat secara mentah-mentah," bebernya.

 

La Nyalla mengatakan, sekolah memiliki peran penting yang dapat memberikan informasi mengenai pembelajaran agama agar tidak keliru. Hal tersebut dapat dilakukan melalui muatan dalam kurikulum pendidikan agama.

"Peran guru agama di sekolah sangat penting memberikan pengarahan untuk menangkal potensi radikalisme kepada generasi penerus bangsa, dengan memberikan bobot materi pembelajaran untuk mengimbangi informasi yang keliru yang tersebar melalui konten-konten media sosial," jelas La Nyalla.

Menurutnya, sekolah bisa bekerja sama dengan instansi-instansi yang bertugas dalam upaya penangkalan radikalisme dan terorisme, seperti Polri, TNI, hingga BNPT.

"Buatlah program berkelanjutan di tingkat sekolah hingga perguruan tinggi sekaligus sebagai upaya tracing untuk menumpas penyebaran paham radikalisme pada generasi Z," ungkap Mantan Ketua Umum PSSI itu.

Diterbitkan di Berita

Suara.comDeputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto menyebut 85 persen generasi milenial Indonesia rentan terpapar radikalisme. Media sosial (medsos) disinyalir menjadi akses bagi penyebaran radikalisme tersebut. 

Presentase tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dikatakannya, faktor mudahnya generasi muda mengakses media sosial, juga menjadi kesempatan bagi penyebar paham radikalisme mencari mangsa.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi virtual yang digelar Persatuan Alumni GMNI bertajuk Pertahanan Negara dan Keamanan Nasional : Strategi, Kebijakan dan Pembangunan Sesuai Karakter Bangsa pada Selasa (15/6/2021). 

"Kecenderungan ini dikuatkan dengan adanya survei dari BNPT terbaru bahwa 85 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme," katanya. 

Dia lantas menilai, kalau hasil survei itu sudah sepatutnya menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih Indonesia tengah menikmati bonus demografi, di mana penduduknya didominasi usia produktif (15-64 tahun) dengan jumlah mencapai 191,08 juta jiwa (70,72 persen). 

Ia mengingatkan agar bonus demografi itu diperhatikan betul agar tidak menghasilkan dampak negatif khususnya bagi anak-anak muda.

"Ini menjadi sebuah pedang bermata dua jika kita tidak pandai menatanya."

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Rektor IPB University Arif Satria mendorong mahasiswanya untuk menjadi petani milenial, dengan menyediakan lahan sebagai kebun percobaan seluas 40 hektare di kawasan Sukamantri, Jawa Barat.

"Lahan tersebut dimanfaatkan sepenuhnya untuk penelitian, magang, produksi dan bisnis. Bisnis ini dalam arti, kita menyediakan lahan untuk calon petani milenial. Upaya ini dilakukan agar mahasiswa IPB University dapat menjadi petani milenial," ujar Arif.

Dirinya mengaku, ada 31 persen mahasiswa baru IPB University yang tertarik menjadi pengusaha, Oleh karena itu, IPB University akan memfasilitasi semua mahasiswanya terutama yang tertarik bisnis di bidang pertanian.

"Bagi mahasiswa yang tertarik berbisnis di bidang pertanian, akan disediakan lahannya, sehingga para mahasiswa dapat belajar di lahan tersebut dari hulu sampai hilir," ujar dia.

Arif berharap, dengan adanya fasilitas tersebut, para mahasiswa dapat menjadi petani milenial yang tangguh setelah lulus.

Sementara, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Sugiyanta menjelaskan Kebun Percobaan IPB Sukamantri dijadikan sebagai kebun buah-buahan dan agrowisata. Komoditas utama yang ditanam meliputi durian, alpukat, lengkeng, dan pisang.

Di samping itu, di sekeliling kebun turut dikembangkan usaha perawatan tanaman hias.

"Kebun IPB Sukamantri ini kami jadikan sebagai teaching industry. Jadi suatu industri yang mendukung atau menjadi wahana untuk pendidikan," ujarnya.

Dengan demikian, Kebun IPB Sukamantri dapat digunakan sebagai tempat magang, penelitian maupun start up. Mahasiswa maupun masyarakat dapat belajar, sehingga ketika sudah siap, dapat berbisnis secara profesional.

Sugianta juga menyebut, di sekeliling kebun turut dikembangkan tanaman hias. Pengembangan tanaman hias ini melibatkan masyarakat setempat.

"Ada 150 pengusaha tanaman hias yang dibina oleh IPB University. Ke depan akan dikembangkan pemuliaan dan perbanyakan tanaman hias," ujar dia.

Pengembangan tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan berbagai macam tanaman hias. Dengan demikian, petani dapat terfasilitasi dan memiliki strain baru yang populer dan memiliki harga yang mahal.


Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tiga perempuan muda Muslim membagikan pengertian mereka soal makna ibadah termasuk 'jihad' dalam konteks yang mereka pahami.

Pada bulan Maret dan April lalu, sejumlah anak muda yang masuk kelompok umur milenial disebut polisi sebagai pihak yang terlibat dalam serangan terorisme di Gereja Katedral Makassar dan rencana penyerangan di Mabes Polri.

Salah satunya Zakiah Aini, 26, yang dilaporkan hendak melakukan aksi teror demi apa yang dia sebut "jihad". Namun, tiga perempuan muda yang diwawancarai BBC tak sependapat dengan pemahaman jihad seperti itu.

Ajeng Satiti Ayuningtyas, 30, misalnya, memilih untuk berjihad dengan membagikan ilmu bagi para anak-anak jalanan.

"Saya sebagai perempuan, terlepas kita ibu atau bukan, kita punya rahim. Saya percaya Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan peradaban, bukan mematikan peradaban. "Itu yang saya yakini, kita bisa melahirkan kebaikan di mana saja," ujarnya.

Jadi Kamtib hingga Satpol PP

Ajeng Satiti Ayuningtyas memahami jihad sebagai cara melakukan kebaikan di jalan Tuhan. "[Jihad] tidak melulu dilekatkan dengan permusuhan, peperangan. Jihad itu tidak berarti pakai pedang dan senjata, tapi bisa pakai ilmu," ujar Ajeng.

Ia memilih untuk berjuang dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan untuk mengembangkan diri, melalui gerakan yang didirikannya Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci- sebelumnya bernama Sekolah Kolong Cikini).

 

sekoci

Menurut Ajeng, jihad bisa dilakukan melalui penyebaran ilmu. JENG AYUNINGTYAS

 

Di sekolah itu dia mencoba membuka mata anak jalanan bahwa mereka pun berhak bercita-cita tinggi. Jika di sekolah formal, anak-anak biasa bercita-cita menjadi dokter, arsitek, atau pilot, di Sekoci, cita-cita anak-anak yang diasuhnya lebih beragam.

"Ada yang mau jadi [petugas] kamtib, satpol PP, ada yang mau jadi kenek bus. Ya nggak bisa disalahkan, karena sehari-hari lekat dengan profesi tersebut.

"Jadi kami berikan perspektif berbeda. Ada berbagai profesi lainnya yang bisa kalian lihat. Harapannya mereka punya daya atau kemampuan untuk mencapai cita-cita itu," ujar Ajeng.

 

sekoci

Salah satu kegiatan Sekoci yakni membuat kubus, balok dan piramida dari karton. SEKOCI

 

Mereka yang diajar di Sekoci kebanyakan anak-anak pekerja informal di Jakarta, seperti pedagang asongan, supir kendaraan umum, hingga pemulung. Anak-anak ini menghabiskan waktu di jalanan, kebanyakan sebagai pengamen.

Meski tidak kalah pintarnya dengan anak-anak lain, mereka yang besar di jalanan seringkali tak bisa mencapai cita-cita yang tinggi karena sejumlah hal, salah satunya karena putus sekolah, kata Ajeng.

 

Sekoci

Kegiatan belajar mengajar Sekoci sebelum pandemi. SEKOCI

 

Salah satu anak didik Sekoci, misalnya, yang akan diikutkan olimpiade matematika di sekolahnya, tiba-tiba putus sekolah tanpa alasan jelas. "Kami sampai datangi sekolahnya. Ini anak kemana? Sekolahnya malah mau mengeluarkan anak ini. Kami cari anak itu kemana-mana," ujar Ajeng.

Baru belakangan, ia tahu anak seorang pengemudi bajaj itu dibawa oleh ibunya ke kota lain secara tiba-tiba. Alhasil, fasilitas pendidikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diterimanya putus. "Putus lagi sekolah… Ini seperti rantai yang tak putus," kata Ajeng.

 

sekoci

Selama pandemi, kegiatan Sekoci dilakukan secara jarak jauh. SEKOCI

 

Kini, anak itu telah kembali bersekolah, tapi Ajeng masih berupaya mengaktifkan kembali KJP anak itu. Ia juga berupaya membantu anak-anak putus sekolah lainnya mengikuti program kejar paket.

Sekoci, yang menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti membaca, menghitung, hingga bermain, didirikan Ajeng di tahun 2015. Sebagian besar dari anak didik Sekoci menjalani sekolah formal, sehingga kegiatan Sekoci diperuntukkan untuk melengkapi pendidikan anak-anak tersebut.

Gerakan itu juga memberi penekanan khusus pada perilaku, mengingat jalanan bukan tempat yang ramah anak. Ajeng bercerita Sekoci didirikannya karena ia merasa resah dengan apa yang didengarnya tentang anak jalanan.

 

Sekoci

Kegiatan membaca puisi yang diadakan sebelum pandemi Covid-19. SEKOCI

 

Ibunya dulu tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat yang kerap menyaksikan bagaimana anak jalanan terlibat kekerasan dan narkoba. Saudaranya sendiri pernah mengalami perlakuan kasar dari anak jalanan.

Atas dasar itu, ia memutuskan bergerak untuk menjangkau dan mengedukasi anak-anak jalanan. Di masa pandemi Covid-19, anak-anak itu menghadapi tantangan lebih berat karena Pembelajaran Jarak Jauh, khususnya yang orang tuanya tak memiliki ponsel.

Namun, meski sulit, belajar jarak jauh tetap dilakukan.

 

Sekoci

Kegiatan Sekoci sudah meluas ke pendidikan orang tua anak-anak yang besar di jalanan. SEKOCI

 

Kini, kegiatan Sekoci pun sudah diperluas ke pendidikan pengasuhan anak, atau parenting, yang diberikan kepada sejumlah pekerja informal di Jakarta, seperti tukang sapu, penjaga keamanan, hingga para pengamen.

Ajeng mengatakan meski penuh tantangan, ia yakin apa yang diperbuatnya adalah salah satu wujud ibadahnya.

"Di agama diajarkan berbuat baik nggak usah jauh-jauh, yang deket-dekat ini sudah ibadah," pungkasnya.

'Gigi bengkak bukan kutukan'

Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah perjuangan untuk melayani sesama. "Kita bisa berjuang sesuai kemampuan kita atas keilmuan dan kesempatan yang kita miliki, untuk dimanfaakan sebaik-baiknya untuk masyarakat.

"Untuk kebermanfaatan seluas-luasnya agar bisa menjadi amal jariyah kita," ujarnya. Sebagai dokter gigi, yang dilakukannya adalah mengupayakan kesehatan gigi masyarakat melalui program yang dibentuknya sejak kuliah, Dentist Day Out.

 

drg

Gracety Shabrina mendirikan Dentist Day Out saat ia masih berkuliah. GRACETY SHABRINA

 

Melalui program itu, dia telah bepergian ke sejumlah daerah pelosok di Indonesia untuk memberi penyuluhan terkait kesehatan gigi warga, juga pemeriksaan gigi warga secara gratis.

Salah satunya adalah ke Baduy Dalam, Provinsi Banten, yang warganya menyikat gigi dengan sabut kelapa. Yang mengejutkan, kata Grace, gigi mereka sangat baik.

Hanya, saja, katanya, ada beberapa warga yang giginya bengkak karena cara menyikat gigi yang tak benar.

 

drg

Dalam sejumlah kegiatan yang dilakukan Dentist Day Out, warga diberikan pemeriksaan gigi gratis. DENTIST DAY OUT

 

Di daerah itu pula gigi bengkak dipercayai merupakan sebuah kutukan, hal yang kemudian diluruskannya kepada warga.

"Kami tidak melakukan interfensi agar mereka menggunakan sikat gigi seperti yang kita lakukan karena ada adat yang melarang mereka untuk menggunakan hal-hal modern.

"Sehingga kami melakukan pendekatan, tidak masalah mereka gunakan sabut kelapa, tapi dengan teknik dan cara yang benar," ujarnya.

Di lain waktu, Grace dan kawan-kawannya menyambangi pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), ke sebuah desa yang mayoritas beragama Kristen.

 

drg

Gigi warga yang difoto dalam kunjungan Dentist Day Out ke kawasan Ijen tahun 2016. GRACETY SHABRINA

 

Lulusan pesantren Santri Siap Guna Daarut Tauhiid, Bandung, Jawa Barat, ini mengatakan, ia tergerak untuk membuat gerakan itu setelah menyambangi Karimun Jawa di tahun 2012.

Di situ dia melihat sulitnya warga untuk mendapat pelayanan gigi. Bahkan, ada warga yang harus menyewa kapal ke Jepara untuk menuju fasilitas kesehatan.

Saat ini, di tengah pandemi, meski tidak seaktif dahulu menyambangi daerah-daerah terpencil, kegiatan penyuluhan tetap dilakukan Dentist Day Out, baik secara online, maupun offline.

Sejumlah anggota gerakan itu pun masih mengabdi di daerah terpencil di Maluku maupun Kalimantan.

 

gigi

Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah upaya berguna bagi sesama. DENTIST DAY OUT

 

Ia merasa apa yang dilakukannya kepada pasiennya adalah wujud ibadah dan caranya melaksanakan sumpah dokter. "Semua orang sama, pasien kita juga. Mau di kota, di desa, yang kaya yang miskin, Islam, Hindu, Kristiani tetap pasien kita juga ada di sumpah dokter kita.

"Kalau di agama di bahasnya muamalah jadi dibolehkan, disarankan malah," ujarnya.

'Tak mengganggu orang lain'

Bagi Nadia Rahmawati, 17, jihad seharusnya tidak mengganggu orang lain.

 

Nadia

Sebelum belajar agama secara mendalam, Nadia menganggap agama lain adalah musuh. NADIA RAHMAWATI

 

Sebelum dididik di Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, Jawa Tengah, Nadia memandang agama lain sebagai musuh.

"Sebelumnya, saya beranggapan bahwa agama saya yang paling benar dan seharusnya yang disembah adalah Allah, bukan batu, matahari, atau lainnya," ujarnya.

 

gereja

Bagi Nadia, masuk ke rumah ibadah lain terasa sebagai "masuk ke rumah saudara". NADIA RAHMAWATI

 

Namun, setelah mendalami ilmu agama, pandangannya berubah. "Pengurus pondok saya membekali santri-santrinya bahwa meski kita berbeda dalam kegamaan, tapi kita bersaudara. Berbuat baik tidak memandang agamanya apa," ujar Nadia.

Di pesantren itu juga Nadia mengikuti kegiatan kunjungan ke gereja dan tempat pendidikan pastor.

 

pondok damai

"Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," kata Nadia. NADIA RAHMAWATI

 

Di tahun 2019, dia bahkan pernah membacakan sebuah puisi di dalam gereja, tak lama setelah peristiwa pengeboman gereja di Sri Lanka. Saat itu, dia sudah tak merasa risih sama sekali masuk ke rumah ibadah agama lain.

"Rasanya seperti masuk ke rumah saudara," ujarnya. Nadia, yang sempat mengikuti kegiatan lintas agama- Pondok Damai 2021- mengatakan ia kini terus berupaya membagikan pemahamannya soal keberagaman pada junior-juniornya.

Baginya jihad adalah sesuatu yang tidak menyakiti orang lain, apalagi melakukan tindakan-tindakan yang disebut radikal.

"Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," katanya.

Perempuan, milenilal, gen Z sebagai sasaran

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 mengungkapkan bahwa perempuan lebih berpotensi terpapar paham radikalisme dibandingkan laki-laki. Selain itu, kelompok umur milenial dan gen Z juga disebut berpotensi besar terpapar.

Abdul Qodir, pengasuh Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, yang aktif mengadakan kegiatan keberagaman bagi para santrinya, mengatakan untuk mencegah radikalisme, anak-anak muda perlu diberi pemahaman soal makna jihad.

"Jihad bukan mati di jalan Tuhan, tapi hidup di Jalan Tuhan, itu justru lebih sulit.

"Remaja perlu diedukasi untuk mengakses pengetahuan keagamaan dan informasi dari ustad-ustad yang santun, tinggalkan ustad-ustad yg mengajarkan kebencian. Intinya, jangan salah pilih guru ngaji," ujarnya.

Pesantren yang diurusnya sempat viral di tahun 2019 karena turut menyambut jemaat dalam Misa Natal di Semarang dengan bermain rebana.

Diterbitkan di Berita

Harakatuna.com. Jakarta – Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), paparkan aktor radikalisme. Antonius Benny Susetyo menyoroti kegaduhan yang terjadi di media sosial, mayoritas berkaitan dengan kalangan milinial.

Benny menduga, generasi muda atau milenial mudah sekali terjebak untuk melakukan tindakan negatif di media sosial. Pihaknya mengatakan, generasi muda seringkali melakukan tindakan bermotif kebencian. Perbuatan kebencian seperti menyebar berita hoaks, isu ARA dan indakan radikalisme selalu berkaitan dengan anak muda.

“Gerakan Terorisme seperti terbukti pada kasus terorisme di Katedral Makassar dan Mabes Polri yang para pelakunya berusia relatif muda, di bawah 30 tahun dan meeupakan generasi muda/milenial,” jelas Benny kepada MerahPutih.com di Jakarta, Jumat (23/4)

Benny menjelaskan, sekarang ini generasi muda justru terjebak dalam tindakan memecah belah, merundung dan membenci dengan dalih demokrasi dan kebebasan berekspresi. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Rohaniawan Katolik ini menuturkan, tujuan demokrasi sendiri adalah win win solution. Demokrasi pada prinsipnya akan menjadi solusi atas permasalahan bangsa. Hampir semua masalah dapat terselesaikan melalui musyawarah dan gotong royong.

Pihaknya menjelaskan, bahwa radikalisme dan permasalahan lain juga bisa kita atasi dengan prinsip Pancasila. “Sehingga tidak ada pihak yang merasa terlalu untung atau terlalu rugi dengan musyawarah,” jelas Benny.

Tentunya sejalan dengan nilai Pancasila yaitu gotong royong dimana hak dan kewajiban ada dalam satu nafas.

“Kaum Muda harus dapat menjadi penjaga keseimbangan dan nalar demokrasi dalam Masyarakat dengan menerapkan nilai nilai Pancasila,” tuturnya.

Pemuda harus mampu menjadi intelektual organik yang tidak hanya menjadi penyeimbang saja.

“Tetapi penyumbang ide yang dapat meningkatkan kesadaran dan nalar demokrasi masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Diterbitkan di Berita

Marselinus Gual alinea.id -- Suara letusan senjata membuat Hendi terperanjat saat tengah mengeluarkan mobil milik seorang personel polisi wanita di area Gedung Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore itu. Penasaran, ia berlari menuju pagar besi di depan gedung, sumber suara tersebut. 

"Saya ngintip dari pagar, ceweknya (Zakiah Aini) udah terkapar," kata Hendi saat menuturkan kembali peristiwa teror tersebut kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini. 

Menurut Hendi, setidaknya tujuh kali suara tembakan terdengar dari depan gerbang Mabes Polri. "Saya masih sempat melihat percikan apinya. Saya pikir ada latihan tembak," ujar dia.

Saat mengintip ke dalam pos penjagaan, Hendi ditegur salah seorang personel polisi. Ia diinstruksikan untuk menjauh dari lokasi kejadian. Sebelum beranjak, Hendi sempat melirik ke arah Zakiah. 

Tubuh perempuan yang menyerang Polri bersenjatakan airgun itu, kata Hendi, sudah bersimbah darah. "Enggak lihat datangnya, asli. Kayaknya dari (pintu) samping," imbuh tukang parkir yang sudah belasan tahun mangkal di area Mabes Polri itu. 

Beberapa jam setelah peristiwa penyerangan itu, kepolisian merilis identitas Zakiah dalam sebuah konferensi pers di Mabes Polri. Konferensi pers itu dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. 

"Yang bersangkutan (Zakiah) adalah tersangka pelaku lone wolf berideologi radikal ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang dibuktikan dengan postingan yang bersangkutan di sosial media," kata Listyo. 

Lone wolf ialah sebutan bagi pelaku teror yang beraksi sendirian dan tidak bergabung dalam kelompok tertentu. Biasanya, teroris jenis itu teradikalisasi sendiri karena terpapar bacaan-bacaan atau menonton video di internet. 

Zakiah bekas mahasiswi jurusan akutansi di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat. Ia drop out (DO) saat perkuliahan memasuki semester lima. Ketika tewas ditembus timah panas polisi, Zakiah baru berusia 25 tahun. 

Selain lone wolf, Zakiah belakangan dilabeli teroris milenial atau pelaku teror yang lahir pada rentang awal 1980 hingga awal 2000. Sejak satu dekade terakhir, teroris golongan ini rutin jadi pelaku bom bunuh diri alias "pengantin", baik dalam serangan terencana atau yang sporadis. 

Dua hari sebelum Zakiah Aini menyerang Mabes Polri, Lukman bersama sang istri, Dewi, juga mencatatkan diri mereka sebagai pengantin dari kalangan milenial. Ketika meledakkan diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Lukman berusia 26 tahun. 

Setahun sebelumnya, Rofiq Asharudin, ketika itu berusia 23 tahun, juga menggelar aksi bom bunuh diri di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Namun, niat Rofiq jadi pengantin gagal. Bom yang ia bawa berdaya ledak rendah dan tak sampai membunuhnya. 

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan lalu, analis intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta menyebut setidaknya sudah ada tujuh aksi teroris "bergenre" lone wolf di Indonesia. Semua pelakunya berasal dari kalangan milenial. 

Para teroris muda itu, kata Stanislaus, berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) atau simpatisan ISIS. Yang tidak direkrut langsung, biasanya teradikalisasi setelah melihat konten-konten propaganda ISIS yang disebar di jagat maya. 

"Ketika anak-anak muda butuh jati diri, eksistensi, (kemudian) dia melihat konten-konten orang megang senjata AK-47, orang itu nanti diajak kelompoknya. Ketika dia respons, akan ada respons balik dari ISIS. Lalu, mereka diajak gabung ke grup-grup (aplikasi) Telegram," ujar dia. 

Stanislaus menjelaskan, pola rekrutmen JAD dan ISIS berbeda dengan pendahulunya, Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Di JI, hanya laki-laki yang sudah akil baligh atau dianggap dewasa yang diperbolehkan mengikuti jihad.

Di lain sisi, lanjut dia, JAD membolehkan perempuan dan anak-anak ikut jadi anggota. "Makanya, ketika ada teror yang pelakunya anak-anak, itu pelakunya pasti bukan dari JI. Itu pasti kelompok ISIS," jelas Stanislaus. 

Ia memprediksi jumlah teroris milenial bakal terus bertambah. Prediksi itu sejalan dengan data dari badan intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency/CIA) yang menunjukkan setidaknya ada 8.000 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah. 

"Menurut Kementerian Hukum dan HAM, ada 1.200 orang yang berada di kamp-kamp militer. Dalam 20 tahun ke depan, mereka akan memiliki kader-kader militan karena kelompok JAD telah mengirim anak-anak belajar ke Suriah," tutur dia. 

 

Sebuah spanduk berisi imbauan menolak radikalisme dan terorisme terbentang di Jl. Malioboro, Yogyakarta. /Antara Foto

Sebuah spanduk berisi imbauan menolak radikalisme dan terorisme terbentang di Jl. Malioboro, Yogyakarta. /Antara Foto

 

Kaum muda jadi target

Mantan narapidana teroris Sofyan Tsauri mengatakan saat ini kelompok teroris memang cenderung berupaya merekrut kaum muda, baik via pertemuan langsung maupun memanfaatkan media sosial. Kaum muda dipilih karena dianggap masih labil dan mudah diperdaya. 

"Kita bisa lihat dari surat wasiat yang dimiliki Zakiah Aini itu. Isinya, misalnya, jangan ikut pemilu karena pemilu akan melahirkan hukum buatan manusia. Dari situ saja sudah jelas doktrinasi tentang masalah seperti itu sangat kuat. Ini sangat membahayakan dan mengkhawatirkan," kata Sofyan kepada Alinea.id di Jakarta, Sabtu (3/4).

Terlibatnya kaum muda dalam jejaring teror diamini kajian yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT pada 2017. Ketika itu, BNPT menemukan sebanyak 47,3% teroris berusia 21-30 tahun dan sebanyak 11,8% teroris berumur di bawah 21 tahun. Teroris berusia 31-40 tahun sebanyak 29,1% dan sisanya berusia di atas 40 tahun.

Pada Desember 2020, BNPT juga merilis hasil survei bertema potensi radikalisme di kalangan milenial di Indonesia. Hasil survei menunjukkan sebanyak 85% kaum milenial terindikasi rentan terpapar ideologi-ideologi radikal. 

Secara khusus, Sofyan mengatakan kelompok teroris menyasar anak-anak muda yang memiliki persoalan domestik. Muda-mudi bermasalah itu, lanjut dia, bakal mudah terpapar jika bertemu dengan guru ngaji atau pendamping yang radikal. 

"Mereka butuh problem solving (penyelesaian masalah) yang cepat, tapi karena kuatnya doktrin ini, akhirnya mereka malah masuk ke paham-paham yang mengerikan," ujar mantan anggota JAD itu. 

Jika berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, menurut Sofyan, teroris milenial juga cenderung reaksioner. Ia mencontohkan aksi teror Zakiah yang terjadi berselang dua hari setelah bom bunuh diri di Makassar. Aksi itu terlihat tidak direncanakan dengan matang. 

"Aksi pelaku digerakkan oleh ideologi yang sama sehingga kejadian (bom bunuh diri) di Makassar, terjadi di Jakarta. Di Mako Brimob (Kelapa Dua, Depok) ngerembet ke Surabaya. Jadi, ini kayak nular," jelas Sofyan. 

Kasus Mako Brimob yang dimaksud Sofyan ialah peristiwa penyanderaan yang terjadi pada 8 Mei 2018. Ketika itu, sebanyak 156 narapidana kasus terorisme yang ditahan di dalam Rutan Mako Brimob mengamuk dan menyandera sembilan polisi. Pemicunya hal sepele: seorang napi murka lantaran makanan yang dititip keluarganya "raib". Lima polisi tewas dalam aksi penyanderaan tersebut. 

Hanya berselang sepekan, kelompok JAD kemudian melancarkan serangkaian aksi bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya. Pelaku aksi teror termasuk perempuan dan anak-anak. Tito Karnavian, Kapolri ketika itu, menyebut bom Surabaya dipicu kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob.

 

Petugas memborgol tangan terdakwa kasus dugaan serangan teror bom Thamrin dengan terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman seusai menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5). /Antara foto

Petugas memborgol tangan terdakwa kasus dugaan serangan teror bom Thamrin dengan terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman seusai menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5). /Antara foto

 

Perangi takfiri 

Eks narapidana kasus terorisme Mukhtar Khairi menilai salah satu penyebab utama maraknya teroris milenial ialah kemudahan akses internet. Di belantara jagat maya, generasi muda bisa dengan mudah bertemu ajaran-ajaran sesat, termasuk aliran takfiri yang diusung JAD. 

"Mereka mendadak religius, soleh, menjadi pendiam dan menjauhkan diri dari masyarakat dan sering menyalahkan kegiatan-kegiatan atau ibadah yang dilakukan masyarakat sehingga mereka bersikap intoleran seperti itu," kata Mukhtar kepada Alinea.id.

Takfiri adalah sebutan bagi seorang Muslim yang menuduh Muslim lainnya sebagai kafir dan murtad karena tidak menjalankan syariat Islam yang dia anggap benar. Kaum takfiri menganggap agama dan keyakinan mereka paling saleh. 

Mukhtar mengaku sempat dicekoki takfiri oleh pentolan JAD Aman Abdurrahman saat mendekam di LP Cipinang. Menurut Mukhtar, Aman "menghalalkan darah" sesama Muslim yang menolak syariat Islam. Itulah kenapa aksi-aksi teror JAD juga tak hanya menyasar kaum non-Muslim saja.

"Kenapa (orang) murtad? Pertama, alasan mereka (JAD) itu tidak berhukum dengan hukum Allah. Kedua, mereka pelaku demokrasi. Baik masyarakat maupun aparat itu semua jadi korban mereka. Makanya, mereka ini kalau kita perhatikan, bom sana-sini. Enggak peduli dengan darah yang Allah haramkan," tutur Mukhtar. 

Sebelum bertemu Aman, Mukhtar adalah salah satu anggota kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). MMI adalah kelompok teroris yang dibentuk tahun 2000 oleh Abu Bakar Bashir, pemimpin JI. Saat Mukhtar bergabung, MMI dipimpin Dulmatin. 

Bersama sejumlah anggota MMI, Mukhtar tertangkap saat mengikuti pelatihan militer di Gunung Jantho, Aceh pada 2010. Dia divonis delapan tahun penjara. Namun, dia hanya menjalani masa tahanan selama 5 tahun 2 bulan.

 

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

 

Di penjara, menurut Mukhtar, kelompok Dulmatin mulai terpengaruh ajaran takfiri lewat ceramah-ceramah Aman. Selain didoktrin, mereka juga diajari cara merakit senjata dan bom. "Dijelaskan siapa musuh kita, orang-orang kafir macam mana yang boleh diperangi," ujar dia. 

Mukhtar merasa ajaran takfiri yang diusung Aman tak sesuai dengan jalan jihad yang dulu sempat ia yakini. Ia pun memilih menjauhi kelompok Aman dan bekas rekan-rekannya di MMI. 

"Saya salah masuk. Masuk ke kelompok yang ekstrem yang menjadikan agama ini, seperti apa ya, seperti seakan-akan agama yang keras. Agama yang membolehkan pertumpahan darah," kata dia. 

Berbasis pengalamannya sebagai mantan teroris dan pertemuannya dengan tokoh JAD, Mukhtar mengatakan, perlu ada kontra wacana terhadap ajaran takfiri. Dalam hal ini, pemerintah perlu melibatkan semua pihak, termasuk kaum ulama. 

"Tugas mereka adalah membongkar cara mereka (kelompok teroris). Contohnya, ya, biasanya mereka berkutat dengan ayat-ayat hukum. Perlu dibongkar habis, dipaparkan secara jelas dan gamblang bagaimana penafsiran tentang ayat-ayat hukum itu sendiri," kata dia. 

Diterbitkan di Berita

Aan Haryono sindonews.com SURABAYA - Aksi terorisme di Indonesia kini menyasar kelompok milenial. Usianya lebih mudah dan ruang digital sebagai pasar potensial untuk perekrutan dan penyebaran.

Beberapa waktu lalu publik sempat dihebohkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Gerbang Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri. Mereka juga sama-sama meninggalkan surat wasiat.

Kesamaan isi dari surat wasiat yang ditinggalkan memicu kecurigaan publik bahwa para pelaku saling memiliki keterkaitan satu sama lain.

Setelah dilakukan investigasi ditemukan fakta bahwa pelaku bom bunuh diri di Gerbang Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri merupakan usia produktif.

L pelaku bom bunuh diri merupakan laki-laki berusia 26 tahun sedangkan ZA yang merupakan pelaku penyerangan Mabes Polri perempuan berusia 25 tahun.

Masih termasuk dalam rentang usia produktif, menimbulkan hipotesis di kalangan masyarakat bahwa usia produktif lebih mudah terpapar oleh ideologi kekerasan dan radikalisme.

Psikolog yang juga Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Ilham Nur Alfian menuturkan, doktrin ideologi kekerasan dan radikalisme tidak ada konotasinya dengan masyarakat usia produktif.

"Saat ini konteksnya adalah model doktrinasi ideologi kekerasan dan radikalisme tersebut dilakukan dengan media-media sosial," kata Ilham, Kamis (8/4/2021).

Ia melanjutkan, terorisme modern menyasar pada propaganda virtual dengan bantuan media untuk melipat gandakan teror dan pelaku teror di suatu negara, termasuk Indonesia.

"Serangan teroris modern mengalami penurunan dalam hal kualitas namun meningkat dalam hal popularitas," ucapnya.

Koordinator Bidang Kuliah Bersama Pusat Pendidikan Kebangsaan, Karakter dan Inter Profesional Education (PPK2IPE) ini menambahkan, aktivitas masyarakat usia produktif yang gemar berselancar di media sosial menjadi alasan bahwa mereka mudah terpapar oleh ideologi kekerasan dan terorisme.

"Dalam konteks penggunaan propaganda virtual inilah kelompok milenial atau yang saat ini masuk usia produktif pasti sangat berisiko dan renran menerima doktrin tersebut (Kekerasan dan terorisme, red) karena aktivitas mereka memang berselancar di media sosial," ungkapnya.

Masyarakat yang terpapar oleh propaganda virtual cenderung melancarkan pola serangan terorisme yang bersifat "Lone Wolf". Mereka cenderung melakukan aksinya dengan skala kecil dan acak. "Disinilah bahayanya, serangan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja," kata Ilham.

Karakteristik seorang teroris secara psikologis juga sulit untuk diidentifikasi. "Agak sulit memang mengidentifikasi karakteristik psikologis apa yang secara khusus bisa mengidentifikasi kecenderungan orang-orang yang akan melakukan tindakan terorisme," sambungnya.

Ilham membeberkan, untuk mencegah agar masyarakat tidak mudah terpapar ideologi kekerasan dan terorisme maka harus berhati-hati dalam menerima segala informasi. "Yang jelas critical thinking dalam situasi banjir informasi di media sosial menjadi penting," katanya.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, REQnews - Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut, bahwa paham terorisme masuk ke kalangan milenial yang cenderung introvert dan suka menyendiri.

"Ini (paham terorisme) memang rata-rata masuk ke anak-anak yang cenderung introvert, menyendiri, dan menelan mentah," ujar Juru Bicara BIN, Wawan Hari Purwanto dalam diskusi Polemik secara virtual, Sabtu 3 April 2021.

Menurutnya, kalangan anak muda yang terpapar terorisme akan cenderung menjauh dari orang-orang di sekitarnya. Serta, menganggap pihak-pihak yang tak sejalan dengan pemikirannya sebagai musuh.

"Orang yang udah terpengaruh cenderung menjauh, yang nggak sejalan dianggap musuh," ujar Wawan. Hal yang serupa juga disampaikan oleh Kasubdit Napi Deradikalisasi badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Sigit Karyadi pada tahun 2017 lalu.

Ia mengatakan bahwa salah satunya cenderung lebih menyendiri dan tidak terlalu pandai sehingga mudah diajak menjadi teroris.

"Kecenderungan dia tidak pandai mengungkapkan perasaannya, introvert, itulah yang paling gampang direkrut. Dan saya menilai Anda sebagai pelaku utama yang saya inginkan. Humoris paling susah dideketin," ujar Sigit dalam acara diskusi di Kampus Pertamina, Jakarta Selatan, Sabtu 29 Juli 2017.

Sigit saat itu mengatakan bahwa BNPT memiliki data perilaku seseorang yang diduga terlibat jaringan terorisme. "Masih banyak saya nggak bisa jelaskan secara gamblang. Itu ada itunya lagi, tapi yang jelas itu tanda tanda cenderung karena ini psikolog yang main," katanya.

Oleh karena itu, dirinya berharap kerjasamanya dengan masyarakat untuk membantu memerangi teroris. Kemarin juga ada beberapa yang sudah dilakukan BNPT, kemaren ada orang tuanya melaporkan ke BNPT, kami BNPT ikut turun tangan, itu sudah dilakukan kami," kata dia. 

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Yuliandre Darwis, Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menyatakan, perkembangan teknologi informasi di Indonesia sudah begitu maju. Hal ini menurutnya, tak terlepas dari keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur teknologi hingga ke daerah 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar).

"Infrastruktur teknologi informasi di Indonesia tidak ada yang tidak bagus. Ini terbukti dengan penggunaan internet oleh generasi milenial di Indonesia begitu tinggi. Generasi milenial seperti kita ketahui tidak bisa jauh dari penggunaan internet yang tentunya harus didukung infrastruktur yang mumpuni," ujar Yuliandre Darwis dalam webinar yang digagas Bakti Kominfo, Sabtu 13 Maret.

Bahkan menurut Yuliandre, konsumen terbesar penggunaan internet di Indonesia berasal dari generasi milenial. Peneliti Ericsson ConsumerLab beberapa waktu lalu juga menyebutkan tren produk teknologi muncul dengan mengikuti perilaku gaya hidup milenial.

"Produk teknologi mengikuti gaya hidup milenial. Orang-orang milenials tidak bisa lepas dengan Youtube, Facebook, Spotify, Instagram, TikTok dan sebagainya," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Yuliandre, secara mengejutkan ada keamanan daring yang mengendur, di mana data menyebutkan ada 20 persen generasi milenial yang senang berbagi kata sandi. Ini tentu berpotensi mengorbankan keamanan daring mereka.

"Ini yang harus diperhatikan oleh milenial keamanan berselancar di internet, perlindungan terhadap data pribadi dan perilaku dalam berinternet akan menjadi sesuatu yang dikoreksi dan bahkan menjadi kelemahan dari seorang milenial ketika menggunakan teknologi," tutur Yuliandre.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fisip Universitas Padjajaran, Widya Setiabudi Sumadinata mengatakan perihal bonus demografi, di mana hal itu adalah peluang namun juga tantangan di mana jumlah penduduk yang memasuki usia produktif (15-65 tahun) menjadi mayoritas penduduk.

"Diperkirakan bonus demografi ini akan terjadi sekitar tahun 2020-2030," tuturnya.

Persoalannya menurut Widya adalah, bagaimana caranya bonus ini tidak menjadi beban. Angkatan kerja yang berlimpah, kata dia, harus diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang bagus.

"Siapa yang akan berperan dalam bonus demografi, mereka adalah kaum generasi  Y atau generasi milenial. Bonus demografi pertama mulai 2017-2019, yang kedua sekarang ya 2020-2035, dan puncaknya 2028-2032. Maka yang akan menjadi pemain utama pada saat Indonesia mencapai puncak bonus demografi itu adalah mereka yang lahirnya antara tahun 1980-1995. Mereka ini adalah generasi milenial atau generasi Y," paparnya.

Diterbitkan di Berita

Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, mendorong pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam menghalau penyebaran terorisme di internet. Penyebaran konten terorisme di internet melalui berbagai macam platform dinilai semakin masif.

Di samping itu, menurut Stanislaus, upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah, mulai dari penghapusan konten dan situs yang mengandung konten terorisme, dianggap kurang efektif. Sebab pertumbuhan konten yang mengandung terorisme tumbuh sangat pesat di internet.

 

Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta. (Foto: Dokumentasi Stanislaus)
Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta. (Foto: Dokumentasi Stanislaus)

 

"Kominfo memang sudah menghapus (take down) situs-situs yang menyebarkan paham radikal. Tapi satu diturunkan, bisa muncul ratusan situs yang lainnya dalam waktu cepat," jelas Stanislaus Riyanta kepada VOA, Rabu (17/2).

Stanislaus menambahkan pemerintah dapat mengajak generasi milenial untuk menggarap konten tandingan di internet. Semisal konten tentang Pancasila dan nasionalisme yang lebih menarik generasi remaja sehingga tidak terpapar paham radikalisme.

Ia juga telah melakukan wawancara terhadap belasan remaja yang terpapar terorisme di internet. Sebagian besar dari mereka terpapar paham tersebut karena mengalami persoalan di keluarga. Karena itu, katanya, perlu dilakukan penguatan di tingkat keluarga dalam melakukan deteksi awal terorisme di tingkatan terkecil.

 

Seorang anggota Densus 88 berdiri di dekat bangkai mobil yang menabrak gereja di Gereja Pentakosta Surabaya Pusat (GPPS), Surabaya, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Seorang anggota Densus 88 berdiri di dekat bangkai mobil yang menabrak gereja di Gereja Pentakosta Surabaya Pusat (GPPS), Surabaya, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

 

"Jadi ketika mereka bermasalah, mereka mendapatkan sesuatu di internet. Di usia mereka yang muda, mereka membutuhkan nilai dan eksistensi,” tegasnya.

Menurut Stanislaus, penyebaran konten terorisme di internet dilakukan oleh kelompok ISIS atau Jamaah Ansharut Daulah (JAD) untuk di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan kelompok al-Qaeda yang memiliki organisasi yang rapi dan tertutup dalam perekrutan anggota.

ISIS, katanya, cenderung oportunis, seperti memanfaatkan internet dalam penyebaran paham terorisme dan tidak mempermasalahkan keterlibatan perempuan dan anak-anak di bawah umur dalam aksi penyerangan.

Hal ini dapat dilihat pada peristiwa bom Surabaya pada 2018 di mana seorang perempuan, yang mengajak anaknya, mengambil peran utama sebagai pelaku bom bunuh diri.

 

Seorang teroris tiruan memegang senapan di dekat "warga sipil yang ditahan" dalam latihan anti-teror di markas pasukan khusus polisi di Depok, Jawa Barat, 9 Maret 2010. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
 
 
Pemerintah Diingatkan Soal Definisi Ekstremisme

Penyebaran paham terorisme di internet, kata Stanislaus, juga membuat gerakan mereka tidak sistematis dan cenderung bergerak secara individu (lonewolf). Hal tersebut berakibat deteksi dan pencegahan terhadap potensi serangan terorisme secara individu sulit dilakukan.

"Mereka biasanya melihat konten di website-website. Setelah intens dan ada respons, mereka lebih mendalami di grup percakapan yang lebih eksklusif," tambahnya.

 

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah melahirkan senjata baru, yaitu internet, siber dan media sosial. Menurutnya, kekuatan media sosial telah mampu menggulirkan kerusuhan di berbagai negara.

"Kekuatan medsos telah menggulirkan kerusuhan di beberapa negara, seperti Eropa, Amerika Serikat, Myanmar dan Thailand," jelas Hadi Tjahjanto dalam Rapat Pimpinan TNI tahun 2021 pada Selasa (16/2), seperti dikutip dari laman resmi tni.mil.id.

 

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberi sambutan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/2/2021). (Foto: Courtesy/TNI)
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberi sambutan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/2/2021). (Foto: Courtesy/TNI)

 

Ia juga menyoroti penggunaan internet untuk menyebarkan paham radikalisme dan terorisme, serta rekrutmen terhadap generasi muda dengan memanfaatkan media sosial dan menyebarkan propaganda-propaganda.

Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir dan menurunkan 16.739 konten dari media sosial dan website terkait isu terorisme pada Juli 2017 hingga Juli 2020. Konten tersebut tersebar di Facebook yang mencapai 11.600an konten, Twitter 2.282 konten, website 496 konten dan Youtube 678 konten, serta berbagi berkas (file sharing) yang mencapai 1000an. [sm/ah]

 
Diterbitkan di Berita