Liputan6.com, Surabaya - AR alias GR bin H yang ditangkap polisi atas dugaan merakit senjata api (senpi) ilegal, Kamis (22/4/2021), tercatat sebagai guru SMP swasta di Kabupaten Malang.

"Dari tangan tersangka polisi mengamankan tiga pucuk senpi rakitan dan 681 peluru tajam berbagai kaliber," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko di Surabaya, Jumat seperti di kutip dari Antara.

Gatot mengatakan, guru SMP swasta di Malang ini telah merakit senpi secara ilegal sejak Februari 2021 sebelum akhirnya ditangkap.

"Tersangka membuat senjata air softgun merek Baikal Makarov menjadi senpi jenis laras pendek kaliber 22 mm, kaliber 38 mm dan kaliber 9 mm," katanya.

Selain itu, tersangka juga telah membuat senjata rakitan jenis Revolver kaliber 38 mm dengan menggunakan senjata air softgun atas pesanan konsumen.

Gunakan Peralatan Bengkel

Sejak Februari 2021 hingga ditangkap, tersangka telah memproduksi sebanyak tujuh pucuk senjata api dengan biaya Rp 3,5 juta hingga Rp 6,5 juta. 

"Dalam membuat senjata api tersebut, tersangka menggunakan berbagai macam peralatan bengkel," ujar Gatot. 

Peralatan bengkel yang digunakan antara lain, mesin bubut mini, bor duduk, bor tangan, grinda, kikir, las karbit, las listrik dan kini diamankan Polda Jatim sebagai barang bukti. 

Dalam kasus ini, tersangka dijerat Pasal 1 UU Daeurat No 12 Tahun 1951 tentang tindak pidana merakit, membuat, menyimpan, menguasai dan membawa senjata api tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun.

Diterbitkan di Berita

Avirista Midaada, Okezone MALANG - Sekumpulan anak-anak perempuan mengenakan kebaya bersepatu roda mengejutkan masyarakat di Jalan Ijen Kota Malang. Mereka bukanlah mau fashion show ala model, melainkan berlatih sepatu roda.

Para anak kecil ini sengaja berlatih dengan kostum kebaya demi memperingati Hari Kartini yang jatuh pada Rabu (21/4/2021), di mana mereka bertepatan agenda rutin latihan pada Selasa sore 20 April 2021.

Selagi menunggu waktu berbuka puasa pula, para anak - anak yang mayoritas berusia 4-12 tahun ini berlatih sepatu roda dengan memeragakan sejumlah teknik.

Beberapa teknik melalui rintangan cone dengan zig - zag hingga meluncur berpasangan dengan temannya diperagakan komunitas sepatu roda bernama Mafest (Malang Freestyle Slalom Team).

Kostum kebaya dengan bawahan kain jarik dan masker yang dipakai, tak membuat para anak-anak dengan bakat olahraga sepatu rodanya ini kesulitan meluncur.

Bahkan beberapa anak ini mampu memeragakan teknik bersepatu roda dengan bagus, mulai dari mengangkat satu kaki, berjalan menggunakan tumit belakang kaki sambil meliuk-liuk di cone yang telah disiapkan, hingga posisi kaki yang disilangkan saat zig-zag melewati cone.

Salah seorang anggota komunitas sepatu roda Naraya Putri Ekira mengatakan, tak ada kesulitan memeragakan teknik zig-zag dan teknik sepatu roda lainnya menggunakan busana kebaya dan kain jarik.

"Enggak ada kesulitan, karena sudah berlatih sepatu roda 2,5 tahun. Sensasinya lebih seru kalau makai kebaya, karena ini sesuatu yang baru, belum pernah sebelumnya," ucap perempuan yang akrab disapa Raya ini.

Apalagi disebut anak berusia 11 tahun ini, momen berlatih sepatu roda Selasa sore ini bersamaan dengan sehari peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Rabu ini.

"Hari kartini ini sangat spesial bagi para perempuan, sebab ibu kartini memperjuangkan kita para perempuan bisa bebas, bebas ber-experince dan semuanya," kata siswi yang duduk di bangku kelas 5 Min Kota Malang ini.

Anggota komunitas sepatu roda lainnya bernama Alycia Kalista mengaku tidak ada bedanya bermain sepatu roda dengan pakaian biasanya, dengan kali ini menggunakan kebaya memperingati hari kartini. "Enggak ada bedanya dan nggak lebih ribet juga," jawab anak berusia 5 tahun ini.

Diterbitkan di Berita

SURABAYA, KOMPAS.com - Hingga Sabtu (10/4/2021) pukul 21.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melaporkan ada delapan korban meninggal dunia akibat gempa yang berpusat di perairan Malang Selatan.

Kedelapan korban meninggal dunia itu, lima di antaranya dari Kabuaten Lumajang, sementara tiga lainnya dari Kabupaten Malang.

"Sebagian besar korban tertimpa bangunan dan bebatuan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur Gatot Subroto saat dikonfirmasi Sabtu malam.

Sementara korban luka tercatat 25 orang. satu di antaranya luka berat dari Kabupaten Lumajang.

Adapun korban luka ringan, 10 dari Kabupaten Lumajang, dua orang dari Kabupaten Malang, delapan orang dari Kabupaten Blitar, satu orang dari Tulungagung, satu orang dari Jember dan satu orang lagi dari Kota Blitar.

Berikut identitas korban meninggal dunia tersebut berdasarkan update data dari BPBD Jawa Timur :

1. Ahmad Fadholi, warga Desa Tempurrejo Kecamatan Tempursari Lumajang.

2. Sri Yani warga Desa Tempurrejo Kecamatan Tempursari Lumajang.

3. Juwanto, warga Desa Kaliuling Kecamatan Tempursari Lumajang.

4. Nasar warga Desa Kaliuling Kecamatan Tempursari Lumajang.

5. Bonami, warga Desa Kaliuling Kecamatam Tempursari Lumajang.

6. Imam warga Desa Sidorenggo Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang.

7. Munadi warga Desa Wirotaman Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang.

8. Misni warga Desa Tamansari Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa magnitudo 6,1 (sebelumnya disebut 6,7) berpusat di 90 kilometer barat daya Kabupaten Malang. Pusat gempa yang berada di lepas pantai memiliki kedalaman 25 kilometer.

Menurut BMKG, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Gempa ini juga dilaporkan terasa di Blitar, Kediri, Trenggalek, Jombang, Ngawi, Lombok Barat, Mataram, Kuta, Jimbaran, Denpasar, Mojokerto, Klaten, Lombok Utara, Sumbawa, Tabanan, Klungkung, Turen, dan Banjarnegara.


Penulis : Kontributor Surabaya, Achmad Faizal
Editor : Teuku Muhammad Valdy Arief


Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Karo Penmas Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, Densus 88 Polri turut mengamankan sejumlah senjata tajam sebagai barang bukti dalam penangkapan 12 teroris di Jawa Timur.

Rusdi mengatakan, barang-barang yang disita Polri yaitu 50 butir peluru sembilan milimeter, satu pistol rakitan jenis FN, dan empat bendera daulah warna hitam dan putih. Kemudian, delapan pisau, dua samurai, tiga golok, dan senjata tajam lain berupa 23 busur panah.

"Aktivitas-aktivitas kelompok ini, ini adalah kelompok Jamaah Islamiyah. Tentu berafiliasi dengan Al Qaeda dan kelompok ini dikenal dengan kelompok Fahim," kata Rusdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/3/2021).

Dia menjelaskan, kedua belas teroris ditangkap di empat daerah berbeda pada 26 Februari 2021. Delapan orang ditangkap di Sidoarjo, dua orang di Surabaya, satu orang di Mojokerto, dan satu orang di Malang.

Rusdi menuturkan, 12 terduga teroris itu telah melakukan berbagai aktivitas berupa latihan bela diri. Selain itu, mereka juga merancang bunker yang akan digunakan untuk kegiatan pembuatan senjata mapun bom rakitan.

"Kemudian telah menyiapkan tempat penyimpanan senjata dan juga telah mempersiapkan tempat pelarian setelah melakukan aktivitas terorisme," ujarnya. Rusdi mengatakan, para terduga teroris telah menyiapkan rencana untuk melakukan aksi amaliyah.

Namun, soal rencana eksekusi dan sasaran aksi masih didalami. "Mereka juga telah berencana melakukan amaliyah yang tentu perlu kita perhatikan. Rencana amaliyah ini dapat dilakukan upaya pencegahan dari Densus 88 Polri," kata Rusdi.


Penulis : Tsarina Maharani
Editor : Diamanty Meiliana

Diterbitkan di Berita