suaraislam.co - Paspampres akhirnya buka suara soal kabar yang beredar terkait Khalid Basalamah diundang menjadi Khotib sholat Jumat 25 Juni 2021 di Mako Paspampres.

Asintel Danpaspampres Kolonel Inf Wisnu Herlambang, menjelaskan, Paspampres untuk sementara waktu tidak menyelenggarakan sholat Jumat berjamaah di masjid di lingkungan Paspampres sesuai dengan instruksi pemerintah guna mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid- 19 yang sedang mengalami peningkatan khususnya di wilayah Jakarta.

“Paspampres pernah mengundang Ustadz Khalid Basalamah untuk menjadi Khatib Sholat Jumat tahun lalu tepatnya pada tanggal 7 Februari 2020,” demikian bantahan seperti dikutip dari muslim.okezone.com.

Sebelumnya diberitakan, warga NU sempat terbengong membaca berita muslim.okezone.com, yang mengabarkan Khalid Basalamah menjadi Khotib sholat Jumat 25 Juni 2021 di Mako Paspampres. Kabar itu diambil okezone.com dari channel Khalid sendiri.

Disebutkan, isi khotbah Khalid tentang halal dan haram. Karuan, berita ini mendapat respon beragam, terutama warga NU yang selama ini menilai Khalid sebagai ustad radikal, anti Pancasila. Dengan bantahan Asintel Danpaspampres Kolonel Inf Wisnu Herlambang, semua menjadi terang.

Senin 28/6/21, beredar bantahan melalui portal yang sama, muslim.okezone.com, bahwa, Jumat tanggal 25 Juni 2021 Paspampres tidak mengundang Ustadz Khalid Basalamah menjadi Khotib sholat Jumat.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU - Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengundang Khalid Basalamah untuk menjadi khotib Shalat Jumat di Markas komando (Mako) Paspampres, Jakarta Pusat pada 25 Juni 2021 lalu.

Dari akun Channel Youtube resmi milik Khalid Basalamah Official disebutkan tema khotbah Jumat yakni “Akibat Makanan Haram”. Dalam rekaman berdurasi sekitar 30 menit itu, Khalid Basalamah menjelaskan dengan gamblang persoalan halal dan haram.

Khalid Basalamah ini termasuk ustadz Salafi-Hijazi: prinsipnya adalah melakukan purifikasi Islam yang membid’ahkan amalan tahlilan, maulid Nabi, dan khazanah Islam yang ada di Nusantara yang lainnya. Mereka tidak cocok dengan NU.

Dari penelusuan redaksi Dakwah NU, setiap ceramah yang disampaikan Khalid Basalamah itu selalu menimbulkan kebencian, menjelek-jelekkan pihak tertentu dan provokatif.

Bahkan, Khalid sendiri juga selalu mendapatkan penolakan dari berbagai pihak di setiap daerah di Indonesia ketika ia hendak mengisi acara pengajian.

Sekadar diketahui, Khalid Basalamah dalam sebuah pengajiannya yang dishare di YouTube tidak membolehkan membaca surah Yaasin yang ditentukan pada tiap malam Jumat. Menurutnya, hal semacam itu tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sebuah ibadah harus ada dalilnya. Ia juga menyebutkan dalam shalat itu tidak mesti menggunakan lafal “ushalli”.

Selain itu, kata “sayyidna” tidak semestinya disematkan kepada Nabi Muhammad SAW karena tidak ada dalilnya. Padahal semua itu telah menjadi kebiasaan di kalangan Muslim Indonesia.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur H. Rizza Ali Faizin mengatakan, pengajian Khalid Basalamah cenderung berisi mengkafirkan orang tanpa klairifikasi, sangat disesalkan. 

“Yang kami sayangkan adalah penyampaian dan materinya itu cenderung mendiskreditkan aliran tertentu. Di NU dan Ansor itu selalu terbiasa klarifikasi atau tabayun. Sedangkan Khalid Basalamah itu menyatakan ini kafir, haram dan lain sebagainya.

Bahkan untuk pemanggilan Sayyidina untuk Nabi Muhammad juga tidak diperbolehkan olehnya,” kata Rizza dikutip NU Online. (red)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU 

Khalid Basalamah kembali viral di media sosial. Melalui cuplikan videonya, Khalid Basalamah melarang siswa-siswi untuk mengikuti imbauan menyanyikan lagu kebangsaan.

Video yang berdurasi kurang lebih 0,35 detik itu, kembali dikutip oleh akun Twitter @Ayang_Utriza. Akun ini dengan tegas mengecam apa yang disampaikan Khalid Basalamah. Bahkan ia meminta Khalid Basalamah untuk tidak menyebarkan Salafi-Wahhabi di NKRI ini.

 

 

Dalam cuplikan video tersebut, apa yang disampaikan Khalid Basalamah adalah tindakan yang menanamkan bibit-bibit anti NKRI. Sebab Khalid Basalamah menyarankan siswa tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaan.

Khalid Basalamah mengimbau kepada semua anak untuk tidak mengikuti aturan sekolah yang tiap waktu (terutama setiap Senin), salah satunya menyanyikan lagu kebangsaan (seperti Indonesia Raya).

“Gak usah ikut. Saran saya, gak usah ikut,” tegas Khalid Basalamah yang memang dikenal penuh kontroversi ini.

Sebelumnya ia mempertanyakan realitas di sekolah anak. Ia menyebut bahwa anak seolah dipaksa menyanyikan lagu kebangsaan di sekolahnya.

“Sekolah anak? Tiap pagi ada waktu yang menyanyi lagu-lagu kebangsaan. Apa yang harus anak lakukan? Soalnya jika anak tidak lakukan, anak ditegur guru,” terangnya.

Meski demikian, ia berdalih tidak melarang untuk anak menyanyikan lagu kebangsaan. “Tentu ini bukan berarti kita melarang. Tapi saya membahasakan ‘saran saya’. Saya kan ditanya, kalau saya, nda usah ikut lah,” tuturnya.

Tidak hanya itu, belum lama ini, Direktorat Polisi Air dan Udara Badan Pemeliharaan Keamanan Kepolisian Republik Indonesia (Ditpolair Baharkam POLRI) Jakarta Utara mengundang Khalid Basalamah untuk mengisi kajian Ramadan di Markas Ditpolair, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, pada Senin, 19 Februari 2021 lalu.

Hal ini tentu berseberangan dengan perintah Kapolri sebelumnya yang meminta semua polisi untuk ngaji kitab kuning dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Mengingat Kapolri Jendral Listyo Sigit pada saat kunjungan ke PBNU, Kamis (28/1) lalu mengaku program belajar kitab kuning bagi anggotanya yang beragama Islam sudah ia jalankan sejak menjabat sebagai Kapolda Banten pada 2016 silam.

”Untuk mencegah berkembangnya terorisme, salah satunya dengan belajar kitab kuning, dan tentunya baik di internal maupun eksternal, itu saya yakni bahwa apa yang disampaikan kawan-kawan ulama (di Banten) itu benar adanya. Oleh karena itu akan kami lanjutkan,” katanya.

Menurutnya, harus ada langkah tegas sehingga benih-benih radikalisme yang bisa mengarah pada tindakan terorisme bisa dicegah. ”Kita bekerja sama dengan tokoh-tokoh, ulama, kemudian melakukan upaya pencegahan dengan memberikan penjelasan sehingga masyarakat tidak mudah terpapar dengan ajaran-ajaran seperti itu,” jelasnya.

Anggota Polri selalu diperkuat dengan keyakinan masing-masing kemudian diakomodir terkait dengan kearifan-kearifan yang lokal sehingga menjadi keanekaragaman dan keberagaman sebagai satu kekuatan bangsa, salah satunya adalah ngaji kitab kuning dengan ulama ulama NU. (fqh)

Diterbitkan di Berita