betanews.id 

Jalur kereta api Semarang-Lasem yang telah lama mati atau non-aktif akan segera direaktivasi. Saat ini Proses studi kelayakan reaktivasi jalur kereta Semarang-Lasem saat ini sudah berjalan.

Reaktivasi jalur yang dulu dioperatori Samarang–Joana Stoomtram (SJS) Maatschappij ini, untuk menumbuhkan perkonomian kawasan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah, Putu Sumarjaya kepada Tim Liputan Khusus Beta News, beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, tidak menutup kemungkinan, reaktivasi jalur tersebut bisa dilanjutkan hingga Bojonegoro.

Dia menjelaskan, proses studi kelayakan dilakukan melalui pengumpulan data-data sekunder, permintaan, demand, data RTRW dan survei-survei di lapangan. Melalui studi tersebut akan diperoleh trase dan jadwal rencana pembangunan, serta jadwal operasi.

Studi kelayakan ditargetkan selesai tahun ini.

Studi masih berjalan, lintasnya mana saja yang layak, dan data-data lain masih dikumpulkan. Target studinya tahun ini bisa selesai

Putu Sumarjaya, Kepala BTP Jateng

“Studi masih berjalan, lintasnya mana saja yang layak, dan data-data lain masih dikumpulkan. Target studinya tahun ini bisa selesai, tetapi pelaksanaannya (pembangunan) kapan, belum bisa kami sampaikan,” jelas Putu saat wawancara melalui lalu melalui sambungan Zoom, beberapa waktu lalu.

Putu, begitu dia akrab disapa, tidak bisa memberi informasi lebih terkait rencana reaktivasi jalur Semarang-Lasem. Ia hanya menjelaskan saat ini Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian belum sampai tahapan putusan.

Sehingga pihaknya belum mendapat informasi secara rinci dari pusat. “Ini masih sangat awal, karena studi kelayakannya baru dimulai tahun ini. Nanti kalau hasil studinya sudah jadi, trasenya sudah ditentukan, baru kami akan melakukan sosialisasi,” terangnya kepada tim Liputan Khusus Beta News.

Putu berharap, kepala-kepala daerah yang wilayahnya dilintasi jalur reaktivasi untuk mendukung. Reaktivasi ini dilakukan untuk menumbuhkan perekonomian kawasan di wilayah yang dilintasi jalur.

Pembangunan Jalur Kereta Api Lebih Murah

Djoko Stejowarno, Pengamat Transportasi. Foto: Kaerul Umam

 

Sementara itu, pengamat trasnportasi, Djoko Setijowarno mengungkapkan, kereta api memiliki sejumlah keunggulan dibanding moda transportasi darat lainnya. Selain ramah lingkungan, juga lebih cepat dan tepat waktu.

“Selain itu, pembangunan jalur kereta api ini juga lebih murah jika dibandingkan dengan tol. Biaya perawatan juga tidak sebesar perawatan jalan raya atau tol,” tuturnya.

Menurut penghitungannya, kata Djoko, untuk anggaran jalur layang diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 500 juta perkilometer. Sementara jalur biasa tanpa hambatan lahan, sekitar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta perkilometer.

Selain biayanya yang lebih murah juga proses pengerjaannya lebih cepat.

Dalam proses studi, Ditjen Perkeretaapian juga melibatkan kepala daerah. Yang saya lihat antusiasnya tinggi yakni dari Bupati Pati

Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi

Djoko begitu dia akrab di sapa, mengatakan, bahwa biaya perawatan jalan raya saat ini relatif tinggi karena beban jalan yang berat. Sehingga dengan adanya transportasi kereta diharapkan bisa menjadi solusi lebih murah selain pembangunan jalur tol.

“Dalam proses studi, Ditjen Perkeretaapian juga melibatkan kepala daerah. Yang saya lihat antusiasnya tinggi yakni dari Bupati Pati,” ungkap Djoko.

Di nilai Djoko sebagai bupati paling antusias, Haryanto tidak menampik hal tersebut. Bahkan dirinya mengaku sudah lama menanti realisasi reaktivasi jalur kereta tersebut. Tak hanya menunggu, dia juga sudah beberapa kali mengusulkan adanya reaktivasi itu.

“Saya juga sudah berapa kali mengusulkan dan mengikuti diskusi maupun juga rapat-rapat yang diselenggarakan. Saya sangat mendukung, karena adanya kereta api sudah barang tentu akan menumbuhkan perekonomian,” terangnya saat ditemui di Pendapa Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu.

Orang nomor satu di Pati itu memperkirakan, jika mengaktifkan kembali jalur lama, yang akan dihadapi adalah kendala sosial. Karena jalur kereta yang lama saat ini sudah banyak yang menjadi hunian warga dan menjadi tempat publik.

 

Haryanto, Bupati Pati. Foto: Kaerul Umam

 

“Kalau yang sudah dihuni oleh warga, kemudian jadi pemukiman dan tempat publik, sudah barang tentu tidak bisa direaktivasi. Contoh Alun-alun, dulu kan Alun-alun Pati juga jalur kereta api,” kata Haryanto.

Dia berharap reaktivasi bisa segera terlaksana. Selain dirinya, Haryanto juga membeberkan bahwa Bupati Demak, Kudus, Rembang, Tuban dan Bojonegoro juga ikut mendukung. Ia mengaku sudah mengikuti rapat setidaknya tiga kali, dan bertemu kepala daerah lain.

“Saya hadir tiga atau empat kali saat ada diskusi, karena saya berkeinginan untuk bisa merealisasikan itu. Agar keseimbangan bisa terjadi. Jangan sampai nanti kereta ini hanya dibangun di kota-kota besar, seperti Semarang-Solo, Semarang-Jogja kemudian Jakarta-Bandung. Kami juga ingin masyarakat Pati bisa menikmati,” tambahnya.

Dukungan senada juga disampaiakan seorang sejarawan asal Semarang, Tjahjono Rahardjo. Menurutnya, kondisi geografi dan demografi pulau Jawa khususnya, sangat layak untuk dikembangkan transportasi kereta api.

Ia mencontohkan negara Jepang dan Belanda, dari segi kepadatan penduduk dan penyebarannya mirip dengan Indonesia.

“jaringan kereta api di sana luar biasa, orang tidak perlu lagi naik kendaraan pribadi, apalagi naik pesawat. Di tempat kita ini masih diutamakan jalan tol dan Bandara. Kalua di Belanda itu Bandara cuma dua, tapi mereka kemana-mana naik kereta api,” terangnya.

Tim Lipsus 7: Ahmad Rosyidi (Reporter/Host), Dafi Yusuf, Kaerul Umam, Rabu Sipan (Reporter/Videographer), Suwoko (News Editor), Andi Sugiarto (Video Editor), Manarul Hidayat, Avis Rizqi (Video Graphic) Lisa Mayna Wulandari (Translator), Ludfi Karmila, Anif Farizi, Dian Ari Wakhidi (Transkriptor)

Diterbitkan di Berita

KEDIRI, KOMPAS.com - PT Kereta Api Indonesia Daop 7 Madiun melarang masyarakat ngabuburit di jalur kereta api. Sebab, selain membahayakan perjalanan kereta api, juga membahayakan diri sendiri.

Manager Humas Daop 7 PT KAI Madiun Ixfan Hendriwintoko mengatakan, selama Ramadhan ini, pihaknya meningkatkan patroli wilayah di sepanjang jalur kereta api. Patroli itu dilakukan seharian penuh mulai dari pagi sehabis subuh hingga sore menjelang maghrib.

Dari situ pihaknya banyak menemukan kerumunan masyarakat di jalur kereta api. Warga di rel kereta ini lantas dibubarkan.

“Tiap hari, puluhan hingga ratusan anak-anak maupun orang dewasa yang sedang bermain di sekitar jalur KA kami minta untuk menjauh,” kata Ixfan Hendriwintoko, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/4/2021).

Keberadaan masyarakat itu bermacam-macam tujuannya. Ada yang ngabuburit sakedar duduk-duduk di rel kereta api untuk menunggu waktu berbuka puasa, ada juga yang duduk-duduk menjemput fajar di waktu setelah subuh.

Tidak sedikit pula anak-anak yang bermain di jalur kereta api dengan menaruh batu agar dilindas kereta yang lewat, hingga menaruh paku supaya menjadi pisau setelah terlindas. Ada juga yang bermain-main petasan.

"Hal itu tentu sangat membahayakan, baik perjalanan KA maupun masyarakat itu sendiri," ujar Ixfan.

Ixfan mengingatkan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 38, ruang manfaat jalur kereta api diperuntukan bagi pengoperasian kereta api dan merupakan daerah tertutup untuk umum.

Ixfan menambahkan, ketentuan tersebut ditegaskan juga dalam Pasal 181 Ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api; menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur kereta api; atau menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain selain untuk angkutan kereta api.

“Bahkan bagi masyarakat yang masih nekat bermain dan beraktivitas di ruang manfaat jalur KA, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah), sebagaimana yang tertulis di Pasal 199 pada UU tersebut,” terang Ixfan.

Apalagi dalam catatan Daop 7, selama sepekan berjalannya Ramadhan, sudah ada dua kali peristiwa anak-anak yang sedang bermain di sekitar jalur kereta api, terserempat kereta saat mereka menunggu waktu berbuka.

“Kami imbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di sekitar jalur KA, juga bagi para orangtua agar mengingatkan anak-anaknya supaya tidak bermain di sekitar rel, selain mengganggu perjalanan KA, hal itu bisa membahayakan nyawa anak-anak tersebut,” tutup Ixfan.

Salah satu peristiwa anak terserempet kereta api itu terjadi di wilayah Kota Kediri.

Tepatnya di wilayah Kelurahan Kampung Dalem, Kota Kediri, Minggu (18/4/2021) sekitar pukul 16:50 WIB. Korbannya, ADS (10) warga setempat. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota Ajun Komisaris Arpan saat itu menuturkan, korban awalnya bermain di pinggir rel kereta api.

Di saat yang bersamaan, datang Kereta Api Gajayana jurusan Malang-Jakarta. Posisi korban yang diduga terlalu dekat dengan rel menyebabkannya terserempet kereta api yang lewat. Korban terpental dan jatuh hingga kemudian tewas di lokasi kejadian.

Usai kejadian, jenazah korban saat itu langsung dibawa pulang ke rumah duka tanpa ke rumah sakit sebagaimana permintaan keluarganya. 

Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Editor : Robertus Belarminus

Diterbitkan di Berita