KBRN, Jakarta: Ahli Bedah dan Biomedis Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Dokter Agus Ujianto secara aklamasi terpilih dalam Musyawarah Nasional I Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia (Predigti), di Kantor Sekretariat PB IDI Jakarta, Selasa (17/8/2021) kemarin.

Agus yang juga sebagai inisiator perhimpunan tersebut dan juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia Banjarnegara menilai Predigti perlu ada sebagai jawaban tantangan perkembangan zaman.

"Sekarang era digital, medis juga harus digitalisasi agar dunia kesehatan terus berkembang melalui digital telemedicine yang dikembangkan," ujar Agus usai melakukan Deklarasi Predigti.

Predigti diharapkan juga jadi solusi minimnya tenaga kesehatan di daerah terpencil melalui teknologi telemedicine. "Selain itu, juga untuk mengadvokasi dan melindungi profesi dokter di Indonesia," lanjut pria yang juga sebagai Direktur Rumah Sakit Islam Banjarnegara.

Sementara, Ketua Umum PB IDI Dr. Daeng M Faqih, SH, MH yang hadir pada saat Munas I Predigti secara virtual mengatakan sangat mendukung adanya Predigti.

"Ini sejalan beriringan dengan program pemerintah, jadi saya sangat mendukung," katanya.

"Terlebih di era Pandemi saat ini,  pemanfaatan teknologi untuk layanan kesehatan (telemedicine) akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Predigti diharapkan bisa memberikan rekomendasi berkaitan dengan telemedicine yang saat ini menjadi perhatian," tambahnya.

Menurut Daeng, mutu pelayanan kesehatan akan meningkat melalui  telemedicine, karena pasien dapat lebih intens, cepat, dan mudah dalam berkomunikasi dengan dokternya.

"Dengan digital ini memungkinkan pelayanan kesehatan itu lebih baik, lebih intens berhubungan dengan dokter, lebih intim pasien berkomunikasi dengan dokter, lebih sering," kata Daeng dalam diskusi publik bertajuk "Telemedicine untuk Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan".

Daeng juga mengatakan, keberlanjutan perawatan yang diberikan dokter juga akan lebih terjamin melalui teknologi telemedicine tersebut. Dan Predigti diharapkan bisa mewujudkan hal tersebut.

"Dari awal dia periksa, kemudian dia monitoring di rumah, kontrol, peminuman obat, perkembangan gejala dan lain-lain dengan teknologi ini bisa didorong sehingga mutu pelayanan akan menjadi lebih baik," papar Daeng.

Menurut dia, penerapan telemedicine juga akan membuka akses terhadap kesehatan menjadi lebar.

"Contohnya, kegiatan operasi atau pembedahan menggunakan teknologi telesurgery yang akan meningkatkan mutu pelayanan bagi daerah-daerah yang selama ini kekurangan tenaga ahli," pungkasnya.

Diterbitkan di Berita