INDOZONE.IDMakanan dan air adalah kebutuhan dasar yang dibutuhkan semua manusia untuk bertahan hidup dan hak setiap orang untuk menjalani kehidupan di mana mereka tidak pernah harus kelaparan atau mati kehausan.

Namun, akibat situasi tegang yang ada di Afghanistan, Taliban kemudian menaikkan harga yang tidak masuk akal di Bandara Kabul. Namun, situasi di bandara kacau dan orang-orang berjuang.

Lebih buruk lagi, seorang pria Afghanistan mengungkapkan kepada Reuters, dikutip Indozone pada Kamis (26/8/2021) bahwa harga air dan makanan di bandara Kabul sangat tinggi. 

"Afghan Fazl-ur-Rehman mengatakan makanan dan air dijual dengan harga selangit di bandara Kabul. 'Satu botol air dijual seharga $40 (Rp570 ribu) dan sepiring nasi seharga $100 (Rp1,4 juta), dan bukan Afghan (mata uang) tetapi dolar, yan tidak bisa menjangkau orang-orang biasa,'" tulis Reuters, di akun Twitter.

Afghan Fazl-ur-Rehman said food and water were sold at exorbitant prices at Kabul airport. ‘One bottle of water is selling for $40 and plate of rice for $100, and not Afghani (currency) but dollars. That is out of reach for common people,’ he said https://t.co/KczQEMm2nB pic.twitter.com/UBmaAQumXP

— Reuters (@Reuters) August 25, 2021 "> 

Afghan Fazl-ur-Rehman said food and water were sold at exorbitant prices at Kabul airport. ‘One bottle of water is selling for $40 and plate of rice for $100, and not Afghani (currency) but dollars. That is out of reach for common people,’ he said https://t.co/KczQEMm2nB pic.twitter.com/UBmaAQumXP

— Reuters (@Reuters) August 25, 2021 ">

Afghan Fazl-ur-Rehman said food and water were sold at exorbitant prices at Kabul airport. ‘One bottle of water is selling for $40 and plate of rice for $100, and not Afghani (currency) but dollars. That is out of reach for common people,’ he said https://t.co/KczQEMm2nB pic.twitter.com/UBmaAQumXP

— Reuters (@Reuters) August 25, 2021 "> 

Afghan Fazl-ur-Rehman said food and water were sold at exorbitant prices at Kabul airport. ‘One bottle of water is selling for $40 and plate of rice for $100, and not Afghani (currency) but dollars. That is out of reach for common people,’ he said https://t.co/KczQEMm2nB pic.twitter.com/UBmaAQumXP

— Reuters (@Reuters) August 25, 2021 "> 

Afghan Fazl-ur-Rehman said food and water were sold at exorbitant prices at Kabul airport. ‘One bottle of water is selling for $40 and plate of rice for $100, and not Afghani (currency) but dollars. That is out of reach for common people,’ he said https://t.co/KczQEMm2nB pic.twitter.com/UBmaAQumXP

— Reuters (@Reuters) August 25, 2021 ">Hal tersebut dinilai sebagai contoh nyata bagaimana orang dieksploitasi tidak hanya untuk uang tetapi juga untuk hidup mereka. Selama masa sulit ketika negara berada dalam kondisi putus asa, kenaikan harga bahan pokok tidak hanya tidak adil tetapi juga sangat tidak manusiawi.

Negara-negara Barat telah memperingatkan warganya untuk segera meninggalkan sekitar bandara Kabul karena ancaman teroris, ketika ribuan orang berusaha mencapai jumlah penerbangan evakuasi yang semakin berkurang.

Diterbitkan di Berita

medcom.id Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, lebih dari 500 ton pasokan medis termasuk peralatan bedah dan peralatan gizi buruk yang akan dikirim ke Afghanistan minggu ini macet. Ini dikarenakan pembatasan yang terjadi di Bandara Kabul.

Badan-badan bantuan mengatakan sangat penting bahwa pasokan medis dan makanan mencapai sekitar 300.000 orang yang mengungsi di Afghanistan selama dua bulan terakhir. Terutama di tengah kemajuan oleh militan Taliban yang memuncak pada penguasaan Kabul pada 15 Agustus.

“Hampir 18,5 juta orang -,setengah dari populasi Afghanistan,- bergantung pada bantuan dan kebutuhan kemanusiaan diperkirakan akan meningkat karena kekeringan.

Tetapi penutupan Bandara Kabul untuk penerbangan komersial telah menghambat pengiriman,” kata Direktur Darurat Regional WHO Dr Richard Brennan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa 24 Agustus 2021.

"Sementara mata dunia sekarang tertuju pada orang-orang yang dievakuasi dan pesawat-pesawat yang berangkat, kita perlu mendapatkan pasokan untuk membantu mereka yang tertinggal," kata Brennan dalam sebuah pernyataan melalui email.

Dia mengatakan WHO menyerukan pesawat kosong untuk dialihkan ke gudangnya di Dubai, Uni Emirat Arab, untuk mengumpulkan pasokan dalam perjalanan mereka untuk menjemput para pengungsi dari Afghanistan.

Amerika Serikat (AS) telah meminta enam maskapai penerbangan komersial untuk membantu memindahkan pengungsi Afghanistan.

“Namun mitra koalisi Washington dan NATO sejauh ini mengindikasikan bahwa mereka tidak dapat membawa pasokan pada pesawat evakuasi yang masuk karena kendala operasional dan masalah keamanan,” imbuh Brennan.

"AS menggunakan maskapai komersial ini hanya untuk evakuasi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa WHO sedang menjajaki berbagai opsi dan menjangkau pemerintah lain.

"Kami telah disarankan untuk mengeksplorasi opsi di bandara lain seperti pangkalan udara Kandahar, Jalalabad dan Bagram. Kami belum memiliki pesawat untuk terbang bahkan ke pangkalan-pangkalan itu,” jelas Brennan.

Kondisi sulit juga dialami oleh anak-anak di Afghanistan. Direktur eksekutif badan anak-anak PBB UNICEF, Henrietta Fore, mengatakan pada Senin sekitar 10 juta anak-anak di seluruh Afghanistan membutuhkan bantuan kemanusiaan dan kondisi diperkirakan akan semakin memburuk.

(WIL)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Video wanita muda dan anak-anak mencoba melarikan diri dari Afghanistan dengan putus asa memohon bantuan dari tentara Amerika Serikat (AS) telah muncul dari Kabul.

Video semacam itu semakin banyak muncul hanya beberapa hari setelah Taliban menguasai Kabul dan seluruh Afghanistan.

“Tolong, tolong, tolong, tolong Taliban mendatangi saya,” ungkap seorang wanita muda memohon dengan putus asa pada seorang tentara AS di balik pintu yang digembok dengan rantai.

Video yang viral itu dibagikan oleh seorang jurnalis di Twitter. Video-video serupa juga menunjukkan bagaimana warga putus asa meminta tolong dibawa keluar Afghanistan. Pada pukul 02.00 pagi waktu setempat pada Kamis, wanita yang sama terlihat masih menunggu di lokasi yang sama.

 

https://twitter.com/tagabhishek/status/1428107844977446917

 

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengkonfirmasi pada Jumat tentang laporan "mengerikan" yang muncul bahwa Taliban telah sangat membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan di daerah-daerah yang mereka rebut.

Taliban memberikan indikasi pertama pada Selasa sejak berkuasa bahwa mereka tidak akan mewajibkan burqa bagi perempuan seperti yang mereka lakukan ketika mereka terakhir memerintah Afghanistan.

Di samping kekhawatiran yang berpusat pada pakaian, banyak negara dan kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan nasib pendidikan perempuan di Afghanistan yang sekarang berada di tangan kelompok garis keras yang memasuki ibu kota Kabul pada Minggu.

Jaminan Taliban untuk bersikap lebih moderat tampaknya masih sulit dipercaya banyak pihak ketika beberapa laporan mengungkapkan kekejaman baru yang dilakukan kelompok tersebut pada para penentangnya.

(sya)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Proses evakuasi staf diplomatik Amerika Serikat dari Ibu Kota Kabul, Afghanistan, pada Minggu (15/8/2021) berlangsung dramatis dan mirip dengan kejadian di Saigon, Vietnam ketika kota itu direbut oleh milisi komunis pada 1975 silam.

Dalam proses evakuasi itu, helikopter Boeing CH-47 Chinook dan Sikorsy UH-60 Blackhawk milik militer Amerika Serikat sempat singgah di atap gedung Kedutaan Besar AS di Kabul.

Akibat pemandangan itu, memori evakuasi di Saigon 46 tahun silam sempat mengemuka dalam wawancara antara Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dengan stasiun televisi ABC.

"Mari kita mundur sejenak. Ini jelas bukan Saigon," kata Blinken, seperti dikutip Reuters.

Peristiwa jatuhnya Saigon ke tangan Tentara Rakyat Vietnam terjadi pada 30 April 1975. Ketika itu Saigon adalah ibu kota Republik Vietnam atau Vietnam Selatan.

Saat Saigon dikepung, militer AS mengevakuasi sejumlah warga asing dan warga serta staf diplomatik mereka menggunakan helikopter melalui atap gedung kedutaan besar.

Hal itu juga menandai berakhirnya Perang Vietnam antara AS dengan kelompok komunis, dan awal dari reunifikasi dan pembentukan Republik Sosialis Vietnam.

AS mengerahkan sekitar 6.000 pasukan ke Kabul untuk membantu proses evakuasi staf diplomatik dan peralatan dari kota itu. Kedubes AS di Kabul juga sudah ditutup dan bendera yang berkibar juga diturunkan.

Sejumlah negara lain juga memulangkan staf diplomatik mereka dari Afghanistan.

Saat ini Bandara Internasional Kabul sangat sibuk karena sejumlah negara bergegas memulangkan staf diplomatik mereka. Selain itu, para penduduk Afghanistan yang akan mengungsi juga memadati bandara menunggu penerbangan supaya mereka bisa segera keluar dari negara itu.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan saat ini mereka memperketat pengamanan di sekitar bandara. Mereka juga sementara mengutamakan penerbangan pesawat militer ketimbang sipil.

Gerilyawan Taliban saat ini menduduki ibu kota Kabul dan juga istana kepresidenan.

Saat ini utusan pemerintah Afghanistan dilaporkan tengah berunding dengan perwakilan Taliban di Qatar. Akan tetapi, Taliban dilaporkan minta pengalihan kekuasaan dari pemerintah secara menyeluruh dan menolak gagasan pemerintahan transisi.

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, dan sejumlah pejabat kabur ke luar negeri. Melalui unggahan di media sosial Facebook, Ghani menyatakan alasan dia meninggalkan negaranya demi menghindari pertumpahan darah.

 

Diterbitkan di Berita