Jakarta, Beritasatu.com – Anggota DPR Guspardi Gaus dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Hal ini terkait sikap politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut yang menolak dikarantina usai pulang dari luar negeri dalam rangka kunjungan kerja (kunker).

“Kami mendapat info adanya penyampaian laporan dari Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI) atas Saudara Guspardi Gaus,” kata Wakil Ketua MKD Habiburokhman kepada wartawan, Jumat (2/7/2021).

Habiburokhman menyatakan pihaknya belum dapat mempelajari laporan tersebut. Sebab, MKD masih lockdown akibat empat orang staf dinyatakan positif Covid-19.

“Kami belum bisa mempelajari substansi laporan soal apa, karena MKD sendiri sedang lockdown terkait status empat staf MKD yang dinyatakan positif Covid-19,” ucap Habiburokhman.

Diketahui, Guspardi Gaus menolak dikarantina dengan alasan harus segera mengikuti rapat Panitia Khusus (pansus) Rancangan Undang-Undang Otonomi Khusus (otsus) Papua.

MKD juga mendapat informasi bahwa sebenarnya Guspardi sudah ditegur oleh Ketua Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay. Habiburokhman menyatakan situasinya memang agak rumit.

Di satu sisi, pihaknya memahami Guspardi sangat berkomitmen menjalankan tanggung-jawab kedewanannya. Sebab, Pansus Otsus Papua dikejar deadline pengesahan RUU Otsus Papua.

Di sisi lain, mekanisme rapat saat ini belum bisa merespons situasi pandemi yang memburuk secara drastis sejak awal Juni. Sampai sekarang, DPR masih memberlakukan aturan rapat hybrid di DPR. Kehadiran fisik anggota DPR dibatasi hanya 25%.

Lalu kapan laporan terhadap Guspardi akan dilakukan? Habiburokhman mengatakan pihaknya masih menunggu aturan teknis penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di lingkungan DPR.

“Karena ada ketetapan WFH 100 %, belum ada kejelasan tata cara pelaksanaan tugas MKD jika ada laporan yang masuk,” demikian Habiburokhman.

 

 

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 dan tempat tidur ICU Covid-19 di rumah sakit di Kudus mulai sedikit melega.

Hingga Senin (21/6/2021) malam, keterisian tempat tidur isolasi maupun tempat tidur ICU Covid-19 menurun di angka 88 persen. Pada pekan sebelumnya, tingkat keterisiannya mencapai 94 persen.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus kini telah memiliki 191 buah. Kemudian hingga Selasa (22/6/2021), jumlah keterisiannya mencapai 92 persen.

“Di RSUD kami mencatat mereka memiliki 191 tempat tidur, kemudian kini sudah terisi 176.

Artinya sisa 15 tempat tidur, untuk tempat tidur ICU juga sama, dari sepuluh tempat tidur kini hanya tersisa dua,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (22/6/2021).

Kemudian di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, kini tersisa 27 buah tempat tidur. RSI sendiri, meningkatkan kapasitasnya menjadi 93 tempat tidur dan kini terisi 65 tempat tidur. Untuk ICU, terisi tiga dari empat tempat tidur.

Selanjutnya Rumah Sakit Mardi Rahayu, kini tersisa enam buah tempat tidur isolasi setelah mereka meningkatkan kapasitasnya. Rumah sakit rujukan lini dua tersebut kini menyediakan sebanyak 93 tempat tidur, hingga Selasa ini sudah terisi 87 tempat tidur.

Sementara 34 tempat tidur ICU mereka, kini tiga tempat tidur saja. Untuk Rumah Sakit Aisyiah, mereka menyediakan 45 tempat tidur dan terisi penuh.

Delapan tempat tidur pada ICU mereka juga penuh. Begitu pula dengan RS Kumala Siwi yang menyediakan sebanyak 27 tempat tidur kini juga telah terisi penuh. Tiga tempat tidur ICU RS tersebut juga telah terisi.

“Sementara untuk Rumah Sakit Nurussyifa, dari 28 tempat tidur yang disiapkan kini terisi 18 tempat tidur, satu tempat tidur ICU mereka kini belum terisi,” terangnya.

Sementara 14 tempat tidur isolasi di Rumah Sakit Kartika Husada kini tersedia tiga tempat tidur, setelah sebelumnya penuh. Bupati Kudus HM Hartopo terus mendorong rumah sakit-rumah sakit penanganan Covid-19 di Kudus untuk menambah kapasitas ruang isolasinya.

Dengan harapan, sebagian besar pasien yang butuh perawatan bisa diatasi sendiri oleh rumah sakit di Kudus.

“Kami terus mendorong rumah sakit untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur untuk isolasi covid, sehingga masyarakat Kudus bisa tertangani semua, ini juga dorongan dari pusat untuk menambah kapasitas tempat tidur hingga 50 persen,” ujar dia.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau tempat karantina di STIE Bank Jateng, Senin (8/12/2021).

Tempat yang telah disiapkan Pemprov sejak awal pandemi lalu itu, rencananya akan digunakan untuk isolasi warga positif Covid-19 dari Kudus dan sekitarnya.

Ganjar mengatakan, tempat tersebut belum pernah dipakai sejak disiapkan sekitar setahun yang lalu. Meski begitu, tempat karantina tersebut dinilai sangat layak untuk digunakan.

“Ini ruang yang kita siapkan dulu pada saat tahun lalu covidnya muncul, belum pernah dipakai tempatnya bagus, kemarin saya minta ini untuk dibuka lagi, udah dibersihkan,” kata Ganjar.

Ganjar melihat satu demi satu bilik dan tempat tidur isolasi. Serta fasilitas seperti perlengkapan APD hingga MCK. Ganjar menerangkan, lokasi tersebut sudah siap digunakan untuk jadi tempat isolasi terpusat.

“Jadi nanti kalau dari Kudus Demak sekitar Semarang membutuhkan, (tempat) ini sudah siap. Bagus sekali tempatnya, AC-nya juga hidup. Di sini malah ada bednya bagus,” ujarnya.

Setidaknya ada 19 bed isolasi yang siap digunakan di STIE Bank Jateng. Tempat tersebut, tahun lalu disiapkan oleh Pemprov Jateng untuk isolasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jateng yang pulang dari Malaysia.

Namun, meningkatnya kasus COVID-19 di sejumlah daerah Jateng mulai mengakibatkan Bed Ocupancy Ratio di daerah-daerah tersebut mulai penuh. Ganjar pun meminta daerah lainnya untuk gotong royong membantu.

Sebelum ke tempat isolasi tersebut, ganjar menggowes sepedanya menyusuri sudut-sudut Kota Semarang. Setiap menemukan kerumunan, Ganjar menyempatkan berhenti untuk sekadar mengingatkan para warga yang tak menggunakan masker.

“Ayo ibu maskernya dipakai,” ujar Ganjar mengagetkan warga kelurahan Rejosari, Semarang Timur.

Ganjar terus mengayuh sepedanya menyusuri gang-gang sempit dan menemukan banyak warga yang tak menggunakan masker saat berkumpul. Di wilayah Semarang Timur tersebut, Ganjar menemukan banyak kerumunan yang tak disiplin protokol kesehatan.

“Ibuke nganggo masker ora? Lha ya dipakai, ditutupke (mulut dan hidungnya). Ibuke kok pakai masker kenapa?,” tanya Ganjar menghampiri kerumunan ibu-ibu yang sedang berbelanja.

Dengan santai, Ganjar berdialog dengan ibu-ibu tersebut tentang pentingnya menggunakan masker. Ganjar bahkan mengapresiasi mereka yang menggunakan masker. Salah satunya bernama Barokah.

“Alhamdulillah bisa ketemu pak Ganjar seneng banget. Pesennya ya harus pakai masker, jaga protokol kesehatan, jaga jarak,” ujarnya.

“Biasanya yo pakai, mau ndilalah ketemu pak Ganjar nggak pakai,” ujar ibu-ibu lainnya yang sempat ditegur Ganjar.

Editor: Suwoko

Diterbitkan di Berita