damailahindonesiaku.com Jakarta – Pemikiran tentang liberalisme, sekularisme, dan radikalisme sangat mudah masuk dan mempengaruhi pola pikir mahasiswa di era kemajuan teknologi dan informasi seperti saat ini.

Karena itu, semua pihak khususnya lingkungan kampus dapat mewaspadai serta mengantisipasi penetrasi ajaran yang tidak sejalan dengan nilai Islam moderat

“Dalam era teknologi informasi saat ini, pemikiran tentang liberalisme, sekularisme dan radikalisme serta ajaran lain yang tidak sejalan dengan nilai Islam yang Wasathiyah sangat mudah masuk dan dapat memengaruhi pola pikir mahasiswa sehingga berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat menjadi narasumber dalam Rapat Terbuka Senat dan Pembukaan Oshika Maba Unisma 2021 secara virtual, Senin (6/9/2021).

Menurut Wapres, sebagai pengampu nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah, Unisma harus mampu membentengi diri dan para mahasiswanya dari paham-paham yang tidak sejalan dengan moderasi Islam. “Hal ini harus diwaspadai dan diantisipasi di lingkungan Unisma,” imbuh Kiai Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf berharap agar Unisma terus melakukan penguatan nilai ke Islaman dan keIndonesiaan yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

Selain itu, Wapres juga mengapresiasi Unisma agar tidak hanya menjadi kampus yang mencerdaskan masyarakat dan bangsa saja, tapi juga memberikan keterampilan dan kemandirian.

”Yang penting lagi, Unisma harus bisa memberikan kesejukan dan kedamaian pada masyarakat. Harus membangun harmoni dalam berbangsa dan bernegara,” tutur Wapres.

Diterbitkan di Berita

Islampers.com – Jakarta Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjen PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini menanggapi aksi perusakan masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Sintang, Kalimantan Barat, yang terjadi pada Jumat (3/9/2021) lalu.

Menurut Helmy, aksi perusakan masjid Ahmadiyah itu sangat bertentangan dengan nilai agama. Ia mengajak agar berbagai persoalan yang ada di negeri ini dapat diselesaikan secara musyawarah dan tidak main hakim sendiri.

“Aksi perusakan (Masjid Ahmadiyah) bertentangan dengan nilai agama. Mari kita selesaikan segala perbedaan yang ada dengan musyawarah untuk mufakat, tidak main hakim sendiri, karena Indonesia bukan negara barbar tetapi negara dengan koridor hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Marilah kita hormati hukum dan perundang-undangan itu,” tegas Helmy melalui video, diterima NU Online, Ahad (5/9/2021) siang.

Helmy juga meminta semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan upaya provokasi untuk memecah bangsa, seperti aksi perusakan Masjid Ahmadiyah itu. Menurutnya, prasangka baik antar sesama anak bangsa mesti dikedepankan sehingga dapat terus membangun kebersamaan secara baik. Salah satunya dilakukan dengan cara membangun dialog.

“Mari terus membangun dialog anta rumat beragama atau antar berbagai macam mazhab dan keyakinan, agar kita senantiasa dapat hidup dalam satu ikatan kekeluargaan kebangsaan, sehingga kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik,” ujar Helmy.

Ia pun mendesak aparat keamanan untuk segera mengusut dan menindak tegas seluruh oknum yang melakukan perusakan Masjid Ahmadiyah itu. Jika aparat mengusut dan menindak tegas, maka semua pihak diminta untuk tetap menghormati proses hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Helmy lantas mengajak agar bangsa Indonesia tetap menjaga persatuan.

“Marilah kita terus jaga persatuan dan kesatuan bangsa, mari kita terus bergandengan tangan untuk menata Indonesia ke depan yang lebih baik,” ajak Helmy.

Bersahabat dengan Seorang Ahmadiyah Dalam sebuah unggahan di Instagram, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengungkap pengalamannya ketika remaja yang memiliki sahabat seorang penganut Ahmadiyah.
Ia mengaku tidak pernah diajarkan untuk menyortir teman berdasarkan kepercayaan, bahkan tidak pernah terpikir untuk melakukan itu. Putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mengaku sayang kepada sahabatnya, meski berbeda keyakinan keagamaan.

“Suatu hari sahabat saya bertanya, ‘Kok kamu mau sih temenan sama aku, apa kamu gak takut dimarahin orang-orang?’ Saya kaget. Itu kali pertama saya memahami bagaimana rasanya menjadi anggota kelompok yang dipersekusi atas nama kebenaran ala mayoritas-minoritas. Hati saya retak saat itu, tapi saya masih naif, tidak tahu realita berat yang benar-benar dihadapi mereka,” tulis Alissa di dalam unggahannya, Ahad sore.

Dituturkan, kondisi yang dihadapi sahabatnya itu semakin berat saat dan sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang Ahmadiyah pada tahun 2000-an. Alissa menjelaskan, sejak saat itulah, berbagai serangan fisik kerap dilakukan ke berbagai kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Hingga kini, Alissa merasa sedih karena tidak pernah ada perbaikan soal itu.

Namun, Alissa meyakinkan bahwa terlepas dari persoalan menerima atau tidak keyakinan mereka, anggota Jamaah Ahmadiyah di Indonesia tetap memiliki hak konstitusi sebagai warga negara. “(Sehingga) tidak ada tindakan melanggar hukum yang boleh dilakukan orang lain terhadap hak konstitusi mereka, bahkan atas nama kebenaran agama yang diyakini para penyerang itu,” tegas Alissa.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gegara sebut-sebut “jenggot” seolah identik dengan Islam, Denny Siregar mendapat komentar pedas dari seorang warganet dengan akun Twitter UHFF @UHFF26124117.

“Saya orang kalimantan. Jangan bawa2 jenggot. Dan jangan sebut jenggot itu kadrun. Kalau anda islam seharusnya anda malu ngatain jenggot. Jenggot itu syariat islam dan nabi Muhammad juga berjenggot, klo anda menghina jenggota berarti menghina syariat islam,” kata akun UHFF.

Denny Siregar pun kaget karena jenggot disebut sebagai syariat Islam. “Wah jenggot syariat Islam.. Baru tahu. Kalau Nabi berjenggot ya karna beliau org arab. Rata2 org arab memang begitu krn hormon rambutnya begitu. Abu Jahal, abu Lahab dan semua musuh Nabi jg berjenggot. Krn mrk jg org arab. Apa itu syariat Islam juga?” kata Denny Siregar, Sabtu malam 4 September 2021.

Bahkan Denny kemudian malah mempertanyakan sosok Musni Umar dan Haikal Hassan yang teka berjenggot. “Gile. Gua baru tau salah syarat utk jadi Islam harus berjenggot. Gimana nih ustad Musni Umar dan Haikal Hassan gak berjenggot ? Bukan Islam pastinya.. Ah, sial. Gua di blok ma mereka..,” pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, bagi umat Islam mempunyai negara adalah sunnatullah karena diperlukan untuk menjaga maqashid al syar'i atau tujuan syariah.

Adapun tujuan syariah ada lima, yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.

Mahfud MD menjelaskan, ketika menyampaikan risalah Islam dan memimpin umat, Rasulullah Muhammad SAW juga mendirikan negara Madinah yang bersifat inklusif dan kosmopolit, yakni mempersatukan warga yang berbeda suku, ras, dan agama secara berkeadaban (madani).

"Dengan toleransi, perlindungan hak manusia sesuai maqashid al syar'i yakni melindungi HAM dan membangun kesejahteraan umum dengan penegakan hukum dan keadilan," tutur Mahfud MD dalam silaturrahim dengan tokoh agama dan Pimpinan Forkopimda se-Jawa Timur yang digelar secara virtual, Selasa (31/8/2021) malam.

Mahfud menegaskan bahwa prinsip mendirikan negara itu adalah mewujudkan maqashid al syar'i. Sedangkan sistem dan bentuk negaranya boleh apa saja seperti demokrasi, monarki, presidensil, parlementer, kerajaan, republik, imarah, dan mamlakah.

Yang penting prinsip itu terpelihara dengan baik. "Islam tidak mementingkan bentuk atau sistem tertentu tetapi mementingkan substansi, sesuai dengan kaidah, al ibrah fil Islam bi al jawhar la bi al madzhar," ucapnya.

"Negara Indonesia berdasar Pancasila merupakan produk perjuangan dan ijtihad ulama dan ummat Islam yang bersama warga lainnya merebut kemerdekaan dari kolonialisme," kata Mahfud MD dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9/2021).

(abd)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar mengingatkan kepada masyarakat mengenai radikalisme di Indonesia.

Dia meminta kepada para ulama untuk senantiasa menyampaikan Islam wasathiyah atau moderat. Menurut Kiai Miftach, Islam yang moderat diharapkan dapat memperkuat benteng dari serangan radikalisme.

“Hal ini dipandang penting seiring terus menguatnya radikalisme di masyarakat,” ujar Miftach saat memberi sambutan di Mukernas MUI ke satu 2021 dalam siaran langsung di kanal YouTube OFFICIAL TVMUI, Rabu (25/8).

Miftach menjelaskan, ada dua jenis radikalisme, yakni radikalisme kiri dan kanan. Untuk radikalisme kiri bergerak pada pemikiran liberalisme, pluralisme dan sekularisme. Pemahaman itu disatukan dalam pemikiran beragama.

“Sedangkan radikalisme kanan, radikalisme dalam beragama dan terorisme berkedok agama atau menggunakan bendera-bendera agama atau atas nama agama,” ucapnya.

Miftach menjelaskan, kedua radikalisme itu kini tengah menggempur Indonesia. Bila berhasil, kedua gerakan radikalisme itu dapat menghancurkan pondasi Islam di Indonesia.

“Pergerakan kedua kelompok ataupun syariat ini merupakan gambaran pertarungan ideologi global yang menyerang, menggempur di Indonesia, dampaknya memporak-porandakan bangunan Islam yang selama ini telah dibangun oleh para ulama,” ujarnya.

Miftach menjelaskan, radikalisme kiri rawan menyasar para akademisi yang berada di kampus. Sedangkan radikalisme kanan masuk dalam pemahaman agama.

Paham ini dapat dengan mudah menyasar orang yang awan terhadap agama. Belajar agama melalui internet.

“Pengurus MUI semua lapisan harus memahami Islam wasathiyah,” katanya.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Sebelum Taliban kembali menguasai Afghanistan dan menimbulkan ketakutan akan pemerintahannya yang represif, Indonesia pernah berusaha memperkenalkan paham Islam moderat kepada kelompok militan itu - dengan keberhasilan terbatas.

Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia melalui organisasi kemasyarakatan Islam dan Majelis Ulama Indonesia secara aktif terlibat dalam proses bina damai (peace-building) di Afghanistan, walaupun bukan sebagai aktor utama.

Salah satu bentuk upaya tersebut adalah mengundang perwakilan Taliban dan pemerintah Afghanistan ke Jakarta pada 2019.

Dalam pertemuan itu, perwakilan Taliban, Mullah Abdul Ghanis Baradar berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Ulama Indonesia tentang moderasi beragama.

 

Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini menceritakan bagaimana waktu itu ketua NU Said Aqil Siradj memaparkan Indonesia sebagai contoh masyarakat Muslim yang tidak menghadap-hadapkan agama dengan negara, agama dengan budaya.

"Nilai agama melebur menjadi spirit kebangsaan, kemudian terjadi akulturasi budaya antara agama dengan budaya lokal, melahirkan suatu tradisi dan kearifan-kearifan lokal," kata Helmy kepada BBC News Indonesia.

 

NU adalah ormas Islam yang pernah melakukan kontak dengan Taliban.

NU adalah ormas Islam yang pernah melakukan kontak dengan Taliban.

 

Helmy mengatakan bahwa NU, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, terus berusaha melakukan diplomasi politik luar negeri untuk mengajak semua pihak di Afghanistan membangun spirit moderasi dalam beragama.

Usaha diplomasi tersebut bertujuan mencegah kekerasan dalam praktik pemerintahan di Afghanistan serta memastikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, terutama pada perempuan dan anak-anak.

"Itulah prinsip Islam wasathiyyah di mana menjadikan nilai agama sebagai sumber kebaikan untuk senantiasa, pertama membangun perdamaian, kedua membangun ta'awun atau kerja sama untuk tolong-menolong, dan ketiga membangun peradaban yang unggul."

Helmy menjelaskan bahwa terdapat organisasi NU di Afghanistan, yang didirikan oleh orang asli sana. Melalui jalur itulah para ulama NU akan menyampaikan pesan kepada tokoh-tokoh kunci Taliban bahwa mereka bisa menjadi musuh bersama dunia jika membangun pemerintahan yang otoriter dan brutal.

Jusuf Kalla memimpin pertemuan dengan Taliban ketika ia menjabat wakil presiden pada 2019.

Jusuf Kalla memimpin pertemuan dengan Taliban ketika ia menjabat wakil presiden pada 2019. GETTY IMAGES

 

Kontribusi lain Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Afghanistan adalah menjadi tuan rumah konferensi trilateral ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan pada 2018.

Konferensi yang diadakan di Istana Kepresidenan Bogor itu menghasilkan "Deklarasi Bogor" yang berisi sejumlah poin penting untuk perdamaian dan resolusi konflik di Afghanistan dan negara-negara Islam lainnya. Namun, konferensi tersebut tidak dihadiri perwakilan Taliban.

Pemerintah Indonesia juga pernah mengundang puluhan anak muda Afghanistan untuk menetap di salah satu pesantren di Jawa Tengah.

Wachid Ridwan, pengurus Lembaga Luar Negeri Pengurus Pusat Muhamadiyyah, berpendapat bahwa walaupun berbagai upaya diplomasi tersebut patut diapresiasi, dampaknya tidak signifikan dalam mendorong Taliban untuk menjadi lebih moderat.

Ia mempertanyakan sejauh mana perwakilan Taliban dapat kembali ke Afghanistan dan menerapkan gagasan tentang Islam wasathiyah, toleransi, dan kebhinekaan.

"Dampaknya mungkin hanya pada satu-dua orang saja kali, dan itu mungkin tidak betul-betul mengakar ke sebuah sistem," kata Wachid kepada BBC News Indonesia.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Syafiq Hakim, juga pesimis bahwa Indonesia dapat memberikan sumbangan pada penyelesaian masalah Afghanistan terutama setelah negara itu kembali dikuasai oleh Taliban.

Menurut Syafiq, meskipun selama ini ormas Islam seperti NU menjalin kontak dengan Taliban, namun sokongan Indonesia lebih kepada pemerintahan Afghanistan yang berkuasa saat itu.

"Karena itu, ketika Taliban ini berkuasa kembali, apakah kita bisa berbicara dengan dia sementara kita dulu lebih mendukung kepada pemerintahan yang digantikan oleh Taliban ini. Ini persoalan yang krusial bagi kita," kata Syafiq.

Selain itu fakta bahwa pemerintah Indonesia mengevakuasi seluruh diplomatnya dari Afghanistan merupakan pertanda bahwa posisi Indonesia tidak dipertimbangkan, menurut Syafiq. "Kalau kita punya posisi kan seharusnya kita diminta pemerintah Taliban untuk tinggal di sana."

Syafiq berpendapat, hambatan lain dalam diplomasi dengan Taliban ialah perbedaan budaya dan tidak adanya tokoh ulama Indonesia yang dihormati oleh kelompok itu.

"Kelompok-kelompok yang bisa berperan adalah, selain di Pakistan, juga negara-negara kaya di Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi," kata Syafiq.

Tunjukkan sisi lain Islam

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Katolik Parahyangan, Kishino Bawono, saat ini jalur yang bisa ditempuh Indonesia untuk membantu menyelesaikan konflik di Afghanistan ialah berupaya menjembatani perdamaian antara Taliban dengan kelompok-kelompok non-Taliban.

Namun, hal itu bergantung pada sejauh mana keinginan pemerintah Indonesia saat ini maupun yang akan datang. Menurut Kishino, pemerintah Indonesia masih punya PR yang cukup banyak terkait proses deradikalisasi kelompok-kelompok fundamentalis di Indonesia.

Ketika usaha dialog dengan Taliban menemui keberhasilan terbatas, hal yang dapat dilakukan Indonesia adalah menunjukkan "wajah Islam yang lain" kepada dunia, kata pakar hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Kishino Bawono.

"Jika Taliban dianggap sebagai gerakan radikal, fundamentalis di dalam Islam, maka Indonesia dapat menunjukkan sisi Islam yang lebih moderat dan progresif sehingga tidak ada dominasi narasi bahwa Islam sama dengan Taliban," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar kembali membuat heboh warganet. Kali ini ia menanggapi pernyataan netizen tentang tuduhan “konspirasi” terkait Covid-19. 

Mulanya adalah akun DeDe MuflihaH @MuflihahDede mencuit: 

“Covid itu konspirasi yg ingin menghancurkn islam soalnya datangny setiap hari raya...covidnya berdasi covid buatn cukong,” kata DeDe MuflihaH.

Denny pun memberikan komentar. 

 

https://twitter.com/Dennysiregar7/status/1412288368516476930 

 

“Kenapa apa2 selalu dikaitkan ma Islam ya ? Lemah amat Islam di mata kadrun..,” kata Denny Siregar, Selasa 6 Juli 2021.

Tak hanya sampai di situ, selang beberapa saat ia kembali menanggapi cuitan akun KomikKita@komikkitatweet yang menyindir kebijakan Pemprov DKI Jakarta dalam upaya penggalangan donasi untuk penanganan Covid.

"Ngemis Sumbangan ke Dubes ..? kenapa gak minta donasi rakyat "monas" yang 7 Juta itu tong...?" tanya Komikkita.

Denny pun tertawa, “Wkwkwkkw...”. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Sebagai pemimpin nasional, telah banyak hal yang ditinggalkan Soekarno . Segudang nilai bisa ditelusuri sekaligus diteladani masyarakat dari proklamator kemerdekaan berjuluk Putra Sang Fajar ini.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir setidaknya ada lima hal yang bisa dicontohkan Bung Karno untuk generasi di bawahnya.

"Pertama, Bung Karno telah memberikan contoh bagi kita sebagaimana para pendiri bangsa dan pejuang bangsa di negeri tercinta, yakni pengkhidmatan, perjuangan, dan pengorbanan yang tanpa pamrih untuk Indonesia, baik sewaktu melawan penjajah maupun setelah Indonesia merdeka," kata Haedar menyambut Haul Ke-51 Bung Karno, 21 Juni 2021.

Haedar menyatakan bahwa Bung Karno sampai harus dibuang ke Ende, ke Bengkulu, dan diasingkan ke berbagai tempat. Bahkan, Bung Karno pernah dipenjara di Bandung.

"Yang kedua, kita belajar dari Bung Karno adalah sosok yang bersahaja dan mencintai rakyat kecil. Sampai akhir hayatnya, kita kenal Bung Karno tidak punya harta dan materi, tetapi sejarah perjalanannya sangat mencintai rakyat kecil, lahir dan batin," kata dia.

Menurut Haedar, konsep Marhaenisme adalah wujud dari pengkhidmatan Bung Karno untuk membela kaum lemah, duafa, dan rakyat jelata. Dia mengharapkan tindakan Bung Karno itu mengilhami para anak bangsa.

"Yang ketiga, kita belajar dari Bung Karno tentang sosok pemimpin yang cerdas, berilmu, berwawasan, dan bervisi kebangsaan yang melintas batas. Bung Karno adalah pembelajar yang selalu haus ilmu, belajar pada siapa pun, pada Tjokroaminoto, Kiai Dahlan, dan tokoh-tokoh lain yang menjadi rujukan dari sejarah perjalanannya di samping pada tokoh-tokoh dunia," paparnya.

Bung Karno, lanjut Haedar, gemar membaca dan visi kebangsaannya melampaui zaman. Bung Karno juga sosok yang mampu mengintegrasikan keagamaan, keislaman, dan kebangsaan atau keindonesiaan.

Menurut Haedar, ketika Piagam Jakarta kemudian dikompromikan, lalu lahir kesepakatan yang menjadi dasar dari Hari Konstitusi 18 Agustus 1945 tentang Pancasila, dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah bukti dari Bung Karno adalah sosok yang selalu mencari titik temu tentang agama dan keindonesiaan.

Bahkan ketika mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 disebutkan Piagam Jakarta adalah menjiwai Undang-undang Dasar 1945. Dia menambahkan, Bung Karno betul-betul memberi teladan bahwa agama dan Islam bukanlah lawan dari keindonesiaan, kebangsaan. Namun, satu senyawa untuk Indonesia.

"Yang kelima kita belajar dari Bung Karno tentang kenegarawanan. Jiwa kenegarawan Bung Karno melintas batas dan melampaui segalanya. Beliau mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari kepentingan diri dan kelompoknya," tambahnya.

Haedar menyatakan Bung Karno berdialog dengan siapa saja, bahkan tetap menjalin hubungan dengan mereka yang berpandangan politik berbeda. Bung Karno juga menjadi sosok yang dalam saat-saat kritis menempatkan kepentingan rakyat dan bangsa di atas segalanya.

"Lima teladan ini di samping masih banyak teladan yang lainnya harus menjadi rujukan kita yang mengenang Bung Karno, mencintai Bung Karno, dan ingin meneruskan jejak Bung Karno sebagaimana tokoh-tokoh bangsa di republik tercinta ini. Bagaimana kita selalu berjuang tanpa pamrih bersahaja tanpa memupuk materi dan cinta rakyat kecil lahir dan batin dalam tindakan nyata," pungkas Haedar.


(muh)

Diterbitkan di Berita

Perihal ini, umat Gereja Katolik Mater Dei Madiun turut serta melakukan penjagaan dan bantuan pengamanan kegiatan ibadah salat tarawih di Masjid Mujahidin yang lokasinya hanya beberapa meter di sisi selatan Gereja Mater Dei tersebut.

"Penjagaan yang kami lakukan di Masjid Mujahidin ini sudah dilakukan sejak 2019 lalu. Tujuannya memberikan kenyamanan jamaah masjid dalam melaksanakan ibadah di bulan suci ramadan, serta menjalin hubungan sosial antar umat beragama," kata Koordinator Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Gereja Katolik Mater Dei Madiun Yustinus Karyono pada rri.co,id, Jumat (23/4/2021).

Yustinus menjelaskan, bentuk kegiatan yang dilakukan salah satunya ikut membantu mengatur lalu lintas sekaligus menyebrangkan jamaah yang hendak ke masjid.

Sementara itu, Badan Gereja Katolik Paroki Mater Dei Madiun Yusup Trimanto menyatakan, ada 12 orang yang terlibat dalam bantuan pengamanan luar masjid.

Penjagaan dan pengamanan dilakukan menjelang hingga selesai salat tarawih mulai pukul 18.30 WIB sampai 20.00 WIB.

Tidak hanya pada salat tarawih, lanjutnya, ketika lebaran umat gereja juga membantu pengamanan, menjaga kekhidmatan umat muslim melaksanakan salat ied.

"Saudara-saudara kami muslim sangat welcome terhadap sedikit bantuan yang kita berikan. Karena ini sebagai bentuk toleransi dan kita juga sering dibantu oleh saudara-saudara kami umat muslim ketika kita melaksanakan hari raya,” terangnya.

Kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Madiun, Asep Fron mengharapan, apa yang dilakukan oleh umat katolik mampu memberikan kenyamanan masyarakat muslim untuk menjalankan ibadah di bulan ramadhan.

“Selain itu, harapannya momentum ini dapat dicontoh orang muda khususnya dari katolik, merangkul siapapun semua stakeholder yang ada di Kota Madiun maupun yang ada di Indonesia untuk menjalin silaturrahmi dan hubungan beragama yang baik. Ini adalah satu cara untuk menangkis intoleransi yang beredar dan berkembang di Indonesia,” ucapnya.

Pihak lain, seorang jamaah Masjid Mujahidin Kota Madiun,Ghea Ramadhani mengapresiasi, upaya umat Gereja katolik Mater Dei yang turut serta menjaga dan mengamankan kegiatan salat tarawih.

“Harapannya tentu bisa mempererat silaturrahmi antar umat beragama agar bangsa ini bisa sesuai dengan ideologi Bhineka Tunggal Ika dan semoga bisa menjadi contoh untuk lainnya agar bisa lebih aman dan damai,” kata Ghea.

Adapun, Takmir masjid Mujahidin Kota Madiun Maryono menilai, apa yang dilakukan umat katolik Gereja Mater Dei merupakan wujud kebersamaan antar umat beragama yang harus tetap terjaga.

“Kami mengucapkan terimakasih ini adalah suatu bentuk kebersamaan. Jadi Gereja Mater Dei ada kegiatan, kami dari masjid pun ikut mengamankan maupun mengatur dari lalu lintas,” pungkasnya.

 

Diterbitkan di Berita

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Bagi Muhammadiyah hubungan natara keislaman dan keindonesia yang sudah final. Komitmen Muhammadiyah dalam hal ini ditegaskan dalam konsep Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah.

Terkait dengan hubungan Agama Islam dan Pancasila, Muhammadiyah mempunyai konsep  Darul Ahdi Wa Syahadah. Konsep ini menegaskan komitmen keislaman dan keindonesiaan yang dipahami oleh Muhammadiyah.

Pancasila sebagai Darul Ahdi berarti negeri yang bersepakat pada kemasalahatan. Artinya Darul Ahdi juga dapat dimaknai sebagai Darussalam yang berarti negeri yang penuh dengan kedamaian.

Sedangkan Pancasila sebagai Wa Syahadah berarti negeri kesaksian dan pembuktian bahwa umat harus berperan aktif dalam pemahaman, penghayatan, dan laku hidup sehari-hari. Dalam arti luas, Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah bermakna bahwa setiap kelompok harus berlomba-lomba meraih kemajuan dan keunggulan berdasarkan etika sportifitas.

Menurut Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, Muhammadiyah merupakan organisasi Islam moderat di Indonesia yang sudah final dalam urusan kaitan antara keislaman dengan keindonesiaan, jadi tidak perlu diragukan keislaman dan keindonesiaan Muhammadiyah.

“Jadi ketika Muhammadiyah mengatakan Darul Ahdi itu artinya sebuah perjanjian yang mengarah kepada kenegaraan,” ungkapnya pada (5/4) dalam acara Sarasehan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada Generasi Milenial di Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Yudian menjelaskan, saat ini consensus menjadi hukum tertinggi dalam menentukan sebuah hukum di negara Indonesia. Sementara itu, terkait dengan konsep Bhineka Tunggal Ika yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak boleh hanya diberlakukan pada sisi keragaman agama saja, tapi juga berlaku dalam pada segala sisi.

Melihat Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang memiliki banyak alumni dengan berbagai macam latar belakang, konsep Bhinke Tunggal Ika memiliki arti penting bagi Muhammadiyah. Yudian juga mengajak bersyukur kepada bangsa ini kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pemberiannya yang bermacam-macam ini.

“Di Indonesia ini minimal kita memiliki dua kelebihan dibanding dengan bangsa di dunia ini. Pertama, sumber daya alamnya, dan yang kedua jaminan konstitusional bagi WNI untuk bisa menjadi presiden,” imbuhnya.

Diterbitkan di Berita