KOMPAS.com - Dari 3.762 prodi di seluruh Indonesia yang terakreditasi nasional (BAN-PT) dengan peringkat A, hanya sekitar 10,5 persen terekognisi internasional.

Akreditasi internasional dilakukan lembaga akreditasi dari negara lain atas permintaan perguruan tinggi atau program studi untuk melakukan kaji ulang dan evaluasi terhadap kriteria/standar mutu program studi.

Melansir laman Institut Teknologi Bandung (ITB), ada tiga dimensi yang berhubungan dengan akreditasi internasional, yaitu standardisasi outcomes yang berhubungan dengan keunggulan proses pembelajaran, sistem, dan mekanisme penjaminan mutu prodi dan rekognisi internasional yang dapat digunakan untuk branding prodi.

Di era globalisasi, standardisasi outcomes (kemampuan lulusan) jadi penting agar lulusan dapat bersaing dengan lulusan prodi sejenis dari negara lain, baik untuk pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri.

Outcomes based education adalah suatu keniscayaan agar prodi dapat menghasilkan lulusan yang dapat berkompetisi secara global dan prodi dapat membangun sistem penjaminan mutu yang terstruktur dan terukur.

Di atas semua itu, tentunya keberadaan prodi harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bangsa, dan negara, khususnya dalam rangka menyediakan sumber daya manusia unggul dan bermutu.

Berikut adalah daftar program studi di ITB yang terakreditasi internasional, merangkum laman ITB, Jumat (27/8/2021):

Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET)

  1. S-1 Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2009-Present)
  2. S-1 Teknik Kelautan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB (2009-Present)
  3. S-1 Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri ITB (2010-Present) S-1 Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri ITB (2010-Present)
  4. S-1 Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2012-Present)
  5. S-1 Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri ITB (2012-Present) S-1 Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB (2012-Present)
  6. S-1 Teknik Sipil, Fakultas Teknologi Sipil dan Lingkungan ITB (2013-Present)
  7. S-1 Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB (2013-Present)
  8. S-1 Teknik Pertambangan opsi Tambang Umum, Fakultas Teknik Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB (2015-Present)
  9. S-1 Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri ITB (2015-Present)
  10. S-1 Teknik Telekomunikasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2016-Present)
  11. S-1 Teknik Tenaga Listrik, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2016-Present)
  12. S-1 Sistem dan Teknologi Informasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2020-Present)

ASIIN e. V.

  1. S-1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  2. S-1 Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  3. S-1 Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  4. S-1 Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2022)
  5. S-1 Mikrobiologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2022)
  6. S-1 Sains dan Teknologi Farmasi, Sekolah Farmasi ITB (2020-2022)
  7. S-1 Farmasi Klinik dan Komunitas, Sekolah Farmasi ITB (2020-2022)
  8. S-1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  9. S-1 Teknik Dirgantara, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  10. S-1 Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  11. S-1 Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Perminyakan dan Pertambangan ITB (2016-2022)
  12. S-1 Teknik Geologi, Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB (2019-2024)
  13. S-1 Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB (2019-2024)
  14. S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2019-2024)

Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE)

  1. S-1 Teknik Metallurgi, Fakultas Teknik Perminyakan dan Pertambangan ITB (2016)

KAAB

  1. S-1 Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2016-Present),
  2. S-2 Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2016-Present)

Royal Society of Chemistry (RSC)

  1. S-1 Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2018), ABEST21
  2. S-1 Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  3. S-1 Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  4. S-2 Sains Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  5. S-2 Administrasi Bisnis, (kampus Bandung), Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  6. S-2 Administrasi Bisnis, (kampus Jakarta), Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  7. S-3 Sains Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)

Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE)

  1. S-1 Rekayasa Hayati, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2018-2023)
  2. S-1 Rekayasa Pertanian, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2026)



Penulis : Ayunda Pininta Kasih


Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Rasa bangga menyelimuti Fairuz Aisya Alzura (FKK 2018), Aulian Fajarrahman (FKK 2018), Aristo Hakisa Rendra (STF 2018), dan Jayson Wilbert (STF 2018). Mereka berhasil keluar sebagai Juara 1 Clinical Skills Event (CSE). Acara ini berlangsung dalam 20th Asia Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS) 2021 pada Minggu (11/7/2021).

Selain Clinical Skills Event, APPS memiliki rangkaian acara berupa simposium dan lokakarya kefarmasian, juga professional development competitions lainnya. APPS menjadi acara tahunan dari International Pharmaceutical Students’ Federation Asia Pacific Regional Office (IPSF APRO). Menyesuaikan situasi pandemi, acara tahun ini diselenggarakan secara daring pada 2—11 Juli 2021 dengan tuan rumah University of the Philippines Pharmaceutical Association (UPPhA).

Berawal dari keinginan menguji ingatan, delegasi Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB memanfaatkan ajang kompetisi ini yang memang menguji pengetahuan kefarmasian, terutama ilmu-ilmu yang telah didapat selama kuliah. Secara umum, topik-topik yang diangkat dalam lomba ini antara lain: pharmaceutical microbiology, formulation and pharmaceutical technology, clinical pharmacy, pharmacology, dan pharmaceutical calculation.

Tim ini perlu melewati tiga tahap sebelum akhirnya dinobatkan menjadi pemenang. Dimulai dari tahap preliminary pada Mei lalu yang mengharuskan mereka menjawab sejumlah soal pilihan ganda dan satu soal esai melalui Google Form dalam waktu yang ditentukan. Lolos ke tahap semifinal, mereka beradu dengan 11 tim lainnya untuk memperebutkan lima poin tertinggi agar bisa melaju ke babak final. Kali ini, mereka dikumpulkan dalam situs virtual meeting untuk menjawab 25 pertanyaan dalam waktu 30 menit. Setiap pertanyaan memiliki bobot nilai yang berbeda sesuai tingkatannya, mulai dari easy, intermediate, hingga advanced.

Mereka akhirnya lolos ke babak final setelah menempati posisi keempat dengan perolehan poin 700 pada tahap semifinal. Momen paling menegangkan dirasakan ketika poin antartim untuk soal easy dan intermediate tidak berbeda jauh, sehingga soal advanced menjadi penentu keberhasilan mereka. Ditambah, tahap ini menggunakan sistem betting points.

Koordinasi yang baik dan penyusunan strategi sebelum bertanding menjadi kunci keberhasilan tim ini pada babak final. Mereka membuat rencana mengenai berapa poin yang akan dipertaruhkan sejak satu hari sebelumnya. Selain itu, ketenangan saat menghadapi tekanan juga diperlukan.

“Kelompok lain betting-nya kadang terlalu tinggi dan itu sempat membuat kita cemas karena kalau jawabannya benar kita bisa ketinggalan poin. Tapi, akhirnya kita tetap tenang dan stick to the plan. Ini membuat penambahan skor kita tetap konsisten sampai akhir dan bisa lebih santai, terutama di soal terakhir kita sudah terjamin menang,” ungkap Jayson, salah satu anggota tim.

Koordinasi yang hanya dilakukan melalui sambungan telepon juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Menurut Fairuz, anggota tim sempat salah mendengar jawaban Aristo di babak semifinal dan menganggapnya sebagai jawaban yang salah. Nyatanya, jawaban tersebut malah menyumbangkan poin paling tinggi. Agar kejadian ini tidak terulang, mereka sepakat untuk mengetik jawaban yang sulit disampaikan secara lisan. Mereka harus selalu siap siaga di grup untuk membacanya.

“Jujur ini pengalaman pertamaku ikut lomba CSE dan tidak menyangka banget tim kita bisa juara 1 di skala internasional. Jadi, buat teman-teman, kalau penasaran sama sesuatu, baik kegiatan, lomba, atau apa pun, coba saja dulu. Kamu tidak pernah tahu kalau itu ternyata passion kamu yang belum kamu exploreLearn new things everyday!” pesan Aristo yang menutup sesi wawancara.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita