Jakarta, Kominfo - Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi telekomunikasi 5G untuk industri dalam negeri. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier menyatakan Kementerian Perindustrian mendorong industri dalam negeri memproduksi perangkat pendukung base station 5G.

"Hal ini sejalan dengan pesan Presiden Joko Widodo, khususnya untuk menunjang produksi industri manufaktur yang menggunakan teknologi IoT. Pengembangan R&D teknologi 5G, akan diarahkan ke Technopark binaan Kemenperin, hasil kerja sama dengan vendor-vendor dalam negeri," ujarnya dalam Webinar “5G dan Peran Insinyur Elektro dalam Pengembangan Transformasi Digital Indonesia” dari Jakarta, Sabtu (26/06/2021).

Pemerintah telah meluncurkan “Peta Jalan Making Indonesia 4.0” pada 4 April 2018 lalu sebagai inisiatif untuk percepatan pembangunan industri memasuki era industri 4.0 dengan sasaran utama menjadikan Indonesia sebagai 10 negara ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB pada tahun 2030. 

Menurut Dirjen Taufiek, Kemenperin tengah menyiapkan industri dalam negeri dalam penyediaan perangkat pendukung base station 5G maupun aplikasinya. Sedangkan untuk tahap awal nilai persentase ambang batas minimum TKDN perangkat pengguna (User Equipment) 5G, dapat mengikuti nilai yang berlaku saat ini pada perangkat dengan teknologi 4G/LTE.

“Pemerintah telah menetapkan 10 (sepuluh) program prioritas nasional, diantaranya dengan membangun Infrastruktur Digital, dan infrastruktur 5G termasuk di dalamnya untuk dapat mempercepat transformasi digital. Untuk itu dibutuhkan revitalisasi industri manufaktur guna mendukung program tersebut,” jelasnya.

Dirjen Ilmate menyatakan teknologi 5G memiliki kombinasi antara konektivitas berkecepatan tinggi, latensi yang rendah, dan cakupan yang luas untuk dioptimalkan bagi penerapan industri 4.0. “Sehingga sensor dan penganalisaan data akan menjadi real time dan tanpa jeda,” tuturnya.

Selain itu, 5G juga membuat pengguna bisa mengontrol lebih banyak perangkat secara remote. Bahkan, 5G dapat membuka lebih banyak ragam use case, peluang bisnis, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

“Di mana kinerja jaringan real-time sangat kritis, seperti pada remote control alat berat di lingkungan berbahaya, sehingga dapat meningkatkan faktor keselamatan pekerja, dan banyak lainnya,” ungkap Dirjen Taufiek.

Direktur Jenderal Ilmate berharap dengan adanya webinar yang dilaksanakan BKE PII dan IEEE Indonesia Section dapat memberikan wawasan kepada Insinyur Elektro Indonesia untuk bisa memanfaatkan peluang teknologi 5G dalam menunjang Industri 4.0, membangun SDM dan ekosistem untuk mengakomodasi transformasi digital Indonesia.

Webinar yang diselenggarakan Persatuan Insinyur Indonesia) dan IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) Indonesia Section khususnya bidang Government Relation Chapter, diharapkan dapat menjadi wadah bagi para akademisi untuk bersinergi dalam membangun solusi teknologi berbasis 5G.

Selain Dirjen Ilmate Kementerian Perindustrian, webinar juga diisi dengan pembicara Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, LT. Handoko dan Dirjen SDPPI Kementerian Kominfo, Ismail. Hadir pula perwakilan ekosistem 5G antara lain dari Telkomsel, PT. Tata Sarana Mandiri (TSM); ShintaVR; Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI); serta Schneider Electric. (hm.ys)

Diterbitkan di Berita

Elmy Tasya KhairallydetikTravel Seattle - Insinyur Boeing asal Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan roket di NASA. Kabarnya ini akan jadi roket NASA yang paling kuat!

Marko Djuliarso, insinyur Boeing di New Orleans turut ambil bagian dalam pembangunan roket NASA yang akan membawa astronot ke bulan tahun 2024. Dia terlibat dalam proyek pembuatan komponen rocket space launch system.

"Fokus di penjadwalan, biaya, kualitas selain itu juga banyak menganalisa data," kata Marko kepada VOA Indonesia dalam sebuah video. Roket tersebut dikatakan sebagai roket NASA yang paling kuat. Bahkan rencana jangka panjang ada target menerbangkannya ke planet Mars.

"Untuk launch pertama ke bulan, tapi kita ada target (jangka panjang) ke Mars," kata Marko. Menurut Marko, proyek ini bisa disebut paling keren. Dia merasa beruntung bisa turut ambil bagian di dalamnya. 

"Paling memuaskan kalau kita sudah bisa menyelesaikan produk pertama dan bisa menyerahkan produk itu ke customer," ujarnya.

Marko pernah melakukan studi di beberapa universitas. Dia kini memiliki gelar pendidikan dari Universitas Tennessee, Universitas Teknologi Nanyang Singapura dan Universitas Southern California. Marko mengaku tak pernah bercita-cita berkarir di bidangnya sekarang.

"Nggak pernah bercita-cita untuk (berkarir) ke (bidang) roket apalagi aerospace sih," tutur Marko "Bapak saya nganjurin ambil aja industrial engineering atau teknik industri. Sebagai anak yang baik, saya ikuti aja," katanya sambil tersenyum.

Biarpun pencapaianya kini begitu mengagumkan, perjalanan karirnya tak selalu berjalan mulus. Sebelum bekerja di Boeing dia berulang kali melamar pekerjaan di AS. "Selama 6 bulan, saya kira kira setiap minggu mungkin apply 100 kerjaan," kata Marko.

Usahanya pun membuahkan hasil. Marko dapat tawaran dari Boeing saat bekerja di sebuah perusahaan produksi jendela di Dallas, AS. "Saya juga udah lupa pernah interview sama Boeing dan pernah apply ke Boeing.

Jadi setelah pikir-pikir sedikit, saya dan Vieda istri saya memutuskan untuk ambil kerjaan di Boeing ini dan pindah ke daerah Seattle, Washington," ungkap Marko.

Selama bekerja di Boeing, Marko pernah terlibat dalam proyek pesawat komersial 787 dan 777 di Seattle dan Italia. Hingga akhirnya dia menggarap roket NASA di New Orleans.

Diterbitkan di Berita