VOA Indonesia Antrean panjang kembali terjadi di luar SPBU di berbagai penjuru London pada hari Rabu (29/9), sementara keterbatasan pasokan bahan bakar berlanjut, meskipun PM Boris Johnson mengatakan situasinya membaik.

Video dari kantor berita Reuters menunjukkan antrean panjang mobil dan van yang menunggu untuk mengisi BBM di berbagai SPBU di London, serta pengumuman di beberapa SPBU bahwa tidak ada lagi BBM yang tersedia.

Inggris telah dicengkeram oleh serbuan pembeli yang panik selama hampir sepekan yang membuat SPBU kehabisan BBM di kota-kota besar, setelah perusahaan-perusahaan minyak memperingatkan mereka tidak memiliki cukup banyak supir truk untuk membawa bensin dan solar dari kilang ke tempat-tempat pengisian BBM.

Johnson telah berusaha memadamkan kekhawatiran masyarakat, dengan mengatakan pasokan telah kembali normal seraya mendesak warga agar tidak panik membeli. Tetapi di banyak daerah, para pengendara kendaraan bermotor masih antre menunggu untuk dapat mengisi BBM.

Pemerintah telah menyiagakan 150 pengemudi truk tangki militer Inggris, dan berbagai laporan media menunjukkan mereka dapat dikerahkan dalam beberapa hari mendatang.

 

Antrean di sebuah SPBU London, Inggris, 29 September 2021. (REUTERS/Beresford Hodge)
Antrean di sebuah SPBU London, Inggris, 29 September 2021. (REUTERS/Beresford Hodge)

 

Kelompok-kelompok industri menyatakan kelangkaan BBM terburuk tampaknya terjadi di London, di bagian tenggara dan kota-kota Inggris lainnya.

Kelangkaan ini telah menambah suasana kacau di negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia itu setelah kurangnya supir-supir truk di berbagai penjuru Inggris menyebabkan sejumlah kekosongan di rak-rak di supermarket.

Salah satu supermarket di London misalnya, pada hari Selasa (28/9) memasang iklan lowongan kerja untuk supir di pintu masuknya. [uh/lt]

 
Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melaporkan situasi Covid-19 di Indonesia yang sudah melandai saat bertemu Menlu Inggris Liz Truss di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-76 di Amerika Serikat.

Dalam pertemuan itu, Menlu Retno menunjukkan data perbandingan kasus Covid-19 pada Juli ketika mencapai rekor tertinggi dengan September yang menunjukkan penurunan signifikan.

“Harapan saya adalah data-data yang saya sampaikan ini akan digunakan oleh otoritas Inggris sebagai masukan untuk melakukan review terhadap red green list mereka,” kata Retno dalam konferensi pers, Rabu.

Indonesia mencatat kasus harian Covid-19 tertinggi selama pandemi sebanyak 56.757 pada 15 Juli. Tak lama setelah itu, Inggris memasukkan Indonesia ke dalam daftar merah atau “red list”.

Pemerintah Inggris melanggar warganya bepergian ke negara-negara dalam daftar merah, sementara yang diperbolehkan masuk hanya warga Inggris, Irlandia, dan pemegang izin tinggal di Inggris.

Selain itu, kedua menlu juga membahas isu mengenai Myanmar dan Afghanistan dalam kesempatan tersebut. Retno menambahkan Menlu Inggris berencana mengunjungi Indonesia pada akhir tahun ini.

“Untuk menindaklanjuti semua pembicaraan yang kita lakukan pada hari Senin kemarin, dan juga membahas kerja sama yang lebih strategis antara kedua negara,” ungkap Retno.

Pertemuan dengan Menlu Arab Saudi

Menlu Retno juga melaporkan penurunan kasus Covid-19 di Indonesia ketika bertemu Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud di sela-sela sidang PBB.

“Mengharapkan kiranya data-data tersebut digunakan oleh otoritas Arab Saudi di dalam meninjau kembali kebijakan terkait vaksin, umrah dan lain-lain,” ujar Retno.

Pada Selasa kemarin, pihak Kementerian Agama RI mengungkapkan pemerintah Arab Saudi sudah mencabut Indonesia dari daftar negara yang berstatus 'suspend' atau larangan terbang langsung ke Saudi.

Namun, menurut Kemenag RI, hingga saat ini pemerintah Saudi belum mengeluarkan regulasi apa pun tentang penyelenggaraan umrah di luar dari warga negaranya.

“Kita juga membahas perkembangan di Afghanistan dan akan melanjutkan koordinasi dengan OKI dalam menyikapi perkembangan di Afghanistan,” tambah Retno.

Indonesia mengumumkan 3.263 kasus baru Covid-19 pada Selasa sehingga total kasus seluruhnya menjadi 4.195.958. Jumlah tersebut menurun dibanding pada bulan Juli ketika kasus harian Covid-19 mencapai puluhan ribu akibat varian Delta.

Diterbitkan di Berita

Menteri Kesehatan Sajid Javid mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pemerintah telah menerima rekomendasi dari Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) dan akan mulai menawarkan suntikan penguat minggu depan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta negara-negara kaya untuk menunda suntikan penguat sampai setiap negara telah memvaksinasi setidaknya 40% populasi mereka.

"JCVI menyarankan agar dosis penguat ditawarkan kepada mereka yang lebih rentan, untuk memaksimalkan perlindungan individu menjelang musim dingin yang tidak terduga," kata Profesor Wei Shen Lim, ketua panel. "Sebagian besar orang-orang ini juga akan memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin flu tahunan dan kami sangat menyarankan mereka menerima tawaran ini juga."

JCVI mengatakan suntikan penguat diperlukan untuk memastikan orang yang rentan terlindungi dari COVID-19, karena penelitian telah menunjukkan bahwa kekebalan yang diberikan oleh vaksin melemah dari waktu ke waktu. Panel tersebut merekomendasikan agar setiap orang di atas 50 tahun, serta petugas kesehatan, orang-orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan mereka yang tinggal dengan orang-orang yang mengalami imunosupresi, mendapatkan suntikan penguat setidaknya enam bulan setelah mereka menerima dosis vaksin kedua, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (15/9/2021).

Langkah itu dilakukan meskipun ada seruan WHO untuk menunda dosis penguat di tengah kekurangan vaksin global. Badan tersebut mengatakan bahwa COVID-19 akan terus mengancam orang di mana-mana sampai semua negara memvaksinasi cukup banyak orang untuk mencegah varian baru yang berpotensi berbahaya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengulangi seruan itu pekan lalu setelah banding yang disampaikan sebelumnya diabaikan secara luas.

“Saya tidak akan tinggal diam ketika perusahaan dan negara yang mengontrol pasokan vaksin global berpikir bahwa orang miskin dunia harus puas dengan sisa,” katanya pada 8 September. 

Pejabat WHO bersikeras pembenaran ilmiah untuk penguat masih belum jelas.

 
 
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Dalam rangka merayakan peresmian pencabutan lockdown, warga Inggris membuat acara 'Freedom Day' atau hari kebebasan dan merayakannya dengan berpesta di klub malam.

Dalam hal ini diketahui jika sebenarnya peresmian pelonggaran pembatasan ini tidak sepenuhnya membuat mereka benar-benar terbebas dari virus hal tersebut dikarenakan virus corona masih bisa menyerang kapan saja dan di mana saja mereka berada.

Namun menurut salah satu warga yang menikmati acara tersebut, ia merasa sangat gembira.

"Saya benar-benar gembira," ujar salah satu warga yang larut dalam pesta perayaan di sebuah klub di Leeds, Lorna Feeney dikutip mealui AP.

“Inilah hidupku, jiwaku, aku suka menari. Ini menakjubkan. Itu membuatku merasa sangat baik.”

Melansir melalui New York Post, Kamis (22/7/2021) diketahui jika Menteri Kesehatan Inggris sedang dinyatakan positif corona, setelah pelonggaran pembatasan tersebut diresmikan. 

Bahkan infeksi baru juga melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Namun rupanya hal itu tak membuat warga Inggris waswas. 

Sementara, menurut Kevin Ally, salah satu warga mengatakan tidak khawatir tertular covid-19 dan senang bisa kembali ke lantai dansa.

"Tidak ada kekhawatiran," katanya. 

“Satu-satunya kekhawatiran adalah mengapa kami tidak berada di sini selama satu setengah tahun. Sudah sangat lama sejak kami keluar. Senang bisa kembali, dan kami di sini untuk menari,” tambahnya 

Maka dari itu, mulai tengah malam, warga Inggris tidak lagi diwajibkan memakai masker di toko dan dalam ruangan. Keputusan ini diambil bersama dengan pencabutan batasan kapasitas di bar dan restoran.

Diterbitkan di Berita
Elshinta.com - Kasus COVID-19 di Inggris telah meningkat empat kali lipat dalam sebulan sejak awal Juni, kata sebuah penelitian Kamis, jelang rencana pemerintah membuka kembali sektor ekonomi dalam dua pekan. Perdana Menteri Boris Johnson berencana mengakhiri pembatasan pada 19 Juli, meski data menunjukkan kasus infeksi terus meningkat.
 
Dia mengatakan dirinya memahami bakal ada lebih banyak kematian akibat COVID-19, namun kehidupan perlu kembali normal. Penelitian itu, salah satu riset terbesar di Inggris, melibatkan 47.000 orang dan berlangsung pada 24 Juni-5 Juli. Riset menunjukkan prevalensi nasional mencapai 0,59 persen atau 1 dari 170 orang, dibanding 0,15% pada periode akhir Mei-awal Juni.

"Sangat sulit membuat argumen, berdasarkan data yang kami peroleh, bahwa ini hal yang bagus untuk membuka lebih cepat (sektor ekonomi)," kata Steven Riley, profesor dinamika penyakit menular dari Imperial College London, kepada pers. Pemerintah harus mempertimbangkan faktor-faktor non-epidemiologis lainnya sebelum mengambil keputusan, tambah Riley.

Riset juga menemukan bahwa pada kelompok usia di bawah 65, tingkat penularan tiga kali lebih rendah pada orang yang telah divaksin penuh ketimbang yang tidak divaksin. Hasil itu menunjukkan pentingnya vaksinasi untuk mengurangi jumlah kasus.
Tidak ditemukan bukti gelaran Euro 2020 telah memicu kenaikan kasus, kata Riley. Namun, wanita memiliki peluang tertular 30 persen lebih rendah daripada pria, yang kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan pola pergaulan.

"Tingkat pergaulan pria dan wanita sepertinya jadi penentu," kata Riley. Kekhawatiran terhadap perhelatan Euro 2020 di Stadion Wembley London tidak sepenting kenaikan kasus penularan di ruang tertutup yang terjadi di seluruh negeri. "Sepertinya menonton sepak bola membuat pria memiliki lebih banyak aktivitas sosial daripada sebelumnya."

Sumber: Reuters
 
Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Varian Delta menyebar dengan cepat di Inggris dan menyebabkan kasus Covid-19 melonjak sekali lagi. Mungkinkah negara-negara lain bernasib sama?

Di mana saja varian Delta menyebar?

Laboratorium di seluruh dunia yang menganalisis materi genetik virus telah membagikan temuan mereka ke basis data global. Saat ini, Inggris sepertinya memiliki lebih banyak kasus varian Delta daripada sebagian besar negara lain di dunia.

 

WHO

Selain cegah stigma, penggunaan alfabet Yunani untuk varian Covid-19 disebut WHO akan permudah masyarakat membicarakan turunan virus corona. GETTY IMAGES

 

Sebanyak 75.953 kasus varian Delta ditelusuri di Inggris hingga 16 Juni, naik nyaris dua kali lipat dari 42.323 kasus pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, hingga 14 Juni, 2.853 kasus varian Delta telah diidentifikasi di AS, 747 di Jerman, 277 di Spanyol dan 97 di Denmark, menurut situs web pemantauan global GISAID.

Adapun di Indonesia, telah ditemukan 107 kasus varian Delta per 13 Juni, menurut data Kementerian Kesehatan.

Tapi ini bukan catatan pasti tentang berapa banyak jumlah kasus yang ada - ini catatan berapa banyak yang terlihat, dan Inggris memiliki sistem yang sangat baik untuk mendeteksi varian virus corona.

Jadi kemungkinan angka-angka ini menyamarkan insiden varian yang jauh lebih besar di beberapa negara yang melakukan lebih sedikit pengurutan analisis genetik virus (whole genome sequencing).

Misalnya, ada 875 kasus varian Delta yang diidentifikasi di India pada 3 Mei ketika virus sedang berkecamuk, dan tercatat hanya 142 kasus varian Delta dalam empat pekan terakhir.

Kendati negara itu mencatat antara setengah juta hingga dua juta kasus baru sejak awal Mei, dengan varian Delta diyakini sebagai varian dominan.

 

Usulan nama-nama baru untuk varian virus Covid-19

 

Di Inggris, 38.000 kasus varian Delta tercatat dalam 28 hari terakhir. Pemerintah Skotlandia mengatakan varian tersebut bertanggung jawab atas "sebagian besar" kasus baru.

Pemerintah Irlandia Utara telah memperingatkan bahwa varian tersebut kemungkinan akan menjadi jenis yang dominan dan pemerintah Wales mengatakan varian Delta mendorong peningkatan kasus dan kini negara itu berada dalam fase awal gelombang ketiga virus corona.

Mengapa Inggris sangat terdampak dibanding negara lain?

Para pakar meyakini faktor utama yang membuat lonjakan kasus di Inggris dalam waktu singkat disebabkan oleh volume perjalanan.

Merujuk data pemerintah Inggris, varian itu masuk ke Inggris melalui setidaknya 500 pelancong.

Dr Jeffrey Barrett dari Sanger Institute, yang menganalisis materi genetik dari tes swab Covid-19 untuk mengetahui mutasi virus corona, mengatakan angka sebenarnya kemungkinan lebih dari 1.000.

Ini penting karena cara penyebaran virus yang tidak teratur.

Kita berbicara tentang angka reproduksi virus yang berarti bahwa, tanpa langkah-langkah pembatasan jaga jarak atau pengendalian infeksi, satu orang kemungkinan menginfeksi rata-rata tiga orang.

Namun pada kenyataannya, tak setiap orang menginfeksi tiga orang lainnya.

 

Perbandingan angka R berbagai varian Covid-19, dibandingkan penyakit lain.

 

Sebaliknya, satu orang mungkin menginfeksi 30 orang lain, sedangkan yang lain tidak menginfeksi siapa pun - baik karena perbedaan dalam biologi, perilaku, atau kondisi kehidupan mereka.

Ada unsur kebetulan - jika lima orang tiba di Inggris membawa varian ini, bisa jadi Anda beruntung ketika tidak ada dari mereka yang menularkannya.

Jika 500 kasus varian Delta sudah tercatat sejauh ini, kemungkinan besar setidaknya satu orang yang terinfeksi varian Delta akan menularkan infeksi mereka, atau bahkan menjadi penyebar super.

Jadi perbedaan antara lima dan 500 pelancong yang masuk dengan varian Delta tidak akan persis 100 kali infeksi.

Selain itu, varian Delta memasuki Inggris pada saat pembatasan sedang dilonggarkan dan dalam cuaca dingin.

Cuaca dingin akan membuat lebih banyak orang di dalam ruangan, dan di sisi lain, virus bisa bertahan lebih lama di luar ruangan.

 

Scientist holds a sample tube

GETTY IMAGES

 

Apakah negara lain akan bernasib sama?

Para pakar meyakini beberapa negara mungkin sudah menuju ke arah yang sama seperti Inggris - tetapi mereka memiliki program pengurutan genetik lebih sedikit dan lebih lambat, yang berarti kita belum dapat melihatnya dalam data.

Dan di beberapa negara seperti AS, varian tersebut baru terdeteksi tak lama kemudian - mungkin karena lebih sedikit orang yang memiliki hubungan langsung dengan India - sehingga varian ini diperkirakan baru akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

Dr Muge Cevik, seorang spesialis penyakit menular di Universitas St Andrews, mengatakan, pada waktunya, kita mungkin melihat lonjakan kasus serupa di negara lain.

Dia juga menambahkan prospek seperti itu "jauh lebih mengkhawatirkan di negara-negara dengan tingkat vaksinasi rendah".

 

pekerja migran

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) antre untuk melakukan pengecekan dokumen perjalanan di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (29/04) ANTARA FOTO/TEGUH PRIHATNA

 

Varian Delta sangat mungkin menjadi varian dominan di negara lain, dan mungkin di seluruh dunia, katanya.

Varian ini jauh lebih menular dan kita tahu - termasuk dari varian Alfa yang pertama kali diidentifikasi di Kent, Inggris - bahwa virus akhirnya menemukan cara untuk menyebar.

Mungkinkah itu bisa dicegah?

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil INggris , 42.406 orang melakukan perjalanan dua arah antara India dan Inggris pada bulan April.

Lebih sedikit perjalanan berarti lebih sedikit peluang bagi varian untuk masuk.

Pada bulan Januari, Sage, badan ilmiah pemerintah, telah memperingatkan bahwa: "Tidak ada intervensi, selain penutupan perbatasan yang lengkap, atau karantina wajib bagi semua pengunjung pada saat kedatangan di fasilitas yang ditunjuk, terlepas dari riwayat pengujian, yang dapat hampir sepenuhnya mencegah impor kasus atau varian baru."

Pemerintah Inggris menempatkan India dalam daftar merah - yang berarti orang yang datang dari negara itu harus melakukan karantina mandiri di hotel - pada 23 April.

Ini terjadi setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan Delta sebagai "variant of interest" dan setelah diketahui berada di Inggris, tetapi sebelum ditetapkan sebagai "variant of concern" oleh otoritas kesehatan Inggris.

Meskipun hingga kini belum jelas varian apa saja yang menyebabkan masalah di India, tapi semakin jelas bahwa banyak orang menjadi korban dari varian virus tersebut.

 

testing centre at airport

GETTY IMAGES

 

Tetapi Dr Cevik mengatakan "pada akhirnya itu akan terjadi" di Inggris, meskipun sejumlah upaya untuk mengurangi kasus impor dilakukan.

Dia menunjukkan bahkan Australia, yang memiliki salah satu kontrol perbatasan paling ketat di dunia, telah mengalami wabah varian Delta, meskipun jumlahnya relatif kecil.

Dan, tambahnya, ancaman negara-negara "daftar merah" mungkin mendorong mereka untuk menghentikan pengujian dan pengurutan.

"Kita tidak akan dapat sepenuhnya menghentikan varian yang datang," katanya, dan solusi terbaik adalah memvaksinasi sebanyak mungkin orang di dunia.

Diterbitkan di Berita

Hanoi, Beritasatu.com- Vietnam telah mendeteksi varian baru virus corona, atau hibrida varian Covid-19 dari India dan Inggris. Seperti dikutip surat kabar daring VnExpress melaporkan, pada Sabtu (29/5/2021), Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thanh Long mengatakan pada hibrida itu menyebar dengan cepat melalui udara.

Seperti dilaporkan Reuters, setelah berhasil menahan virus corona hampir sepanjang tahun lalu, Vietnam kini berjuang melawan wabah yang menyebar lebih cepat.

Hampir 3.600 orang telah terinfeksi di 31 dari 63 kota dan provinsi sejak akhir April, terhitung lebih dari setengah dari total infeksi di negara itu.

“Setelah menjalankan sekuensing gen pada pasien yang baru terdeteksi, kami telah menemukan varian baru yang merupakan campuran dari India dan Inggris," kata Nguyen Thanh Long.

Lebih spesifik, hibrida itu adalah varian India dengan mutasi yang aslinya milik varian Inggris.

VnExpress mengutip Long yang mengatakan Vietnam akan segera mengumumkan varian yang baru ditemukan ke dunia.

Vietnam sebelumnya telah melaporkan tujuh varian virus: B1222, B1619, D614G, B117 (varian dari Inggris), B1351, A231 dan B16172 (varian dari India).

Kultur laboratorium dari varian baru, yang jauh lebih dapat ditularkan daripada jenis yang diketahui sebelumnya, mengungkapkan bahwa virus menggandakan dirinya dengan sangat cepat.

“Sifat itu menjelaskan mengapa begitu banyak kasus baru muncul di lokasi berbeda dalam waktu singkat,” kata Nguyen Thanh Long.

Vietnam telah mendaftarkan 6.396 kasus virus corona sejauh ini, dengan 47 kasus kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi empat varian SARS-CoV-2 yang menjadi perhatian global. Identifikasi itu termasuk varian yang muncul pertama kali di India, Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil.

Pejabat di WHO tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait varian yang diidentifikasi di Vietnam.

Lama kultur laboratorium dari varian baru menunjukkan replika virus dengan sangat cepat, mungkin menjelaskan mengapa begitu banyak kasus baru muncul di berbagai bagian negara dalam waktu singkat.

Kementerian Kesehatan menyatakan pada pertemuan tersebut bahwa pemerintah sedang bekerja untuk mengamankan 10 juta dosis vaksin di bawah skema pembagian biaya Covax, serta 20 juta dosis vaksin Pfizer-Biontech dan 40 juta dosis Sputnik V. Rusia.

Negara berpenduduk sekitar 98 juta orang sejauh ini telah menerima 2,9 juta dosis vaksin Covid-19 dan bertujuan untuk mendapatkan 150 juta dosis tahun ini.

Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.com - Pasukan tentara Inggris terlibat dalam operasi untuk menyita senjata ISIS di Mali di tengah badai pasir dan suhu lebih dari 50 derajat Celcius.

Sekitar 100 tentara Inggris dari Light Dragoons dan Royal Anglian Regiment, menemukan senjata ISIS, berupa senapan AK47, ratusan butir amunisi, pakaian kamuflase, radio, ponsel, dan ratusan liter bahan bakar.

Kementerian Pertahanan (MoD) mengatakan misi penemuan senjata ISIS tersebut dilakukan dengan dukungan khusus tim pencari, Royal Engineers, di tengah kondisi sangat menantang.

Melansir Sky News pada Sabtu (15/5/2021), kadang-kadang jarak pandang para tentara hanya 30 meter di tengah badai pasir.

Sementara, mereka membawa peralatan sebesar 45 kg dengan suhu di atas 50 derajat Celcius, saat dalam perjalanan menuju Mali dekat perbatasan Niger, pada awal Mei. Itu adalah operasi "pengepungan dan pencarian" pertama, yang bertindak atas dasar data intelijen yang dikumpulkan secara proaktif oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Mali.

Sementara, mereka mencurigai militan ISIS telah melarikan diri dengan berenang melintasi Sungai Niger sebelum tentara Inggris tiba di sana.

Kementerian Pertahanan mengatakan, ISIS di Kawasan Gurun Sahara (ISGS) telah mengintimidasi penduduk setempat di Mali, memeras uang, dan menyerang orang-orang yang menolak untuk memenuhi tuntutan mereka.

"Menghapus senjata dan mensabotase operasi ekstremis akan membuat perubahan nyata bagi masyarakat lokal," ungkap Menteri Angkatan Bersenjata Inggris James Heappey.

"Terpenting data intelijen yang dikumpulkan akan membantu mengembangkan pemahaman kami dan membantu mencegah ancaman dari kelompok bersenjata di masa depan," imbuh Heappey.

Letnan Kolonel Tom Robinson, komandan Light Dragoons, mengatakan, "Dengan menggunakan intelijen yang dikumpulkan selama patroli kami, kami fokus pada di mana kelompok ekstremis mengintimidasi penduduk setempat."

Setelah itu, diharapkan dapat menemukan dan menyita persediaan senjata ISIS, mengintervensi pengaruh berbahaya mereka pada komunitas lokal.

Selain itu, untuk dapat "mengumpulkan lebih banyak informasi yang akan membantu menghentikan aktivitas ekstremis lebih lanjut.

" Tiga ratus tentara Inggris dikerahkan ke negara Afrika barat yang dilanda perang pada Desember, untuk bekerja bersama 16.000 penjaga perdamaian dari 56 negara berbeda.

Peran tentara Inggris tersebut adalah untuk menyediakan pengintaian jarak jauh spesialis untuk misi PBB, mengumpulkan intelijen di wilayah negara yang sulit dijangkau.

Penulis : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia --  Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan dua kasus mutasi virus SARS-CoV-2 B117 atau varian baru Virus Corona terdeteksi masuk RI dari Arab Saudi.

"Tadi malam kita menemukan dua kasus, masuk dari Saudi Arabia dan memiliki strain virus baru ini," kata Budi dikutip dari tayangan CNNIndonesia TV, Selasa (2/3).

Budi mengatakan belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa strain baru virus itu lebih fatal. Namun, menurutnya, strain baru virus tersebut lebih menular.

 "Pesan saya, tetap jalankan disiplin, memakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Untuk masyarakat itu yang harus dijaga. Selama kita tetap lakukan protokol kesehatan yang baik apapun virusnya dapat kita hindari," ujarnya.

Mantan wakil menteri BUMN itu lantas membandingkan temuan B117 di Indonesia dengan negara-negara tetangga.

Di Malaysia dan Singapura, kata dia, virus itu dideteksi pada Desember 2020 sementara di Filipina pada Januari 2021 dan Thailand pada Februari 2021.

"Kalau sekarang baru keluar di kita, ada dua kemungkinan. Satu, Tuhan sangat menyayangi negara kita selama ini, atau dua, memang baru ketemu sekarang," kata Budi.

Sebelumnya Kementerian Kesehatan mengumumkan penemuan dua kasus mutasi virus SARS-CoV-2 B117 di Indonesia. Mutasi virus itu diketahui pertama kali ditemukan di Inggris dan kini telah menyebar di lebih dari 33 negara.

Temuan itu didapatkan dari hasil pemeriksaan terhadap 462 sampel dengan metode Whole Genome Sequence (WGS). Varian baru ini menjadi 'kado' setahun pandemi virus corona menjangkit Indonesia.

 (yoa/fra)

Diterbitkan di Berita