Jakarta (ANTARA) - Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, merupakan langkah revolusioner pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan pemerataan pembangunan, peningkatan sumber daya manusia, sekaligus mendorong kemajuan peradaban bangsa.

Pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, yang berada di tengah-tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan mendorong pemerataan pembangunan di wilayah lain dengan lebih cepat.

Pemindahan ibu kota akan mendorong pertumbuhan infrastruktur dan perekonomian, peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia di Kalimantan Timur.

Dengan demikian, peluang pemerataan pembangunan ke wilayah sekitar akan lebih mudah jika dibandingkan pertumbuhan terpusat di Pulau Jawa.

Deputi IV Kantor Staf Presiden Juri Ardiantoro mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal IV-2020, dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Rp15.434,2 triliun, sebanyak 58,75 persen di antaranya masih didominasi Pulau Jawa, diikuti Sumatera 21,36 persen, Kalimantan 7,94 persen, Sulawesi 6,66 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,94 persen, serta Maluku dan Papua 2,34 persen.

Hal tersebut menunjukkan ketimpangan yang sangat nyata. Diharapkan dengan pembangunan ibu kota negara di Kalimantan Timur, maka jangkauan dan perhatian seluruh pemangku kepentingan terhadap pemerataan pembangunan ke wilayah lain akan lebih terbuka.

Pembangunan Ibu kota negara yang baru memiliki tujuan mulia dan harus didukung seluruh pihak.

Tanpa adanya langkah revolusioner yang berani dari seorang Presiden bernama Joko Widodo, maka wacana pemindahan ibu kota mungkin akan terus tertunda.

Namun demikian, dibutuhkan perencanaan jangka menengah dan panjang dalam pembangunan ibu kota negara yang baru ini. Terlebih di tengah masa pandemi yang mengharuskan pemerintah merealokasikan anggaran untuk penanganan COVID-19.

Dengan perencanaan yang matang, Indonesia dapat segera lepas landas membangun ibu kota negara saat pandemi mulai mereda.

Upaya-upaya perencanaan jangka menengah dan panjang perlu ditempuh dengan cara-cara yang tidak biasa.

Sejauh ini pemerintah sudah menetapkan bahwa skema pembiayaan ibu kota negara yang baru tidak bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Skema pembiayaan terbesar berasal dari kerja sama pemerintah dengan badan usaha serta kontribusi dan investasi pihak-pihak swasta.

Selaian itu peningkatan kualitas sumber daya manusia juga harus disiapkan dengan terukur, tidak hanya oleh pemerintah, namun juga generasi penerus, misalnya mahasiswa.

Mahasiswa hendaknya turut mempersiapkan diri menyongsong peluang-peluang yang akan muncul di ibu kota negara yang baru.

Peluang tersebut terbuka tidak hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga dari sisi kepemimpinan politik.

Mahasiswa dapat mempersiapkan dirinya untuk mengambil peluang dalam kepemimpinan politik nasional ke depan.

Kemajuan peradaban

Koordinator Staf Khusus Presiden RI AAGN Ari Dwipayana mengatakan pembangunan ibu kota negara (IKN) yang baru adalah wujud nyata pembangunan peradaban sebagai representasi kemajuan bangsa.

Menurut Ari Dwipayana, pemindahan ibu kota negara memiliki urgensi, sebab beban DKI Jakarta sebagai ibu kota ke depan akan semakin berat, baik sebagai pusat pemerintahan maupun sebagai pusat bisnis.

Dia juga sepakat bahwa pemilihan Kalimantan Timur sebagai lokasi pembangunan ibu kota baru sangatlah tepat. Selain karena di Kalimantan Timur minim risiko bencana, tingkat kepadatan penduduknya masih rendah, juga sebagai upaya mempercepat pemerataan pembangunan.

Posisi geo strategis Kalimantan Timur di tengah Indonesia, dinilainya akan memudahkan bagi upaya-upaya pemerataan ekonomi, terutama ke wilayah Indonesia Timur yang masih tertinggal.

Pemindahan ibu kota memang diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan dengan mampu mendorong perdagangan antarwilayah dan mendorong penciptaan kesempatan kerja yang lebih besar.

Pembangunan Ibu kota negara yang baru ini akan menjadi bagian dari sejarah penting bangsa Indonesia, di mana ibu kota yang baru akan menjadi inisiatif gagasan karya anak bangsa, bukan warisan kolonial.

Bangsa Indonesia akan membuktikan kemampuannya dalam membangun ibu kota negara yang diinginkan.

Talenta muda Indonesia tentu harus bergotong-royong mewujudkan hal tersebut, selain juga membuka peluang kolaborasi dengan talenta global.

Inilah mengapa pembangunan ibu kota turut merepresentasikan kemajuan peradaban bangsa.

Presiden Jokowi sendiri telah mengingatkan perpindahan ibu kota negara yang baru, bukan semata-mata memindahkan pusat pemerintahan, gedung-gedung dan mencari lokasi yang strategis atau merancang desain arsitektur yang indah. Melainkan juga harus memiliki visi yang besar ke depan.

Pertama, visi menjadi smart metropolis yang compact dan modern. Kedua, harus dirancang menjadi kota yang inklusif, atraktif, humanis, ramah dan nyaman bagi semua kalangan.

Ketiga, ibu kota negara yang baru menjadi representasi identitas bangsa dengan mengapresiasi budaya Indonesia yang majemuk.

Keempat, mendorong tumbuhnya smart economy, ekonomi berbasis riset dan inovasi, serta mampu menciptakan kesempatan kerja baru.

Kelima, dirancang sebagai superhub dari daerah sekitarnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyampaikan pembangunan ibu kota negara yang baru harus diikuti pula dengan pertumbuhan di desa-desa dan kota lain.

Hal tersebut bertujuan agar terjadi keseimbangan dalam pembangunan.

Apa yang disampaikan Erick Thohir memang benar. Sebagai antisipasi lonjakan pertambahan jumlah penduduk Indonesia ke depan, maka pembangunan tidak dapat hanya dilakukan di ibu kota negara yang baru, melainkan di semua wilayah secara beriringan.

Tujuannya agar kepadatan jumlah penduduk bisa tersebar ke sejumlah wilayah lain, tidak hanya menumpuk di ibu kota yang baru.

Pada intinya ibu kota negara yang baru haruslah menjadi penggerak ekonomi bangsa di masa depan sekaligus identitas nasional yang selaras dengan bhineka tunggal ika.

Pembangunan ibu kota negara yang baru harus mampu menjawab persoalan pemerataan pembangunan yang selama ini kerap mengemuka, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan partisipasi masyarakat lokal.

Semuanya mesti ditempuh dengan cara-cara baru yang inovatif dan luar biasa, secara bersama-sama, dalam semangat mewujudkan Indonesia Maju.

Oleh Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Soraya Novika - detikFinance Jakarta - Pemerintah berencana membangun rumah dinas berbentuk tapak di ibu kota negara (IKN) baru pada 2022. Rumah dinas itu diperuntukkan bagi para Menteri, Pejabat Eselon I, dan Pejabat Negara lainnya.

"Ibu kota negara tahun ini kita belum membangun, tahun depan perumahan," ungkap Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid dalam rapat tersebut, Rabu (9/6/2021).

Khalawi mengatakan anggaran pembangunan rumah dinas tersebut tidak berasal dari APBN, melainkan dari Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta swasta murni.

"Tapi khusus perumahan tidak pakai APBN. Perumahan nanti rumah dinas menggunakan KPBU dan swasta murni, ini arahan dari bapak Presiden," katanya.

Dalam mendukung pembangunan perumahan tersebut, Kementerian PUPR telah menyiapkan alokasi sebesar Rp 6,71 miliar.

Adapun anggaran itu akan dialokasikan untuk pembangunan rumah contoh 1 unit berupa rumah jabatan setingkat Menteri tipe rumah khusus 400 meter persegi. "(Anggaran Rp 6,71 miliar) IKN hanya dukungan saja," tambahnya.

Selain itu, rumah tapak negara yang dibangun sifatnya disewakan kepada penghuni, bukan menjadi milik pribadi. "Jadi (yang) bangun rumah swasta, nanti kita nyewa," katanya.

Berdasarkan paparan Khalawi, rencananya mulai tahun depan akan dibangun sebanyak 2.132 unit rumah tapak negara di Ibu Kota Baru. Rumah tapak negara ini akan terbagi ke dalam 3 tipologi dan peruntukan.

Pertama, rumah tapak tipe khusus 400 meter persegi untuk Menteri/Pejabat Negara sebanyak 98 unit. Kedua, rumah tapak tipe A 250 meter persegi untuk Pejabat Negara sebanyak 865 unit. Ketiga, rumah tapak tipe A 250 meter persegi untuk Pejabat Eselon I sebanyak 1.169 unit.

(fdl/fdl)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
  
Seniman patung Nyoman Nuarta mengungkap, karya Istana Garuda bakal menerapkan konsep green building sesuai dengan perintah dari Presiden Joko Widodo. Dengan konsep itu, basic design bangunan buatannya diklaim hemat energi, bahkan bisa membunuh virus dan bakteri. 
 
Penghematan energi, menurut Nuarta, dilakukan dengan membuat semacam bilah-bilah berbentuk vertikal pada bagian depan agar kaca di bagian belakang tak terkena sinar matahari secara langsung. Dengan menggunakan teknik tersebut, penggunaan energi listrik seperti AC dapat lebih efisien.
 
"Itu dibuat di depannya ada bilah-bilah melindungi kaca yang ada di dalam dari terpaan matahari langsung sehingga yang di dalam itu tidak terjadi efek rumah kaca," kata dia di Nuart Sculpturepark, Selasa (1/6).
 
 "Pemakaian listrik untuk AC juga akan berkurang, karena sekarang COVID, harus ruangan itu dapat udara fresh," lanjut dia. Nuarta menambahkan, lapisan depan burung garuda menggunakan bahan logam tembaga.
Penggunaan logam tembaga sebagai bahan utama yang membentuk burung garuda diterapkan dengan mempertimbangkan sifat logam yang lentur, mudah dibentuk, dan anti korosi.
 
Sebagai logam, menurut Nuarta, tembaga merupakan konduktor yang baik dan tidak mudah ditumbuhi jenis jamur dan lumut. Dia menilai tembaga dapat membunuh virus serta bakteri. Tembaga juga dinilainya tahan lama dan tak membutuhkan perawatan.
 "Dia sudah terbukti membunuh itu, ditambah lagi itu bisa membunuh virus, terus bakteri sudah jelas, makanya debu yang menempel di kulit garuda itu tidak akan tumbuh, karena pasti mati. Sekarang kita untuk membunuh lumut itu pakai tembaga bisa," papar dia.
 
Nyoman Nuarta Sebut Bangunan Istana Garuda Hemat Energi dan Bisa Bunuh Virus (1)
Nyoman Nuarta. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
 
Adapun nantinya, menurut Nuarta, bangunan Istana Garuda didesain menghadap ke bagian tenggara untuk menyiasati paparan langsung sinar matahari dari timur dan barat.
Dengan demikian, sinar matahari dipastikan tak akan langsung masuk ke dalam gedung.
"Jadi suhu dalam gedung tidak terlalu panas. Ini kan juga bisa mengirit penggunaan pendingin ruangan," pungkas dia.
 
Basic design rancangan Nuarta telah diunggah melalui akun Instagram Presiden Joko Widodo. Karyanya mendapat pujian serta kritik dari berbagai pihak. Kritik terutama disampaikan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang tujuh asosiasi profesi ke istana negara untuk memberikan masukan terkait pembangunan ibu kota negara (IKN) baru, Kamis (15/04/2021).

Ketujuh asosiasi tersebut yaitu Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), dan Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI).

Kemudian, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI), Green Building Council Indonesia (GBCI) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Dari ketujuh asosiasi, lima di antaranya merupakan asosiasi arsitek seperti IAP, IARKI, IAI, IALI, serta GBCI.

Berikut ini masukan kelima asosiasi arsitek yang disuarakan oleh Ketua IAI I Ketut Rana Wiarcha, Ketua GBCI Iwan Prijanto, Ketua IARKI Hadi Prabowo, Ketua IALI Dian Heri Sofian, dan Ketua IAP Hendricus Andy Simarmata.

Pertama, pembangunan IKN sejatinya merupakan proses pembangunan peradaban.

"Oleh karena itu, pembangunan peradaban ini tak hanya soal pembangunan fisik saja, tapi juga non-fisik," bunyi siaran pers dari kelima asosiasi arsitek yang diterima Kompas.com, Jumat (16/04/2021).

IKN tidak hanya menjadi kota berisi kumpulan infrastruktur dan bangunan. Namun, juga menjadi wadah berkumpulnya semangat, budaya, dan interaksi yang mencerminkan kesiapan bangsa untuk hidup pada masa depan.

Sebab, IKN akan menjadi bagian dan catatan penting sejarah panjang Indonesia. 

Kedua, koordinasi lintas kementerian melalui 9 kelompok kerja (pokja) terpisah dinilai kurang efektif untuk mensinergikan proses perencanaan dan perancangan multi-scalar dan lintas pelaku.

Maka dari itu, perlu sharing data (berbagi data) dalam satu tempat yang sama untuk menghasilkan rencana matang. Ketidaktersambungan (poor connection) antara rencana makro dan mikro ini dapat mengakibatkan translasi visi IKN jadi tak terlihat pada pembangunan fisik kotanya.

Ketiga, tata bangunan terutama bangunan strategis perlu diletakan sesuai dengan panduan rancang posisi dan fitur lanskap yang tepat . Menurut mereka, struktur kota perlu dibentuk secara kuat dan membangun citra wibawa institusi negara tanpa perlu membuat bangunan berlebihan.

Kesan monumental dapat terbentuk karena posisinya di dalam lingkungan sekitarnya. Simbol-simbol monumental patung garuda dapat diletakkan di ruang publik sebagai penanda dan ruang interaksi masyarakat.

"Untuk itu, patung bukanlah berupa bangunan gedung yang di dalamnya terdapat kegiatan privat," lanjut isi masukan tersebut.

Keempat, kelima asosiasi profesi meminta keterlibatan dan peran serta masyarakat seluas-luasnya untuk menumbuhkan rasa memiliki pada IKN dapat dibangun.

Peran serta ini bisa diupayakan melalui kegiatan sayembara terbuka bagi perencanaan dan perancangan bangunan istana dan bangunan lainnya.

Kelima, pembangunan IKN juga meruapkan kesempatan besar untuk menunjukan pada dunia bahwa Indonesia berkomitmen dan mampu membangun Carbon Neutral Capital dari skala kawasan hingga bangunan.

Hal ini sesuai dengan target dunia (UNEP) pada tahun 2030 bahwa seluruh bangunan baru dalam kondisi net-zero (emisi nol). Dengan demikian, menjadi contoh terbaik wajah Indonesia di bidang pembangunan perkotaan dalam kemajuan peradaban sekarang ini di mata dunia.


Penulis : Suhaiela Bahfein
Editor : Hilda B Alexander

Diterbitkan di Berita