BBC News Indonesia

Sebuah organisasi dokter di India telah memperingatkan bahwa gelombang ketiga Covid di negara itu tidak dapat dihindari karena pembatasan sosial yang dilonggarkan di seluruh negeri.

Perdana Menteri Narendra Modi juga telah memperingatkan terhadap kerumunan pengunjung di lokasi-lokasi wisata di India. Foto dan video turis yang berbondong-bondong ke tujuan wisata populer menjadi viral dalam beberapa hari terakhir.

Video menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial di tempat umum.

Laporan dari media-media setempat mengungkapkan ribuan orang kini kembali mengunjungi tempat-tempat wisata perbukitan (hill station) di India, sehingga memicu kekhawatiran penyebaran virus.

 
India, Covid

Para calon penumpang menunggu bus DTC di halte yang sudah padat orang di New Delhi, India, 13 Juli 2021. HINDUSTAN TIMES VIA GETTY IMAGES

 

 

"Saya mengatakan dengan sangat tegas bahwa tidak baik sampai terjadi kerumunan di tempat-tempat wisata, pasar, tanpa pakai masker," kata Modi dalam cuitan di Twitter sambil menyadari bahwa industri pariwisata telah mengalami pukulan hebat akibat pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown.

Kasus baru harian di India telah turun menjadi lebih dari 40.000 dalam beberapa pekan terakhir, turun dari puncaknya, yakni sekitar 400.000 kasus pada bulan Mei. Penurunan jumlah sebagian besar disebabkan oleh lockdown ketat di sejumlah negara bagian, tapi kebijakan itu sekarang dilonggarkan.

Meski demikian. para ahli khawatir India dapat berada pada risiko gelombang infeksi ketiga karena baru sekitar 6% dari populasi yang memenuhi syarat yang telah divaksinasi sepenuhnya. Sementara itu, baru sekitar 22% yang telah menerima setidaknya satu dosis.

Asosiasi Kedokteran India (IMA), sebuah organisasi yang mewakili dokter di India, pada hari Senin mengatakan "rasanya menyakitkan untuk mencatat bahwa baik pemerintah dan masyarakat sudah berpuas diri dan mengadakan pertemuan massal tanpa mengikuti protokol Covid".

 

India, Covid

Para turis mengunjungi tempat wisata Shimla di negara bagian Himachal Pradesh pada 6 Juli 2021. SUMBER GAMBAR,AFP VIA GETTY IMAGES

 

"Kegiatan turis, travel ziarah, semangat keagamaan semuanya dibutuhkan, tapi bisa menunggu beberapa bulan lagi," kata IMA.

Ia menambahkan bahwa membuka tujuan-tujuan ini dan membiarkan orang-orang yang tidak divaksinasi berkumpul dalam pertemuan besar adalah "super spreader yang potensial untuk gelombang ketiga Covid". India baru saja keluar dari gelombang kedua yang mematikan.

Saat itu rumah sakit dan krematorium yang kewalahan dipenuhi dengan orang mati. Saat ini, beberapa negara bagian telah dibuka dan mengizinkan kegiatan turisme dan pertemuan keagamaan. Tetapi para ahli khawatir tentang dampak dari pertemuan-pertemuan ini.

 
Naga Sadhus (Hindu holy men) take a holy dip in the waters of the Ganges River on the day of Shahi Snan (royal bath) during the ongoing religious Kumbh Mela festival, in Haridwar on April 12, 2021.

Para ahli khawatir pertemuan keagamaan besar dapat menyebabkan penularan Covid besar-besaran GETTY IMAGES

 

Pada bulan April, jutaan orang berkumpul di kota Himalaya Haridwar untuk berpartisipasi dalam festival Kumbh Mela, bahkan ketika beberapa kota bergulat dengan kekurangan oksigen dan langkanya tempat tidur di rumah sakit.

Beberapa orang - yang datang dari seluruh penjuru negeri - dinyatakan positif pada hari-hari berikutnya. Sekarang, pihak berwenang di negara bagian Uttar Pradesh bersiap untuk mengadakan festival Kanwar Yatra tahunan mulai 25 Juli.

Para ahli mengatakan bahwa India perlu menegakkan protokol kesehatan secara ketat dan lebih mempercepat laju vaksinasi untuk menghindari gelombang ketiga.

India memvaksinasi sekitar empat juta orang setiap hari, tetapi perlu 8-9 juta vaksinasi per hari untuk mencapai target vaksinasi semua orang di atas usia 18 pada akhir tahun ini. Beberapa negara bagian juga tak memiliki cukup vaksin.

Pada hari Selasa, beberapa pusat vaksinasi publik di Delhi ditutup setelah mereka kehabisan suntikan.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Sebagian besar benua Eropa terpaksa memberlakukan kembali lockdown di tengah-tengah gelombang ketiga virus corona yang mematikan. Tetapi di Inggris, bar-bar, toko-toko, dan layanan publik dibuka kembali Senin.

Italia kembali dihadapkan pada lockdown dan warganya marah. Para pemilik restoran berkumpul di Roma pada Senin (12/4) untuk memrotes keputusan pemerintah menutup kegiatan ekonomi.

Seorang pemilik restoran di kawasan Veneto mengatakan, “Kami sudah lelah dengan (pembatasan) ini. Kami perlu bekerja kembali. Kami tidak bisa menghadapi ini lebih lama lagi.”

Italia adalah satu dari beberapa negara Eropa yang masih berjuang melawan gelombang ketiga virus COVID 19. Perancis, Jerman, dan beberapa negara lain sudah memperpanjang pemberlakuan lockdown.

Para dokter memperingatkan bahwa semakin banyak warga muda yang perlu dirawat di rumah sakit.

Kanselir Jerman Angela Merkel juga memberi peringatan keras. “Gelombang ketiga ini kemungkinan menjadi yang paling sulit bagi kita,” keluhnya.

Lonjakan kasus COVID 19 ini diakibatkan oleh apa yang disebut varian B117, yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, yang terkena secara parah pada Januari. Tetapi kini Inggris bebas dari kecenderungan yang sedang berkembang di Eropa.

Bar-bar dan toko-toko dibuka kembali pada Senin, sementara jumlah pasien yang harus dirawat di RS jatuh ke tingkat musim panas yang lalu. Lebih dari 60 persen warga dewasa Inggris sudah menerima dosis vaksin yang pertama.

Anthony Harnden, anggota Komite Gabungan Vaksinasi dan Imunisasi Inggris mengatakan, “Ada gelombang sangat besar – gelombang ketiga – COVID yang melanda Eropa saat ini, dan ini sebagian disebabkan proporsi populasi mereka yang sudah divaksinasi belum tinggi.

Program vaksinasi merupakan usaha yang rumit dan bergantung pada kepercayaan publik.”

Jajak pendapat memperlihatkan kepercayaan publik terhadap vaksin AstraZeneca di Inggris mencapai 75 persen. Tetapi mayoritas penduduk di Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol berpendapat vaksin itu tidak aman.

Kebingungan seputar data percobaannya mengakibatkan vaksin itu tadinya hanya untuk warga di bawah usia 65 tahun.

Tetapi kebijakan ini kemudian dibalikkan, dan kini beberapa negara justru membatasi penggunaan vaksin ini untuk kelompok usia lanjut saja, setelah kasus penggumpalan darah, yang sebenarnya jarang terjadi, muncul di kalangan warga yang muda usia.

Dokter Peter Drobac, pakar kesehatan global dari University of Oxford mengatakan, “Ini merupakan insiden yang sangat jarang terjadi. Ada, tetapi kita harus mempertimbangkan risiko tertular COVID, atau tertular penyakit yang parah, bahkan meninggal akibat COVID.

Dan di banyak tempat dan untuk kebanyakan orang, itu merupakan risiko yang jauh lebih besar.” Eropa berusaha meningkatkan kepercayaan publik. PM Perancis disuntik dengan vaksin AstraZeneca dan disiarkan di televisi.

Setelah peluncuran vaksinasi awalnya berlangsung lambat, program inokulasi kini semakin melaju, menggunakan vaksin Pfizer/BioNTech, Moderna, AstraZeneca, dan Johnson & Johnson. Jerman menyuntikkan 720 ribu dosis dalam satu hari minggu lalu.

Tetapi peluncuran vaksin Astra Zeneca di Eropa yang dihadapkan pada kesulitan punya dampak sampai keluar perbatasan Eropa, dan kepercayaan publik global terhadap vaksin itu semakin jatuh.

Vaksin AstraZeneca lebih murah dan lebih mudah diproduksi dibandingkan vaksin-vaksin lain, serta hanya memerlukan suhu lemari es yang normal untuk penyimpanannya.

“Jadi untuk alasan-alasan tersebut, saya berpendapat vaksin ini sangat penting. Ini menjadi semacam tulang punggung kampanye vaksinasi global,” tukas Dr. Peter Drobac.

Uni Afrika minggu lalu membatalkan rencana membeli vaksin AstraZeneca, dan mengatakan, pihaknya ingin melakukan diversifikasi terhadap opsi-opsi yang ada. Blok itu mengatakan, keputusan ini tidak terkait keprihatinan akan penggumpalan darah.

Tetapi pakar kesehatan mengatakan, hal ini bisa semakin memperbesar keragu-raguan atas vaksin itu. Mereka menyerukan agar kampanye kesadaran global dilancarkan untuk mengatasi kerancuan informasi itu. [jm/ka]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia 

Para pejabat kesehatan Jerman, Jumat (12/3) memperingatkan negara itu menghadapi gelombang ketiga infeksi virus corona, dan virus yang disebut sebagai varian Inggris mungkin menjadi penyebabnya.

Pada konferensi pers di Berlin, Lothar Wieler Presiden Robert Koch Institute for Infectious Diseases mengatakan kepada wartawan bahwa varian COVID-B117, yang awalnya diidentifikasi di Inggris, menyebar dengan cepat di negara itu, dan mungkin menggerakkan lonjakan terbaru, dengan kasus baru pada hari Jumat merupakan yang tertinggi di Jerman dalam satu bulan ini.

Wieler mengatakan vaksinasi dapat membantu virus itu terkendali tetapi masyarakat harus tetap mempraktikkan social distancing dan langkah-langkah lainnya. Ia mengatakan, “virus tidak akan menghilang lagi, tetapi kita telah memiliki tingkat imunitas dasar di tengah masyarakat, kita dapat mengontrol virus.”

 

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)
Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)

 

Pada konferensi pers yang sama, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negara itu harus bersiap untuk “menghadapi beberapa pekan mendatang yang sangat menantang.”

Spahn menyatakan penyesalan karena beberapa negara tetangga telah menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca menyusul laporan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin itu, meskipun masih kurang bukti bahwa vaksin itu penyebabnya.

Spahn mengatakan meskipun Jerman menerima laporan mengenai kemungkinan efek samping akibat itu vaksin itu “dengan sangat, sangat serius,” Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan badan pengawas vaksin Jerman sendiri telah menyatakan mereka tidak memiliki bukti mengenai peningkatan penggumpalan darah yang berbahaya, yang ada kaitannya dengan vaksin.

 

Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)
Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)

 

Denmark, Kamis (11/3) mengumumkan tentang penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah ada laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang. Austria melakukan hal yang sama sebelumnya pekan ini. Setelah menyelidiki kasus-kasus di Austria, EMA mengeluarkan pernyataan hari Rabu yang menyebutkan tidak menemukan indikasi bahwa vaksin itu penyebab kondisi tersebut.

EMA menyatakan “manfaat vaksin terus melampaui risikonya dan vaksin dapat terus diberikan” sementara evaluasi yang lebih cermat terhadap kasus-kasus penggumpalan darah berlanjut. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita