BANDUNG, itb.ac.id—Pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama lebih dari setahun ini membatasi pergerakan sosial di masyarakat. Sebagian masyarakat mengurangi aktvitas sosial di luar rumah, termasuk berolahraga.

Padahal, menurut Bompa (1994), olahraga bertujuan untuk meningkatkan fungsi fisiologi tubuh seseorang. Kementerian Pemuda dan Olahraga dan World Health Organization (WHO) lantas memberikan kiat-kiat untuk tetap dapat berolahraga dengan baik di tengah pandemi.

Penelitian terdahulu menyatakan olahraga kesehatan mampu meningkatkan sekresi hormon endorfin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh (Nia Sri Ramania, dkk., 2020).

Bahkan, salah satu empat kegiatan penting dalam melawan Covid-19 yang dianjurkan oleh pemerintah adalah berolahraga. Adapun kegiatan lainnya adalah pemenuhan nutrisi yang baik, istrirahat yang cukup, dan penanganan stres.

Kegiatan berolahraga selalu dikaitkan dengan kebugaran tubuh. Semakin bugar keadaan tubuh seseorang, semakin tinggi derajat sehat orang tersebut.

Namun, perlu diperhatikan pula olahraga yang dilakukan harus memenuhi kriteria olahraga kesehatan, yaitu durasi minimum pelaksanaannya selama 20 menit, intensitas yang submaksimal, dan adanya seminimalnya keterlibatan otot besar yang bergerak serempak dalam tubuh.

Penelitian yang Dilakukan

Tim peneliti Kelompok Keilmuan Ilmu Keolahragaan dan Kelompok Keilmuan Farmakologi Klinik Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan terkait perbandingan tingkat kebugaran antara populasi sampel yang terpapar oleh Covid-19 dan populasi sampel yang tidak pernah terpapar oleh Covid-19.

Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarat (LPPM) ITB. Tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Nia Sri Ramania, M.Sc. ini berkolaborasi dengan tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Bagian Rehabilitasi Medik serta peneliti muda Bagus Winata.

Studi ini dilakukan melalui pengukuran performa, meliputi antropometri dan V02max atau cardiorespiratory fitness dari kedua jenis populasi sampel tersebut.

Nantinya, hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi masyarakat akan pentingnya olahraga dalam pembasmian virus Covid-19.

Hasil Penelitian

Nilai V02max merupakan kemampuan maksimal seseorang untuk mengonsumsi oksigen saat sedang melakukan aktivitas yang intens. Atas dasar pertimbangan itulah pengukuran V02max dilakukan.

Melalui penelitian ini didapatkan temuan V02max populasi sampel yang tidak pernah terpapar Covid-19 lebih baik (39 mVmin-1/kg-1) daripada hasil pada populasi sampel yang terpapar Covid-19 (28 ml/min-1/kg-1).

Hal ini membuktikan semakin baik V02max seseorang, semakin rendah risiko terpaparnya Covid-19.

Prinsip ATM

 

Selain melakukan penelitian, tim peneliti gabungan ini juga mengampanyekan kiat olahraga kesehatan yang tepat. Kiat-kiat ini meliputi perhitungan denyut nadi, pengenalan intensitas, dan durasi latihan olahraga kesehatan yang tepat.

Ditemukan pula sebuah rumusan prinsip saat berolahraga yang disebut dengan prinsip ATM. ATM merupakan kepanjangan dari aman, terukur, dan menyenangkan.

Saat berolahraga, harus dipilih kegiatan yang aman agar esensi dari aktivitas olahraga ini tetap sesuai, yaitu meningkatkan fungsi fisiologi tubuh.

Selain itu, kegiatan ini harus terukur agar dapat menggambarkan kegiatan olahraga yang dilakukan dan mengetahui kemampuan tubuh kita. Terakhir, kegiatan olahraga harus menyenangkan agar dapat membantu fungsi fisiologi dan psikologi secara opimal.

Dengan demikian, jangan lupa berolahraga agar imunitas bisa meningkat.

 

Program pengabdian masyarakat ini telah dipublikasi di Media Indonesia rubrik Rekacipta ITB pada 10 Agustus 2021 melalui web pengabdian LPPM ITB

Reporter: Hanan Fadhilah Ramadhani (Teknik Sipil Angkatan 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Rasa bangga menyelimuti Fairuz Aisya Alzura (FKK 2018), Aulian Fajarrahman (FKK 2018), Aristo Hakisa Rendra (STF 2018), dan Jayson Wilbert (STF 2018). Mereka berhasil keluar sebagai Juara 1 Clinical Skills Event (CSE). Acara ini berlangsung dalam 20th Asia Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS) 2021 pada Minggu (11/7/2021).

Selain Clinical Skills Event, APPS memiliki rangkaian acara berupa simposium dan lokakarya kefarmasian, juga professional development competitions lainnya. APPS menjadi acara tahunan dari International Pharmaceutical Students’ Federation Asia Pacific Regional Office (IPSF APRO). Menyesuaikan situasi pandemi, acara tahun ini diselenggarakan secara daring pada 2—11 Juli 2021 dengan tuan rumah University of the Philippines Pharmaceutical Association (UPPhA).

Berawal dari keinginan menguji ingatan, delegasi Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB memanfaatkan ajang kompetisi ini yang memang menguji pengetahuan kefarmasian, terutama ilmu-ilmu yang telah didapat selama kuliah. Secara umum, topik-topik yang diangkat dalam lomba ini antara lain: pharmaceutical microbiology, formulation and pharmaceutical technology, clinical pharmacy, pharmacology, dan pharmaceutical calculation.

Tim ini perlu melewati tiga tahap sebelum akhirnya dinobatkan menjadi pemenang. Dimulai dari tahap preliminary pada Mei lalu yang mengharuskan mereka menjawab sejumlah soal pilihan ganda dan satu soal esai melalui Google Form dalam waktu yang ditentukan. Lolos ke tahap semifinal, mereka beradu dengan 11 tim lainnya untuk memperebutkan lima poin tertinggi agar bisa melaju ke babak final. Kali ini, mereka dikumpulkan dalam situs virtual meeting untuk menjawab 25 pertanyaan dalam waktu 30 menit. Setiap pertanyaan memiliki bobot nilai yang berbeda sesuai tingkatannya, mulai dari easy, intermediate, hingga advanced.

Mereka akhirnya lolos ke babak final setelah menempati posisi keempat dengan perolehan poin 700 pada tahap semifinal. Momen paling menegangkan dirasakan ketika poin antartim untuk soal easy dan intermediate tidak berbeda jauh, sehingga soal advanced menjadi penentu keberhasilan mereka. Ditambah, tahap ini menggunakan sistem betting points.

Koordinasi yang baik dan penyusunan strategi sebelum bertanding menjadi kunci keberhasilan tim ini pada babak final. Mereka membuat rencana mengenai berapa poin yang akan dipertaruhkan sejak satu hari sebelumnya. Selain itu, ketenangan saat menghadapi tekanan juga diperlukan.

“Kelompok lain betting-nya kadang terlalu tinggi dan itu sempat membuat kita cemas karena kalau jawabannya benar kita bisa ketinggalan poin. Tapi, akhirnya kita tetap tenang dan stick to the plan. Ini membuat penambahan skor kita tetap konsisten sampai akhir dan bisa lebih santai, terutama di soal terakhir kita sudah terjamin menang,” ungkap Jayson, salah satu anggota tim.

Koordinasi yang hanya dilakukan melalui sambungan telepon juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Menurut Fairuz, anggota tim sempat salah mendengar jawaban Aristo di babak semifinal dan menganggapnya sebagai jawaban yang salah. Nyatanya, jawaban tersebut malah menyumbangkan poin paling tinggi. Agar kejadian ini tidak terulang, mereka sepakat untuk mengetik jawaban yang sulit disampaikan secara lisan. Mereka harus selalu siap siaga di grup untuk membacanya.

“Jujur ini pengalaman pertamaku ikut lomba CSE dan tidak menyangka banget tim kita bisa juara 1 di skala internasional. Jadi, buat teman-teman, kalau penasaran sama sesuatu, baik kegiatan, lomba, atau apa pun, coba saja dulu. Kamu tidak pernah tahu kalau itu ternyata passion kamu yang belum kamu exploreLearn new things everyday!” pesan Aristo yang menutup sesi wawancara.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id – Tim Get This Look! yang beranggotakan mahasiswi ITB menjadi juara nasional lomba L’Oréal Brandstorm 2021.

Giselza Satya Kusmaharani, mahasiswi Sekolah Farmasi Angkatan 2020 bersama dua rekannya Alea Najla (Computer Science, Universitas Bina Nusantara) dan Veronica Lila (Business, Universitas Prasetiya Mulya) jadi pemenang pertama hasil kolaborasi antaruniversitas di lomba itu.

Tim Get This Look! menjadi juara nasional setelah melewati presentasi di tingkat nasional pada 8 April 2021.

L’Oréal Brandstorm 2021 mengangkat tema Invent the Beauty Shopping Experience Through Entertainment untuk mengeksplor kapasitas niaga-el (e-commerce) di dunia kecantikan.

“Kompetisi ini sejalan dengan filosofi L’Oréal yaitu innovation, entrepreneurship, dan excellence dalam menciptakan kecantikan yang universal. Berdasarkan tema tersebut dan hobi kami yaitu menonton drama korea, kami mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk belanja secara langsung melalui ketertarikan terhadap 'look' karakter dalam drama Korea tersebut yaitu dengan aplikasi Get This Look!,” ujar Giselza, anggota tim kepada reporter Humas ITB.

 

 

Dengan aplikasi tersebut, para movie dan beauty enthusiast dapat menonton sekaligus mencari informasi dan berbelanja.

Ketika wajah para karakter pada platform siaran langsung diklik, platform tersebut akan segera mengarahkan pengguna ke aplikasi Get This Look! untuk belanja produk yang digunakan oleh karakter tersebut.

“Kami melihat sampai saat ini kebanyakan aplikasi lebih mengarah kepada fashion, sedangkan kami lebih berfokus pada beauty dan make-up.

Aplikasi kami juga dapat memberi alternatif shades dan harga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan user, serta virtual try on di ‘Try This Look!’ sehingga user dapat melihat kecocokan secara langsung dengan wajah aslinya.

Tujuan lain dari aplikasi ini adalah untuk mengurangi stres saat pandemi dengan meningkatkan self-love.

Kepercayaan diri pengguna dapat meningkat dengan adanya fitur ‘Share Your Look!’ di mana user dapat mengunggah foto dengan penampilan mereka masing-masing,” ujarnya.

 

 

Dalam kompetisi L’Oréal Brandstorm 2021 ini, mereka harus bersaing dengan kurang lebih 1.500 peserta untuk menjadi juara.

“Kami datang dari universitas yang berbeda sehingga terdapat kendala perbedaan jadwal, pengaturan waktu dengan kewajiban akademik kami, serta diskusi yang tidak bisa dilakukan secara langsung dan harus memanfaatkan teknologi untuk meeting online,” tambah Giselza.

Tim Get This Look! saat ini tengah berjuang untuk merealisasikan dan mengembangkan ide mereka dengan cara melakukan pendampingan serta research lebih dalam dan memperluas aplikasi tersebut untuk diaplikasikan pada jenis film lain seperti Hollywood, Bollywood, hingga Anime.

 

 

“Kami tidak berharap banyak, namun selalu berdoa dan berusaha agar Get This Look! dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia hingga seluruh dunia. Kami juga ingin menginspirasi banyak orang melalui karya kami, bahwa umur tidak menjadi batasan seseorang untuk berimajinasi. Selain itu, diharapkan kepercayaan diri dan self-love para pengguna dapat meningkat dengan menggunakan aplikasi kami,” tutupnya.

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)

Diterbitkan di Berita