Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Meski pernah ditelepon Presiden Jokowi dan Luhut, Elon Musk ternyata kembali melewatkan kerja sama dengan Indonesia. 
Produsen mobil listrik milik Elon Musk, Tesla Inc, memilih meneken kerja sama pengadaan nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik, dengan perusahaan tambang Australia, BHP.
 
Langkah bisnis tersebut dilakukan Tesla, setelah mereka membangun pabrik baru di Bengalore, India. Padahal sebelumnya, Presiden Jokowi serta Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan secara khusus menelepon Elon Musk. Kedua pejabat pemerintah Indonesia itu, menawari Elon Musk untuk membuka industri mobil listrik serta komponen pendukungnya di Indonesia.
 
Pernah Ditelepon Jokowi dan Luhut, Elon Musk Pilih Kerja Sama dengan Australia (1)
Tesla meneken perjanjian kerja sama pengadaan nikel dengan perusahaan tambang asal Australia, BHP. Foto: BHP
 
"Kedua belah pihak bertukar pandangan mengenai industri mobil listrik dan komponen utama baterai listrik. Selain itu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak Tesla untuk melihat Indonesia sebagai launching pad Space X," kata Juru Bicara Menko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi, Sabtu (12/12/2020).
  
Dikutip dari laman resmi BHP, Kamis (29/7), perusahaan tambang Australia ini menilai Tesla Inc sebagai produsen kendaraan listrik dan sistem penyimpanan baterai (energy storage) terbesar di dunia. BHP juga menilai Tesla Inc punya komitmen mengembangkan energi hijau.
“Permintaan nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik, akan meningkat lima kali lipat dalam satu dekade ke depan. Sebagian besar untuk mendukung meningkatnya permintaan dunia akan kendaraan listrik,” kata Chief Commercial Officer BHP, Vandita Pant.
 
Kerja sama BHP dengan Tesla, lebih dari sekadar pasokan nikel untuk memenuhi kebutuhan baterai mobil listrik. Keduanya sepakat untuk mengembangkan proses bisnis yang ramah lingkungan. 
Rantai pasok baterai listrik yang dihasilkan Tesla, bisa ditelusuri secara detail asal bahan baku nikelnya dari tambang BHP. Penelusuran end to end ini dilakukan dengan mengimplementasi teknologi blokchain.
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Mobil Tesla menabrak pohon dalam uji coba pengendalian tanpa pengemudi (autodriver) di Texas, Amerika Serikat (AS), pada Sabtu (17/4).
 
Gara-gara peristiwa ini, kekayaan CEO dan Founder Tesla Inc, Elon Musk pun raib hingga USD 5,6 miliar atau setara Rp 81,2 triliun (kurs USD 1 = Rp14.500).
 
Dikutip dari Forbes, insiden kecelakaan yang dialami Tesla itu membuat harga saham Tesla anjlok 3,8 persen. Hal inilah yang membuat kekayaan Elon Musk tergerus jadi USD 174,1 miliar atau Rp 2.524 triliun.
 
Posisi dia di daftar orang terkaya dunia versi Forbes pun melorot ke ranking ketiga. Sebelumnya, Bos Space-X itu menempel ketat pemilik Amazon, Jeff Bezos, yang ada di pemuncak klasemen daftar orang terkaya dunia.
 
 
Mobil Tesla Tabrak Pohon, Bikin Kekayaan Elon Musk Raib Rp 81,2 Triliun (1)
Ilustrasi pabrik Tesla. Foto: Shutter Stock
Posisi kedua yang sebelumnya ditempati Elon Musk, digantikan oleh pemilik produk-produk luxury bermerek LVMH, Bernard Arnault. Kekayaan pria ini bertambah menyentuh USD 180,3 miliar atau sekitar Rp2.614 triliun.
 
Mobil Tesla yang sebelumnya dilaporkan kecelakaan hingga menewaskan dua orang itu, adalah Model S 2019.
 
Kepolisian lokal melaporkan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di sekitar tikungan pada pukul 23:25 waktu setempat, sebelum keluar dari jalan sekitar 100 kaki dan menabrak pohon.
  
Kedua korban berjenis kelamin laki-laki, dengan usia 59 dan 69 tahun. Satu orang duduk di kursi belakang dan yang satunya lagi duduk di kursi penumpang depan.
 
“Butuh empat jam untuk memadamkan api yang biasanya memakan waktu beberapa menit,” kata petugas kepolisian kepada The New York Times, seraya menambahkan bahwa dibutuhkan lebih dari 30.000 galon air untuk memadamkan api yang terus menyala karena dipicu oleh baterai mobil listrik Tesla tersebut.
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

NASA mengatakan pada hari Jumat (16/4) bahwa pihaknya telah memberikan kontrak senilai $ 2,9 miliar kepada SpaceX, perusahaan luar angkasa swasta milik pengusaha miliarder Elon Musk, untuk membangun pesawat antariksa untuk membawa astronot ke bulan pada awal 2024, mengalahkan Blue Origin milik Jeff Bezos dan kontraktor pertahanan Dynetics Inc.

Proposal yang diajukan oleh Musk, yang juga CEO Tesla Inc., itu mengalahkan proposal dari Bezos, pendiri Amazon.com Inc., yang bermitra dengan Lockheed Martin Corp., Northrop Grumman Corp. dan Draper. Bezos juga memiliki harian The Washington Post.

 

Badan antariksa AS itu mengumumkan kontrak untuk pendaratkan manusia secara komersial pertama itu – yang merupakan bagian dari program Artemis NASA – dalam sebuah konferensi video. NASA mengatakan wahana pendaratnya akan membawa dua astronot Amerika ke permukaan bulan.

“Kita harus menyelesaikan pendaratan berikutnya secepat mungkin,” kata Steve Jurczyk, pelaksana tugas administrator NASA. “Ini adalah waktu yang luar biasa untuk terlibat dalam eksplorasi manusia, bagi seluruh umat manusia.”

“Jika mereka mencapai tonggak sejarah mereka, kita memiliki kesempatan pada 2024,” tambah Jurczyk.

 

NASA mengatakan akan membutuhkan uji terbang ke bulan sebelum manusia melakukan penerbangan tersebut.

Pejabat NASA Mark Kirasich mengatakan bahwa badan tersebut berharap untuk melihat ketiga perusahaan yang bersaing untuk pendaratan awal di bulan ini trus berlomba untuk menyediakan transportasi ulang-alik ke bulan. [lt/pp]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Prototipe roket SpaceX berhasil mendarat dengan sendirinya setelah melakukan uji coba ketinggian pada hari Rabu (3/3) dari Boca Chica, Texas. Namun pesawat ruang angkasa itu meledak berkeping-keping sekitar delapan menit setelah mendarat.

Reuters melaporkan, itu adalah upaya pendaratan ketiga yang berakhir dengan bola api setelah Starship sukses melakukan uji terbang. Roket tersebut dikembangkan oleh SpaceX untuk membawa manusia dan 100 ton kargo untuk misi masa depan ke Bulan dan Mars.

Namun, pada tes kali ini, roket tersebut berhasil terbang mengangkasa sejauh 10 kilometer, mengarah turun secara horizontal, kemudian berbalik berdiri tegak dan melakukan pendaratan yang sempurna di fasilitas uji coba Boca Chica, Texas.

Video di landasan peluncuran menunjukkan pesawat itu miring sedikit dan mengeluarkan aliran asap sebelum meledak delapan menit setelah mendarat. Dalam uji coba sebelumnya, pesawat meledak setelah mendarat dengan keras.

Di akun Twitternya, pendiri dan CEO SpaceX Elon Musk mengatakan, “Starship 10 mendarat utuh! RIP SN10, berhenti secara terhormat.” Belum ada penjelasan langsung mengenai mengapa roket meledak. Tetapi diduga ini terjadi karena ada kebocoran bahan bakar.

 
 
Roket Starship lengkap, yang akan berdiri setinggi 120 meter saat digabungkan dengan pendorong tahap pertama yang sangat berat, adalah roket. generasi terbaru SpaceX yang dapat digunakan kembali. Musk berambisi untuk membuat perjalanan luar angkasa manusia lebih terjangkau.

Penerbangan orbital Starship pertama direncanakan akan dilakukan pada akhir tahun. Musk mengatakan dia bermaksud untuk menerbangkan miliarder Jepang Yusaku Maezawa keliling bulan dengan Starship pada tahun 2023. [ah/au, uh/ab]

Diterbitkan di Iptek
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Elon Musk akhirnya memutuskan Bangalore India sebagai pusat pengembangan teknologi dan produksi mobil listrik Tesla, di luar Silicon Valley Amerika Serikat. Sebelumnya ramai diberitaan, Tim Elon Musk berencana menjajaki investasi di Indonesia setelah dilobi Presiden Jokowi dan Menko Maritim Luhut Pandjaitan.
 
Pilihan ke India bukan tanpa alasan. Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyebutkan secara tak langsung, bila Indonesia sebetulnya belum masuk radar Elon Musk untuk pengembangan dan produksi mobil listrik Tesla.
 
Elon Musk mempertimbangkan 2 negara, yakni India dan Israel. "Kalau Tesla ingin mengembangkan technology centre-nya di luar Amerika Serikat (AS), secara logika mereka akan mencari kota yang ekosistemnya mendekati apa yang ditawarkan oleh Silicon Valley.
Dua kota di dunia yang yang mendekati persyaratan ini adalah Tel Aviv di Israel dan Bangalore di India," kata Arcandra seperti dikutip kumparan dalam akun Instagram pribadinya, Rabu (24/2)
 
Pertimbangan Elon Musk terhadap kedua negara tersebut, lanjut Arcandra, adalah soal ekosistem seperti ketersediaan sumber daya manusia yang sangat terampil di bidang IT dan engineering, technology chips yang mutakhir, dan venture capitalist (pemodal) yang berani mendanai proyek startup yang berisiko tinggi.
 
 Bila merujuk pada pertimbangan tersebut, Bangalore dan Tel Aviv jadi opsi yang dipilih. Kedua 'Silicon Valley' di luar AS tersebut juga telah menjadi pusat pengembangan teknologi bagi raksasa perusahaan otomotif, elektronik hingga teknologi dunia.
 
 
Arcandra Sebut RI Tak Masuk Radar Elon Musk untuk Pengembangan Mobil Listrik (1)
Elon Musk bos Tesla. Foto: dok. Businessinsider
 
Mercedes-Benz, Great Wall Motors, General Motors, Continental, Mahindra & Mahindra, Bosch, Delphi and Volvo sudah lebih dulu berada di Kota Bangalore. Sementara itu, Tel Aviv menjadi pusat pengembangan teknologi bagi perusahaan seperti Intel, IBM, Google, Facebook, Hewlett-Packard, Philips, Cisco Systems, Oracle Corporation, SAP, BMC Software, Microsoft, dan Motorola.
 
Ketertarikan perusahaan dunia di Bangalore dan Tel Aviv tidak terwujud dalam waktu singkat. Arcandra menyebut Tel Aviv dan Bangalore memulainya dengan keunggulan di bidang sumber daya manusia.
Teknologi IT yang berkembang dan masuknya para pemodal adalah hasil dari kerja keras para talenta yang berkualitas tinggi.
 
"Mereka bisa membuktikan bahwa hasil kerja mereka tidak kalah dari talenta yang berasal dari AS. Kepercayaan ini tidak dibangun dalam hitungan bulan tapi puluhan tahun," tambahnya.
Meski kedua negara memiliki keunggulan di bidang ekosistem SDM dan teknologi, namun Tesla akhirnya memutuskan India sebagai lokasi pengembangan teknologinya.
 
Arcandra menilai, Elon Musk memiliki beberapa pertimbangan dengan mendahulukan Bangalore sebagai pusat pengembangan teknologi di luar AS. Di Bangalore, Tesla tidak saja mendapatkan ekosistem IT terbaik, tapi juga bisa mendapatkan akses pasar yang sangat besar.
 
"India adalah negara dengan jumlah penjualan mobil ke-empat terbesar di dunia setelah China, AS dan Jepang," tuturnya. Pertimbangan kedua adalah soal biaya tenaga kerja yang lebih murah dibandingkan dengan Tel Aviv.
 
Biaya hidup di Tel Aviv sekitar 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Bangalore. Rata-rata gaji pegawai juga 3 kali lebih tinggi di Tel Aviv. Biaya hidup di Tel Aviv lebih tinggi dari London, Sydney, dan Berlin. "Biaya hidup di Bangalore bahkan lebih rendah dari Jakarta," tambahnya.
 
Arcandra menambahkan, keputusan investasi Tesla yang memilih India tentu bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Bahwa seluruh negara kini terus berlomba memberikan daya tarik kepada investor. Indonesia memiliki natural resources yang luar biasa dan potensi human resources yang tidak kalah di dunia.
 
"Tapi memastikan bahwa kedua aset strategis itu bisa membentuk sebuah ekosistem yang memberikan daya tarik bagi investor, tentu menjadi tantangan yang tidak mudah dibangun dalam sekejap. Insyaa Allah," tutupnya.
Diterbitkan di Berita

Aulia Damayanti - detikFinance Jakarta - Bos produsen mobil listrik Tesla Elon Musk telah kehilangan gelarnya sebagai orang terkaya di dunia setelah saham Tesla merosot baru-baru ini. Pasalnya Tesla menjadi pendorong utama kekayaan Musk.

Dikutip dari BBC, Rabu (24/2/2021), saham Tesla telah jatuh lebih dari 20% sejak mencapai tertinggi lebih dari US$ 880 pada awal Januari lalu. Penurunan itu mengembalikan bos Amazon Jeff Bezos ke posisi teratas daftar orang terkaya di dunia.

Penurunan saham Tesla dikaitkan dengan turunnya nilai bitcoin beberapa hari belakangan ini. Bitcoin sendiri menjadi seakan terikat dengan Tesla karena perusahaan telah membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar dan berencana uang kripto itu diizinkan untuk transaksi membeli mobil listriknya.

Analis Wedbush Securities Dan Ives mengungkap penurunan nilai bitcoin mungkin telah mendorong beberapa investor Tesla untuk menjual saham mereka. "Oleh Musk dan Tesla yang secara agresif merangkul bitcoin investor mulai mengikat Bitcoin dan Tesla," katanya.

Anjloknya nilai bitcoin juga diduga dorong komentar dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen, yang menyuarakan peringatan tentang bitcoin. Dia menyebutnya menggunakan bitcoin merupakan cara yang sangat tidak efisien dalam melakukan transaksi.

Sebelumnya, nilai bitcoin melonjak hampir 50% dalam beberapa minggu setelah Tesla mengungkapkan telah membeli US$ 1,5 miliar dari mata uang tersebut dan berencana untuk menerimanya sebagai pembayaran.

Tetapi sejak naik di atas US$ 57.000 cryptocurrency itu turun hampir 20% dan kini menjadi kurang dari US$ 48.000.

Menurunnya kekayaan Elon Musk telah terjadi sejak saham Tesla turun 8% dan menyebabkan Musk kehilangan US$ 15 miliar dari kekayaan bersihnya, menurut Bloomberg. Saham Tesla turun 2% lebih lanjut pada hari Selasa.

Kicauan Musk di media sosial Twitter juga terkenal memicu pergerakan tajam di saham Tesla, termasuk tahun lalu ketika perusahaan kehilangan US$ 14 miliar dalam nilai pasar setelah Musk menulis bahwa harga sahamnya terlalu tinggi.

(eds/eds)

Diterbitkan di Berita