JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kabar bahwa Mesir membersihkan buku-buku Salafi dan  Ikhwanul Muslimin di masjid membuat perhatian masyarakat Indonesia. Eko Kuntadhi imut memberikan tanggapan keras bahkan  mengaitkan kabar tersebut dengan keberadaan PKS dan Wahabi.

“Mungkinkah Indonesia mengikutinya? Membersihkan masjid dan kampus dari PKS dan Wahabi. Membersihkan kehidupan beragama dari para perusaknya...,” kata Eko Kuntadhi, Jumat 3 September 2021. 

Ia memperingatkan bahwa para pemimpin masjid harus berjanji untuk tidak mengizinkan buku apa pun di masjid tanpa izin sebelumnya dari kantor Administrasi Umum Bimbingan Agama.

Langkah itu dilakukan di tengah model melawan ekstremisme di negara itu. Hal itu melibatkan kementerian yang mengawasi pembangunan masjid serta mengawasi konten yang dapat dianggap sebagai ekstremis.

Kepala sektor keagamaan di kementerian, Hisham Abdelaziz, menegaskan kembali bahwa buku, majalah, dan publikasi yang ditemukan di masjid akan diperiksa ulang untuk memastikan bahwa mereka tidak menganut ideologi terlarang atau milik kelompok terlarang. 

Menurut media lokal, pernyataan yang dikeluarkan mengatakan bahwa siapa pun yang tidak mematuhi peraturan baru akan dirujuk untuk penyelidikan. Gaber Tayee, wakil menteri kementerian, juga mengatakan bahwa buku dan publikasi tertentu akan ditargetkan dalam upaya tersebut. 

"Setiap buku yang ditulis oleh seorang Salafi, anggota Ikhwanul Muslimin, atau Gamaa Islamiya akan dihapus," katanya sebagaimana dikutip dari Middle East Eye. Ikhwanul Muslimin secara luas dianggap sebagai kelompok oposisi terbesar Mesir.

Namun, bersama dengan kelompok oposisi sekuler, sebagian besar telah dihancurkan sejak Presiden Abdel Fattah el-Sisi berkuasa setelah menggulingkan pendahulunya yang berafiliasi dengan Ikhwanul, Mohamed Morsi, dalam kudeta militer pada 2013.

Ribuan anggotanya telah ditahan, dibunuh, atau dipaksa tinggal di pengasingan karena takut akan penganiayaan di dalam negeri sejak kelompok itu dilarang dan dinyatakan sebagai organisasi teroris. 

Sisi, yang menjabat sebagai menteri pertahanan Morsi, telah dituduh oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia mengawasi pembunuhan massal terburuk warga sipil dalam sejarah modern Mesir, setelah pembubaran mematikan pada 2013 dari aksi duduk memprotes kudeta terhadap pemimpin pertama yang terpilih secara demokratis di negara itu.

Jenderal yang menjadi presiden, bagaimana pun, telah membenarkan tindakan keras itu sebagai bagian dari yang disebutnya sebagai perang melawan teror. Ia pun menyangkal bahwa negara itu memiliki tahanan politik. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita
Beredar video ceramah Pendakwah Alfian Tanjung yang terang-terangan melemparkan serangan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, terkait Covid-19 yang beredar di media sosial.

Video Alfian Tanjung tengah menyerang Anies soal Covid pun ikut diunggah oleh Pegiat media sosial Eko Kuntadhi, melalui akun Twitternya, seperti dilihat, Rabu (23/6/2021). 

 

https://twitter.com/eko_kuntadhi/status/1407340849084649472

 

Eko mengaku kasihan dengan para tengaka kesehatan (Nakes) di rumah sakit lantaran isi ceramah Alfian Tanjung tersebut.

Sebab, menurut dia, ceramah tersebut telah menuding para nakes sebagai penyebab orang meninggal dunia. 

Patut diketahui, sambung Eko, para nakes tersebut sudah mengorbankan nyawa mereka untuk menolong nyawa pasien Covid-19.

“Nah ini. Penceramah ancor! Kasian nakes dan RS kita, dituding menjadi penyebab orang meninggal. Padahal mereka mengorbankan nyawanya untuk menolong pasien,” cuitnya.

Sementara itu, dalam video tersebut terlihat ceramah Alfian Tanjung yang Gubernur Anies Baswedan soal Covid-19. 

Menurut Alfian, Anies saat mengetahui adanya gejala positif Covid-19 enggan ke rumah sakit.

Karena itu, ia pun menuding jika hal tersebut karena semua pasien Covid-19 yang dibawa ke RS pasti meninggal.  

“Anies Baswedan ketika ada gejala positif (Covid-19) dia gak mau ke rumah sakit. Pokoknya semua yang dibawa ke RS judulnya sampai ke liang kubur (meninggal). Tapi kalau di rumah, dominan pulang. Itu fakta loh,” ungkapnya.

“Kita tidak sedang menyerang pribadi, tapi ini fakta. Secara physicly, Ustad Najamudin Ramli, Ustad Sudarno Hadi, Ustad Soimin, semua guru-guru kita yang dibawa ke rumah sakit semua selesai (meninggal),” tuturnya.

Karena itu, iia menilaii harus ada tim investigasi untuk mengungkap fakta tersebut. 

“Seharusnya ada tim investigasi, bukan saya marah atau memfitnah,” ujarnya.

Diterbitkan di Berita