Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyampaikan alasan memerintahkan pengusiran Duta Besar (dubes) asing, termasuk Amerika Serikat dari negaranya.

Erdogan memerintahkan persona non-grata kepada dubes asing irtu karena pernyataan mereka mendukung aktivis Turki, Osman Kavala, yang kini ditahan.

Para dubes yang akan diusir antara lain dari AS, Jerman, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Swediam Kanada, Norwegia, dan Selandia Baru. Mengutip media Turki Anadolu, mereka melontarkan pernyataan di media mendesak pemerintahan Turki melepas Kavala.

Para diplomat dari negara-negara barat tersebut menilai kasus penangkapan Kavala bisa membayangi persoalan demokrasi dan hukum di Turki. Pernyataan para dubes AS itu pun membuat Erdogan geram.

Ia kemudian memerintahkan Kementerian Luar Negeri Turki memanggil 10 dubes asing itu, pada Selasa (18/10), sebelum memerintahkan untuk mengusirnya.

"Ini bukan negara kesukuan yang Anda pikirkan. Ini Turki," ujar Erdogan dalam upacara di Provinsi Eskisehir, dilansir dari Anadolu. Kavala ditangkap pada 2017 karena protes Gezi pada 2013. Segelintir aksi demo di Istanbul yang merambat menjadi aksi nasional di negara itu.

Demonstrasi itu mengakibatkan delapan pendemo dan satu polisi meninggal. Turki menahan pria 64 tahun itu sejak 2017 tanpa vonis hukuman.

Ia telah menghadapi serangkaian tuduhan mulai dari protes antipemerintahan Erdogan pada 2013 lalu hingga dugaan keterkaitan upaya kudeta militer yang gagal pada 2016 silam.

"Saya telah memerintahkan menteri luar negeri kami untuk mengumumkan 10 duta besar negara asing tersebut akan di-persona nongrata secepatnya," ujar Erdogan, Sabtu (23/10).

Erdogan tak menyebut waktu tepatnya para 10 duta besar tersebut resmi diusir. Namun, Erdogan menegaskan, "Mereka harus pergi dari sini pada hari mereka tidak lagi bisa di Turki."

Sementara it dari balik terali besi yang mengurungnya, Kavala mengatakan dia seolah menjadi alat konspirasi luar negeri yang ingin menjatuhkan Erdogan.

"Saya dituduh menjadi bagian dari konspirasi yang diduga diorganisir oleh kekuatan asing, pembebasan saya akan melemahkan fiksi yang bersangkutan dan ini bukan sesuatu yang diinginkan pemerintah," papar Kavala.

(bac)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengakui, pihaknya sempat berkirim surat ke sejumlah kantor duta besar di Jakarta guna menggalang donasi bantuan penanganan Covid-19.

Pernyataan Riza merespons sebuah salinan surat berkop Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang beredar. Berbahasa Inggris, surat tersebut ditujukan untuk kantor duta besar di Jakarta berisi permintaan donasi bantuan Covid-19.

Surat diteken Kepala Biro Kerja Sama Pemprov DKI Jakarta Andhika Permata pada 28 Juni 2021. "Tentu kita mengajak semua masyarakat berkolaborasi bersama untuk saling membantu, satu sama lain," kata Riza kepada wartawan, saat dimintai konfirmasi, Kamis (1/7) malam.

Namun, katanya, surat sebetulnya bukan hanya ditujukan untuk kantor dubes, melainkan semua perkantoran swasta di Jakarta. Menurut dia, upaya itu dilakukan agar penanganan pandemi bisa dilakukan bersama.

Para duta besar juga diminta ikut dalam memenuhi kebutuhan ekstensi rumah sakit yang menangani Covid-19 di Jakarta.Sebelumnya, lewat surat tersebut, Pemprov DKI mengajak para duta besar mengisi perabotan di Rusun Nagrak Cilincing, Jakarta Utara.

Rusun tersebut diketahui baru dibuka sebagai tempat isolasi terpusat pasien Covid-19. "Itu bukan ke dubes, itu disampaikan ke seluruh elemen. Nanti dicek ke Pak Sekda persisnya," kata Riza.

(thr/ugo)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipimpin Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan berkunjung ke kediaman Duta Besar Kanada untuk Indonesia Cameron Mackay, Rabu (16/6/2021).

Kunjungan ini bertujuan bertukar pikiran terkait dengan peristiwa pembunuhan keluarga muslim oleh seorang anak muda anti-Islam dan umat Islam di Kanada.

Amirsyah turut didampingi Ketua MUI Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Bunyan Saptomo, serta Wakil Ketua Komisi Ustazah Amirah dan Hendro Wibowo

MUI mengatakan, pertemuan diawali dengan penjelasan Ketua MUI Sudarnoto tentang maksud kunjungan sambil menyampaikan surat resmi yang ditandatangani Sekjen dan Ketua MUI.

Surat tersebut berisikan tiga poin, pertama MUI menyatakan keprihatinan mendalam dan belasungkawa atas meninggalnya keluarga muslim di Kanada karena dibunuh oleh seorang yang anti-Islam.

Poin kedua, MUI memberikan apresiasi kepada pemerintah Kanada yang telah menyatakan sikap tegas mengutuk tindakan kejahatan berbasis kebencian terhadap Islam atau Islamofobia.

Terakhir, MUI mengusulkan langkah-langkah penting secara bersama-sama melawan Islamofobia. "Oleh karena itu MUI mendorong program kerja sama Indonesia-Kanada antara lain dialog antaragama," tulis MUI melalui keterangan tertulis yang diterima Kamis (17/6/2021) sore.

Di kesempatan yang sama, Cameron menyambut baik pertemuan itu. Dia berterima kasih atas belasungkawa, simpati, dan dukungan yang disampaikan MUI kepada pemerintahan Kanada.

"Pemerintah dan masyarakat Kanada benar-benar mengalami shock serta duka yang sangat mendalam atas peristiwa keji yang terjadi dan memalukan ini," ujar Cameron.

Dia mengungkapkan bahwa Kanada merupakan negara yang multietnik dan beragam agama serta menjunjung tinggi nilai toleransi, menghargai perbedaan dan membangun kebersamaan.

Menurut dia, pembunuhan yang terjadi bukan sekadar teror biasa melainkan tindakan anti-terhadap Islam dan umat Islam.

"Kejahatan yang bermuara kepada kebencian ini tidak saja diarahkan kepada umat Islam, akan tetapi juga kepada komunitas Yahudi dan bahkan kelompok minoritas lainnya di Kanada," paparnya.

Cameron menegaskan kepada rombongan MUI bahwa tindakan kejahatan seperti ini sering terjadi dan bahkan semakin meningkat intensitasnya belakangan ini.

Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaksiapan masyarakat, terutama anak-anak muda di Kanada dalam menghadapi perubahan kahidupan.

Sekjen MUI Amirsyah menjelaskan tentang pandangan dan sikap MUI yang tegas terkait dengan kerukunan hidup beragama di Indonesia. Termasuk pendirian rumah ibadah, tindakan teror yang mengatasnamakan agama, LGBT dan kelompok-kelompok minoritas lainnya.

MUI pun menyampaikan undangan kepada Cameron untuk mengisi talk show di TV MUI. Materinya pun berkaitan dengan kehidupan umat Islam dan toleransi hidup beragama di Kanada.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun mengharapkan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siroj dan tokoh-tokoh NU lainnya untuk berkunjung ke Palestina. Ia juga berharap agar ada kunjungan dari Palestina ke Jakarta.

Hal itu disampaikan saat hadir di sela-sela Dialog Eksklusif antara Kiai Said dengan Penasihat Presiden Palestina Bidang Agama dan Hubungan Islam Mahmoud Habbash, yang ditayangkan secara langsung melalui TVNU, pada Kamis (20/5).

Menurutnya, pertemuan antara pemerintah Palestina dengan PBNU tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun kesepahaman sebagai wujud harakah insaniyah (gerakan kemanusiaan).

“Kami berharap agar para tokoh-tokoh NU, khususnya Kiai Said, bisa berkunjung ke Palestina dan juga kunjungan dari Palestina ke Jakarta. Pertemuan ini adalah langkah-langkah yang strategis untuk membangun kesepahaman serta kerja sama anak bangsa dan dunia, sebagai kegiatan harakah insaniyah,” kata Zuhair.

Ia mengucapkan banyak terimakasih atas kepedulian yang dilakukan masyarakat Indonesia, terutama PBNU, terhadap perjuangan kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Zuhair pun mengabarkan kepada Mahmoud Habbash bahwa bangsa Indonesia sangat cinta pada perjuangan Palestina.

“Saya menginformasikan kepada Mahmoud Habbash bahwa masyarakat Indonesia sangat cinta kepada perjuangan Palestina. Inilah wajah Indonesia yang sangat mulia untuk memberikan dukungan moral kepada Palestina,” ucap Zuhair.

Sementara itu, Kiai Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa saat ini Nahdliyin bersama masyarakat Muslim Indonesia akan terus memberikan doa dan bantuan terbaik kepada masyarakat Palestina. Ia lantas meminta Mahmoud Habbash untuk terus menjalin komunikasi intens antara Palestina dan NU.

“Kami meminta agar ada komunikasi yang sangat intens antara Palestina dan NU. Insyaallah kemerdekaan Palestina akan digapai dalam waktu dekat,” harap Kiai Said.

Disampaikan pula bahwa sikap NU terhadap Palestina, sejak dulu hingga saat ini, tidak pernah berubah. Kepada Mahmoud, Kiai Said menyatakan bahwa pada Muktamar NU di Menes, Banten, pada 1938 silam, NU sudah menyatakan sikap untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

“Ketika itu, Pendiri NU Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari telah mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan Nahdliyin untuk memanjatkan doa, Qunut Nazilah, dan memberikan bantuan kepada Palestina yang sedang mengalami persoalan,” terang Profesor Ilmu Tasawuf dari Universitas Umm Al-Qura, Makkah itu. (fqh)

Diterbitkan di Berita