Jazz Bromo 2021 Sukses di Tengah Pandemi

Minggu, 26 September 2021 21:25
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kolaborasi menarik Ring of Fire Project dengan penyanyi kondang Fariz Rustam Munaf (Fariz RM) menutup pagelaran konser Jazz Bromo 2021 sekitar pukul 21.00 WIB, Sabtu (25/9). Sorak sorai penonton yang ikut mendendangkan lagu Barcelona dan Sakura bersama Fariz RM membuktikan festival musik bisa digelar secara offline di tengah pandemi. Tapi dengan catatan: panitia harus sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan dan penonton juga harus disiplin menaatinya.
 
Fariz RM sangat antusias dengan kolaborasi ini. Dia sudah menantikan begitu lama untuk tampil di Jazz Bromo, karena sudah lama diajak oleh almarhum Djaduk Ferianto. “Dan hari ini adalah kehendak Tuhan, saya bisa tampil di sini. Kalau Tuhan menghendaki, itulah yang terbaik. Dan mari saksikan kejutan dari kolaborasi dengan Ring of Fire ini,” kata Fariz saat memulai penampilannya.
 
Sepeninggal Djaduk Ferianto, Ring of Fire Project dipimpin oleh Purwanto. Musik yang dibawakan kelompok yang dibentuk almarhum Djaduk ini ini sangat khas, perpaduan musik etnik dan jazz. Ring of Fire selalu hadir dalam pagelaran Jazz Gunung yang diinisiasi oleh Sigit Pramono, mantan banker yang merupakan pemilik Jiwa Jawa Resort di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo dan di kawasan Gunung Ijen, Banyuwangi.
 
Penyelenggaraan Jazz Bromo Merupakan Ikhtiar Hidup Berdampingan dengan COVID-19
Jazz Bromo 2021 Sukses di Tengah Pandemi (1)
Pagelaran konser Jazz Bromo 2021. Foto: Arifin Asydhad/kumparan
 
Sigit menggelar Jazz Gunung, yang terdiri dari Jazz Bromo dan Jazz Ijen setiap tahun. Jazz Bromo digelar di Amfiteater Terbuka Bromo yang terletak di Jiwa Jawa Resort Bromo, sedangkan Jazz Ijen digelar di Amfiteater Terbuka Ijen yang berada di Jiwa Jawa Resort Ijen. Tahun 2020 lalu, Jazz Gunung digelar secara hybrid karena pandemi COVID-19.
 
Kali ini, Sigit yang juga pendiri Gerakan Pakai Masker (GPM) memberanikan diri menggelar Jazz Bromo 2021 secara offline, setelah mendapat izin dari aparat setempat. Menurut Sigit, Jazz Bromo 2021 ini merupakan ikhtiar bagaimana bisa hidup berdampingan dengan COVID-19.
 
“Menyelenggarakan konser musik jazz semasa pandemi dengan ikhtiar pencegahan dan perlindungan berlapis-lapis: wajib vaksinasi, wajib test swab Antigen, wajib pakai masker, wajib jaga jarak dan jaga kebersihan dan penerapan aplikasi Peduli Lindungi. Ini akan menjadi konser pertama kali di Indonesia sejak pandemi berkecamuk,” kata Sigit sebelum acara dimulai.
  
Festival Jazz Bromo 2021 dibuka sekitar pukul 13.30 WIB. Cuaca di kawasan Gunung Bromo ini cukup bersahabat. Nyaris tidak ada sinar Matahari sejak festival ini dibuka hingga malam menghampiri. Kabut cukup tebal datang dan pergi di tengah suhu yang cukup dingin, sekitar 18-19 derajat Celsius. Gerimis sempat turun dari pukul 18.00 hingga 19.00 WIB. Namun, acara yang dihadiri sekitar 400 penonton ini berlangsung lancar hingga akhir.
 
Festival dibuka dengan penampilan Surabaya Pahlawan Jazz. Setelah itu disusul Dua Empat dan the Jam’z. Penampilan mereka menghangatkan suasana siang hingga sore yang memang cukup dingin. Kabut yang turun di kawasan Bromo menutup pemandangan gunung di belakang panggung yang seharusnya terlihat indah.
 
Jazz Bromo 2021 Sukses di Tengah Pandemi (2)
Pagelaran konser Jazz Bromo 2021. Foto: Arifin Asydhad/kumparan
 
Memasuki malam, Janapati yang digawangi Dewa Budjana dan Tohpati menghibur dengan lagu-lagu instrumentalia jazz selama 1 jam. Dua gitaris handal ini tampil memukau dan benar-benar menghibur penonton dengan musik jazz-nya, meski gerimis turun. Mereka juga membawakan beberapa lagu yang sangat familiar dengan bagus dan jenaka, seperti Bintang Kecil.
  
Penampilan pamungkas diisi oleh Ring of Fire Project dan Fariz RM. Aransemen musik etnik mengiringi Fariz RM menyanyikan dua buah lagu: Barcelona dan Sakura. Fariz seperti biasa tampil dengan memainkan kibor warna merahnya. Sayang, Fariz hanya menyanyikan dua buah lagu dan 1 lagu instrumentalia. Penonton yang sudah ikut bernyanyi, meminta Fariz menambah menyanyikan lagu lagi. “Lagi, lagi, lagi!” teriak penonton.
 
Pada konser ini, Panitia Jazz Gunung menganugerahkan penghargaan khusus untuk Glenn Fredly. Glenn yang meninggal dunia tahun 2020 lalu dinilai sebagai musisi yang menghabiskan hidupnya untuk musik dan seni. Budayawan Butet Kartaredjasa yang dihubungi melalui saluran telepon memuji Glenn. “Dia sangat pantas mendapat penghargaan ini. Dia musisi andal, yang memiliki pemikiran sosial. Saya sudah bekerja sama dengan dia sejak lama,” kata Butet.

 

Protokol Kesehatan Ketat

Jazz Bromo 2021 Sukses di Tengah Pandemi (3)
Amfiteater Bromo dan penjagaan Satgas COVID-19. Foto: Arifin Asydhad/kumparan
 
Sepanjang perhelatan ini, para musisi, MC, maupun panitia terus menyerukan dan mengingatkan penonton untuk tetap menggunakan masker dan jaga jarak. “Ini semoga jadi contoh festival musik di era pandemi, setelah 1 tahun lebih tidak ada pagelaran seperti ini. Tetap pakai masker dan taati protokol kesehatan,” pinta Fariz.
 
Pemantauan kumparan, protokol kesehatan dijalankan secara ketat oleh panitia. Panitia hanya menjual 300 tiket dari kapasitas 2.000 orang di Amfitiater Bromo ini. Tiket terdiri dari 3 kelas, yaitu kelas VVIP Rp 1,2 juta, tiket VIP Rp 1 juta, dan tiket tribun Rp 750.000. “Semua tiket sold out,” kata Bagas Pramono, panitia Jazz Bromo 2021. Ditambah dengan para panitia, para musisi dan timnya, serta Tim Satgas COVID-19, ada sekitar 400 orang di dalam Amfitiater ini.
 
Penonton sudah memperoleh sosialisasi protokol kesehatan sejak membeli tiket. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi dan konsekuensi yang harus disetujui oleh pembeli tiket. Sebagian syarat, antara lain harus sudah menjalani vaksinasi, melakukan tes swab antigen sebelum memasuki venue, harus selalu mengenakan masker saat acara berlangsung, dan tidak boleh membawa makanan dan minuman.
 
Syarat untuk artis pengisi acara, bahkan lebih ketat. Mereka harus menjalani tes PCR di lokasi beberapa jam sebelum acara berlangsung.
 
Jazz Bromo 2021 Sukses di Tengah Pandemi (4)
Lokasi tes Antigen di Jazz Bromo 2021. Foto: Arifin Asydhad/kumparan
 
Venue mulai dibuka sekitar pukul 13.00 WIB. Sebelum memasuki venue, penonton harus melakukan swab antigen di tenda yang sudah disiapkan. Bagi penonton yang memiliki hasil reaktif akan langsung diisolasi di ruangan khusus. Sedangkan penonton yang memiliki hasil negatif bisa menuju gate untuk ke venue.
  
“100% pengunjung, undangan, panitia, artis, dan kru negatif swab antigen. Semua artis yang dites PCR juga negatif,” kata Bagas.
 
Bagas juga memastikan 100 persen penonton, artis, tim artis, dan panitia sudah menjalani vaksinasi. “100% yang masuk venue juga sudah tervaksinasi. Sempat ada 1 pengunjung yang datang dan belum vaksin (Peduli Lindungi-nya berstatus merah) langsung balik arah dan tidak diperbolehkan masuk,” jelas Bagas.
 
Saat masuk ke venue, penonton harus melakukan ukur suhu tubuh dan melakukan check-in melalui aplikasi Pedulilindungi. Setelah itu, penonton duduk di seat masing-masing sesuai nomor tiket. Antara seat satu dengan seat lainnya dibuat berjarak.
 
Festival Jazz Bromo 2021 ini berakhir dengan lancar dan sukses. Panggung yang didesain menarik, tata lampu berwarna-warni yang makin membuat indah, sound system yang sangat bagus, musisi yang tampil dengan hebat, dan penonton yang taat pada protokol kesehatan, bercampur jadi satu yang membuktikan konser ini berjalan sukses di tengah pandemi.
 
Kesuksesan ini juga tidak terlepas dari ketatnya pengawasan sejumlah anggota Satgas COVID-19 yang berseragam warna oranye dan bertuliskan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) yang selalu mondar-mandir di venue. Mereka tidak segan-segan menegur penonton yang mencoba membuat kerumunan dan menegur penonton yang sempat membuka maskernya.
Diterbitkan di Berita

 sindonews.com MAGELANG - Alunan musik aneh terdengar di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur , Kamis (8/4/2021). Peralatan musik yang digunakan juga cukup aneh dan jarang ditemukan.

Namun iramanya tetap merdu hingga membuat tubuh tak sadar bergoyang. Semua yang hadir, termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dibuat takjub dengan pertunjukan yang dibawakan musisi-musisi hebat sekelas Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan lainnya itu.

Bertajuk Sound of Borobudur, para musisi nasional dan lokal berkumpul untuk menghadirkan kembali alat-alat musik tempo dulu yang terukir di dinding Candi Borobudur.

Setelah melalui riset panjang, alat musik yang ada itu berhasil dibuat, berbunyi dan bisa disatukan dalam sebuah orkestrasi.

"Ini kelanjutan dari project kami lima tahun lalu, ketika saya diajak ke sini dan mendapat pengetahuan bahwa relief di Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak sekali pengetahuan. Candi Borobudur seperti perpustakaan, yang semuanya ada di sini termasuk seni," kata Dewa Budjana.

Dari situlah dirinya bersama Trie Utami tergerak untuk mencoba mereplika alat musik yang ada di relief itu. Setelah terbentuk, ia berusaha untuk membunyikannya, tentu dengan cara dan metode zaman sekarang.

"Itu cukup lama prosesnya, akhirnya dapat komposisi dan kita garap serius. Meskipun kami sadar, terkait bunyi itu intepretasi saat ini, karena peradaban itu tidak mungkin diulang lagi," katanya.

Menurutnya, ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Diantara alat musik itu juga ada yang bukan dari Jawa Tengah, melainkan dari Kalimantan bahkan ada yang dari Thailand atau India.

"Dari situ kami menduga, Borobudur merupakan pusat seni dunia. Atau kalau tidak, disini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia," ujarnya.

Dengan temuan itu, maka Dewa mendukung pengembangan kawasan Borobudur tidak fokus pada pembangunan fisik. Namun, pembangunan juga harus diikuti dengan menggali nilai-nilai historis yang ada di candi itu.

"Apa yang ada di Borobudur itu sangat kaya. Kalau saya masih melihat dari sisi seni saja, tentu orang lain melihat dari dimensi yang berbeda," katanya.

Sementara itu, Ganjar mengatakan Sound of Borobudur adalah karya seni yang dihasilkan musisi-musisi handal yang tergolong nekat.

Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan sejumlah seniman sekaligus ilmuan yang meneliti ini, menghasilkan karya yang luar biasa.

"Ini karya luar biasa. Ada beberapa orang nekat, kang Purwa, mbak Iik, mas Dewa mengeksplore Candi Borobudur dan menemukan alat-alat musik di relief-relief itu.
 
Mereka kemudian berusaha membuat replikanya, menemukan bunyinya dan sekarang jadi komposisi yang luar biasa. Mungkin hipotesisnya benar, bahwa Borobudur adalah pusat musik dunia. Kita ingin mewujudkan itu," kata Ganjar.

Pihaknya akan mendukung upaya menjadikan Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi itu, ia yakin bahwa Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik kawasan ini.

"Ini baru dari sisi seninya, belum arsitektur, lingkungan, habitat, relasi sosial dan lainnya. Menurut saya ini kesuksesan penemuan kembali peralatan musik di Candi Borobudur dan menunjukkan bahwa candi ini merupakan pusat peradaban yang sebenarnya," katanya.
 
Untuk itu dia sepakat, bahwa pengembangan kawasan Borobudur tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik semata.

Orang mungkin akan bosan berkunjung ke Borobudur, kalau yang dijual hanya candi dan bangunan-bangunan lain.

"Ini yang perlu kita angkat, mungkin ke depan tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa yang ada di relief candi itu dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan nanti tarian-tarian yang terpahat di relief itu bisa digerakkan di kehidupan nyata. Maka orang yang wisata nanti akan betah, karena akan mendapatkan soul nya," ujarnya.
(boy)
Diterbitkan di Berita