VIVA – Varian Delta COVID-19, dikenal sangat menular, mudah menyebar dan menimbulkan gejala parah sehingga memicu gelombang kedua virus ini di berbagai negara di dunia.

Di waktu yang sama, varian Delta Plus, yang muncul berurutan dari beberapa kasus yang terjadi di gelombang kedua, disebut membawa mutasi lanjutan dari dua varian yang terlihat menginfeksi bahkan orang-orang yang sudah divaksinasi lengkap, serta menyebabkan kematian.

Tapi, di antara keduanya, manakah yang paling harus diwaspadai? Apakah salah satunya paling menular dibanding yang lainnya?

Dikutip laman Times of India, baik varian Delta dan Delta Plus sama-sama dikategorikan sebagai Variants of Concern (VoC) dan menyebar di banyak negara. Ancaman paling menonjol yang terlihat saat ini adalah di mana cakupan vaksinasi masih rendah.

Varian Delta COVID-19 yang paling bertanggung jawab atas gelombang kedua. Peningkatan kasusnya juga sangat cepat karena tingkat penularannya yang sangat tinggi. Tapi, varian Delta Plus, yang mengandung mutasi dari varian Delta, diberi label lebih mengkhawatirkan.

Secara perbandingan, varian Delta Plus dikatakan hampir 60 persen lebih cepat menyebar dibanding varian Delta.

Meski pengamatan klinis menunjukkan ancaman penularan yang lebih tinggi, namun keberadaan varian Delta Plus masih dalam sisi yang rendah dan hanya ditemukan menyebar dalam tingkat yang lebih lamban dari perkiraan.

Saat ini, meski varian Delta masih menjadi strain COVID-19 yang dominan, dan virusnya sangat aktif, para ahli menyarankan bahwa vairan ini, dengan gejala yang parah bisa menjadi ancaman yang terus ada.

Bukti yang tersedia mengenai penularan dan penyebarannya juga muncul lewat penelitian dan temuan genomik. Menurut para ahli, Delta Plus, meski sangat cepat menyebar dan menimbulkan keparahan, tidak meningkat dengan cepat saat ini.

Varian Delta dianggap ekstrem karena keparahan gejala yang ditimbulkan, dibandingkan dengan strain asli.

Keterlibatan paru-paru, kesulitan bernapas, keluhan gastrointestinal (meski pada kasus ringan atau sedang) yang tinggi menjadi apa yang membedakan dengan variants of concern sebelumnya.

Sementara varian Delta Plus, yang disebut membawa ciri-ciri dari varian Delta dan Beta, secara sifat membawa keparahan yang lebih tinggi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa varian ini bisa dengan mudah menembus pertahanan imun, dan mengikat kuat sel reseptor paru-paru. Lebih banyak studi tengah dilakukan untuk menentukan daftar lebih terelaborasi kemungkinan tanda dan gejalanya.

Meski kebanyakan gejala mirip dengan varian Delta, berikut bisa menjadi tanda yang harus diperhatikan.

- Keterlibata paru-paru di stadium awal
- Sesak napas dan kesulitan bernapas
- Demam yang lebih panjang dan batuk menetap
- Gejala gastrointestinal
- Ruam kulit dan alergi
- Mata kering dan berair
- Kehilangan nafsu makan dan mual

Diterbitkan di Berita

SEOUL, NETRALNEWS.COMKorea Selatan mencatat peningkatan tajam dalam kasus virus corona pada Rabu ketika negara itu berjuang untuk menjinakkan gelombang infeksi keempat di tengah penyebaran varian baru COVID-19.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mencatat 1.725 kasus pada Selasa, naik lebih dari 500 dari sehari sebelumnya, karena lebih banyak tes dilakukan setelah akhir pekan.

Total infeksi naik menjadi 203.926, dengan 2.106 kematian. Penghitungan harian mencapai yang tertinggi yaitu 1.895 minggu lalu, sebagian didorong oleh varian Delta yang lebih menular, di mana gelombang COVID-19 keempat menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda.

Otoritas kesehatan khawatir bahwa orang-orang melakukan perjalanan sekitar 6,4 persen lebih banyak minggu lalu dibandingkan dengan minggu sebelumnya, atau sekitar 34 persen lebih banyak dari pada awal Januari, di wilayah di luar ibu kota Seoul dan daerah sekitarnya.

Orang-orang melakukan perjalanan sebagian besar untuk liburan musim panas. "Pergerakan di wilayah tersebut telah meningkat selama tiga minggu berturut-turut," kata pejabat kesehatan senior Lee Gi-il dalam sebuah pengarahan.

"Ada kelelahan karena jarak yang lama, dan ini adalah musim liburan musim panas." Pemerintah memperketat pembatasan jarak sosial pekan lalu di sebagian besar negara selama dua minggu menjelang puncak periode liburan musim panas.

KDCA mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya telah mendeteksi dua kasus pertama varian Delta Plus di Korea Selatan, sub-garis keturunan dari varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di India.

Hanya segelintir negara, termasuk Inggris, Portugal dan India, yang telah melaporkan kasus Delta Plus sejauh ini. Delta Plus masih dipelajari, tetapi beberapa ilmuwan mengatakan itu mungkin lebih menular.

Otoritas kesehatan mengatakan beberapa vaksin utama bekerja melawan varian Delta.

Korea Selatan akan mulai menerima reservasi untuk vaksin dari sekitar 2 juta kelompok prioritas di antara orang-orang berusia 18-49 pada Rabu malam, termasuk mereka yang cacat, pegawai di pusat kebugaran dan pekerja di pendidikan swasta, petugas pengiriman, pembersih jalan, dan karyawan "call center".

Sekitar 39,3 persen dari 52 juta penduduk negara itu telah menerima setidaknya satu suntikan pada hari Rabu, sementara 14,2 persen telah divaksinasi penuh, data KDCA menunjukkan.

Reporter : Antara
Editor : Wahyu Praditya P

Diterbitkan di Berita

Delhi, REQNews.com -- India mengumumkan temuan baru varian virus korona setelah hampir dua lain kasus terdeteksi di seluruh negeri, dan berpotensi memicu gelombang ketiga.

Resminya, bernama AY.1, tapi dokter dan pengamat kesehatan di India lebih suka menyebutnya Delta Plus. Varian ini kali pertama ditemukan di Eropa, dan kini diduga menyebar di negara bagian Maharashtra, Kerala, dan Madhya Pradesh.

Kementerian Kesehatan India mengakan Delta Plus menunjukan kemampuan menular lebih tinggi, dan menyarankan tiga negara bagian itu meningkatkan pengujian.

"Berdasarkan temuan Indian SARS-CoV-2 Genome Consortia (INSAGO), Kementerian Kesehatan memperingatakan dan memberi tahu Maharahtra, Kerala, dan Madhya Pradesh," demikian pernyataan resmi pemerintah India.

INSAGOC adalah konsorsium badan medis dan ilmiah India. Di dalamnya terdapat Dewan Penelitian Medis India dan Dewan Penelitian Ilmiah dan Industri.

Konsorsium bertugas mengurutkan selurun genome virus dan memberi masukan tepat waktu serta langkah-langkah respon kesehatan masyarakat untuk dijalankan setiap negara bagian.

Al Jazeera melaporkan pejabat kesehatan India telah mengidentifikasi tiga karakteristik varian Delta Plus.

"Pertama, meningkatkan transmisibilitas. Kedua, lebih mengikat reseptor sel paru-paru. Ketiga, ada potensi pengurangan respon antibodi," kata pejabat itu.

Varian Delta Plus terbentuk karena mutasi strain Delta atau varian B.1.617.2 yang kali pertama ditemukan di India, dan diyakini sebagai penyebab gelombang kedua pandemi ganas di negara itu.

Pakar kesehatan memperingatkan varian Delta Plus dapat memicu gelombang ketiga Covid-19 di India.

Sementara itu India, Rabu 23 Juni, melaporkan 50.848 infeksi dengan 1.38 kematian dalam 24 jam terakhir. Data Kementerian Kesehatan India menunjukan total infeksi mencapai 30 juta dengan jumlah kematian 390.660.

Ditemukan di AS

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan varian Delta Plus juga ditemukan di delapan negara; Inggris, AS, Jepang, Rusia, Portugal, Swiss, Nepal, dan Cina.

Di AS, varian Delta Plus mewakili 20 persen infeksi baru di AS, yang membuat Paman Sam berpotensi mengikuti Inggris. Saat ini, varian Delta Plus mendominasi laporan infeksi di Inggris, dengan penyebaran super cepat di kalangan anak muda.

Dr Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS, memperingatkan Gedung Putih mengenai kemungkinan negaranya mengikuti jalur Inggris.

Varian ini menyumbang setengah dari infeksi baru di wilayah Iowa, Kansas, Missouri, Nebraska, Colorado, Montana, North Dakota, South Dakota, Utah, dan Wyoming.

Diterbitkan di Berita