VOA Indonesia - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) hari Rabu (4/8) mengatakan 93% dari seluruh kasus baru virus corona di Amerika adalah varian delta.

Angka terbaru CDC untuk minggu yang berakhir 31 Juli menunjukkan varian delta, termasuk sub-varian keturunannya, yang semuanya diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian, mencakup 93% dari semua kasus di Amerika selama dua minggu terakhir Juli lalu.

Varian itu menyumbang kasus yang lebih tinggi di wilayah tertentu di Amerika, antara lain di Midwest – termasuk Iowa, Kansas, Missouri dan Nebraska – di mana delta menyumbang 98% dari semua kasus.

Di wilayah seperti North dan South Dakota, Colorado, Montana, Utah dan Wyoming, varian delta mencakup 95% dari semua kasus. Angka-angka itu mewakili peningkatan pesat prevalansis varian itu sejak akhir Mei lalu, ketika hanya 3% dari semua kasus yang merupakan varian delta.

CDC juga mengatakan rata-rata kasus harian baru selama seminggu terakhir naik dari 40.597 kasus per hari menjadi 66.606 kasus per hari pada minggu lalu, atau berarti meningkat lebih dari 64%.

Meskipun masih lebih rendah dibanding puncak kasus baru pada perebakan Januari lalu ketika ada 300.000 kasus baru per hari, lonjakan kasus baru ini jauh lebih tinggi dibanding Mei lalu ketika rata-rata kasus harian baru hanya lebih dari 8.000 kasus. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat menunjukkan tiga perempat orang yang terinfeksi COVID-19 pada sebuah acara publik Juli di Cape Cod, Massachusetts, AS, telah divaksinasi penuh.

Studi CDC menemukan individu yang divaksinasi memiliki jumlah virus yang sama dengan yang tidak divaksinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa, tidak seperti varian lain, orang yang divaksinasi tapi terinfeksi varian Delta, dapat menularkan virus tersebut.

 

Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)
Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)

 

Direktur CDC Rochelle Walensky mengatakan tersebut adalah "penemuan penting" yang mengarah pada rekomendasi CDC minggu ini bahwa masker harus digunakan di wilayah yang terjadi lonjakan kasus.

Langkah itu dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan penularan oleh orang yang telah divaksinasi penuh.

CDC mengatakan 469 kasus ditemukan di antara penduduk Massachusetts dari 3 hingga 26 Juli terkait dengan wabah Cape Code. Dari jumlah tersebut, 74% di antaranya adalah warga yang telah divaksinasi lengkap.

CDC mengatakan studinya tidak mengikutsertakan penduduk dari 22 negara bagian lain. Barnstable County melaporkan bahwa pada 30 Juli, terdapat 934 total kasus dikaitkan dengan wabah tersebut.

CDC mengatakan bahwa secara keseluruhan, 79% dari individu yang divaksinasi yang terinfeksi COVID-19 juga melaporkan gejala seperti batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan demam. Empat korban harus dirawat di rumah sakit.

Menurut data, individu yang divaksinasi telah menerima salah satu dari tiga suntikan yang tersedia yang dibuat oleh Pfizer Inc dan BioNTech, Moderna Inc atau Johnson & Johnson. [ah]

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia karena angka penularan infeksi virus corona (Covid-19) yang dinilai tinggi dan kemungkinan adanya serangan teror.

Larangan itu dikeluarkan melalui travel advisory yang dirilis dalam laman travel.state.gov sejak Selasa (8/6) lalu. AS mengeluarkan peringatan Level 3 bagi warganya yang berencana berkunjung ke Indonesia.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS menyebut bahwa peringatan level 3 berarti orang-orang diminta untuk menghindari masuk ke Indonesia, kecuali untuk kepentingan mendesak. Warga diminta mempertimbangkan kembali rencana keberangkatannya.

"Tindakan karantina yang dijalankan pemerintah diberlakukan untuk semua orang asing. Kunjungi situs Kedutaan Besar AS di Indonesia untuk informasi Covid-19 di Indonesia," tulis laman tersebut.

Selain karena Covid-19, kekhawatiran akan serangan teror juga menjadi pertimbangan AS untuk mengimbau warganya tak mengunjungi RI.

"Teroris dapat menyerang dengan sedikit atau tanpa peringatan, menargetkan kantor polisi, tempat ibadah, hotel, bar, klub malam, pasar/pusat perbelanjaan, dan restoran," tulis mereka.

Tak hanya itu, AS juga mengimbau warganya untuk mempertimbangkan perjalanan ke Sulawesi Tengah dan Papua akibat kerusuhan sipil yang terjadi belakangan ini.

Selain itu, AS juga menyoroti rawannya bencana alam di Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi untuk setidaknya menjadi pertimbangan perjalanan.

(nly/asr)

 

 

Diterbitkan di Berita